
Ponsel Emi berdering, ia pun meminta ijin pada Wasabi untuk mengangkatnya terlebih dahulu, seraya berjalan menuju depan gang karena mobil Wasabi terparkir di depan gang.
"Siapa?" tanya Wasabi usai Emi mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya
"Sill meminta kita mengambilkan beberapa pakaiannya. Tapi aku tak punya kuncinya, bisakah kita masuk dengan kekuatan teleportasi mu?" tanya Emi
"Bukankah pasien bisa memakai pakaian dari rumah sakit?"
"Haha bagaimana ya mengatakannya, Aku sedikit canggung. Ini...pakaian dalam wanita," sahit Emi sedikit malu
"Ups maaf, Ok gak masalah, akan ku temani Kau,"
Tak berapa lama suara klakson mobil dari arah seberang mengagetkan Wasabi dan Emi.
"Emi...Wasabi, " panggil Joy
"Joy, sedang apa kau disini?" tanya Wasabi kemudian menyebrang jalan, menghampiri Joy
"Hai Joy, " sapa Emi
"Hai Emi. Uh Wasabi Kau menyebalkan. Pantas saja kau tak membalas pesanku, sedang berkencan rupannya," ucap Joy
"Haha tidak sayang kau salah paham. Aku sedang menyelidiki kasus pembunuhan disana. Maka dari itu Aku mengganti mode silent diponselku," jelas Wasabi yang kini sudah berada di dekatnya
"Maaf ya," ucapnya lagi
"Hemm baiklah tak masalah. Aku baru saja bertemu dengan pemilik gallery seni lukisan. Besok Dia membuka pameran untuk umum dan Aku ingin menitipkan beberapa lukisanku," sahut Joy
"Wah itu bagus, Aku yakin lukisanmu pasti laku keras," ucap Emi
"Ya Aku sependapat denganmu Emi, Joy begitu berbakat," sahut Wasabi
"Sudahlah berhenti memuji. Kalian mau kemana? Butuh tumpangan?"
"Aku bawa mobil sayang, tapi tak apa akan ku temani kau," sahut Wasabi
"ljinkan Aku yang mengemudi PrincessJoy," sahut Wasabi sambil membungkuk
"Pfft... Oke silahkan Prince Wasabi," ucap Joy
Joy mengulurkan tangannya kemudian Wasabi mengantarkan Joy di bangku sebelah pengemudi. Kemudian Wasabi membukakan pintu untuk Joy, sangat romantis.
"Astaga kalian ini, berhentilah bersikap seperti sinetron ikan terbang, " keluh Emi
Joy dan Wasabi terkekeh
Di tengah perjalanan.
Joy memberitahukan kabar bahwa anak walikota Tiba-tiba menghilang. Wasabi dan Emi terkejut mendengarnya
"Aku belum tahu berita itu, kapan itu terjadi dan siapa namanya?" tanya Wasabi
"Jika dari informasinya sih diperkirakan hilang saat Aku ke rumahmu kemarin lusa. Namanya Billy," ucap Joy
"Apa!" seru Emi dan Wasabi bersamaan
Ciiiit.
Wasabi menginjak rem secara tiba-tiba hingga kening Joy mencium dasbor mobil.
"Ouch sakit, Wasabi,"
"Maaf sayang," ucap Wasabi seraya mengelus kening Joy dan menciumnya
"Aku terkejut mendengar Billy yang ternyata adalah anak Walikota," sahut Wasabi menjelaskan
"Aku melihat Billy dibunuh," bisin Emi pelan
"Hah serius?" pekik Joy
Emi pun menceritakan apa yang ia lihat dan ia juga menceritakan jika pembunuh itu sempat mengejar Emi. Sementara Wasabi melanjutkan kemudi nya
"Dan baru saja aku dan Emi kembali ke tkp dan menyelidikinya," jelas Wasabi
"Kalau begitu, sebaiknya Emi jangan keluar rumah itu berbahaya! Apalagi dia sudah melihatmu," sahut Joy
"Ya Aku tahu, Aku sebenarnya tak ingin keluar rumah. Tapi Aku tak sengaja menembak Sill.
"Menembak? Bagaimana ceritanya?"
"Ceritanya panjang Joy. Oh ya Joy. Bisakah Aku menginap dirumahmu beberapa hari ini?" pinta Emi
"Tentu bisa, Kau sahabat wasabi. Artinya kau sahabatku juga," sahut Joy
Dan kemudian Emi melanjutkan cerita bagaimana ia menembak Sill. Perbincangan pun berlanjut dan beralih ke berbincang tentang bela diri.
Wasabi meminta Joy agar berlatih beladiri tak hanya itu, dia juga akan mengajari Joy cara memegang pistol dan menembak dengan benar
Joy tidak bisa bela diri, serangan dengan memakai tangan masih bisa dibilang lemah. Namun jika soal tendangan, Joy bisa menghajar seseorang, bahkan dengan sekali tendangannya saja bisa merontokkan gigi.
Sesampai dirumah Sill.
Mereka bertiga masuk kedalam dengan kekuatan teleportasi Wasabi.
Joy dan Emi membawa beberapa pakaian termasuk pakaian dalam Sill. Sementara itu Wasabi melihat-lihat barang antik koleksi Inspektur Hendra.
"Barang antik, Aku ingat bukankah Nyonya Cen juga penjual barang antik. Mungkin Aku bisa mencari tahu lewat pembelinya. Inspektur Hendra mungkin kenal beberapa pembeli atau pengoleksi barang antik," gumam Wasabi
Joy sambil melihat isi kamar Sill. Di kamarnya ada keranjang pakaian kotor bervolume besar dan pakaian itu sedikit keluar dari tutupnya. Saat diperhatikan dari dekat betapa terkejutnya dia karena ia melihat noda darah dari pakaian itu.
Joy lalu membuka keranjang itu dan ada banyak pakaian yang bernoda darah tak hanya satu melainkan empat.
Emi yang juga terkejut lalu memanggil Wasabi dengan berteriak dari kamar Sill. Wasabi terkejut dan hampir memecahkan barang antik yang dipegangnya.
Segera Ia meluncur ke kamar Sill.
"Ada apa?" tanya Wasabi
"Lihat Wasabi. Itu pakaian Sill banyak bernoda darah," ucap Emi
'Oh Aku sudah tahu. Dia sering menemui penjahat yang memberontak dan itu darah penjahat itu,"
"Apa Kau yakin Wasabi? Apa dia setiap hari menemui penjahat atau korban yang berdarah?" tanya Joy
"Tidak juga, terkadang dia keluar membantu korban kecelakaan," ucap Wasabi
"Ditambah sekarang ada kejadian pembunuhan! Apa Kau tak curiga jika Dia pelakunya?" ucap Joy seakan-akan memprovokasi
"Aku sependapat dengan Joy! Kau tau bagaimana Dia masuk ke rumah ku saat itu. Dia pintar menyelinap! Jangan-jangan dia ingin membunuhku saat itu! Ditambah lagi jika dilihat-lihat tingginya sama dengan Sill. Astaga Aku takut Joy!" pikir Emi yang kembali Parno
"Tenanglah. Jika pelaku itu memang Sill. Tak mungkin dia ceroboh dan menyuruhmu mengambil barangnya di kamar," ucap Wasabi yang masih berpikir positif
"Ya bisa saja kan karena dia tahu kalau kau pasti mengira itu darah dari para penjahat. Dan dia berpikir itu pasti aman!" terka Emi
"Ah aku juga ingat, saat berteduh, pembunuh itu sedang makan kacang. Dan sekarang lihat itu, di meja Sill ada banyak kacang di toples itu," ujar Emi
"Aku yakin setelah ini tak akan ada korban. Karena lihat saja kaki Sill, dia tertembak," timpal Emi lagi
"Kita tak bisa asal tuduh. Oke kita masukkan saja Dia kedalam daftar dugaan. Kita buktikan dahulu. Sekarang kita ke rumah sakit. Dan atur rencana dirumah" ucap Wasabi yang mengalah dari pada berdebat dengan para wanita