
Didalam sel tahanan sementara, Wasabi terduduk dan memikirkan rencananya. Gibran mendatangi Wasabi dan menyuruh Wasabi untuk mendekatinya.
"Wasabi, kemarilah," panggil seorang polisi berbisik
Wasabi mendekat dan membaca nama yang tercantum di seragamnya itu.
Gibran, batin Wasabi teringat akan cerita Inspektur Hendra jika Gibran pernah menguping dirinya
"Ya, kenapa?" tanya Wasabi
"Kamu tidak bersalah kenapa masuk kesini. Aku akan mengeluarkan mu," ucap Gibran berbisik dan sambil membuka gembok sel jeruji
"Kamu bisa keluar sekarang. Wasabi, Aku ingin kamu segera menemukan dalang sebenarnya," timpalnya lagi
"Kenapa kamu sangat antusias dan ingin aku menemukan pelaku sebenarnya?"
"Aku dendam padanya. Dia telah menculik keponakanku," ujar Gibtan
"Tapi maaf Aku tidak bisa, aku akan keluar dari sini jika saksi yang aku tunjuk sudah bersaksi untukku," tolak Wasabi
"Kamu yakin? Ini kesempatanmu!"
"Hemm," dengus Wasabi sembari menaikkan alisnya, "Tutuplah kembali pintu jeruji itu dan kembalilah bekerja,"
Gibran pun menutupnya dengan sedikit raut wajah kecewa. Wasabi sudah mulai melihat mana penjahat yang sebenarnya. Kenapa dia ingin sekali Wasabi keluar. Pasti ada rencana lain dibalik itu
Tak lama kemudian.
Setya mengunjungi Wasabi yang baru saja di masukkan ke sel tahanan.
"Wasabi, Aku sudah mendengar cerita dari Inspektur Hendra dan Ayah terkejut saat kamu lebih memilih disini sampai ada pernyataan dari para saksi mu," ucap Setya
"Itu sudah keputusanku yah. Sebentar lagi inspektur Hendra akan menemui kedua saksi itu. Kenapa suaramu berbeda?" ucap Wasabi diakhiri pertanyaan
"Aku sedang flu jadi suaraku berbeda. Kenapa kamu berbohong?" tanya Setya
"Berbohong soal apa?" Wasabi mengernyit
"Soal kamu tahu keberadaan gadis itu sekarang," sahut Setya
"Dari mana Ayah tahu?"
"Aku tahu betul sifatmu Wasabi. Tapi kali ini aku tak setuju denganmu. Kamu menyembunyikan keberadaan mereka dan itu akan membuat mu terus berada disini. Jangan sampai mereka ditemukan oleh penjahat yang mengincarnya. Bisa-bisa keselamatan mereka tak tertolong. atau bahkan disuap untuk....," ucapan Setya terpotong
"Aku punya rencana lain Ayah,"
Hemm apakah dia benar Ayahku? Ayah tak pernah memaksa seperti ini, terlebih dia jarang mencampuri urusanku. Kecuali kemarin itu, batin Wasabi
Wasabi mengamati muka Ayahnya dan setelan pakaian yang dia gunakan hingga sepatu. Wasabi pun tertawa melihatnya.
"Kenapa tertawa Wasabi?" tanya Setya
Wasabi mendekat ke jeruji besi, dia mengulurkan tangannya dan membelai wajah Ayahnya. Sebelum tangannya menyentuh wajah Setya. Pria itu menjauhkan wajahnya seperti mengelak dari jangkauan tangan Wasabi.
Sebelum tubuh Ayahnya semakin menjauh, Wasabi langsung menarik kerah Ayahnya hingga badan dan mukanya terhantam jeruji besi.
"Mau menyamar menjadi Ayahku ya? Kamu tidak akan bisa menipuku!" desis Wasabi
"Inspektur..! Pak polisi... tangkap dia! Dia penyamar..!" teriak Wasabi
"Astaga ada apa denganmu Wasabi? Aku Ayahmu!"
"Ada apa Wasabi kenapa teriak-teriak!" tanya Gibran menghampiri
"Dia bukan Ayahku, Pria ini menyamar sebagai Ayahku, buka saja topengnya. Bahkan aku ingin menyentuh wajahnya pun dia menghindar. Kalau saja tanganku tidak dirantai seperti ini, sudah ku cabik-cabik topeng itu," ucap Wasabi
"Tapi wajahnya dia benar Ayahmu. Aku pernah melihatnya Ayahmu, wajahnya sama persis," sahut Gibran
"Ayahku tidak suka memakai jeans biru dan sepatu kets seperti itu,"
Setya gadungan pun berusaha
Melepaskan cengkraman tangan Wasabi, di gigitnya tangan Wasabi, kemudian Setya gadungan langsung lari secepat mungkin.
Wasabi kesakitan namun ia menahannya dengan sedikit mengelus bekas gigitan
"Hey mau kemana kau!" pekik Wasabi
"Kenapa masih disini, Kejar dia!" seru Wasabi kepada Gibtan
"Ah iya," sahut Gibran lambat
"Aish Aku yakin Setya gadungan itu pasti lolos dari tangan Gibran. Cih... Mungkin sengaja diloloskan,"
Gibran mengejar Setya gadungan sambil menabrak-nabrak polisi lainnya. Sama halnya dengan Setya, tak hanya polisi dia pun sering tertabrak meja di kantor polisi yang tempatnya sangat sempit untuk berlari-larian.
Inspektur Hendra yang mendengar keributan di belakang langsung menghadang di depan pintu keluar. Ketika kaki Setya gadungan melangkah keluar pintu, Inspektur Hendra menjagal kakinya hingga jatuh tersungkur.
Inspektur Hendra lalu memborgol tangan Setya gadungan dan langsung menginterogasinya.