
Pagi harinya di Kampus
Wasabi menunggu Joy di atas tangga fakultas seni. Banyak mahasiswi lain yang terpesona melihat Wasabi berdiri disana seorang diri
Hal gila apa yang membuatnya rela menunggu, Wasabi seorang yang dingin, cuek dan tidak peduli dengan wanita lain, tiba-tiba saja menaruh perhatian kepada seorang wanita.
Dia hanya ingin tahu keadaan Joy. Rupanya virus cinta telah menyerang Wasabi. Pikirannya terus di kelamuti bayang-bayang tentang Joy.
Wasabi bersandar di dinding tangga lantai atas. Beberapa mahasiswa yang lewat langsung bergosip menceritakan tentang kehebatannya.
Lalu ada dua orang wanita yang mendekatinya, menyapa kemudian mengobrol bersama. Wasabi pun hanya menjawab sekenanya, itu pun jika ditanya. Tapi tetap saja pria itu tidak pernah mengumbar senyum. Kalau kata Andi, wajah Wasabi seperti batu. Straight Face dan kaku. Tapi begitu ia tersenyum, dunia terasa runtuh.
Tak berapa lama Joy datang. Seperti biasa Joy datang ke kampus sendirian. Begitu ia naik tangga menuju kelasnya yang berada di lantai atas. Wasabi melemparkan senyum ke arah Joy dan menyapanya. Tetapi Joy tidak menanggapi sapaan Wasabi, dia melewati Wasabi dengan acuhnya.
Padahal Joy sempat melihat Wasabi yang sedang mengobrol dengan teman wanitanya.
"Joy," teriak Wasabi sambil berjalan mendekati Joy.
Joy mengabaikan Wasabi, dia terus berjalan menuju kelasnya. Wasabi mengejarnya dengan langkah besar, lalu meraih tangan Joy.
"Joy," panggil Wasabi
"Hey," Joy terkejut lalu mengambil earphone bluetooth yang terpasang di telinganya.
Pantas saja dia tak mendengar ku, dia sedang mendengarkan musik, batin Wasabi
"Hey Wasabi, ada apa?" tanya Joy
Seketika Wasabi menjadi gugup, dia harus menjawab apa?
"Hmm Aku ingin tahu keadaanmu," ucapnya
"Aku baik-baik saja. Terimakasih ya soal kemarin," sahut Joy
"Hmmh Wasabi aku masuk kelas dulu ya. Ada mata kuliah yang tertinggal. Bye," Joy berlalu pergi meninggalkan Wasabi
Joy pergi begitu saja, dia langsung masuk ke kelasnya dan bergabung dengan teman lainnya. Ia terlihat sangat sibuk.
"Dia berubah atau hanya perasaanku saja," gumam Wasabi
Wasabi kemudian turun dan berjalan ke arah kelasnya.
Mata kuliah pertama selesai. Wasabi segera keluar dan mencari Joy. Ada yang dia rindukan dari Joy. Biasanya Joy yang agresif mencari dirinya, tapi kini kebalikannya. Wanita itu juga tidak terlihat di kantin. Wasabi kemudian mencari nya ke fakultas Seni.
Joy berada di perpustakaan. Dia duduk dan merebahkan kepalanya diatas meja baca. Wasabi mendatanginya dan duduk di sebelah Joy yang sedang memejamkan matanya. Terlihat seperti habis menangis.
Wasabi menyibakkan rambut Joy yang menutupi sebagian mukanya. Saat ia mengambil anak rambut Joy lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Joy terbangun, dia membuka matanya dengan terkejut. Dengan cepat Joy mengangkat kepalanya sambil mengelap sedikit air mata yang hampir mengering.
"Kamu mengagetkanku saja," ucap Joy sambil berbisik
Wasabi menyuruh Joy keluar dari perpustakaan dengan nya. Tentu saja di dalam perpustakaan mereka tidak bisa berbicara dengan leluasa. Mereka pun keluar dan duduk di bangku luar perpustakaan.
"Kamu nangis? Kenapa? Ada masalah?" tanya Wasabi
"Bukan urusan kamu. Kenapa kamu tiba-tiba peduli?" sahut Joy ketus dan diakhir sebuah pertanyaan
"Kita berteman, jelaslah aku peduli padamu,"
"Ck Aku sombong, suka memaksa dan sedikit liar. Kenapa masih mau berteman dengan ku?"
"Joy, teman itu tidak memandang sifat apalagi latar belakang. Selagi kita nyaman satu sama lain,"
"Hmmh nyaman?" Joy tersenyum miring, "Bukankah kamu sendiri pernah bilang, kalau aku wanita murahan, agresif, dan bahkan jijik jika aku mendekatimu,"
"Joy...setelah mengenalmu....," ucapan Wasabi terputus
"Hmmh kalau diingat-ingat tingkahku sangat memalukan. Dan aku ingin menjauhimu sekarang,"
"Apa maksudmu?"
"Apa maksudmu?! Bukan nya kamu tidak suka jika ku dekati? Aku berusaha menjauhimu. Jadi tolong jangan dekati aku!" sahut Joy
"Ini terakhir kali nya kita bicara sebagai teman. Oh ya dan soal perasaanku. Aku berbohong padamu. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya tak mau kalah taruhan. Itu saja," ungkap Joy
"Taruhan?" Wasabi mengatakannya lagi agar lebih jelas
"Ya... Aku taruhan jika Aku bisa membuatmu jadi pacarku, Aku menang. Tapi Aku memilih kalah dan mengakhiri semuanya, setelah kamu menolong ku kemarin," ucap Joy
"Jadi Aku telah salah menilaimu," Wasabi terdiam. Dia ingin sekali mengatakan perasaannya. Tapi ada yang aneh dengan Joy, semua sikapnya yang mendekat kemudian menjauh kemudian mendekatinya lagi dan kini wanita itu ingin menjauhinya. Apa benar Joy hanya mempermainkan Wasabi
"Terimakasih," desis Wasabi kemudian berlalu pergi. Terimakasih karena sudah menghancurkan hatinya.
Ketika Wasabi telah menjauh dari pandangan Joy. Air mata gadis itu berlinang. Tapi dia mencoba untuk tegar. Ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Dia teringat perkataan Daddynya yang mengharuskannya menerima perjodohan. Kali ini tidak boleh menolaknya. Sebulan lagi Joy akan meresmikan pertunangannya.
Menurutnya, menjauhi Wasabi adalah cara yang terbaik untuk menghilangkan perasaan cinta nya.
.
.
.
Siang itu Wasabi telah menyelesaikan mata kuliah nya. Sedangkan Joy masih ada kelas sore. Dia duduk di kantin, sambil menunggu jam kuliah.
Temannya asik mengobrol dengan teman lainnya. Sedangkan Joy sibuk memainkan pensil di tangan nya, dia menggambar di buku polosnya.
Sepanjang pelajaran Wasabi tidak bisa menerima kenyataan dengan apa yang dikatakan Joy jika dirinya dijadikan bahan taruhan. Masih ada yang ingin dibicarakan Wasabi dengan Joy. Dia pun menghampiri Joy kembali. Semua mata tertuju pada mereka berdua
"Joy, bisa kita bicara?"
Joy terkejut, dia segera menghentikan gambarannya dan menutup bukunya.
"Wasabi, Aku sudah bilang jangan bicara padaku lagi!"
Wasabi tak menghiraukan perkataannya, ia melihat ada banyak peralatan lukis disamping tempat duduk Joy. Ada Kanvas serta alat penyanggahnya, peralatan cat dan kuas panjang yang terlihat menonjol dari tasnya. Ide lain pun muncul.
"Ikuti Aku," sahut Wasabi yang langsung meraih pergelangan tangan Joy dan menariknya pelan
Pria itu berjalan duluan, disusul Joy dengan sedikit kesusahan membawa peralatan lukisnya dalam satu tas besar. Sementara tangan satunya Cukup jauh Wasabi berjalan. Dia berhenti setelah sampai di belakang kampus.
"Astaga kamu benar-benar menyusahkan! Cepat katakan! apa yang ingin di bicarakan?"
"Aku akan menjauhi mu. Setelah kamu melukis diriku,"
"Apa!" Joy mengernyitkan dahinya
"Ya kamu jurusan seni bukan? Lukis aku untuk pertama dan terakhir kali nya,"
"Disini?" tanya Joy, "Ini tempat yang buruk Wasabi. Apa kamu tidak lihat ada banyak barang bekas di belakang kampus ini?"
Wasabi kemudian meraih tangan Joy dan membawa Joy berteleportasi ke suatu tempat.
Whusss
Mereka pun tiba di suatu pantai.
"Hah," Joy terkejut karena ini pertama kalinya dia berteleportasi dengan seorang yang ia dambakan
"Kenapa? Menyenangkan bukan?"
"Iya, sedikit terkejut... hmmm Aku sudah lama tidak ke pantai," ungkap Joy tanpa sadar ia menyunggingkan senyum, kesedihannya sedikit terlupakan
"Ayo mulailah melukis diriku,"
"Aku tidak pandai melukis Wasabi,"
Wasabi kemudian merebut tas totebag milik Joy dan mengeluarkan buku gambarnya yang tadi dia pakai menggambar sesuatu di kantin. Joy berusaha merebutnya namun Wasabi sudah menjauh karena ia menggunakan kekuatan teleportasinya
Selembar demi selembar Wasabi membuka dan melihat lukisan sketsa yang indah di dalam buku itu
"Lihat apa yang kamu gambar? Kucing, mawar yang jatuh, dan ini Fika sahabatmu bukan? Tukang becak, gelas, Skateboard, Pistol, dan terakhir Aku?" Wasabi melihat Joy sambil tersenyum
"Jadi tadi dikantin kamu sedang menggambar wajah ku?" timpal Wasabi
"Hemm bukan, itu bukan kamu," jawab Joy tersipu malu dan berusaha mengelak
"Ya kau benar dia bukan aku. Digambar itu pipinya terlihat gendut. Aku ingin di lukis di kanvas mu itu," pinta Wasabi
"Kamu suka sekali memaksa. Kanvas ini untuk mata kuliahku nanti,"
"Ya, sama seperti mu kan? Apa beda nya Aku dan kamu. Kita sama-sama suka memaksa. Aku tak peduli tentang kanvas itu. Yang Aku mau, lukis lah aku di kanvas itu. Cepat! Aku tak punya banyak waktu!"
"Kalau Aku tidak mau?" sahut Joy sambil berkacak pinggang
"Aku akan terus mendekatimu," ucap Wasabi
Sial. Kalau begini terus bagaimana Aku bisa melupakannya. batin Joy
"Oke duduk lah dan jangan banyak gerak," perintah Joy yang akhirnya menuruti kemauan Wasabi
Wasabi duduk, sedangkan Joy mulai melukisnya di kanvas.
Dari situ Wasabi bisa melihat kalau perasaan Joy padanya adalah benar-benar tulus bukan karena taruhan. Pria itu bisa melihat raut wajah Joy yang merona ketika Wasabi terus memandanginya
Joy tersenyum melihat hasil lukisan nya. Dia tak menyangka kalau apa yang dia lukis sangat sempurna. Wasabi semakin kagum dengan bakat yang dimiliki Joy.
"Bagus kan? Kamu harus bayar 1 juta rupiah untuk lukisan ini," pinta Joy
"Haha mana punya uang aku, ya sudah kalau begitu ambil saja lukisannya buatmu," sahut Wasabi
"Ih menyebalkan. Aku sudah bersusah payah membuatnya,"
Untuk apa Aku memandangi diriku sendiri di lukisan, Kecuali gambar lukisannya itu dirimu Joy,"
Joy tidak menjawab, wajahnya tiba-tiba merona lagi.
"Ehemm Joy, Aku ada janji dengan Inspektur Hendra. Kamu masih mau disini atau kembali ke kampus?" tawar Wasabj
"Ih kamu menyebalkan, Aku masih ada kelas, kita kembali ke kampus lagi," sahut Joy kesal karena Kanvas miliknya adalah untuk tugas melukis mata pelajaran selanjutnya
Setelah itu Wasabi membantu Joy berkemas. Pria itu membawakan penyanggah kanvas beserta kanvasnya yang ditaruh dalam satu tas besar. Kemudian Wasabi membawa Joy berteleportasi kembali ke kampus.
Whuus
Sesampainya di belakang kampus. Wasabi menyerahkan lukisan itu ke Joy sambil berkata
"Terimakasih untuk hari ini. Lukisan itu kamu saja yang bawa. Taruh di kamar dan perhatikan wajah yang ada di lukisan itu dengan seksama. Lalu tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak mencintai pria itu? Karena sejujurnya, seseorang yang ada di lukisan itu mulai mencintai mu," ungkap Wasabi dengan perasaan berdebar.
"Kamu menangis soal perjodohan itu kan? Jika kamu bersedia melangkah bersama ku. Aku akan berada di barisan depan untuk memperjuangkan mu," timpal Wasabi lagi
"Kamu sudah berjanji, akan menjauhiku setelah ini kan? Aku harap kamu menepatinya,"
"Aku tidak bisa melepaskan seorang pencuri begitu saja,"
"Pencuri?"
Wasabi berjalan mendekati Joy, Joy memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak pelan sebuah pohon yang ada dibelakangnya. Kedua tangan Wasabi di sandarkan pada pohon besar itu, mengunci Joy dan menatapnya lekat.
"Kamu datang mencuri ciuman pertamaku, mencuri pikiranku dengan tingkah agresifmu dan suka memaksa, dan kini kamu sudah berhasil mencuri hati ku. Aku akan menangkap pencuri itu dan tidak akan membiarkannya kabur," ungkap Wasabi yang dimaksud pencuri hatinya adalah si Joy
Joy menatap Wasabi seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Joy membuang mukanya, dia tidak bisa membalas tatapan Wasabi yang sangat tajam menatap lekat tanpa kedip.
"Tidak Wasabi, Maaf Aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak mencintaimu,"
"Katakan itu sambil menatap mataku," tantang Wasabi
Joy menjatuhkan lukisan itu dan semua peralatan lukisnya.
"Aku harap kamu pergi dan jangan mendekatiku lagi," Joy mendorong tubuh Wasabi dengan sedikit kasar. Kemudian, dia pergi dari hadapan Wasabi dan berlari kecil sambil menahan air matanya.
Wasabi masih terdiam di tempatnya sambil menatap Joy yang semakin lama mulai terlihat kecil dari pandangannya.
"Huft. Beginikah rasanya sakit hati? Masih bertunangan kan? Masih ada kesempatan untuk mendapatkan mu Joy!" gumam Wasabi
Wasabi pun pergi meninggalkan kampus dan menuju kantor polisi.