
Pagi itu, saat Emi keluar rumah untuk membuang sampah, ia terkejut dengan adanya tiga buah mobil Sport yang sudah ada di rumah sewaan milik Lyn.
"Aaaa...," Teriakan Emi hingga kedalam rumah
Andi berlari keluar sambil membawa pistol.
"Ada apa Emi...?"
"Haha kamu kenapa bawa pistol?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa,"
"Lihat di depan mu," tunjuk EMI dengan dagunya
Andi melihat kedepan. Ada tiga buah mobil dihadapannya.
"Aku terkejut karena ini,"
"Hilih, kalo terkejut liat kayak gini harusnya 'Wow' bukan 'aaaa'," protes Andy
"Hehe kan biar dramatis,"
Tak berapa lama, asisten Tuan Paldo datang dan disusul dengan Tuan Paldo
"Selamat pagi," Sapa Chaky
"Selamat pagi Andi dan Emi," Sapa Tuan Paldo juga
Andi dan Emi menjawab berbarengan, "Pagi Chaky dan Tuan Paldo,"
"Bagaimana dengan Wasabi, apa sudah ada kabar?" tanya Tuan Paldo
"Ya sudah, dia baik-baik saja. Tapi Dia akan kembali jika kondisinya sedikit membaik," jelas Andi
"Separah itu kah? Saya bisa menanggung biaya rumah sakit kalau kondisinya sangat parah, tetapi dimana dia?" ujar Paldo
Belum sempat Andi menjawab, tak berapa lama Wasabi datang dengan Setya. Dia dibonceng dengan sepeda motor.
"Wah pagi-pagi sudah didepan rumah, ada apa tuan Paldo?" tanya Wasabi seraya turun dari motornya.
Andi melihat Orang yang asing yang datang bersama Wasabi, wajah keduanya terlihat mirip seperti adik dan kakak.
"Hai semuanya," sapa Setya
"Kamu bukannya...," ucapan Andi terhenti dia sambil mengingat
"Ehemm Andi, Emi dan Tuan Paldo. Orang ini yang menolongku saat terjebak api didalam gedung. Dan dia sudah dua kali menolongku. Kita salah sangka dengannya," ucap Wasabi
"Oohh begitu ya. Kalau begitu terimakasih sudah membantu. Maaf dengan siapa?" tanya Emi
"Perkenalkan Saya Setya, Saya teman lama dari Almarhum orang tua Wasabi," Sahut Setya
"Saya Paldo. Terimakasih juga ya tuan Setya karena sudah menolong Wasabi yang saat itu terjebak api,"
"Saya bersyukur dan berterima kasih karena Desiani berhasil diselamatkan," ungkap Paldo sambil menyentuh dadanya karena rasa bersyukur.
"Ahh ini terlalu banyak untuk kami Tuan Paldo," ujar Wasabi
"Tidak Apa. Bagi saya nyawa Desiani lebih mahal dari hadiah itu. Mohon jangan membuat saya tersinggung Terimalah," pinta Tuan Paldo
Chaky kemudian memberikan uang yang ditaruh di koper untuk Wasabi dan rekannya. Tetapi Wasabi belum juga mengambilnya.
"Wasab jangan di tolak atuh, kalau kamu gak mau mobilnya buatku aja," bisik Andi Sudirman
"Terimakasih Tuan Paldo saya akan menerimanya," jawab Andi sambil mengambil koper kecil berisi uang dan kunci mobil di tangan Chaky yang belum Wasabi terima. Andi yang tidak mau kehilangan mobil dan uang itu.
"Kasus sudah berakhir dan untuk selebihnya telah ditangani oleh Letnan Arga. Jika lain waktu butuh bantuan Saya. Saya bersedia membantunya," ucap Paldo
Paldo juga bercerita jika Istrinya menjadi gila dan sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit jiwa.
"Terimakasih Tuan Paldo. Saya akan mengingat kebaikan Anda. Dan semoga Nyonya Mayang kembali sehat," ucap Wasabi
"Ya semoga saja dia gak pura-pura gila biar terhindar dari hukuman," sahut Emi
Tak berapa lama Wisnu datang, "Maaf Tuan Paldo saya terlambat,"
"Selalu saja terlambat," sahut Paldo
Wasabi terkejut, bukannya Wisnu bersekongkol juga dengan mafia itu? Tapi kenapa dia malah bekerja dengan Tuan Paldo
Reaksi wajah Wasabi langsung dijawab oleh Wisnu tanpa pria itu bertanya
"Wasabi, maaf saat itu saya mengurung kamu dan Tuan Paldo. Itu adalah ide tuan Paldo. Awalnya iya saya bekerja dengan nyonya Mayang, tapi saya tidak mau jadi orang jahat. Saya ingin membela yang benar. Maka dari itu saat di rumah kaca itu saya sengaja berada di pihak Mayang untuk mengetahui apa saja yang dia rencanakan,"
Wasabi
"Saya suka dengan pengakuan kamu," ucap Wasabi
Semua pun tersenyum senang. Tuan Paldo juga telah memesankan tiket pulang ke Jakarta. Semuanya telah diurus Chaky termasuk mobil yang akan mereka bawa nantinya. Wasabi dan temannya hanya perlu bersiap-siap dan duduk manis di pesawat.
"Akhirnya Case Closed," gumam Andi
"Case Closed... Saya juga ikut senang," ujar Setya yang belum pulang. Dia masih ada di teras rumah.
Tak berapa lama Wasabi menerima pesan dari ponselnya bahwa tiket pesawatnya akan berangkat siang ini. Maka Mereka harus segera berkemas.
"Wasabi nanti saya akan menyusul mu. Saya permisi pulang," pamit Setya
"Oh oke. Nanti saya kirimkan lokasi rumah saya," ucap Wasabi, tetapi saat Setya sudah naik di atas motornya Wasabi berlari kecil menghentikannya sebentar
"Tunggu, Maaf ada yang ingin saya tanyakan. Kekuatan saya menghilang sebelum ledakan bom selamanya. Apakah Dr.Lee sudah menguras kekuatan itu saat saya berada di lab. Apakah kekuatan saya akan menghilang?" tanya Wasabi karena sejujurnya dia ingin menjadi orang normal.
"Saya rasa Dr. Lee belum melakukannya, itu hanya sementara karena tubuh kamu lemah. Saya juga akan memberitahukan dari mana kekuatan itu berasal, setibanya saya di rumah kamu," ucap Setya membuat Wasabi tak sabar menunggunya.