
Sill mengirimkan pesan singkat kepada Setya lewat media telegramnya.
Pukul 11.00 pagi.
"Paman, Aku sudah sedikit membaik. Sekarang Aku sudah berada di rumah. Jika ada waktu, sempatkanlah mampir kesini. Salam Rinduku,"
Sill mengetik keyboard ponselnya sambil berbicara sendiri, begitu ia ingin hapus kalimat terakhir, Sill malah menekan tombol kirim
"Astaga aku seharusnya tidak mengirimnya, ah gimana nih?" Setelah itu Sill tersenyum dan cekikikan sendirian.
Di tempat lain, Setya masih berbicara soal bisnisnya dengan klien barunya
"Apa ini? Saya masih ingat isi perjanjian yang saat itu tertulis. Dan isi surat ini sudah di rekayasa, Saya tidak terima dengan aturan yang tertulis saat ini," Protes Setya
Dia marah pada kliennya yang mengganti isi yang sudah disepakati. Dan juga ada tanda tangan Setya yang sangat mirip
"Oh silahkan, tapi seperti yang tertulis di surat itu. Jika Anda membatalkan kontrak kerjasama secara sepihak, Anda harus membayar denda kerugian. Karena proyek ini sudah berjalan 35%," ucap kliennya
"Huh enak saja. Tidak bisa, Saya tidak mau membayar karena perjanjian itu sudah Anda rubah tanpa persetujuan Saya. Dan ini bukanlah tanda tangan Saya! Anda memanipulasinya dengan sangat hebat. Tapi Saya tidak bodoh," ucap Setya
Bodyguard Tuan Ruji serentak menodongkan pistol ke arah Tuan Setya.
"Apa-apaan ini?" Setya menoleh ke belakang yang terlihat semua bodyguard kliennya itu sudah menodongkan pistol ke arah Setya
"Saya tidak mau tau. Anda harus meneruskan kerjasama ini. Jika tidak Anda harus membayar kerugian sesuai yang tercantum, jangan pernah berfikir untuk kabur dari Saya," ucap Ruji sambil menyalakan putung rokok.
"Tuan Ruji ingin bermain-main rupanya," sahut Setya
"Huh," Tuan Ruji memberi isyarat pada bodyguard, untuk memberikan pelajaran kepada Setya.
Setya melihat gerak-gerik bodyguard yang ingin menyerangnya. Dia kemudian menarik tangan salah satu bodyguard yang berjarak dekat di sampingnya dan melemparkannya ke meja. Setelah itu Setya membenturkan kepala bodyguard itu ke meja sambil berdiri dan menyerang yang lain.
Salah satu bodyguard menembak Setya dari belakang tapi tembakan itu melesat. Setya berbalik dan melemparkan tendangan ke bodyguard yang menembaknya. Si bodyguard kesakitan. Tendangan itu. melayang lagi kali ini mengarah ke bagian vital. Si bodyguard mengerang kesakitan.
Serangan datang dari arah lain. Seorang bodyguard melemparkan kursi ke punggung Setya.
Amarah Setya bagaikan Bom atom. Dia merampas pistol milik lawan sebelumnya kemudian menembakkannya tepat di kening bodyguard yang melemparnya kursi itu.
Penyerangan tak berhenti sampai disitu. Setya menerima tembakan dari lawan lain. Dan Dia balas menembak hingga tembakan itu mengenai badan dan kaki musuh.
Ketika isi pistol sudah habis, dengan segera Setya menghindar dan bergerak kearah lain dengan melakukan gerakan salto. Lalu bersembunyi dibalik kursi.
Ada pistol musuh yang terletak tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Dia pun meraihnya dan segera berdiri, siap untuk melawan kembali. Tembakan satu persatu meluncur tiba-tiba Dia merasakan pusing dan pandangan menjadi kabur. Setya mulai melemah, dan tak mampu menggerakkan tangannya lagi.
"Kenapa tiba-tiba pandanganku kabur. Apakah Dia telah meracuniku?" gumam Setya
Tangan, Kakinya tiba-tiba saja mulai berat untuk bergerak. Di susul kepala dan terasa tubuhnya terasa makin berat
Dor
Bahu Setya terkena tembakan. Dia pun jatuh berlutut. Tangannya menyentuh lantai dan satunya lagi memegang luka tembak. Dia masih berusaha untuk bangkit. Tapi semua kakinya tak dapat bergerak. Seketika Setya Ambruk.
"Sial, seketika badanku mati rasa. Aku tak dapat menggerakkan tubuhku. Bahkan Aku tak dapat mengeluarkan kekuatan blackhole ku," cerutu Setya pelan
Tuan Ruji memberi isyarat pada bodyguardnya untuk berhenti. Kemudian Dia berjalan mendekati Setya. Dan menginjak luka tembak di bahu Setya. Setya mengerang, tubuhnya ingin bergerak tapi tak bisa Dia lakukan.
"Saya bisa saja melenyapkanmu sekarang. Tapi Saya lebih senang melihatmu menderita haha," ucap Rujin
Tuan Ruji membuang abu rokoknya ke muka Setya hingga Dia terpejam karena abu panasnya. Kemudian Tuan Ruji mematikan rokok dengan memutar-mutarnya diatas telapak tangan Setya. Setya mengerang kesakitan tapi tangannya tak dapat digerakkan. Dia hanya bisa berteriak. Setelah itu Ruji pergi dan menyuruh Bodyguardnya untuk dibuang ke sungai terdekat.
"Bawa Dia!" Perintah Ruji
.
.
.
Disisi lain, di rumah Sill.
Sudah siang Paman Setya belum juga membalas. Kenapa perasaanku tidak enak ya? Batin Sil
Ting Tong.
"Ah itu pasti paman," Sill kemudian melangkah ke depan rumah untuk membuka pintu ruang tamu
Sill berjalan sedikit cepat, kali ini Sill berjalan tanpa tongkat
Ceklek
Pintu di buka, namun Sill mengernyitkan dahi karena yang datang bukanlah Setya melainkan orang lain yang tidak Sill kenal
"Maaf, Anda siapa? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Sill
"Sill, Kau melupakan Aku? Aku khun teman SMA mu,"
"Hah? benarkah? Kau terlihat berbeda. Aku sampai tidak mengenalimu,"
"Haha lebih tampan atau lebih jelek? Kau tidak menyuruhku masuk?" ucap Khun
"Ya lebih langsing hehe, ayo masuklah," sahut Sill
"Kau lelaki pasti tampan, apa Kau ingin Aku mengatakan kalau Kau cantik?" timpal Sill
"Haha ya kau benar. Aku lebih baik memilih kau mengatakan tampan daripada cantik. Ini bunga untukmu. Aku dengar Kau masuk rumah sakit ketika Aku kesana, Kau sudah pulang. Bagaimana keadaanmu? lekas sembuh ya?" ucap Khun
"Terimakasih, ya aku merasa lebih baik jadi ya rawat jalan saja. Kau kurus sekali, apa kau sakit," tanya Sill
"Ya aku kurus karena terus memikirkan dirimu, hehe,"
"Dasar, tukang gombal,"
Khun lalu mengajak Si untuk makan di restoran miliknya, katanya sih dia membuka restoran Jepang karena Sill penyuka masakan Jepang. Akhirnya Sill setuju dan dia meminta waktu beberapa menit untuk bersiap
"Ayo, Aku sudah siap" ucap Sill bersemangat
"Ayo,"
Setelah itu mereka pergi dengan menaiki mobil Khun.
Khun dan Sill pergi makan siang melewati jalan tol. Dari arah berlawanan, ada mobil berhenti dan terlihat mencurigakan. Sill terus mengamatinya sampai akhirnya Dia menyuruh Khun untuk segera berhenti.
"Khun berhenti! Cepat!"
"Kenapa? Ini Tol dan kita dilarang berhenti," ujar Khun
"Menepilah dan berhenti! Sekarang!" Dengan nada keras
Khun menurutinya dan langsung membanting setirnya ke kiri. Sill mengambil pistol dan segera keluar mobil. Dia berlari menyeberang meski kakinya masih sakit dan belum pulih total.
"Sill Kau mau kemana bawa pistol?" teriak Khun namun Si sudah keluar dari mobilnya
"Itu Paman. Aku harus menyelamatkannya! Mau apa mereka membawa Paman seperti itu? Apakah mereka mau menghanyutkan Paman ke sungai?" gumam Sill berjalan agak pincang dan sedikit mempercepat jalannya
Ketika Sill sudah mau mendekat.
Dor
Si menembakkan pelurunya ke arah dua orang yang membawa Setya. Tembakan melayang tapi melesat.
"Hei berhenti kalian!" perintah Sill
Mulut Setya tertutup lakban. Dia ingin berkata pada Sill jangan mendekat. Tapi dia tak bisa. Dia juga berusaha menggerakkan tubuhnya yang mati rasa, tapi semua percuma. Mengeluarkan kekuatannya pun tak bisa. Setya hanya bisa melihat aksi nekat Sill.
"Sial, ada yang melihat kita! Keluarkan Bom cepat!" ucap Bodyguard satu
"Kau bodoh dan terlalu lama. Lemparkan orang itu dulu cepat!" ujar bodyguard dua
"Ucapkan selamat tinggal Bro," sahut bodyguard satu sambil melempar
Setya terjatuh ke sungai dengan tubuh terikat. Ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada Sill
Kemudin, Bom di lempar ke arah Sill. Si menambah gerakan jalannya menjadi berlari. Dia bahkan melewati sebuah mobil yang terparkir mungkin karena mogok. Bom melesat. Sementara dua bodyguard itu masuk ke mobilnya.
"Tidak! Paman!" ucap Sill sambil berlari menuju pagar jembatan
"Hey ayo cepat. Tancap Gas!" sahut bodyguard satu
Brum Brum Ngeng
Mereka berhasil kabur sebelum Sill sampai.
"Haha TOS bro," sahut bodyguard dua sambil melakukan aksi TOS dengan temannya
"Haha bonus kita didepan mata. Party again bro.., " ujar Bodyguard satu
Sill terlambat. Mereka pergi dan Setya sudah tercebur ke dalam sungai. Tak lupa Sill menghafal plat nomer penjahat itu.
Sill mundur dan mengambil ancang-ancang untuk naik ke pagar dinding jembatan. Dengan berlari kecil dan kemudian naik dengan mudahnya.
Tak berapa lama, Sill yang nekat sudah diatas dinding jembatan dan mulai terjun menyelamatkan Setya. Padahal kakinya sendiri belum sembuh total
***
Beberapa saat kemudian. Setya terbangun. Pakaiannya sudah berganti dan ditangannya sudah terpasang selang infus.
Matanya melihat sekeliling. Dia sedang tidak dirumah sakit. Setya berada di rumah seseorang tetapi siapa? Dia pun bertanya-tanya
"Dimana Aku? Badanku sudah bisa digerakkan. Tapi ahh, bahu ku," pikir Setya sambil meraba bahu yang tertembak
"Perban? Siapa yang menolongku?" gumam Setya lalu ia teringat Sill
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Setya memejamkan matanya kembali. Dia berpura-pura belum sadarkan diri.
"Paman belum sadar juga, mungkin akibat bius saat dokter mengambil pelurunya," gumam Sill
Tak berapa lama Khun datang masuk ke kamar
"Sill, Aku pamit pulang. Apakah Kau baik-baik saja jika ku tinggal?" tanya Khun
"Ya tak apa, Aku sudah terbiasa sendiri. Terimakasih atas bantuanmu yang sudah memanggil Tim SAR untukku," ujar Sill
"Sama-sama, mulai sekarang Kau tak akan sendiri. Aku akan selalu ada disampingmu," sahut Khun sembari mengacak-acak poni milik Sill
"Gombal saja terus, sudah sana pulanglah," perintah Sill
"Haha. Ya sudah, bye cantik. Muacch," sahut Khun kemudian pergi
Setya penasaran dengan suara lelaki itu, Dia pun mengintip dengan membuka matanya sedikit dan berhati-hati agar tidak ketahuan.
Ketika Sill menoleh. Setya mulai memejamkan matanya lagi. Sill melihat kebohongan Setya dan muncullah ide dikepalanya.
Sill berdiri lalu berjalan keluar kamar, kemudian Dia menjatuhkan buku tebal, Dia segera duduk dilantai dan berteriak kesakitan.
"Aduuh sakit! Lukaku," Sill duduk di lantai dan berpura-pura kesakitan
Tak berapa lama Setya datang menghampiri Sill.
"Sill, Kau tak apa?" tanya Setya
"Haha ketahuan! Paman masih mau berpura-pura tak sadarkan diri?" Sahut Sill kemudian berdiri
Setya terjebak, Dia pun tertawa malu.
"Paman kenapa infusnya dilepas?"
"Terburu-buru karena mendengarmu terjatuh,"
"Paman khawatir padaku?" tanya Sill to the point
"Ya, hmm Sill Terimakasih sudah menolongku,"
"Jangan bilang Paman khawatir karena balas budi, Aku tulus menolongmu,"
"Tidak, Aku benar-benar khawatir tadi,"
"Eh...Terimakasih," Sill tersenyum canggung. Ia pun membuka obrolan lain agar tidak canggung.
"Paman, kenapa mereka jahat padamu? Siapa orang itu? Aku belum memberitahu Wasabi soal ini," sahut Sill
"Terimakasih kau tidak memberitahukanya pada Wasabj. Ini urusanku. Aku tak ingin melibatkan anakku itu," ucap Setya
"Orang itu klien baruku dan Aku telah ditipu, Aku tak ingin membayarnya karena kontrak kerjasama kami berbeda dari sebelumnya. Lalu Dia marah dan ingin melenyapkan Aku," Cerita Setya
"Siapa namanya? Aku bisa membantu Paman," ucap Sill
"Tidak usah Sill, kumohon jangan terlibat dengan masalahku lagi. Aksi mu yang menolongku tadi saja sudah cukup membahayakan mu," ucap Setya
"Ayah ku sedang menyelidiki kasus mu paman. Hehe tenang saja Dia belum mengatakan pada Wasabi. Dan juga Mereka menjatuhkan bom tepat dibelakangku. Dan itu merusak fasilitas Tol. Untung saja tidak ada korban yang terkena bom saat itu," cerita Sill
"Jadi mereka benar-benar melempar bom tadi? Untunglah Bom itu tidak mengenaimu. Kau tidak terluka kan? Lalu bagaimana ceritanya lenapa aku bisa disini," tanya Setya mulak mendekati Sill memeriksa dari ujung kepala hingga kaki
"Ya, mereka sungguh melempar bom itu. Tidak ada yang luka hanya saja luka lamaku jahitan nya terbuka. Berita baiknya, sebelum aku terjun menyelamatkan paman. Aku sudah menghafal plat nomernya. Aku berenang sangat dalam hingga akhirnya menemukan paman yang sudah pingsan,"
"Untung juga ada Khun yang membantu. Dia memanggil bantuan, patroli keamanan Tol pun segera datang. Beberapa tim lain lewat jalan bawah, mereka menggunakan perahu karet untuk mengangkat kita," sahut Sill
"Saat itu pikiranku kacau. Aku menangis histeris hingga tim penolong itu memarahiku untuk diam dan tenang. Aku takut jika paman..,"
Sill tidak melanjutkan ucapannya karena Setya mendengar ceritanya sambil menatapnya sangat tajam. Sill terdiam dan membalas menatap Setya. Setya menjadi tersadar ketika Sill membalas menatapnya, Dia kemudian berucap.
"Siapa Khun? pacarmu?"tanya Setya
Aku kira dia ingin bertanya apa, kenapa memasang wajah serius seperti itu bikin jantungan aja, batin Sill
"Tidak, Dia teman SMA ku yang datang menjenguk. Tapi karena kondisiku membaik Dia pun mentraktirku makan siang di restoran miliknya. Ketika lewat Tol itulah Aku melihat Paman yang diangkat dua bandit tadi," terang Si
Setya mendekat dan mengecup kening Sill tiba-tiba sontak membuatnya kaget.
"Paman?" gumam Sill, Terkejut dan jantungnya berdebar kencang
"Aku bingung dengan perasaanku. Aku selalu menepis dan mengatakan kalau Aku tidak akan memikirkan wanita lain selain Alma, Mamanya Wasabi. Tapi...hari ini Khun membuatku cemburu, " sahut Setya
"Hah?" Sill bingung kenapa tiba-tiba Setya berkata seperti itu
"Menikahlah denganku Sill," sahut Setya
Sill makin terkejut, kedua bola matanya seperti mau copot dan bibirnya menganga. Jantungnya makin berdebar kencang seakan mau meledak. Antara nyata atau mimpi
Sill pingsan seketika.