Detective Wasabi

Detective Wasabi
Rival



"Kamu..." seru Wasabi, ia mengenal wanita di depannya itu.


"Kamu memanggilku?" tanya wanita itu dan langsung teringat akan teman lamanya


"Hah Wasabi... Kamu benar Wasabi kan?" Alice langsung memeluk Wasabi, dia melepaskan rindu yang begitu teramat besar untuk Wasabi.


"lya Aku Wasabi,"


"Aku rindu kamu Wasabi," Alice masih memeluk Wasabi. Kapan lagi coba?


"lya Alice, maaf tolong lepaskan pelukanmu dulu?"


Alice melepaskan pelukannya.


"Aku tak menyangka kamu bisa bermain skateboard," sahut Wasabi


"Astaga! Alice, Aku menunggumu tapi kamu malah asik berpelukan dengan pacarmu," sahut Joy yang baru menyadari jika pria yang bersama temannya itu adalah Wasabi


"Sedang apa kamu disini?" tanya Joy


Dasar Wasabi kenapa dia selalu saja dirubung para gadis! Emi, Dhifa dan sekarang Alice. batin Joy


"Aku? Ya olahraga pagi lah, ini mau balik pulang," jawab Wasabi


"Kalian pacaran?" selidik Joy dengan wajah tak suka


Wasabi dan Alice menjawab bersamaan.


"Tidak," jawab Wasabi


"Ya," jawab Alice, "Kalian saling kenal?" tanya Alice pada Wasabi


"Mana yang betul. Kalian sungguh punya hubungan?" selidik Joy lagi


"Aku dan Alice hanya teman baik sewaktu SMP," ucap Wasabi pada Joy, "Aku satu kampus dengan Joy," jelas Wasabi pada Alice


"Wasabi kenapa kau tidak mengatakan saja iya. Kapan lagi aku punya pacar tampan sepertimu. Hehe..." timpal Alice


"Alice...untuk apa berbohong," Wasabi lalu mengelap keringatnya dengan bajunya. Dia menarik bajunya keatas hingga terlihat perutnya, kebiasaan kalo sedang sendiri atau bersama teman laki-laki. Dia lupa didepannya itu para gadis


"Wow sejak kapan perutmu berubah menjadi roti bantal," Alice menatapnya tanpa kedip


Astaga Wasabi, seksi banget, batin Joy dengan jantungnya berdegub kencang


"Ahh maaf," sahut Wasabi teringat, ia segera menutup bajunya kembali.


"Kamu tidak membawa handuk kecil?"


"Tidak aku tadi buru-buru kemari,"


Tak berapa lama seseorang memanggil nama Joy yang terdengar dari speaker


"Aku duluan ke arena. Namaku sudah dipanggil," pamit Joy langsung pergi ke arena pertandingan dengan skateboard nya.


"Ok Joy. Semangat," pekik Alice


"Kalian sedang bertanding?" tanya Wasabi


"Iya, Yuk kesana," ajak Alice sambil memeluk lengan tangan Wasabi


"Alice janganmenggandeng ku seperti," Wasabi melepaskan tangannya


"Kenapa? Kita kan sahabat. Dulu kita juga sering bergandengan tangan seperti ini,"


"Iya itu dulu. Sekarang kita sudah dewasa. Pandangan orang akan berbeda," jelas Wasabi


"Biarkan saja pandangan mereka seperti apa," jawab Alice cuek


Sesampainya di arena skate. Wasabi dan Alice menonton aksi Joy yang dengan mahir memainkan skatenya.


"Huh kenapa aku harus melihat pemandangan itu. Bikin aku gagal fokus," gerutu Joy pelan


Disaat Joy berada di ketinggian, dan melayan di udara. Dia pun tidak fokus dan terjatuh. Wasabi dengan tidak sadar menggunakan kekuatan teleportasinya dan menangkap Joy yang hampir terjatuh.


"Aaa," teriak Joy


Whuuss... Sreeet...


Tertangkap.


"Untung saja aku bisa menangkap mu, Kamu tidak apa-apa kan Joy,"


Joy tidak menjawab, ia terkejut tak menyangka Wasabi akan menangkapnya. Joy masih tercengang, mulutnya menganga dan jantungnya berdetak sangat kencang.


Joy pun turun dari gendongan Wasabi, "Terimakasih Wasabi. Aku tidak fokus. Untung ada kamu," wajah Joy merona karena malu


"Sama-sama," Wasabi tersenyum tipis


Huh Aku pun terkejut apa yang ku lakukan barusan. Apakah ada orang yang menyadari dari mana kemunculanku, Wasabi berbicara dalam hati


Wasabi mendapatkan tepukan tangan dari penonton yang melihat aksi heroiknya. Ditambah sorak-sorai yang membuat suasana menjadi riuh.


"Sejak kapan Wasabi berada di sana. Bukankah dia tadi berada di sampingku," gumam Alice


Untunglah banyak penonton yang tidak menyadari kemunculan Wasabi ditengah arena yang secara tiba-tiba. Wasabi dan Joy duduk bergabung bersama Alice. Pertandingan kali ini Joy tidak akan bisa memenangkannya karena kesalahannya yang tidak fokus


"Alice Maaf Skateboard mu menjadi rusak," sahut Joy


"Tak apa Joy. Ini Skate mu. Ku kembalikan," Alice hendak mengembalikan milik Joy tapi gadis itu menolaknya


"Buat mu saja mengganti skateboard yang ku rusak tadi,"


"Kalian bertukar Skateboard?" tanya Wasabi mengambil kesimpulan


"Iya,"


"Hemmm Aku ingin bertanya,"


"Tanya aja, kenapa harus minta ijin," celetuk Joy jutek


"Kemarin sore, ada seseorang yang memakai skateboard seperti ini. Dia menolong seseorang dari penjambret. Siapa itu? Joy atau Alice?"


"Memangnya kenapa?" tanya Alice


"Haha,Jangan memujiku berlebihan," sahut Joy


"Bukankah kau senang sekali dipuji Joy," cibir Alice


"Jadi orang itu, Joy?" tanya Wasabi memastikan


"Ya itu aku, keren kan?" sahut Joy memuji dirinya sendiri


"Aku ingin main kerumahmu Wasabi. Dimana rumahmu," Alice mengalihkan perhatian


"Hemm boleh. Tidak jauh dari sini,"


"Ehem ehem sepertinya kalian perlu ruang khusus. Aku pulang duluan ya,"


Joy pergi begitu saja dengan perasaan cemburunya.


"Joy..." panggil Wasabi


"Sudahlah biarkan saja dia. Siang ini dia ada pertemuan keluarga dengan keluarganya Riyan, tunangannya," Alice menekankan kata tunangan


"Oh.. Yasudah,"


Kenapa aku bisa lupa kalau Joy sudah bertunangan. Tapi kok rasanya nyesek ya, batin Wasabi


Di sisi lain Joy masuk ke mobil dengan membanting pintu mobilnya.


Brak...


"Bagaimana caranya menghilangkan rasa cinta ini. Astaga semakin lama aku semakin menyukainya. Wasabi....menjauhlah dariku!" teriak Joy didalam mobilnya sendiri yang kedap suara


Joy menancap pedal gas mobilnya.Dia mengendarainya sangat kencang. Sementara itu Alice dan Wasabi pulang dengan motor yang di kendarai


"Alice, Aku antar kamu pulang saja ya," sahut Wasabi


"Hah?"


"Dimana rumahmu," imbuh Wasabi


"Loh kita tidak jadi kerumahmu?"


"Kapan-kapan saja," ucap Wasabi sedikit malas


"Baiklah. Rumahku belok kanan terus saja. Nanti ada lampu merah terus belok kiri," Alice menunjuk arah lokasi rumahnya


"Oke,"


Sepanjang jalan Wasabi diam. Jikapun bicara dia hanya menjawab pertanyaan dari Alice. Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah Alice.


"Wasabi. Kamu berubah banyak ya. Dulu kamu sedikit banyak bicara. Sekarang sama sekali tak bicara, apa kamu tidak rindu saat kita bersama?"


"Alice aku sudah bilang kan, itu dulu. Sekarang kita sudah berbeda. Sikap pun banyak berubah..Sudah siang. Sudah dulu ya. Bye," pamit Wasabi tanpa senyum


"Ya sudahlah. Terimakasih Wasabi. Bye,"


Selama di perjalanan Wasabi banyak melamun


Dipertengahan jalan. Wasabi melihat seseorang membawa karung besar yang di bawa dengan gerobak. Lalu masuk ke dalam sebuah rumah dengan garasi besar disampingnya.


"Wajah orang itu mencurigakan,"


Ketika Wasabi ingin mendekat. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia menepikan sepeda motornya dan mengangkat telepon.


"Inspektur Hendra?" gumam Wasabi seraya membaca nama yang tertera di ponselnya


"Ya Hallo..," jawab Wasabi.


"Was, bisakah kamu ke kantor sekarang. Aku butuh bantuanmu," perintah inspektur Hendra


"Oke baiklah. Tapi dua jam lagi aku kesana,"


"Sepertinya ada misi baru," gumam Wasabi


Wasabi segera pulang kerumah. Dia mengurungkan niatnya untuk menyelidiki orang yang sedang membawa karung besar di gerobak tadi. Dia pun mengambil sisi positif. Bisa saja itu hanya seorang pemulung.


Di Kediaman Alice.


Alice menelepon Joy, dia ingin membuat Joy iri


"Hallo Joy, apa kamu sudah dirumah?" tanya Alice


"Hmm kenapa?"


"Apa kau sudah pernah kerumah Wasabi?" tanya Alice


"Belum. Kamu sendiri jadi kerumahnya?"


"Ini aku sedang di rumahnya, rumahnya sejuk sekali, ya ampun bagus banget," karang Alice. "Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Alice


Joy tahu kemana arah pertanyaan Alice


"Alice, jangan dekati Wasabi ku," pinta Joy


"Huh.. Aku yang duluan kenal dia. Lagi pula kamu sebentar lagi akan menikah bukan? Jadi untuk apa kamu mengharapkan Wasabi?"


"Kamu kan tahu aku dijodohkan. Aku tak mencintai calon ku itu," ungkap Joy


"Oh ya? Bukankah kamu pernah berciuman dan bermesraan dengan calonmu itu?"


"Iya, Itu sebelum aku bertemu Wasabi,"


"Aku tidak peduli dengan perasaanmu meskipun kamu sahabatku. Aku akan mendekati Wasabi. Kalau kamu mau mengejar dia, kamu putuskan dulu hubunganmu dengan Riyan. Haha..." sahut alice


Tut..Tut..tut..


Alice mematikan sambungan telepon. Joy kesal hingga membanting ponsel miliknya


Aku akan membatalkan perjodohan ini. Ayah Maafkan aku jika kali ini aku membuatmu malu, batin Joy


(Demi Wasabi yak🤪)