Detective Wasabi

Detective Wasabi
Posisi Berbalik



"Terimakasih pengacara Rianti," ucap Paldo sambil berjabat tangan setelah mengemukakan maksud tujuannya kerumah pengacaranya itu


"Dengan senang hati Tuan Paldo. Tenang saja, semua pasti aman teratasi," sahut pengacara Rianti


Kring kring


Telepon Paldo berdering dia segera mengangkatnya seraya meminta ijin pada Rianti. Lalu berjalan sedikit menjauhinya


"Ya April, ada apa?"


"Tuan Paldo bisakah Anda ke kantor segera. Keadaannya genting. Nyonya Mayang bersikeras memaksa agar saya memberikannya uang," ucap April dengan berbisik, ia bersembunyi di balik meja saat menelepon Bosnya


"Jangan berikan apapun padanya! Dia bukan lagi Istri saya," ucap Paldo


Mayang tahu jika April menelepon Bosnya, dia masuk lalu merebut telepon Aprilya


"Paldo...Jika kamu masih menahan uang untukku. Desi akan menanggung akibatnya!" Ancam Mayang


"Kamu mengancamku!?" tanya Paldo dengan nada tinggi


"Tidak, hanya saja sekarang dia sudah menjadi tawanan Ratu Ratih, Jaringan mafia terbesar yang ada di Bali," ucap Mayang


Tut...Tut... Tut...


Mayang memutuskan kontak. Sementara Tuan Paldo kehabisan akal.


"Maaf Pengacara Rianti, Saya ada urusan lain. Saya pamit," ucap Paldo kemudian dia bergegas menuju Kantor


"Oh baiklah Tuan Paldo. Jika butuh saya, telpon saja," sahut Rianti


Mereka pun melambaikan tangan sebelum Paldo benar-benar meninggalkan rumahnya


"Chaky, kamu sudah memanggil sopir saya," tanya Paldo saat melangkah keluar rumah, ia segera menelepon Chaky padahal Chaky sudah ada di teras rumah pengacaranya


"Sudah Tuan. Mobilnya sudah siap di depan," jawab Chaky di telepon padahal Tuan Paldo ada di depannya.


Tuan Paldo melangkahkan kakinya dengan langkah besar lalu masuk kedalam Mobil, disusul oleh Chaky.


"Maaf Tuan. Kita sebaiknya memanggil polisi untuk membereskan masalah ini," saran Chaky


"Tidak, Aku tidak mau menambah masalah. Ke kantor sekarang,"


Sesampainya di Kantor. Mayang dan Wisnu sudah menunggunya di lobby perusahaan Paldo


"Katakan mau mu!" sahut Paldo setibanya disana dan bertemu dengan Mayang


Tuan Paldo melemparkan lirikan yang sangat dingin terhadap Istrinya


"Tak banyak, hanya 20 Milliar," sahut Mayang


"Bank tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu dalam waktu satu hari. Saat ini, Aku hanya bisa memberi 2 Miliar," ucap Paldo


Tuan Paldo lalu segera memasuki ruangannya. Ditujunya brangkas penyimpanan yang berisi segala pistol koleksi miliknya. Kali ini Tuan Paldo mengambil Pistol jenis Desert Eagle


Desert Eagle yang sering disebut Deagle ini hanya memuat 7 peluru saja, tetapi satu peluru Deagle dampaknya sama seperti 3-4 peluru biasa.


Di simpannya pistol itu di saku celana sebelah kanan. Kemudian di taruh uang palsu kedalam koper itu. Tuan Paldo keluar dari ruangannya. Kemudian duduk berhadapan dengan Nyonya Mayang


"Kemarilah dan hitung sendiri," pinta Paldo melemparkan koper ke atas meja


Nyonya Mayang menyuruh Wisnu untuk mengecek jumlah uang didalam koper.


Wisnu mengambil koper dan kemudian membukanya


"Ini Palsu," ujar Wisnu


"Benar sepalsu cinta Mayang terhadapku," ucap Paldo


Diambilnya pistol yang ia sembunyikan dari saku celana kemudian di todongkan ke kepala Wisnu


Nyonya Mayang mulai ketakutan dan panik. Pelatuk ditarik dan kemudian,


Door


Nyonya Mayang tak berani melihat, Dia memejamkan mata dengan menutup telinga karena suara pekak yang keluar dari pistol. Tangan yang menutupi kedua matanya terlihat bergetar menggigil ketakutan


"Kenapa tak berani melihat," ujar Paldo tersenyum sinis


Nyonya Mayang, mencoba membuka mata, di lihatnya Wisnu baik-baik saja sambil tersenyum ke arah Nyonya Mayang.


Bukan Wisnu yang tertembak, melainkan lengan sofa yang diduduki. Busa sofa berterbangan karena terkena ledakan dari peluru yang masuk kedalamnya


"Kamu," tanya Nyonya Mayang dengan segala kebingungannya. Karena Wisnu ikut tersenyum kearahnya.


Wisnu ternyata berada di pihak Tuan Paldo.


"Sekarang siapa yang menjadi tawanan. Desi atau kah kamu?"


"Ini semua bukan rencana ku. Ratu Ratih ingin menguasai Bali dengan mengambil seluruh kekayaanmu. Aku hanya pion," jawab Mayang yang takut menatap tatapan Paldo


"Pion atau Dalang, aku tak perduli. Yang ku inginkan hanyalah kembalinya Desi," ujar Paldo


Tuan Paldo kemudian menjambak rambut Mayang dengan keras dan mengarahkan kepala pistol ke pelipis Nyonya Mayang. Lalu menarik pelatuknya.


Ceklek


"Hiks.. hiks...Jangan tembak Aku!" Mayang menangis ketakutan.


"Apa kamu tahu, pistol ini pistol terbaik. Ketika peluru ini masuk kedalam otakmu. Dia akan meledak...Boom! Isi kepalamu akan meledak. Itulah kehebatan Desert Eagle," ucap Paldo sambil menunduk berbisik di telinga Mayang yang ketakutan.


Posisi menjadi terbalik