
Andi sedang bertamu dirumah Emi. Tetapi keduanya memiliki perasaan yang tidak enak, semacam firasat.
"Andi, entah kenapa aku terus bersalah sama Wasabi. Setiap dia bertindak mencari pelaku kejahatan aku rasanya ingin ikut membantu. Apa Kamu gak ngerasa, kita udah klop banget jadi partnernya Wasabi," ungkap Emi
"lya, rasanya tuh kalau penjahatnya sudah tertangkap, ada rasa kebahagiaan sendiri. Tapi sayang, pekerjaan seperti itu ada resikonya. Dan aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Andi
"Kan ada kamu yang jagain aku," sahut Emi kemudian tersenyum
Kring...Kring...
Dibalik obrolan yang hampir serius, karena sebenarnya Emi ingin mengajak Andi untuk terus membantu Wasabi, tetapi ponsel kekasihnya itu berbunyi
"Masih belum ganti ya nada dering jadulmu itu haha," kekeh Emi karena nada dering Andi adalah lagu dangdut bang Haji Rhoma Irama. Bergadang jangan bergadang....kalau tidak artinya....
"Haha iya, legend ini. Kalau aku kerja di luar negri, Aku mau memperkenalkan lagu dangdut kita ini ke luar negri. Bentar ya aku angkat dulu," ucap Andi memutuskan pembicaraan dan segera angkat telepon yang sedari tadi berdering.
Emi pun pamit ke belakang untuk membuatkan minuman
Praaaang..
Bunyi sebuah benda yang terbuat dari kaca jatuh dengan nyaring. Spontan Andi dan Paman Emi berlari menghampiri Emi yang sedang berada di dapur
"Emi, apa yang terjadi?" tanya Paman Emi yang bernama Cullen. Dia selalu mendekam di dalam kamarnya.
"Hanya gelas pecah Paman, maaf tidak sengaja terjatuh," sahut Emi
"Kamu mengganggu tidurku saja. Bereskan itu, sapu yang bersih ya," sahut Cullen kemudian memerintahkan dengan ketus untuk membersihkannya
"Biar aku bantu membereskan Paman,"
"Baguslah, yasudah Paman tidur lagi," Cullen pun pergi kembali ke kamarnya.
Emi berjongkok memunguti pecahan kaca, Andi juga ikut berjongkok dan menyapu repihan kaca dengan sapu kecil berukuran dua jengkal.
"Emi, pecahan itu jangan dipegang, nanti kamu terluka," seru Andi
Baru saja Andi berkata, Emi telah memegang pecahan gelas itu dan tergores mengenai ujung jari telunjuk kanannya.
"Ouch sakit,"
"Sudah ku bilang apa?" sahut Andi sedikit judes, sambil menghisap darah yang mengalir di ujung jari Emi.
"Maaf, tapi kamu bilangnya bersamaan saat aku memegang pecahan itu,"
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya ceroboh begini," tanya Andi
"Entahlah, perasaan ku tidak enak,"
"Jangan bilang, kamu sedang memikirkan Wasabi," tembak Andi yang langsung membuat Emi terkejut. Pasalnya apa yang dikatakannya itu benar.
"Hmm i-iya, tapi aku tidak memikirkan dirinya dalam konotasi artian yang berbeda. Hanya sekedar sahabat, karena orang yang aku sayang itu kamu," ucap Emi kemudian mendekati Andi, kedua tangannya di kalungkan ke leher Andi lalu mencumbu bibirnya.
"Andi aku cinta kamu, rumahku sepi. Gimana kalau...," sahut Emi berbisik, ia berhenti tidak meneruskan ucapannya karena Andi langsung memotongnya
"Tidak Emi, aku ingin kita berpacaran sewajarnya. Bahkan mengecupmu saja sudah dosa bagi ku," Si alim Andi sedang berdalih
"Ck," decak Emi sembari melepaskan tangannya
Emi sedikit agresif malam itu, dia sangat ingin menunjukkan perasaan cintanya pada Andi. Tetapi tanggapan Andi malah sebaliknya. Emi seperti bukanlah Emi. Ada apa dengan dirinya, kenapa gadis itu sangat ingin hubungan yang lebih. Hubungan yang bisa mengikat keduanya.
Bagi Andi itu justru salah dan tidak mengikat. Selama pernikahan belum terjalin, hubungan seperti itu haram untuknya. Dia normal, sangat normal, keinginan juga pasti ada, itu pun hanya sebatas kiss and kiss tidak lebih
"Hmmm sebenarnya aku juga memikirkan Wasabi," Andi mengalihkan perhatian
"Baru saja aku dapat telepon dari salah satu temanku. Wasabi sedang dalam masalah," Andi berbicara sambil membersihkan repihan kaca
"Dia temanku saat kompetisi programmer. Namanya, Revi. Tetapi dia juga sedang dalam masalah. Ah ceritanya panjang. Intinya dia memberitahu ku, bahwa posisi Wasabi tidak aman. Dia membuat pelacak sensor DNA yang sempat aku bahas dengannya. Hanya saja Aku belum membuatnya. Dan dia ciptakan itu di fitur kamera barunya. Sensor itu terbaca menjadi dua lokasi yang berbeda. Yang tadinya berlokasi di A, kini berubah di lokasi B dengan waktu bersamaan," jelas Andi kemudian ia beranjak berdiri membuang repihan kaca yang ia tampung kedalam plastik sampah.
"Dia membuat program yang belum sempurna," terka Emi mencuci tangannya kemudian membuatkan minuman lagi untuk Andi
"Bisa jadi, anggaplah begitu. Tapi kenyataannya. Revi itu tidak pernah salah dalam membuat sesuatu yang dia ciptakan," sahut Andi
"Dia yakin musuhnya Wasabi kali ini, bukanlah orang sembarangan," imbuhnya
"Maksudmu semua sudah direncakan?"
Andi Sudirman menganggukkan kepala, "Ya bisa jadi,"
"Arghh sial aku harus menelan ludahku sendiri,"
"Kenapa?" Emi mengangkat alisnya, "Jangan bilang kalau kamu akan membantu Wasabi dan memperbolehkan aku ikut bekerja denganmu,"
"Itulah yang aku ingin katakan," sahut Andi dengan sedikit malu
"Haha. Kamu sangat plin-plan dalam membuat keputusan," ucap Emi kemudian memberikan teh hangat untuk Andi
Andi menerima minuman pemberian Emi yang berisi teh hangat lalu menyeruputnya sedikit, setelah itu Andi berkata, "Tapi aku tak pernah plin-plan untuk mencintaimu,"
"Haha, sudah lama aku tidak mendengar gombalan mu,"
Dan keduanya pun tertawa.
Setelah itu Andi mengajak Emi ke rumah Inspektur Hendra untuk mengambil peralatan yang dibuat Revi.
Revi sendiri tahu jika Andi adalah teman Wasabi saat pria itu istirahat makan Ramen di rumah Sill. Mereka berbincang sedikit. Karena posisi Revi adalah tahanan sementara yang tidak boleh beraktivitas diluar tahanan dalam jangka waktu lama akhirnya pria itu menghubungi Andi.
"Ayo cepat Emi. Kita harus mengambil alat yang sudah ia program sebelum malam semakin larut,"
"Iya aku sedang bersiap," ucap Emi sedikit berteriak dari kamarnya
Tak berapa lama, setelah Emi bersiap. Andi dan Emi kerumah inspektur Hendra. Sesampainya di rumah Inspektur Hendra. Emi tercengang melihat rumah seorang inspektur yang sangat megah seperti rumah pejabat.
"Andi, apa kita tidak salah? Ini rumah inspektur Hendra?" tanya Emi
"Ya, Aku mendapatkan alamatnya dari inspektur Hendra sendiri,"
"Rumah ini seperti rumah pejabat tinggi.
"Ayo masuk. Inspektur Hendra berkata, dirumahnya ada anaknya yang bernama Sill. Kita bisa berbincang-bincang sedikit soal hal apa yang sedang diselidiki Wasabi dan apa yang dia lakukan tadi bersama Revi,"
"Tapi rumah ini nampak sepi. Gelap dan sepertinya tidak ada siapa-siapa," ujar Emi seraya mencermati rumah Inspektur Hendra dari luar pagar
"Jelas saja sepi. Hanya ada Sill didalam. Mereka juga tidak menggunakan pembantu. Baru jam setengah tujuh, dia belum tidur,"
"Kalau dia seperti Pamanku? yang tidur setiap saat, bagaimana?"
"Emi sayang, bisakah berhenti mengomel"
Emi langsung diam, sedangkan Andi mulai berjalan menghampiri rumahnya. Sesampainya di teras, Andi segera mengetuk pintu rumahnya.
Seseorang membukakan pintu.
Ceklek..
"Andi?!" sahut Sill
"Sill. Rupanya itu Sill yang dimaksud adalah Sill dirimu?!" sahut Andi yang ternyata mengenal Sill.
Dunia sangat sempit