Detective Wasabi

Detective Wasabi
Another Victim



Di rumah Joy, pukul 03.30


Emi tidur di kamar Joy agar lebih aman. Dalam tidurnya Emi bermimpi buruk. Tubuhnya berkeringat dingin dan sedikit mengigau.


"Tidak ti-ti-tidak," sahut Emi masih dalam posisi tidur


"Jangan mendekat!" ucapnya lagi


Joy yang sudah tidur pun menjadi terbangun karena suara Emi yang tengah mengigau.


"Emi.. emi..." panggil Joy pelan seraya menggoyang-goyangkan badan Emi


Emi terbangun dengan kejutnya dan langsung beranjak dari tidurnya, kemudian Dia duduk sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


"Astaga ternyata hanya mimpi," sahut Emi


"Emi, Kau tak apa?"


"Hemm Aku bermimpi buruk lagi. Pembunuh itu terus datang dalam mimpiku Joy, " sahut Emi


Joy lalu pergi mengambil air putih untuk Emi, sementara Emi tidak enak jika terus merepotkan Namun Joy tidak merasa keberatan. Karena Emi sudah dianggap sahabatnya juga selain Fika dan Alice meskipun alice sudah jahat padanya.


"Aku rindu dengan Fika meski kita kerap bertengkar tapi dia yang terbaik. Aku masih ingat bagaimana ia memandangi diriku saat aku membuka loker kampus," ucap Joy


"Perlahan kau pasti bisa melupakan kejadian itu Joy. Sekarang, apakah Aku juga bisa menjadi sahabatmu?" sahut Emi


"Aku sudah menganggapmu sahabat ku tapi apa Kau sungguh ingin menjadi sahabatku?"


"Kenapa tidak?" sahut Emi


Joy tersenyum dan mereka pun berpelukan


.


.


.


Disamping itu, Wasabi dan Ayahnya sudah kembali kerumahnya.


"Aku tidak bisa tidur lagi. Sebaiknya Aku kerumah keluarga korban penculikan itu. Semoga saja Dia membuka pintunya," gumam Wasabi bicara dalam hati


Whussss


Ia menggunakan kekuatan teleportasinya. Sesampainya di depan rumah keluarga korban penculikan.


Wasabi memandangi rumahnya yang sangat besar. Ia pun berpikir kemungkinan penculik itu akan meminta tebusan uang dengan jumlah besar. Atau bisa jadi karena ada dendam urusan bisnisnya. Entahlah semua baru terkaan.


Wasabi menekan bel pintu dan juga menggedor-gedor pintu. Tetapi masih tak ada jawaban.


Sudah pukul 4 lebih dan mereka juga tidak membuka pintu.


Apakah mereka pergi? batin Wasabi


"Ini benar rumahnya. Nomer rumahnya dan alamatnya pun sama. Terpaksa Aku harus masuk ke dalam. Situasi sedang genting. Nenek mereka terbunuh, anak mereka juga diculik sedangkan mereka tak bisa dihubungi. Bahkan mengetuk pintu rumahnya saja pun tak ada yang membuka," gumam Wasabi


Begitu Wasabi hendak memakai kekuatan teleportasinya. Sebuah motor masuk ke halaman rumah yang tidak ada pagar batasnya. Hanya sebagian tanaman yang menutupi pekarangannya. Dan sisanya untuk keluar masuk kendaraan.


Sorot lampu motor itu membuat Wasabi tak bisa melihat jelas siapa yang datang.


Begitu motor dimatikan. Seorang wanita membuka helmnya dan turun dengan menggendong ransel besarnya.


"Aku seperti mengenalnya, tapi dimana ya?" gumam Wasabi


"Halo pria tampan, " sahut Wanita itu seraya mendekat


"Hmm?" Wasabi sambil mengingat nama


"Aku Valent, Kau lupa?"


"Iya ini rumahku. Sedang apa Kau kemari pagi-pagi buta begini," Valent melipat kedua tangannya di bawah dada


"Hemm begini, Aku mau mengabarkan...Hemm bagaimana kalau Kita membicarakannya didalam. Kau juga baru pulang kan?" sahut Wasabi


"Ya Aku baru pulang. Aku habis pertandingan di luar kota dan itu sangat melelahkan,"


"Kau dari luar kota naik motor? Sendirian dan membawa ransel besar itu?" tanya Wasabi


"Ini sudah biasa dan itu bukan apa-apa. Aku terbiasa touring dengan motorku ini," sahut Valent


"Aku senang bisa bertemu Kau lagi haha mimpi apa Aku semalam.? " valent membuka pintu rumahnya


"Kau tinggal dengan siapa?"


"Dengan Mama ku dan Nenekku. Sepertinya ada Mama didalam karena nenekku sedang bergantian menjaga keponakanku di rumah sakit, " sahut Valent dan ia masuk begitu kunci sudah terbuka


"Lalu dimana orang tua keponakanmu? dan Ayahmu?" tanya Wasabi


"Astaga Kau banyak tanya," sahut Valent


"Aku memanggilnya Papa, Dia bekerja diluar pulau. Kedua orang tua keponakanku sudah meninggal. Ayo masuk," ajak Valent


"Maaf Aku tidak bermaksud....," ucapan Wasabi terhenti karena Valent menyela


"Tak apa, " ucap Valent seraya tersenyum kecil


Hemm bagaimana Aku mengatakannya kalau Neneknya... batin Wasabi


Valent masuk kedalam dengan keadaan rumah yang gelap. Wasabi mengikutinya dari belakang. Dan berjalan menuju kursi ruang tamu. Setelah saklar lampu dihidupkan, Valent pergi ke belakang untuk membasuh muka dan tangan sekaligus mengambil air minum untuknya dan Wasabi.


Valent datang kembali seraya membawa air minum untuk Wasabi


"Jadi apa sebenarnya maksud kedatanganmu kemari?" tanya Valent


"Begini Valent, Aku harap Kau tenang saat mendengar berita ini. Di rumah sakit telah terjadi pembunuhan. Korbannya seorang dokter dan beberapa perawat dan suster. Juga termasuk Nenekmu yang terbunuh dan tewas ditempat," sahut Wasabi


"Apaa! Hah ini tidak mungkin kan? Kau dapat kabar dari mana!? Hah? Jawab!" tanya Valent panik seraya membelalakan matanya


"Lalu... lalu keponakanku?" tampaknya lagi


Wasabi memperlihatkan foto Neneknya yang diambil saat sudah tak bernyawa kepada Valent.


"Itu Nenekmu bukan?"


"Astaga, hiks....lya...hiks...iya ini Nenek," ucap Valent seraya menangis wajahnya pun langsung memerah. Terlihat bukan dibuat-buat


"Keponakanmu kemungkinan masih hidup. Karena Dia hilang saat kejadian. Tenanglah, pelaku penculikan kini sedang dicari pihak polisi,"


Valent terkejut sampai membelalakkan kedua bola matanya lagi dan dengan mulutnya yang setengah menganga. Dia pun mulai menangis beberapa detik setelah melihat foto itu lagi


"Hiks..hiks.. Aku akan membangunkan Mama..., " ujar Valent kemudian pergi beranjak ke kamar Mamanya


Di kamar Mama Valent


"Maa..maa..!" sahut Valent pelan seraya menggoyang-goyangkan badan Mamanya


"Maa bangun Ma...." ucapnya lagi


"Astaga Mama..." Valent mengguncangkan tubuh Mamanya dengan cepat namun tak kunjung bangun juga.


Valent panik dan memanggil Wasabi. Wasabi lalu mendatangi Valent di kamar Mamanya.


"Mama tak kunjung bangun dari tidurnya. Kenapa ini. Astaga apa yang terjadi? " tanya Valent memeriksa denyut jadi di tangan


Wasabi juga mulai panik. Di goyang-goyangkannya tubuh Mama Valent sambil memanggil namanya. Wasabi mengecek nafas dan nadinya, ia juga memeriksa leher yang sedikit membiru


"Tak ada denyut nadi dan napas, tapi kita harus segera membawanya ke rumah sakit, " ucap Wasabi yang langsung menghubungi ambulans. Wasabi juga menghubungi Inspektur Hendra untuk mengirim beberapa polisi kerumah Valent, keluarga Fernandus.