
Swiss
Jakarta - Zurich memakan waktu penerbangan 17jam 40m. Setibanya di Swiss Wasabi langsung mencari hotel terdekat dengan Bank Swiss.
Jika di Jakarta pukul 15:40, maka di Swiss pukul 10:40. Wasabi beristirahat sejenak hingga siang nanti, dia harus ke Bank Swiss
Reputasi Swiss untuk kerahasiaan perbankan telah menjadi salah satu ekspor paling menguntungkan negara itu. Fasilitas seperti ini sempat menjadi kontroversi karena keamanan yang dilindungi Undang-undang membuat pencuri atau koruptor banyak menyimpan uang atau barang mereka disana.
Brankas tanpa nama. Klien yang ingin menyimpan apa pun mulai dari sertifikat saham hingga lukisan berharga dapat menyimpan barang-barang mereka dan dapat menarik barang kapan saja, juga tanpa menyebut nama.
Alarm berbunyi, Wasabi terbangun dari tidurnya. Setelah makan dia bergegas menuju Bank.
Sesampainya di Bank Swiss.
"Pak ada masalah terhadap klien," seorang petugas bank laki-laki sedang memberitahukan Presiden Direktur lewat sambungan telepon, jika ada masalah yang tidak bisa ditangani sang petugas. Tentu saja mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman
"Ada apa? Apakah ada pembawa kunci lagi yang tidak tahu nomor rekeningnya?" ujar sang Presdir
"Ya Anda benar," sang petugas berhenti berbicara karena mendengarkan si Presiden Direktur berbicara, kemudian sang petugas berkata lagi, "Baik, Saya akan mengantarnya ke ruangan Anda,"
Setelah mengakhiri perbincangannya lewat telepon, petugas tersebut mengajak Wasabi untuk ikut dengannya dengan bahasa Inggris. Karena Wasabi tidak bisa menggunakan bahasa Jerman.
"Tuan Wasabi, tolong ikuti saya. Anda akan di bantu oleh Presiden kami, " ucap sang petugas laki-laki yang bernama Mark
Wasabi mengangguk tanda mengiyakan kemudian mengikuti Mark yang berjalan menuju Lift hendak ke ruang Presiden Direktur yang berada di lantai atas.
Wasabi di bawa ke ruangan Thomas, Presiden Bank yang bertanggungjawab bila ada masalah seperti ini. Masalah ini sering terjadi jika si empunya Akun mewarisi kunci itu kepada ahli warisnya.
"Please sit down Mr. Wasabi. Saya Thomas. Jangan terkejut karena Saya bisa berbahasa Indonesia," ucap Thomas karena sebelum Wasabi masuk ke ruangannya si Presiden Direktur sudah melihat identitas Wasabi yang berasal dari Indonesia.
Mark yang mengantarnya kembali ke tempatnya.
"Kedatangan klien kunci emas selalu membutuhkan perhatian ekstra. Hal ini sudah biasa," ucap Thomas sementara Wasabi tidak mengerti.
"Maksud Anda? Maaf Saya tidak tahu, karena ini kali pertama Saya kemari," sahut Wasabi yang juga memakai bahasa Indonesia
"Asisten saya, memberitahukan bahwa Anda memiliki kunci emas tetapi tidak memiliki nomor rekening? Bolehkah saya bertanya bagaimana Anda bisa mendapatkan kunci ini?" ucap Thomas sembari menguji kliennya lewat nada bicara.
"Kakek Saya memberikan ini pada Saya, dia tidak mengatakan nama dan nomor rekeningnya saat itu, mungkin tidak sempat. Karena beberapa saat Beliau menyerahkan kunci ini, beliau meninggal. Saya baru tahu jika ini kunci dari Bank Swiss dari seseorang yang pernah berbicara dengan Kakek saya, " ucap Wasabi
Thomas yang tadinya duduk bersandar dan bersilang kaki, kemudian melebarkan kakinya dan memajukan duduknya. Ia mulai berbicara serius
"So...Benar itu adalah kunci penyimpanan yang hanya dimiliki oleh klien. Saya akan menjelaskan kepada Anda, penyimpanan di akun emas kami memakai dua sistem. Pertama kunci, dan kedua adalah nomor akun. Kami tidak menyimpan nama mereka. Di akun emas kami, sewa kotak penyimpanan aman terpendek adalah lima puluh tahun. Dibayar di muka. Jadi kami melihat banyak pergantian keluarga. Tentu saja, Anda dapat membeli sewa yang lebih lama. Jika tidak ada aktivitas pada akun selama lima puluh tahun, isi dari safe-deposit box itu otomatis dimusnahkan. Bolehkah saya membantu menjalankan proses mengakses kotak Anda?"
"Oh tentu," ucap Wasabi
"Mari ikut Saya,"
Thomas keluar dari ruangannya dan menuntun Wasabi berjalan ke kotak penyimpanan deposit. Dengan dua kawalan polisi yang berjalan di belakang Wasabi. Namun mereka hanya mengantar sampai depan pintu penyimpanan safe deposit box
Sesampainya di kotak box milik kakeknya, Thomas mempersilakan Wasabi untuk menggunakan kuncinya.
"Silahkan Tuan Wasabi Anda bisa memasukkan kunci dan Nomornya. Saya akan meninggalkan Anda disini sendirian karena itu privasi Anda. Saya menunggu di depan," ujar Thomas kemudian pergi setelah memberitahukan kotak mana milik Kakeknya tersebut
Wasabi seketika menjadi gugup, dia takut melihat nomer dan angka kemudian segera memasukkan kunci miliknya. Lalu layar pun terbuka dan menyuruhnya menekan 10 digit nomor akses.10 angka random. Ia pun berpikir mungkin angka kelahiran Kakek dan digabung dengan angka kelahiran Ayahnya serta dirinya.
"Ayah dan Aku lahir di bulan yang sama. Ah mungkin itu," tebak Wasabi
Saat Wasabi mengetik digit terakhir. Sebuah pesan PERINGATAN muncul.
Ada banyak Bahasa disana termasuk Bahasa Indonesia.
PERINGATAN: Sebelum Anda menekan tombol enter, harap periksa kembali nomor akun Anda. Jika komputer tidak mengenali nomor akun Anda, sistem ini akan mati secara otomatis.
"Mesin ini mirip mesin ATM. Jika salah memasukkan PIN ATM masih ada kesempatan untuk mengulangnya hingga 3kali. Tetapi berbeda dengan ini, hanya satu kali kesempatan. Kakek bilang yang tahu hanya Dia dan Aku," gumam Wasabi yang sudah bercucuran peluh di dahinya karena berpikir keras
Dia mencoret di awang-awang H - u - g - o - z - i - i berarti nomernya adalah 8 - 21- 7 - 15 - 26 - 9 - 9
Wasabi menutup mata dia takut jika salah. Tapi terdengar suara mesin bergerak. Ada turbin yang bergerak dan membuka isi brangkas. Isi itu pun keluar dari balik pintu brangkas, sebuah koper. Saat isi itu keluar, pintu brangkas kembali tertutup.
"Huft kode nomor lagi. Berapa banyak kode," pikir Wasabi
Kali ini hanya 6 Digit. Wasabi memeriksa kotak tersebut tidak ada layar aktif. Hanya ada tulisan masukan 6 Digit nomer dan ada tombol yang di putar. Wasabi mencoba nama kakeknya yang kemudian dirubah dalam bentuk angka. Ia masih bisa membuka lagi meskipun beberapa kali kesalahan
"Bukan nama Kakek, lalu siapa? Aku jelas bukan. Ini disimpan saat aku belum lahir, dan juga bukan. 8 digit tapi 6. Jika benar yang dikatakan Hogeland bahwa kakek mencuri berkas penting itu di China. Mungkinkah kode itu China?" pikir Wasabi kemudian mencoba kode kedua
"389141," ucap Wasabi seraya memutar tombol sesuai angka
"Ah terbuka. Banyak sekali dokumen sepertinya benar yang dikatakan Hogeland. Tapi kenapa berat sekali?" sahut Wasabi
Wasabi membuka kotak beresleting didalam box. Dan isinya mengejutkan matanya.
"Coklat emas dan surat," Wasabi tak percaya bahkan sampai menggigitnya
"Ini Emas Asli..," pekik Wasabi pelan dengan mata terbelalak. Setelah itu Wasabi membuka isi suratnya.
"Jika Kakek menyuruh Ayah ke China pasti ada sesuatu yang penting. Seharusnya Ayah yang kesana" batin Wasabi
Ia sudah selesai dengan urusannya. Kemudian pulang bersamaan berkas penting itu. Dia harus menyerahkan itu semua ke Inspektur Hendra.Tapi ada yang mengganjal di hatinya. Bukan Wasabi namanya jika ada urusan yang tertunda. Baginya waktu adalah uang yang berjalan.
Wasabi pun berpikir akan pergi ke China dengan menggunakan uang yang pernah Tuan Paldo berikan untuknya. Maka dari itu Wasabi menunda kepulangannya dari Swiss.
Sesampainya di hotel tempat ia menginap. Wasabi menelepon Ayahnya dan mengabarinya. Ayahnya pun terkejut dengan warisan yang ditinggalkan Hugo. Bahkan Setya menyarankan agar Wasabi sebaiknya pulang dulu. Ia takut ada yang membuntuti anaknya dan mengincar hartanya.
"Begini saja Ayah. Kirimkan Black hole mu padaku. Dengan begitu barang yang ku pegang ini akan aman ditanganmu," ucap Wasabi sesuka hatinya.
"Kau ini. Aku tidak tau lokasi mu," gerutu Setya
"Aku akan mengirimkan lokasi ku sekarang,"
"Tidak semudah itu Wasabi," ujar Setya yang kesal dengan Wasabi.
Ia pun menurut kata Wasabi juga meski beberapa kali salah. Sementara itu mereka masih terhubung dengan sambungan telepon.
Tak berapa lama sebuah Black hole muncul di kamar Wasabi dan ingin melahap isi kamarnya karena saking besarnya lubang blackhole
"Ayah, black hole mu terlalu lebar," teriak Wasab
Setya mengecilkan sedikit lubang blackhole kemudian Wasabi langsung memasukkan koper itu kedalam lubang hitam.
"Ahh Wasabi, Kau melemparkan koper itu dan mengenai kaki ku!" pekik Setya
"Maaf Ayah hehe,"
"Kau juga pulang lah," seru Setya
"Tidak aku masih ada urusan. Aku mau ke china,"
"Ya sudah jaga dirimu. Barangnya aman. Berkas akan ku berikan pada Inspektur Hendra dan besok uang dan emas ini akan ku simpan di bank," ucap Setya
Wasabi berterima kasih pada ayahnya kemudian menutup telephonnya. Tak lupa pula ia menghubungi Joy. Tetapi tidak ada jawaban.
"Di Jakarta pukul 6 mungkin Joy sedang beribadah. Atau masih tidur?" gumam Wasabi yang berencana akan meneleponnya kembali nanti
Wasabi melakukan penerbangan lagi. Dari Swiss ke China. Membutuhkan waktu 8 jam 26 menit. Sambil menunggu melakukan penerbangan Wasabi menukarkan beberapa mata uang Swiss ke China. Disamping itu dia juga membeli beberapa barang di Swiss.
"Beberapa jam tidak bertemu Joy rasanya rindu sekali," batin Wasabi