
Di Kediaman Alice
Gadis itu mengencangkan volume radionya, menari dan berlompat-lompat diatas ranjangnya yang empuk. Menikmati alunan musik sekaligus merayakan sesuatu yang membuatnya senang. Apalagi kalau bukan bertemu Wasabi.
"Alice kecilkan volume radiomu itu!" Naw berteriak dari lantai bawah. Dia adalah Papa Alice.
"Iya Pa," sahut Alice balas berteriak setelah sang Papa berulang kali memanggilnya
"Sudahlah biarkan saja dia menikmati masa mudanya," sahut Sherlya memberi kebebasan pada anaknya
"Kamu terlalu memanjakannya sayang,"
"Alice kemarilah!" Naw berteriak lagi
Alice mematikan radionya dan dengan kesal turun ke bawah
"Kenapa lagi sih Pa?" sahutnya malas
"Papa punya kabar buruk mengenai sahabatmu itu," kata Naw
"Kabar buruk apa sayang?" tanya Sheryla istrinya Naw, papanya Alice
"Siapa? Joy?" terka Alice "Dia baru saja memutuskan persahabatan kami,"
"Iya, Joy ada masalah dengan keluarganya. Kemudian dia kabur dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Papa minta, kamu bantu dia, hubungi teman-temannya, cari tahu dia keberadaanya," perintah Naw
"Alice tahu sendirikan? Saat ini lagi musimnya penculikan," ujar Naw menimpalinya
"Astaga Itu benar Alice. Ayo bantu cari dimana Joy," sahut Sherlya
"Alice tidak mau! Lagian Joy itu sudah besar. Siapa juga yang mau culik dia?" desis Alice
"Alice, jangan seperti itu. Papa tidak pernah mengajarkan sikap tidak peduli seperti itu,"
"Bukannya tadi pagi kalian. baik-baik saja?" sahut Sherlya
"Sudahlah, Alice malas kalau membahas soal Joy. Hubungan persahabatan kami juga sudah putus. Jadi sudah bukan urusanku," celetuk Alice
"Lagian Daddy-nya itu kaya, dia pasti punya channel dimana-mana. Dan mudah baginya untuk menemukan dimana Joy," imbuhnya
"Lebih baik Papa dan Mama bantu doa aja. Agar Joy tidak diculik," desis Alice yang terakhir kalinya setelah itu ia pergi dan ketika Alice masuk ke kamarnya. Gadis itu tersenyum lebar.
Brrrtzzz
Ponsel Alice bergetar tanda ada yang menelepon dirinya
"Alice, aku sudah melakukan apa yang kamu pinta," sahut Raisya dari seberang telepon
"Bagus. Aku akan membayarmu segera," jawab Alice dengan nada pelan
"Oh ya. Dia tak lagi berguna, tinggal kan dia kecuali jika kamu benar-benar jatuh cinta padanya haha," sahut Alice
"Haha tidak aku tidak suka. Apa kamu tahu? Kekayaannya itu bukan miliknya seutuhnya. Dia tidak terlalu kaya. Aku tak ingin bersamanya lagi. Itu sangat membuatku repot," curhat Raisya, "Bayarannya, aku tunggu sekarang. Terima kasih,"
Tut Tut Tut
Setelah itu Alice membayar Raisya lewat pembayaran di ponselnya. Hanya sekali menekan kode transaksi transfer ke rekening Raisya pun sudah berhasil dilakukan.
Alice merebahkan tubuhnya di kasur, dia bermalas-malasan sambil memainkan ponselnya.
Kring..kring..
Nomer tak dikenal meneleponnya.
Huh ini pasti Raisya. Mau apa lagi dia?, batin Alice
"Hey aku sudah membayarmu. Enyahlah jangan usik aku lagi," desis Alice
"Alice ini aku Wasabi,"
"Aduh gawat," Alice berbicara dalam hati, merasa tidak enak karena membentak
"Maaf Wasabi. Aku tak tahu kalau itu kamu, kupikir temanku hehe," Jelas Alice
"Aku menelepon dari telepon umum. Alice bisakah kamu membantuku?" ucap Wasabi sebenarnya dia tidak enak ingin mengatakannya lewat telepon
"Apa itu? Tentu saja aku pasti akan membantumu. (Bersemangat)
"Ku dengar kamu punya pesawat jet pribadi. Bolehkah aku meminjamnya untuk perjalanan ke Tokyo," pinta Wasabi
(Pinjam? enak kali,🙄)
"Tokyo? Mau apa kau kesana? Hmmm boleh aja sih. Tapi aku ikut," tanya Alice yang diakhiri dengan permintaan
"Kalau kamu tidak cerita, bagaimana bisa aku meminjamkannya. Aku juga perlu alasan untuk bicara pada Papa ku nanti,"
Wasabi berfikir sejenak
Huft aku tak ingin semuanya panik dan ikut terlibat, batin Wasabj
"Kalau begitu maaf Alice. Lupakanlah soal pembicaraan ku barusan. Sudah dulu ya," ujar Wasabi kemudian menutup teleponnya
Tut Tut Tut Tut
"Ih Alice kenapa kamu seperti itu. Wasabi jadi menjauhkan? Aduuh," gumam Alice
Wasabi kemudian keluar dari box telepon umum. Dia pun memukul pintu box itu hingga kacanya pecah.
"Tak ada jalan lain. Aku harus nekat menggunakan kekuatanku,'" gumam Wasabi
Disaat Wasabi ingin berteleportasi dari Jakarta ke Tokyo. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangannya.
"Jangan gegabah Wasabi,'"cegah sang Ayah sembari menasihati
"Ayah?"
"Aku kebetulan lewat dan mendengar seorang pria bicara akan ke Tokyo. rupanya pria itu kamu. Apa benar Kamu akan ke Tokyo saat ini juga?" tanya Setya
"Kamu belum pernah kesana. Tak ada paspor dan uang pun harus kamu tukar dulu uangnya. Bagaimana nasibmu nanti jika disana kamu kelaparan?" ungkap Wasabi
Wasabi menunjukkan sebuah buku ada catatan tanggal, waktu dan tempat. Bahkan tercantum nama-nama beberapa
wanita disana.
"Apa ini?," tanya Setya
"Joy, temanku dibawa kesana," jelas Wasabi
"Tak ada catatan nama Joy di buku ini,"
"Memang tidak ada. Aku rasa Joy sebelumnya dibawa ke markas mereka. Ada koper Joy disana dan mereka tentu tidak tahu namanya karena Joy tidak membawa identitasnya," tebak Wasabi
"Kata Ayahnya, Joy pergi dari rumah tidak membawa dompet ataupun ponselnya," timpalnya lagi
"Itu mungkin koper orang lain," sahut Setya
"Aku tanda bajunya, dan di selipan kantongnya ada fotonya dan diriku," ucap Wasabi yang tidak menyadari dirinya berkata seperti itu
"Apa?Haha," Setya malah terkekeh
"Kenapa tertawa. Sudahlah. Aku tak punya banyak waktu Ayah,"
"Lihatlah Wasabi yang sedang jatuh cinta. Kemana dirimu Wasabi. Gunakan otakmu....Jadi benar kata Andi, kamu dan Joy itu cocok nyatanya kalian sudah berfoto berdua haha,"
"Hassh, tidak seperti itu, dia mengambil fotoku dengan tiba-tiba dan tanpa persetujuan ku," Wasabi membela diri
"Haha apapun itu, dengar...Kamu harus lebih pintar dari penjahat itu," tukas Setya
"Apa maksud Ayah?"
"Anggaplah saja jika Joy benar diculik. Lalu dijual. Apakah penjual itu akan mengeluarkan biaya yang besar, jikapun dia ke Tokyo? Apakah Joy orang penting sehingga mereka harus jauh-jauh menjualnya kesana? Belum lagi paspor dan Visa untuk keluar negri. Ya mungkin bisa mereka selundupkan, tapi lihat sendiri jam dan waktu pertemuan kalau seandainya di Tokyo. Perjalanannya saja memakan waktu 7 jam lebih Wasabi," ujar Ayahnya
"Ayah benar,"
"Kamu membenarkan yang mana? Membenarkan bahwa dirimu jatuh cinta sehingga, bertindak bodoh seperti itu. Atau membenarkan ulasanku?" Goda Setya
"Lalu dimana Joy," Wasabi tidak menggubris pertanyaan Ayahnya. Dia terlalu fokus pada keberadaan Joy.
Wasabi terdiam sambil mengatur nafasnya karena tidak bisa fokus.
"Tenanglah dulu,"
"Hotel Tokyo di Jakarta," gumam Wasabi berpikir
"Little Tokyo di Blok M Jakarta," imbuhnya
"Daerah Melawai?" ujar Setya
"Ada hotel sekitar situ. Bahkan ada 4. Aku harus mencarinya satu persatu,"
"Ayah akan ikut membantumu," ujar Setya
"Terimakasih Ayah. Ayo cepat," Wasabi segera bergegas ke tempat yang di maksud