Detective Wasabi

Detective Wasabi
Power of Love



Wasabi berjalan kaki menikmati suasana malam di Bali. Kebanyakan turis berjalan kaki, ada juga yang naik motor sewaan dengan memakai helm yang bukan standar SNI.


Membeli makanan dan souvernir yang dijajakan di pinggir trotoar. Sekalian cuci mata melihat yang bening-bening dengan pakaian mereka yang tipis dan mini.


Tetapi, mata Wasabi malah menemui skandal perselingkuhan. Ia terbelalak saat melihat Riyan merangkul seorang wanita memasuki sebuah hotel. Bukan Joy, wanita lain yang lebih seksi


"Riyan,"


Teriakan Wasabi terdengar oleh Riyan, tunangan Joy. Dia pun menoleh ke arah Wasabi dan berhenti di teras lobby.


"Hai Wasabi. Kamu juga liburan di Bali?" tanya Riyan dengan logat malaysianya


"Tidak, Aku sedang ada kerjaan disini. Siapa dia?" selidik Wasabi


Riyan melepaskan rangkulan, baru sadar jika Wasabi mengenal Joy, "Oh cuma kawan. Ini Raisya. Raisya dia Wasabi,"


"Hallo Wasabi," Raisya mengulurkan tangan tetapi Wasabi tidak membalas uluran tangannya, dia hanya sedikit membungkukkan badan


"Teman? Tunangan mu Joy mencarimu. Kamu tidak bilang padanya kalau kamu ada di Bali?" tanya Wasabi


"Tunangan? Kamu bilang single?"


"Si-siapa itu Joy. Saya tak kenal dia sayang," ucap Riyan pada Raisya kemudian ia menoleh ke arah Wasabi "Heh Wasabi jangan ucap sembarangan kamu," desis Riyan


Wasabi geram, dia lalu menonjok muka Riyan dengan kekuatan penuh hingga hidungnya berdarah. Kemungkinan patah


"Oh Sakit. Saya akan menuntut kamu," pekik Riyan seraya memegangi hidungnya


"Silahkan dasar brengsek. Kamu tidak pantas buat Joy," Wasabi pergi meninggalkan pria Malaysia itu


"Tunggu Wasabi. Jangan beritahu Joy. Saye tidak mahu pertunangan dibatalkan.


Wasabi kembali lagi dan meninju muka Riyan sekali lagi. Kini giliran pelipis matanya yang terkena hingga lebam.


"Fu*k" Wasabi langsung pergi meninggalkan Riyan


Dasar bajingan bisa-bisanya dia mempermainkan Joy, umpat Wasabi dalam perjalanan pulangnya


"Ahh tanganku mulai keram. Untung aku pakai jaket, eh" gumam Wasabi tiba-tiba teringat kata Dokter Lee


Apakah yang dikatakan Dokter Lee itu benar. Tanganku keram saat aku memikirkan Joy, apa aku cinta Joy. Ahh tidak mungkin, batin Wasabi


Dia bukan kriteria ku. Tapi kenapa saat ini aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memberitahukan tentang kelakuan Riyan. Ahh tidak-tidak aku tidak ingin ikut campur. Kalaupun ini cinta. Aku harus memusnahkannya, Pikir Wasabi dalam hatinya


Hari dan pikirannya beradu, Dia ingin menepis perasaannya tapi hati Wasabi tidak tenang. Ditambah tangannya masih mengeluarkan cahaya biru. Yang dia sendiri tidak tahu apa dan kenapa.


Wasabi mencari gang kecil dan sepi kemudian mencoba-coba apakah tangannya itu mengeluarkan sesuatu.


"Hah apa ini seperti api berwarna biru," gumam Wasabi


"Jika ku lakukan seperti ini maka akan mengeluarkan aliran listrik,"


Beruntung, kekuatan ini tak bertahan lama. Hanya sebentar kemudian menghilang. Tangannya kembali normal. Setelah sampai di rumah sewaannya. Wasabi memutuskan kembali Jakarta dia benar-benar tidak tenang. Biarlah kekuatan nya sedikit terkuras. Sebelum menggunakan kekuatan teleportasinya, Wasabi makan dulu biar ada energi.


Whuss..


Dalam hitungan detik Wasabi sudah berada di rumah Joy. Dengan membawa tas besarnya yang ia pikir akan berada di Bali beberapa hari tapi kemudian dia harus kembali ke Jakarta.


Ting Tong


Wasabi memencet bel rumah. Pembantu Joy datang membukakan pintunya


"Malam bik," sapa Wasabi


"Malam, maaf...," si pembantu sambil mengingat, "Anda Detektif Wasabi yang tempo hari membantu kasus nona Joy itu kan?"


"Benar, Joy ada?" tanya Wasabi


"Nona Joy sekarang sedang tidur. Dia demam tinggi sekali. Terakhir saat saya mengompresnya, satu jam yang lalu. Saya mengecek suhunya diatas 39 derajat,"


"Astaga, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Wasabi


"Nona Joy tidak mau,"


"Bolehkah saya melihat keadaannya?"


Pembantu Joy pun mempersilahkan, dia mengantar Wasabi hingga ke kamar. Saat menaiki tangga Pembantunya itu bercerita jika Joy kurang kasih sayang orang tuanya. Orang tuanya bahkan jarang pulang ke rumah. Tunangannya juga tidak pernah ke rumah. Apalagi teman, Joy seorang yang mengunci diri. Namun di media sosial dia menjadi pribadi yang berbeda. Begitulah cerita pembantunya Joy yang bernama Nuning, kerap dipanggil Mbak Ning


Sesampainya dikamar Joy. Entah kenapa perasaan Wasabi menjadi sedih melihatnya. Mungkinkah hatinya mulai menyayangi Joy?


Wasabi kemudian memegang dahi Joy dengan tangan kanannya. Tiba-tiba tangan kanannya mengeluarkan cahaya biru. Tetapi dia tidak merasakan keram. Juga seperti ada aliran panas yang berjalan melewati urat nadinya.


Suhu Joy yang tadinya terasa panas, kembali normal dalam sekejap. Seakan-akan suhu panasnya itu telah diserap oleh Wasabi. Apakah ini kekuatan baru Wasabi?


Joy bergerak, karena ada sesuatu yang menyentuh dahinya. Wasabi melepaskan tangannya agar Joy tidak melihatnya. Saat wanita itu membuka mata, ia terkejut ada Wasabi di sampingnya. Joy beranjak duduk, Dia bisa merasakan jika badannya membaik.


"Was-wasabi abi. Se-sejak kapan kau disini?" ucap Joy beranjak dari tidurnya dan duduk bersandar ke dinding ranjang


"Maaf, tadi aku mematikan telepon saat kamu menelpon ku," ucap Wasabi tersenyum tipi


Joy berdebar melihat senyum manis Wasabi meski sedikit.


"Hemm Maaf aku tadi butuh seorang teman," ucap Joy sedikit malu, "Tadi aku panas tapi kenapa sekarang sudah baikan ya," lanjutnya


"Itu bagus dong," Wasabi semakin tersenyum lebar


Ini kali pertamanya Joy melihat Wasabi tersenyum lebar ke arahnya.


Wajah Joy memerah. Wasabi bisa melihatnya dengan jelas jika Joy tersipu malu, meski ia melihatnya dalam lampu yang temaram. Rupanya gadis sombong dan jutek seperti Joy bisa menampakkan wajah malunya.


"Terimakasih ya kamu sudah kesini. Aku sudah baikan kok. Kamu pulang aja. Lagian aku udah bilang kan, apapun yang terjadi jangan temui aku,"


"Aku diusir?" tanya Wasabi


"Hemm sudah malam. Lagian kenapa kamu kemari?"


"Aku tadi bertemu Riyan di Bali. Dia bersama pacar barunya. Maaf bukan maksud ku ikut campur," jelas Wasabi


"Aku sudah tahu dia punya banyak pacar. Tetapi hubunganku dan dia karena sebuah perjodohan. Aku bisa apa? Menunggu laki-laki khayalanku datang dengan menunggangi kuda putih dan menggagalkan pernikahanku dengan Riyan. Bulshit," ucap Joy


Wasabi terdiam dan menatap Joy dengan tatapan serius


"Kenapa lagi-lagi kamu menatapku seperti itu,"


"Aku tak punya kuda putih," jawab Wasabi kaku


"Haha Astaga. Kamu ingin menjadi laki-laki dalam khayalanku?" tanya Joy


"Iya," jawab Wasabi serius tanpa ada ekspresi


Tawa Joy terhenti. Dia bingung dengan Wasabi. Pagi tadi dia bilang tidak peduli dengan pernikahan Joy. Malam ini dia bilang ingin menjadi laki-laki yang menyelamatkan Joy dari pernikahan dengan lelaki pilihan orang tuanya


Suasana menjadi canggung.


"Sudahlah tak usah dipikirkan. Tidurlah kembali. Aku pulang ya," pamit Wasabi


"Wasabi. Kamu menjengkelkan," Joy kesal karena Wasabi tidak menjelaskan dengan detail apa maksud perkataannya


"Haha iya aku memang begini adanya,"


Kemudian Joy melemparkan bantal ke arah Wasabi


"Hey berani-beraninya melempar ku, rasakan ini," Wasabi kembali melempar bantal ke arah Joy


Perang bantal pun dimulai. Wasabi mengelak dengan berlari kecil di kamar Joy yang sangat luas. Dalam sekejap mereka berbaur dan menjadi akrab.


"Stop stop Aku capek," kata Wasabi yang langsung duduk di ranjang Joy


"Hah cuma segitu kekuatanmu?"


"Hmmh Aku lelah Joy seharian ini ada masalah yang banyak dan harus ku selesaikan secepatnya," dengus Wasabi


"Terimakasih Wasabi. Aku sedikit terhibur dengan kedatang mu. Pulanglah," sahut Joy


"Semoga pelakunya segera ditemukan. Wasabi ku kan hebat!" timpalnya lagi


"Ya...Terimakasih Joy,"


"Terimakasih buat apa?"


"Ini pertama kalinya aku tertawa bahagia," ungkap Wasabi," Mungkin..." Wasabi menghentikan kalimatnya


"Mungkin apa?"


"Tidak. Sepertinya ini bukan mungkin lagi"


"Lalu?"


"Lupakan... Sudah ya bye," pamit Wasabi


Whuss


Wasabi menghilang dengan kekuatan teleportasinya


Wasabi kabur dengan perasaan malunya. Sungguh saat itu dia ingin mengutarakan perasaannya. Tapi dia berpikir kehadiran dirinya hanya akan mempersulit keadaan Joy yang sudah ditunangkan.