
Setya membuka blackholenya diikuti Inspektur Hendra sedangkan Wasabi datang berjalan dengan Izuna sembari terus berbicara hal lain.
Sesampainya di kamar Sill.
Setya dan Inspektur Hendra menyaksikan Suster Retno yang sedang disandarkan di dinding oleh Sill. Tangan kanan Sill mencekik leher suster retno dan tangan kirinya menodongkan pisau ke arah suster Retno.
"Sill apa yang Kau lakukan! Lepaskan dia!" pekik Inspektur Hendra lalu menoleh melihat Suster Retno yang engap kehabisan nafas
"Ayah Dia ingin membunuhku dengan pisaunya!" ucap Sill
"Tidak mungkin Suster Retno berlaku seperti itu. Aku mengenalnya dengan baik, kita berteman,"
Setya mencoba melerai Sill dan mengambil pisaunya. Sedangkan Inspektur Hendra segera memberi minum kepada Suster Retno.
"Kau tak apa Retno? Maafkan anakku!" ucap Hendra
"Terimakasih. Saya tidak apa-apa,"
"Kenapa Ayah membela Dia?"
"Tenanglah Sill," ucap Setya seraya memegang bahu Sill dan mendudukkannya ke ranjang tempat tidurnya
"Aku tak pernah mengajarimu berlaku tidak sopan seperti itu!" sarkas Hendra
"Sepertinya Sill salah paham. Saya tidak ada niat untuk mencelakainya," ucap Retno
"Lalu apa!" pekik Sill
"Ceritakanlah Suster Retno," sahut Inspektur Hendra
"Saya melihat selang infus Sill tidak berjalan dengan baik. Karena air infus tidak berkurang. Saya cek pada jarum nya, dan ingin di benarkan. Tetapi plester itu menempel dengan rekat dan perlu digunting. Tapi Saya tak menemukan gunting dikamar itu dan juga, Saya tidak bisa meninggalkan ruangan karena pesan Tuan Setya tadi yang harus menjaganya. Sementara di luar suster lain sedang menangani pasien akibat insiden pembunuhan itu kami kekurangan tenaga perawat. Jadi Saya pakai pisau lipat itu. Sill saat itu terlihat lelap dalam tidurnya. Jadi Saya tak ingin membangunkannya. Tapi begitu Saya mendekat, tiba-tiba beranjak dari tidurnya dan langsung mendorong Saya ke dinding sambil mencekik leher Saya," cerita Retno
"Hah, dengar Sill. Dia tak berniat mencelakaimu," ucap Hendra
"Tentu aku terbangun, karena kota ini sedang tidak aman. Dan lagi Aku tak percaya padanya," tuding Sill
"Dan baru saja Aku tak mempercayaimu Sill. Meskipun Kau anakku,"
"Maksud Ayah apa?"
"Entahlah Kau terlihat sedikit mencurigakan. Pertama Kau diam-diam ada di rumah Emi dan mengagetkannya, padahal kau tahu dia ketakutan. Kedua ada banyak bercak darah di pakaianmu. Setau Ayah kau hanya menolong satu orang kemarin dan itu tak memakan banyak baju kotor kan? Ayah sibuk tapi Ayah selalu memperhatikanmu Sill," Inspektur Hendra kini malah mencurigai Sill
"Ketiga terjadi pembunuhan saat kau keluar kamar. Dan sekarang kau berniat membunuh Suster Retno hingga dia kehabisan nafas. Untung Ayah segera datang saat itu! kalau tidak? Dia bisa terbunuh di tanganmu! Jangan-jangan kau memang benar pembunuh itu?" sarkas Inspektur Hendra
Sill terdiam, tetapi dia tidak menangis dia hanya kecewa dengan sikap Ayahnya
"Inspektur Hendra, Kau tak bisa menuduh anakmu sendiri! Lalu penculikan itu? Sill tidak menculik anak itu kan?" sahut Setya menengahi
"Ya mungkin bisa saja penculikan itu dilakukan beda orang?" jawab Inspektur Hendra
Wasabi dan Satpam Izuna datang.
"Kenapa ini? Aku mendengar dari jauh ada perdebatan disini," ucap Wasabi
"Inspektur Hendra gila,"sahut Setya
"Apa kau bilang?" ucap Inspektur Hendra tak terima
"Kau gila menuduh anakmu sendiri!"
Inspektur Hendra pun meninju muka Setya.
Buugh
Setya tidak menyangka Hendra akan memukulnya, ia pun sedikit limbung dan hampir jatuh kalau saja Sill tidak segera beranjak dan meraih lengan Setya
"Ayah! Kenapa Ayah malah memukul Paman!" ucap Sill
"Inspektur Hendra bicarakan baik-baik jangan sampai ada kekerasan. Kau lupa dia Ayahku!" ucap Wasabi
Suster Retno terlihat cemas. Wasabi yang tak tahu apa-apa melerai keduanya, mencoba membaca situasi dan memperhatikan sikap mereka.
"Hentikan! Ini rumah sakit. Tolong, " pinta Izuna
"Sudah Saya mohon. Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik. Ini cuma salah paham. Saya juga yakin Sill adalah anak yang baik," sahut Retno
"Maaf aku emosi," ucap Hendra pada Setya
Apa mereka bertengkar karena suster ini? batin Wasabi
"Tidak dia bukan kekasihku. Dia teman baikku Wasabi. Dan aku malu punya Anak yang tidak sopan seperti Sill," ucap Inspektur Hendra
Izuna pun memanggil Inspektur Hendra dan Wasabi keluar ruangan. Ia ingin tahu apa permasalahannya karena Suster itu juga temannya. Dia juga yang bertanggung jawab atas keamananan di rumah sakit. Bila ada perlakuan yang tidak baik oleh karyawan atau perawat maka Izuna akan turun tangan.
Wasabi dan Inspektur Hendra keluar. Sedangkan Suster Retno mendekati Sill dan meminta ijin untuk memperbaiki selang infusnya.
"Maafkan Saya, tapi bolehkah Saya perbaiki selang infus ini?" ucap Retno
Sill mengangguk, dia terduduk diam dan sedih. Tak sampai lima menit selang infus sudah kembali normal dan berjalan dengan baik.
"Terimakasih Suster Retno," ucap Sill
"Sama-sama,"
"Suster maafkan sikapku tadi," ucap Sill
"Sudah Saya maafkan. Maafkan Saya juga atas kesalahpahaman ini," ucap Retno seraya tersenyum. Ia pun pamit dan meninggalkan Setya dan Sill
"Sudah jangan sedih. Jika Ayahmu menyalahkanmu lagi, Aku akan membelamu," ucap Setya
"Paman percaya padaku?"
"Aku percaya," ucap Setya tanpa berpikir
"Lalu kenapa Ayahku sendiri tak percaya padaku!?"
"Dia hanya terbawa emosi. Ditambah lagi pekerjaannya semakin berat saat ini. Jadi dia tak dapat berpikir jernih," sahut Setya
"Sudah jangan pikirkan apa yang tadi Ayahmu ucapkan,"
"Aku tak memikirkan Ayahku. Yang selalu kupikirkan adalah Paman Setya" Sill tersenyum menatap Setya dengan wajah memerah. Ia sebenarnya memikirkan ucapan ayahnya
"Sudah tidurlah! Atau Aku akan marah,"
"Ya baiklah,"
Sill kembali tidur lalu Setya menyelimutinya dan kemudian menyusul Wasabi di luar ruangan kamar Sill.
Di luar kamar pasien.
Inspektur Hendra menceritakan semuanya pada Wasabi tentang apa yang tadi terjadi. Suster Retno lewat dan menyapa Wasabi dan Inspektur Hendra dan kemudian kembali pergi bekerja.
Tak berapa lama Setya datang menyusul.
"Inspektur Hendra anggapanmu salah. Aku sudah mengecek tiga pakaian itu, asal darah dari pakaian Sill di uji lewat tes di laboratorium. Rata-rata darah itu berasal dari darah korban yang kecelakaan tempo hari. Aku juga menanyakan dengan teman lainnya yang saat itu juga pergi dengan Sill," sahut Wasabi
"Berdasarkan informasi temannya itu, ada dua lokasi kecelakaan di hari yang sama. Sill turut menolong mereka," timpal Wasabi lagi
"Dihari yang sama seharusnya hanya satu pakaian kan?" ucap Hendra
"Tidak seperti itu Inspektur Hendra. Sill selalu membawa pakaian ganti, Dia juga menyimpan pakaian ganti di loker kantor. Saat Dia melihat ada darah di pakaiannya, Dia langsung berganti pakaian. Dan sialnya pakaian itu terkena darah lagi dari tangan keluarga korban," ungkap Wasabi
"Inspektur Hendra, apa kau tak tahu jika Sill sebenarnya phobia darah sejak kematian Ibunya. Orang yang takut akan darah mana mungkin menajadi pembunuh? Dia melihat darah pun sebenarnya takut tapi demi masyarakat dia terkadang terjun kelapangan. Untuk itulah dia terus mengganti pakaiannya," ucap Setya
"Astaga, Aku tahu, tapi Aku baru ingat Dia takut darah. Kenapa kau tak mengatakan sebelumnya,"
"Huh, kemana saja ingatanmu? Apa Kau terlalu lama kesepian?" ujar Setya
"Jadi kalau begitu hanya kesalahpahaman kan? Jika begitu masalah sudah selesai, saya permisi," sahut Izuna
"Ya pak Izuna," sahut Setya, Hendra dan Wasabi serempak
"Selamat bertugas kembali," Sahut Inspektur Hendra
" Aku banyak tekanan dari atasan. Dan juga tuntutan dari banyak pihak. Ada banyak keluarga yang menuntut anaknya untuk dibebaskan. Belum lagi kasus yang terjadi saat ini. Semua bagaikan mimpi," ungkap Hendra sedikit mengeluh
"Kau tetaplah manusia. Kau butuh istirahat. Setidaknya sehari sudah cukup," ucal Setya
"Ya Kau benar. Kau pulanglah. Terimakasih sudah menjaga Sill. Tapi Aku lebih berharap Kau bisa menjaga selamanya," ucap Hendra
Setya langsung melemparkan lirikan tajamnya.
"Kau pasti tau maksudku, cobalah Kau pertimbangkan. Sill cantik, dia memang tomboy tapi dia bisa masak. Aku tak peduli dengan umurmu karena kau pria mapan dewasa dan baik," ujar Inspektur Hendra berniat menjodohkan anaknya dengan Setya
"Haha," Waaabi terkekeh
"Ah Aku tak mau membahasnya. Aku berkemas dulu," Setya pun masuk kembali mengemasi berkas dan barangnya yang lain kemudian pulang ke rumah