
(Operasi Kecil)
Andi Sudirman duduk bersandar diatas ranjang. Disampingnya ada Emi yang sedang bersandar di lengan Andi.
Mereka hanya berdua dikamar itu tetapi Mereka tidak melakukan hal apapun yang diluar batas. Hanya duduk dan bersandar di ranjang terkadang merebahkan tubuhnya.
Sambil menunggu kabar dari Wasabi, sedari tadi mereka mengamati rekaman yang ditangkap oleh kamera mini yang telah dipasang oleh Wasabi di setiap sudut tersembunyi. Kamera itu otomatis disambungkan langsung ke layar laptop
Tok Tok Tok
Seseorang mengetuk keras pintu kamar Emi dengan ritme cepat
Andi langsung beranjak ingin membuka tetapi kepalanya masih terasa sakit akibat pukulan keras.
"Argh kepalaku...Siapa yang malam-malam ke sini?" ucap Andi sambil sambil memegang kepala yang terluka
"Wasabi mungkin," jawab Emi santai
"Nona Emi.. Jika itu adalah wasabi kenapa dia tidak pakai kekuatannya langsung kemari?" tanya Andi
"Haha kita tidak boleh selalu mengandalkan kekuatan. Bisa saja dia lelah dan memilih berjalan kaki.
"Eh lihat tu. Di kamera 4 di ruang tamu itu Tuan Paldo baru saja menampar Nyonya Mayang," ucap Emi
"Masalah mereka rumit. Yang jelas ada seseorang yang tidak mau kita menemukan Desiani. Jadi mereka juga mengincar kita. Bisa jadi dia telah mengincar kita saat di pesawat," duga Andi
Tok Tok Tok
"Buka dulu gih, tapi kita waspada Aku bawa kursi, kamu bawa botol kaca itu," ucap Emi lalu menyimpan laptopnya dan beranjak dari duduknya.
Emi pun bersiap mengambil kursi, dia bersembunyi di balik pintu. Sementara Andi mengambil botol kaca dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Hitungan ke tiga," bisik Andi memberi aba-aba
"Satu, Dua, Ti...ga,"
Pintu dibuka pelan
Andi siap memukul. Tapi aksinya terhenti ketika dia melihat Hasanah sedang memapah Wisnu yang kesakitan dengan kaki dibalut kain dan penuh darah
"Kalian mau apa!?" tanya Andi Sudirman
"Mana Wasabi," tanyanya lagi dengan nada keras
"Ceritanya panjang," jawab Ana lemah
"Astaga kalian penuh luka," sahut Emi
"Tolong Ijinkan kami masuk, kaki ku terkena luka tembak," pinta Wisnu yang kesakitan karena terkena luka tembak.
Mereka tidak langsung ke rumah sakit karena amanah dari Wasabi yang mengatakan harus menemui temannya itu. Sedangkan Mereka tidak memiliki nomor telepon keduanya.
"Baiklah. Ayo masuk," sahut Andi mempersilahkan
Emi segera mengeluarkan kotak P3k yang selalu dia bawa dari dalam tas kopernya. Kemudian ia menyiapkan air hangat dengan menyalakan teko listrik.
Wisnu berbaring di kasur sedangkan Hasanah duduk dibawah karena letih dan sedikit luka memar. Wisnu membuka bajunya menjadikannya sebagai perban di luka tangannya sendiri
"Astaga Bisakah kau memakai bajumu lagi, Aku punya perban. Pakailah perban yang ini," ucap Emi menyerahkan kotak p3knya
"Hei siapa namamu?" tanya Andi sedikit kesal
"Wisnu,"
" Kamu gak dengar apa yang dikatakan Emi. Pakai bajumu lagi," desis Andi
"Baju ku basah dan banyak darah. Bisakah aku meminjam kaos mu?" tanya Wisnu
"Sebentar," Andi lalu mencari kaos di koper
"Ini pakailah," ucapnya sambil menyodorkan kaos
"Aku harus mengeluarkan peluru itu dan melakukan pembedahan di kakimu. Sedikit sakit," ucap Andi
"Kau bisa melakukannya? Kalau begitu lakukan saja. Aku sudah kesakitan," sahut Wisnu dengan. wajah lelah dan pucatnya
"Aku butuh lilin dan alkohol. Sebentar aku akan meminta pelayan disini," ujar Andi
Sementara itu Emi membantu Hasanah yang juga terlihat tidak baik.
"Lengan dan tanganmu seperti kesakitan. Bisakah kau melepas jaketmu," pinta Emi
"Oh iya sakit. Aku tak tahu apakah terluka," jawab Ana sembari melepaskan jaketnya
Emi Oktavidriani
Setelah jaketnya dibuka, ada banyak luka di lengan tangan bahkan punggungnya,"
"Biar ku bantu oleskan obat dan membalut perbannya,"
"Terimakasih, Aku bisa sendiri. Ini semua salahku," ucap Ana
Ana lalu menangis sambil membalut perban ditangannya
"Ceritalah," pinta Emi
"Aku tidak tahu permasalahannya antara Nyonya Mayang dan Mafia itu. Keluarga ku terjebak hutang pada mafia. Dan hutang itu akan lunas jika aku berhasil membawa Wasabi ke basecamp mereka," Ungkap Ana
"Aku mendengar pembicaraan kalian saat di lobby. Kalian menyangkut pautkan tentang Desiani dan orang ternama, Mayang. Yang aku tahu Desiani adalah anak tiri Nyonya Mayang. Jadi saat itu aku sengaja mengikuti kalian dan memancing tentang soal bagaiman menjadi bodyguard Nyonya Mayang," sahut Ana
"Tak disangka Wasabi tertarik dengan pembicaraan kita. Barulah kita menjalankan rencana kita selanjutnya," jelas Wisnu
Emi sedikit kesal dengan apa yang dilakukan kedua orang itu tetapi dia masih ingin mendengarkan ceritanya.
"Aku juga tidak tahu kalau Ratu Ratih akan menculik kamu. Makannya tadi sore kami sedikit bingung," lontar Ana
"Tapi saat kami berhasil membawa Wasabi. Tak disangka Ratu sangat licik. Dia juga tidak membiarkan kami lepas begitu saja," jelas Ana lagi
"Kalian Emi dan Andi kan?" tanya Ana yang sempat mengingatkan jika Wasabi pernah mengatakan nama temannya itu
"Benar, namaku Emi dan itu Andi," jawab Emi
"Mana Wasabi? Apa yang terjadi dengannya?" jawab Andi
"Wasabi masih berada disana. Dia menyuruh kami lari dan segera kemari. Sementara dia mengalihkan perhatian para mafia itu," jelas Wisnu
"Awalnya kami melawan tanpa senjata. Tapi Wasabi membawa senjata, dalam seketika keadaan semakin kacau karena perang senjata api dan senjata tajam," cerita Wisnu menahan perih
"Sepertinya Wasabi masih terjebak disana. Jika kita kesana kita harus memakai taktik. Tidak mungkin kita melawan begitu banyak orang, akan ada banyak serangan nantinya. Terlebih lagi aku sendiri terluka," ucap Wisnu
Tok Tok Tok
"Itu pasti pelayan yang membawa pesananku," Andi beranjak dengan pelan karena dia sendiri juga terluka. Sebelum membuka pintu, Andi mengintip melalui lubang pintu kamar. Benar itu adalah pelayan dengan membawa barang yang diminta Andi.
Andi membukanya, menerima pesanan serta menambahkan tip untuk pelayan tersebut. Setelah itu ia mengambil gunting dan pinset dari dalam P3K milik Emi.
"Gulung celanamu. Kita lakukan pembedahan sekarang," ujar Andi
Seketika Wisnu menjadi dilema, benarkan pria di depannya itu bisa melakukan pembedahan.
"Tunggu, apa kamu seorang dokter atau perawat?' tanah Wisnu
"Tidak. Tapi aku terbiasa melakukannya. Pamanku seorang militer, dia yang mengajari ku dan pernah membawaku terlibat dalam aksi heroiknya," jelas Andi
Andi lalu membuat gulungan dari kain dan menyuruh Wisnu untuk menggigitnya. Ia juga menyiapkan handuk hangat untuk mengelap luka nantinya.
"Ini akan sakit dan kamu bisa menggigitnya untuk menahan rasa sakit ini,"
Emi dan Ana tak berani melihatnya mereka pun berbincang tentang Wasabi di luar balkon
Andi memanaskan pisau yang ia minta pada pelayan tadi dengan lilin berukuran besar yang sudah dinyalakan. Sebelum dimulai pembedahan Andi menuangkan alkohol ke luka Wisnu. Pria itu mengerang karena perih membakar kulitnya terasa panas hingga ke tulangnya. Seluruh syarafnya menegang dan mati rasa seketika.
Setelah pisau terasa panas, Andi lalu menusukan dan menyayat kecil daging di dekat luka tembakan. Wisnu merintih kesakitan. Ia menekan pisau itu sedikit dalam. Peluru itu akhirnya ditemukan. Di lalu mencongkelnya dan mengambilnya dengan pinset dan sangat berhati-hati.
Wisnu berteriak mengerang kesakitan. Akhirnya peluru yang melekat di betis Wisnu telah keluar.
Andi membutuhkan waktu 15 menit untuk mengeluarkannya. Dahinya berkeringat karena jujur saja dia sudah lama tak melakukan hal itu. Kemudian Andi menjahit luka Wisnu.
Wisnu mengerang lagi. Ia kesakitan saat Andi mulai menjahit. Teriakan Wisnu seperti orang yang hendak berubah menjadi monster. Setelah itu Andi mengoleskan obat merah dari China, darah langsung berhenti dan sedikit mengering.
Andi lalu membalut perbannya kembali. Emi dan Ana masuk kembali setelah Andi menyelesaikan operasi kecilnya.
"Ahh sakit sekali," keluh Wisnu keringat banyak bercucuran dari tubuhnya
"Sabar.. minum dulu," ucap Andi lalu memberikannya minuman dingin dari mini bar
"Thankyou," jawab Wisnu kemudian ia memaksakan diri untuk berdiri
"Mau kemana, jangan banyak gerak. Nanti benangnya putus," sahut Andi
"Aku menahan sakit dan pipis sedari tadi, untung saja aku tidak mengompol," sahut Wisnu
"Phuft hahaha," Semuanya tertawa
Dalam sekejap mereka menjadi akrab