Detective Wasabi

Detective Wasabi
Deliberate Carelessness



Deliberate Carelessness (Kecerobohan Yang Disengaja)


Sill dan Andi berpandangan sejenak, membuat Emi merasa tidak nyaman.


"Ehem..Kalian saling kenal?" tanya Emi


"Iya, dia sainganku saat turnamen game online. Awalnya, sesi pertama timnya dia yang menang. Tapi karena terlalu meremehkan tim ku makannya kalah haha...,"


"Sudah puas, menyombongkan diri sendiri?" tanya Silk seraya berkacak pinggang, Andi hanya tertawa


"Masuklah, Ayah sudah meneleponku tadi. Semua barang yang ingin kamu ambil sudah ku siapkan. Sebentar ya," ucap Sill


Andi dan Emi masuk sambil mengamati setiap interior yang ada di ruangan itu.


"Ternyata inspektur Hendra penyuka barang antik," gumam Emi seraya menyentuh barang antik itu dengan hati-hati


Sill datang dengan sebuah alat berukuran pipih berbentuk lingkaran dan sebuah alat pelacak berukuran persegi panjang dengan tebal lima centimeter serta sebuah benda yang bernama falshdisk, kemudian menegur Emi yang hendak memegang barang antiknya.


"Jangan disentuh, aku tak ingin kamu merusaknya,"


"Aku hanya ingin menyentuhnya, bukan merusaknya," jelas Emi


"Emi," panggil Andi seraya memberi isyarat kalau jangan membuat keributan.


"Maaf kan kami Sill,"


"Lain kali bertanyalah dahulu apakah barang itu boleh disentuh atau tidak," ujar Sill


"Ini program buatan Revi dan Aku, dan juga ada alat pengintai. Wasabi lupa membawanya," sambungnya lagi


"Aku bawa ya. Kalau begitu kita pamit pulang. Terimakasih,"


"Ya," jawab Sill dengan juteknya


Andi dan Emi pulang. Sill menutup pintunya dengan sedikit membanting. Sementara Emi dongkol dengan perbuatan Andi yang tidak membelanya.


"Kamu kenapa malah hentiin aku sih, aku kan mau membela diri karena aku cuma nyentuh dikit aja. Sebel banget, ditambah liat muka juteknya. Anak polisi tapi tidak ada ramahnya sama sekali," gerutu Emi menuju motor yang diparkir dihalaman depan


"Debat dengan Sill itu tidak akan ada habisnya. Yang ada urusan kita terbuang sia-sia. Sudah jangan diambil hati. Kita harus segera melihat program yang dibuat Revi apakah butuh penyempurnaan atau tidak, agar kita bisa memastikan apa Wasabi benar dalam bahaya? Pegangan yang kencang aku akan ngebut," ucap Andi seraya menyalakan motornya


"Ya," jawab Emi lugas


Disisi lain, di kediaman Samy.


"Pak, tadi Nyonya telepon, beliau memberitahukan bahwa malam ini belum bisa pulang. Masih ada pekerjaan yang belum selesai di luar kota," ucap pembantu Samy


"Astaga, apakah dia tidak bisa menyerahkan pekerjaan pada anak buahnya," gerutu Samy


"Maaf Saya permisi Tuan, mau melanjutkan memasaknya," pamit si pembantu


"lya, akan ku suruh Joy untuk membantumu,"


"Joy, bantulah bibi," Samy menyuruh Joy yang duduk diruang tengah sambil memainkan ponselnya


"Joy males Dadd,"


"Ayolah, bibi akan memasak makan malam kita. Biar cepat selesai, sebentar lagi tamu Daddy datang,"


"Hmmm ya oke Dad," dengus Joy kemudian bergegas ke dapur dengan malasnya, bukan malas karena lelah. Tetapi dia malas harus menyiapkan makan malam, untuk tamu yang akan menjadi calon suami yang tidak ia cintai.


"Bibi masak apa? Joy bantu ya,"


"Tidak perlu repot-repot Non, biar Bibi saja. Sudah mau selesai kok," ucap pembantu Joy


"Biar saja Bi, biar mereka tahu masakan Joy seperti apa hahaha..."


"Jangan begitu non, nanti calon besan marah lagi, trus tidak suka bagaimana?"


"Loh justru itu niatnya Bi, haha,"


Joy merebut centong sayur yang dipegang si Bibi lalu mengaduk-aduk sayur yang sedang di masak. Dia juga menambahkan banyak garam pada sayur itu. Sementara pembantu Joy hanya menggelengkan kepala


"Non, garamnya banyak sekali. Nanti kalau Tuan marah, saya juga kena marah non," keluh pembantunya


"Ya ampun, Joy tidak memikirkan itu. Bagaimana Bi, maafkan Joy,"


"Joy pesan makanan delivery saja ya," Joy mulai panik lalu segera mengeluarkan ponselnya


"Tidak perlu Non Joy. Begini saja nanti sayur ini tidak usah di hidangkan saja,"


"Ide bagus Bi, tidak usah pakai sayur. Nanti bilang aja tadi ada kecoak atau cicak yang jatuh kesitu," ucap Joy dengan memberikan ide briliannya


Tak berapa lama entah kenapa perasaan Joy menjadi gelisah. Di luar rumah, terdengar seperti ada yang memanggil. Rupanya tamu Daddynya sudah datang. Joy lalu menyiapkan hidangan diatas meja.


Praaaang.


Piring yang berisi hidangan utama itu pun jatuh berserakan dilantai.


Tak berapa lama Daddy Joy datang dengan wajah yang ingin menerkam. Joy tahu betul, Daddy-nya yang pemarah pasti akan langsung menghajarnya.


"Daddy, maaf Joy tidak sengaja," Joy langsung membereskan makanan yang terjatuh, tetapi tangannya kepanasan dia pun panik.


Samy menghampiri Joy, dengan tangan menjulur kedepan


"Duh mampus, Daddy pasti marah ini," pikir Joy sembari memejamkan mata


"Ya sudah tidak apa-apa Joy, nanti kita beli makanan delivery saja ya. Biar bibi yang bereskan, kamu bersiaplah dan sambut tamu Daddy," ucap Samy membelai rambut Joy


Tidak biasanya Daddynya yang pemarah itu bersikap lembut padanya. Apa karena takut Joy kabur lagi?


"Daddy tidak marah?" tanya Joy dengan ragu.


"Daddy tidak ingin mengulang kejadian kemarin. Daddy sayang kamu. Sekarang, kamu dandan yang cantik ya. Jangan bikin malu Daddy lagi," pinta Samy dengan nada lembut


Hemm ini sih bersikap lembut biar aku ngikutin kemauan Daddy bukan karena takut aku kabur, batin Joy sambil melangkah pergi ke kamarnya untuk berhias.


Si bibi pun membereskan kekacauan yang di buat Joy. Samy langsung memesan makanan delivery dari sebuah aplikasi gofood di ponselnya.


Beberapa menit kemudian, makanan delivery telah sampai. Disamping itu juga, Joy sudah tampil cantik dengan riasan tipis dan berpakaian sederhana, tetapi ketika dipakai di tubuh Joy pakaian tersebut terkesan mewah dan cantik. Wanita itu menemui tamu Daddy-nya.


"Hallo Joy, Kamu nampak cantik sekali," sapa Setya, Ayahnya Wasabi


Kenapa Ayah Wasabi ada disini, duh sumpah gugup banget. Tahu gitu aku pake baju yang lain. Ih ini sih baju biasa, ucap Joy berbicara dalam hati


"Daddy mengundangnya makan malam sebagai rasa terimakasih karena Wasabi dan Ayahnya sudah banyak menolong mu," sahut Samy


"Oh ya mana Wasabi?" tanya Samy


"Sedari siang saya tidak dapat menghubungi ponselnya. Sebenarnya saya juga baru tiba dari Bali," jelas Setya


"Oh begitu rupanya, ya sudah yang terpenting Ayahnya mewakili haha," ucap Samy dengan tawa kecil


Tak berapa lama Tuan Baut datang, dia langsung menyapa Samy dan masuk kedalam ruang tamu.


"Selamat petang Samy, maaf Saya lambat datang," ucap Baut dengan nada bicara Malaysia


"Baut sahabat ku, duduklah. Mana istrimu dan Riyan?"


"Isteri saya tak bisa kemari, Riyan akan datang,"


"Paman Baut, apa kabar. Maaf kemarin Joy...,"


"Tak apalah Joy, paman pun pernah muda. But, jangan di ulang lagi ya?" pinta Baut


"Oh ya kenalkan ini Pak Setya, ayah Wasabi. Yang ku ceritakan kemarin malam," Samy memperkenalkan Setya dengan Baut


"Saya Baut," ucap Baut sambil berjabat tangan dengan Setya


"Setya, senang berkenalan dengan Anda," ucap Setya


Hemm namanya Baut dari Malaysia? Untung dia tidak memberi nama anaknya mur, paku, palu, obeng, batin Setya


"Mana Wasabi, si pria hebat itu. Saya ingin tengok wajahnya," tanya Baut


"Yang jelas Wasabi, lebih tampan dan lebih hebat jika dibandingkan dengan Riyan, Paman," sela Joy


"Joy," Samy melirik ke arah Joy tanda tidak suka


"Maaf, Baut Joy hanya bercanda. Hemm sudah malam... Bagaimana kalau kita langsung makan malam saja?" ucap Setya


Dan mereka semuanya pergi ke ruang makan. Lagi-lagi Joy merasakan keanehan di hatinya. Setelah menjatuhkan makan malamnya tadi, wanita itu masih saja di rundung gelisah.


.


.


Di Kediaman Andi Sudirman. Emi melihat Andi yang sedang mengecek isi program di layar komputer. Emi tidak mengerti bahasa pemrograman. Setelah itu Andi menjalankan melihat sebuah alat pelacak yang seadanya, karena saat membuatnya Revi mempunyai masalah keterbatasan bahan


"Wasabi tidak mungkin ceroboh dengan melupakan alat yang penting. Dia pasti sengaja meninggalkannya,"


"Apa maksudmu?" tanya Emi


"Kita buktikan dulu. Revi tadi menyalakan alat ini secara diam-diam. Ada dua tombol On, yang satu tidak ada lampu yang menyala di alatnya. Yang kedua tombol ON disebelah tombol OFF, Sill hanya tahu tombol ON nya yang kedua, yang hidup lampunya," jelas Andi yang membuat para reader membayangkan seperti apa alatnya


"Jadi alat ini aktif sedari tadi, setelah Revi di bawa ke sel kembali?" terka Emi


"Alat itu aktif dari awal Revi buat," ucap Andi sambil membuka sesuatu didalamnya. Ada sebuah chip. Andi mengeluarkan chip dan memasangkannya pada CPU komputernya.


"Emi perhatikanlah. Ini keahlianmu dalam membaca situasi yang terekam kamera,"


Emi memperhatikan dengan seksama. Dia sangat serius menatap layar monitor didepan matanya. Sedangkan Andi malah terus memandangi Emi yang sedang fokus.


"Berhentilah memandangiku. Aku jadi tidak fokus," ucap Emi


"Bagaimana kamu tahu, Kamu kan melihat ke depan layar,"


"Tapi bukan berarti aku tidak dapat melihat yang terjadi di sampingku,"


"Haha.." kekeh Andi


"Lihat ini Andi. Kamu benar! Sebelum pergi Wasabi menunduk. Dia tidak menunduk saja, dia seperti sedang berfikir lalu melirik ke arah alat ini,"


"Kalau dia melirik, berarti dia tidak lupa. Dia tidak ceroboh tetapi ada sesuatu yang dia rencanakan,"


Emi berpikir kemudian berkata, "Mungkinkah dia tidak percaya pada Sill atau Inspektur Hendra?"


"Aku rasa tidak mungkin jika Inspektur Hendra terlibat kejahatan. Jika dia melakukan kejahatan, dia tidak mungkin meminta bekerja sama dengan Wasabi, itu sama saja menyerahkan dirinya,"


"Lantas siapa yang patut dicurigai,"


"Aku tidak tahu, kita juga tidak tahu dia sedang menyelidiki apa. Revi tidak bisa berkata banyak karena hanya diberi waktu sebentar untuk menelepon. Aku ingin bertanya dengan Sill tapi aku tidak begitu akrab dengannya," sahut Andi, "Kita lihat dulu CCTV dari kasus yang ditangani Wasabi," timpal Andi


Emi kembali melihat layar. Kali ini rekaman menunjukkan lokasi yang ada di Cafe, saat transaksi terjadi. Emi menemukan satu hal yang sangat fatal dari seorang pria yang tertangkap di rekaman CCTV.


"Lihat, dijambang ini ada kulit yang terkelupas. Dia memakai topeng untuk menyamar,"


"Emi kau sungguh ahli dalam hal ini, padahal Aku saja sampai tak melihatnya, kualitas kamera itu begitu buruk," ucap Andi


Emi diam, tidak menjawab. Ia fokus mengamati hingga akhir lalu memutar ulang, mempercepat lalu memperlambat.


"Emi berhentilah memutar ulang, kamu membuatku pusing," protes Andi


"Apa yang Revi katakan padamu tadi?"


"Ya dia bilang kalau Wasabi menyuruhnya melacak keberadaan 2 gadis yang telah dijual. Revi membutuhkan DNA atau sidik jari dari si pelaku yang membeli gadis itu. Wasabi ingat orang itu merokok dan membuangnya di tanaman samping dekat mereka duduk. Wasabi langsung mengambilnya rokok itu. Setelah di cek lewat sidik jari dan air liur dari putung rokok tersebut, ternyata orang itu adalah orang Indonesia asli bukan orang Inggris seperti yang dikatakan pelayan cafe. Sedangkan dalam paspor wajah orang itu adalah warga Jepang," jelas Andi yang menjelaskannya sedikit rumit


"Jadi, wajah Jepang, paspor Jepang, tetapi DNA Indonesia dan logat Inggris fasih," ucap Emi memastikan


"Ya tepat,"


"Huft itu bukan DNA dia,"


"Lalu sidik jari itu?"


"Aku tidak tahu kenapa hasil sidik jari dan DNA itu berbeda. Aku rasa temanmu memasukkan DNA dan sidik jari. Maka dari itu kamera dari satelit membacanya dia berpindah ditempat B. Atau bisa jadi terbaca di lokasi a dan di lokasi b entah yang mana yang tepat kurasa yang sidik jarilah yang tepat. Karena rokok yang dia buang ke pot itu bukanlah rokok yang dia hisap," kata Emi


"Perhatikan. Dimenit ini putung rokoknya sudah mencapai batas habis. Sedangkan yang dia buang. Aku stop dulu, lalu aku perbesar. Nah...dia membuang putung rokoknya dibawah meja tidak terlihat memang, tetapi dia kembali menghisap, dan rokok ini jauh lebih panjang dari yang tadi.


"Aku tidak tau rokok kedua ini punya siapa. Bisa jadi teman sebelahnya. Atau ini sengaja dia buat. Penjahat kelas atas tak akan meninggalkan jejak semudah itu dari pengawasan CCTV,"


"Aku benar-benar tak memperhatikan panjang rokok itu. Kamu benar Emi dia sengaja membuang puntung rokok itu. Kecerobohan yang disengaja,"