Detective Wasabi

Detective Wasabi
Hampir Diculik



Sore harinya pun tiba, Ana menelepon Wasabi dan mengatakan jika mereka sudah menunggu dirinya di lobby


"Andi apakah kamera spy mu itu sudah siap?" tanya Wasabi


"Iya. Kamera siap masing-masing dari kita membawa 10 Kamu tinggal tempelin aja tapi jangan lupa, tekan tombol


ini untuk mengaktifkan," terang Andi seraya menunjukkan tombol on pada kamera mini rancangan Andy


"Ok. Dimengerti," jawab Wasabi


"Aku ke kamar Emi dulu," sahut Andi


"Ok. Aku langsung ke lobby. Jangan macam-macam ya kalian," ucap Wasabi memberi peringatan


"Haha ya," Andi Sudirman lalu pergi duluan ke kamar Emi


Saat ia mengetuk pintu kamar Emi, gadis itu tidak membuka langsung, ia menjawab jika dirinya tiba-tiba pusing.


"Sayang kamu beneran gak apa-apa? Buka dulu dong aku mau lihat kondisi kamu," seru Andi


"Masuk aja, gak dikunci," ucap Emi


Aneh perasaan tadi pintunya dikunci batin Andi


Pintu pun dibuka, Andi langsung masuk. Beberapa langkah masuk, seger dari arah belakang ada seseorang yang memukul kepalanya dengan keras dengan sebuah tongkat kasti. Pukulannya sangat keras hingga langsung membuat Andi terjatuh. Kepalanya terasa sakit dan pening berputar-putar.


Seorang wanita bertato memukul Andi. Andi terjatuh namun dia segera bangkit dan menendang wanita itu. Si wanita menangkisnya dengan tongkatnya.


Kali ini kaki Andi yang kesakitan. Tak mau kalah, Andi melakukan serangan depan bertubi-tubi. Si wanita lemas babak belur. Datang kawan pria-nya yang bertubuh besar


Di tariknya rambut Andi dan dijedotkannya ke tembok. Andi merasa linglung sejenak. Tapi dia segera mengeluarkan jurus totok yang mematikan saraf. Si pria berotot lumpuh seketika, tak dapat bergerak. Namun kelumpuhannya itu hanya bersifat sementara.


Andi lengah. Dia terlalu menganggap remeh si wanita. Di pukulnya kembali kepala Andi hingga berdarah. Kali ini wanita itu memukulnya dengan kursi di kamar hotel.


Andi terjatuh kesakitan


"Ahh sial kepala ku," rintihnya sambil meraba kepalanya yang dipukul. Sudah tadi benjol ditambah sekarang luka hingga berdarah.


Kini Andi melihat darah di tangannya.


Sementara si wanita yang mengerti jurus totok itu mengembalikan saraf yang lumpuh tadi pada temannya.


Mereka segera keluar dengan membawa Emi yang sedang pingsan akibat obat bius Emi. Ia di pikul pria berbadan besar itu lalu keluar dan mengunci Andi dari luar.


Andi melihat Emi di bawa, saat itu ia ingin sekali segera menghentikannya. Namun kepalanya yang masih terasa pusing membuat dirinya tak dapat berdiri mensejajarkan tubuhnya.


Butuh beberapa waktu menstabilkan dirinya. Andi akhirnya bangkit dan membuka pintu tetapi pintu itu terkunci. Ia pun menghubungi pihak hotel lewat layanan kamar. Namun kabel telephone terputus.


Andi ke toilet membersihkan luka dan membalutnya dengan baju yang dia sobek hingga terbentuklah sebagai perban untuk menghentikan pendarahan di kepalanya.


Dia tak boleh terkunci dan jatuh pingsan. Emi kekasihnya ikut di culik.


"Aku harus telepon Wasabi. Ini bisa saja jebakan," ucap Andi


Tut Tut Tut Tut


Sambungan telepon tidak aktif. Andi keluar kamar hotel melalui jendela kamar dan melewati balkon kamar. Dipanjatnya pagar balkon dari kamar Emi kemudian ia menuruni pagar tersebut menuju ke balkon di kamar lantai bawahnya


Miris Andi hampir terjatuh. Karena ia menuruninya tanpa sebuah tali pengaman. Dia harus cepat tidak boleh kehilangan jejak


Wasabi merasa ada yang aneh di dalam lift. Cepat-cepat dia berteleportasi. Dan kembali ke kamar Emi.


"Berantakan. Gawat!" gumam Wasabi


Wasabi melihat jendela yang terbuka lebar, kemudian ia keluar dari jendela kamar tersebut dan berdiri di atas balkon. Dia melihat Andi yang sedang berjuang menuruni balkon.


Segera Wasabi menghampiri Andi dan menggenggam tangan Andi. Kemudian berteleportasi lagi di hotel. Di tempat yang ia rasa aman


"Kita harus cepat sebelum Emi di bawa jauh. Ahh itu dia Emi," ucap Andi dengan cepat seraya menunjuk apa yang baru saja ia lihat


Wasabi mengikuti arah telunjuk Andi. Emy hendak di masukkan ke dalam mobil yang ada di seberang hotel. Mereka yang menculik Emi hanya berdua. Belum sempat salah satunya naik ke mobil, mereka sudah di hadang Wasabi.


Segera dihajarnya pria berbadan besar itu. Badan pria itu jauh lebih besar dari pada Wasabi. Akan percuma jika menyerangnya dari awal. Wasabi pun menggunakan taktiknya. Ia terus mengelak, sementara si pria berbadan besar tersebut terus mengeluarkan aksi silatnya. Dia menunggu si Pria berotot besar itu kelelahan.


Sepertinya nafas nya sudah tersengal-sengal, batin Wasabi


Wasabi melancarkan aksi penyerangan. Ditendang dan ditinjunya bagian perut bertubi-tubi.


Si pria itu membungkuk kesakitan. Di panjatnya paha, kemudian naik ke bahu. Wasabi melompat memukul punggung pria besar itu dengan sikutnya. Si pria berotot belum juga tumbang padahal sudah badannya sudah limbung.


Kini gantian Andi yang melakukan penyerangan jurus jitunya, totok syaraf. Melumpuhkan badan pria itu dalam waktu seketika.


Wanita bertato turun dari kursi penumpang bagian belakang dan ingin menjalankan mobilnya hendak kabur. Tapi Wasabi mengejarnya sebelum si wanita masuk ke kursi kemudi.


Si wanita berontak dan terus melakukan penyerangan. Wasabi meraih kedua tangan dan menguncinya ke belakang sambil merapatkan badan Wanita itu ke mobil, si wanita tak dapat bergerak.


"Katakan.! Siapa kamu dan Siapa yang menyuruh kamu," pekik Wasabi


"Apa untungnya aku kasih tau kamu," pekik Wanita itu


"Mau mati!?" tanya Wasabi sarkas


Dijedotkannya kepala wanita itu ke mobil. Dengan pukulan tangannya.


"Ahhh shiiit!" keluh si wanita


"Belum mau bicara juga?" ujar Wasabi


"Ok oke. Aku Okta, anak buahnya Ratu Ratih, Ratunya Mafia di Bali. Aku gak tau alasan dia. Aku cuma nurutin perintah dia aja," jelas Okta sambil kesakitan karena Wasabi menarik rambutnya. Tidak peduli dihadapannya siapa. Musuh tetaplah musuh.


Sementara itu Emi di bawa masuk Andi ke dalam hotel.


Saat Andi masuk ke hotel seseorang memanggilnya.


"Hey! Loh kamu temannya Wasabi kan.. ada apa ini?" tanya wanita yang Andi tidak kenal


Andi tidak menjawab, ia hanya melihat dengan sinis sambil menggendong Emi, "Maaf Saya buru-buru," ucapnya singkat


Wasabi melepaskan Okta. Bisa saja dia membawanya ke kantor polisi namun mendengar kata mafia sudah pasti polisi pasti akan bekerja sama dengan para mafia itu. Setelah itu Wasabi masuk ke hotel menuju lobby.


"Sorry Ana, Aku ada masalah sedikit. Apakah kamu tahu lokasi gedung bekas terbakar dekat sini?" tanya Wasabi tiba-tiba


"Dekat sini ada. Itu kan tempat para geng berandalan. Mereka sih menyebutnya mafia, mungkin biar keren ya hehehe. Mau apa kamu tanya tempat itu," ucap Wisnu


"Mau menyelesaikan masalah. Temanku hampir saja dibawanya," jawab Wasabi


"Astaga yang pingsan tadi itu. Aku tahu tempatnya. Aku bisa mengantarkan kamu kesana setelah kita ke tempat Nyonya Mayang," ucap Ana dengan memberikan sedikit ide


"Oh benarkah? Terimakasih Ana,"


Wisnu menatap Wasabi dengan sedikit memicingkan mata, "Sebenarnya siapa kamu? Kenapa para mafia itu mengincar temanmu?"


"Aku cuma orang biasa, tidak tahu kenapa makanya hal ini perlu diselesaikan. Maaf aku harus menghubungi seseorang," ucap Wasabi kemudian sedikit menjauh dari kedua orang yang baru saja ia kenal


Wasabi lalu menelepon Andi mengatakan jika dirinya akan ke rumah nyonya Mayang. Dan menyelidiki siapa orang yang ingin menculik Emi. Ia meminta Andi untuk tetap di hotel bersama Emi.


"Jangan Wasabi, kamu jangan percaya Ana. Aku takut kalau kita dijebak," ucap Andi


"Kita harus masuk kesarangnya jika ingin tahu kebenarannya. Kamu obati luka di kepalamu itu. Jaga Emi dan jangan buka pintu untuk siapapun. Jangan lupa kunci jendelanya. Dan...jangan macam-macam di kamar hotel itu. Kalian cuma berdua!" Wasabi memperingatkan


"Dasar keras kepala. Baiklah. Jaga dirimu bro!"


Dan sambungan telepon pun terputus.