Detective Wasabi

Detective Wasabi
Sisi Lain Dokter Lee



Malam itu Wasabi menyewa kembali rumah milik temannya Lyn. Dari rumah itu pula dia bisa memantau keadaan rumah Tuan Paldo.


Dia ke atap rumah dan merebahkan tubuhnya di genteng. Entahlah kenapa sekarang genteng adalah tempat favoritnya. Lalu mengambil kalung penyelamatnya.


Dia terbayang masa lalu nya. Masih terlihat jelas di matanya gambaran saat orang tua nya tergantung. Wasabi baru menyadarinya hal yang ia lupakan. Kalung yang ia pakai itu, ditemukan di rumahnya tepatnya di kolong sofa. Milik siapa kalung itu?


Wasabi merabanya benda itu, "Tidak ada tulisan atau identitas, kalau ada mungkin bisa jadi inilah jawabannya,"


Wasabi masuk kedalam dan hendak membuat coklat panas sebelum ia tidur. Sebelumnya ia memasak air panas dari teko yang berbunyi.


Sambil menunggu air panas mendidih Wasabi mengamati kalung itu lagi sambil duduk melamun.


Nguuuuuung


Teko berbunyi, tanda air panas telah matang mendidih. Ia menaruh kalung tersebut di meja lalu menuangkan air panas ke gelas.


Byur


Karena mengantuk, Wasabi salah menuangkan. Air panas tersebut pun membasahi kalung miliknya. Namun ajaib, sebuah tulisan langsung muncul sesaat setelah kalung tersebut terkena air panas.


"Apa ini?" tanya Wasabi pada dirinya sendiri.


Karena hanya sebagian yang muncul dan tidak jelas akhirnya Wasabi mengambil gelas lain dan menaruh kalung ke dalam gelas, setelah itu ia menuangkan air panas.


Beberapa detik kemudian, ada sebuah identitas tertera di kalung tersebut.


"Amazing, ini identitas yang terbaca oleh sebuah alat, namun jika terkena air panas maka tulisan tersebut akan muncul. Frank Ichiro?" gumam Wasabi



Pria itu langsung menelpon Inspektur Hendra kembali.


"Ada apa lagi Wasabi. Belum puas hingga kamu mengganggu tidurku juga?" pekik Inspektur Hendra dari seberang telepon


"Masih jam 9 malam inspektur," gerutu Wasabi


"Aku lelah dan butuh istirahat. Kalau ada apa-apa kamu bisa menanyakan polisi yang sedang bertugas di kantor polisi," omel Inspektur Hendra


"Maaf inspektur Hendra. Ini karena aku mempercayaimu. Bisakah kau menolongku sekali lagi," Wasabi melembutkan nada suaranya


"Oke baiklah. Sekali lagi,"


"I Love You Inspektur. Hehe...Tolong periksa identitas seseorang Nomer ID PKC-035 Nama Frank Ichiro Unit M-50," ucap Wasabi


"Bisa kau ketik melalui pesan? Aku tidak hapal nomernya. Oh ya data yang kamu minta sudah ku temukan. Anakku yang mendapatkan informasi itu, dia hacker. Aku akan berikan jawabannya lewat pesan saja ya," ucap Inspektur Hendra yang sudah mengantuk


"Wow, anakmu keren sekali. Ok baiklah. Terimakasih,"


Tak berapa lama, Wasabi mendapatkan semua informasinya dari Inspektur Hendra.


Dia pun terkejut dan dengan tangan gemetar. Dia sama sekali tak menyangka. Ini hanya dugaannya saja. Tetapi dia sangat yakin akan pembunuh Mamanya.


Tak berapa lama, sebuah pesan masuk dari Inspektur Aris. Wasabi membuka pesannya



"Hemm semakin menarik," gumam Wasabi sambil membaca pesan dari Inspektur Aris


Wasabi kemudian menelepon Dokter Lee. Dia mendapatkan nomer telepon Dokter Lee dari ponsel Chaky yang disita polisi dan Wasabi ambil secara diam-diam.


"Hallo siapa ini?" tanya Dokter Lee saat mengangkat ponselnya


Dokter Lee tidak menyimpan nomer telepon Chaky? batin Wasabi


"Dokter Lee bisakah kita bertemu malam ini?" tanya Wasabi tanpa menyebutkan nama


"Dimana Saya bisa menemui Anda?"


"Nanti Dokter akan tahu siapa saya pada saat bertemu," ucap Wasabi


"Saya sedang tidak ada di Jakarta, Saya berada di Bali sekarang. Kalau begitu temui Saya di lab, saya akan mengirim alamatnya," ucap Dokter Lee


Jadi dia juga punya rumah di Jakarta hemm, batin Wasabi


"Tidak perlu, saya tahu tempatnya. Terimakasih," ucap Wasabi lalu menghilang dengan kekuatan teleportasinya.


Whuss


Tak sampai 5 detik dia sudah berada di depan Laboratorium pribadi milik Dokter Lee. Seorang Satpam menyambutnya. Wasabi mengatakan ingin bertemu dengan Dokter Lee, sang satpam pun mengijinkannya untuk masuk.


Wasabi sampai di ruangan Laboratorium. Ia menekan bell pintu. Tak berapa lama pintu terbuka.


"Hah Kamu...!" Dokter Frost Terkejut


"Oh jadi orang yang menelepon tadi adalah kamu. Biarkan dia masuk. Kamu ikuti saya," ujar Dokter Lee yang berdiri di belakang Dokter Frost


Wasabi kemudian masuk. Dia berjalan mengikuti Dokter Lee yang berada disampingnya. Kemudian mereka berhenti di depan pintu yang bertuliskan 'Doctor Lee Room'


"Masuklah," ucap Dokter Lee seraya membuka pintu.


"Duduklah kemari. Ada perlu apa? Hemm kita bicara santai saja ya? Kamu ingin menyerahkan dirimu untuk jadi bahan penelitian?" terka Dokter Lee


"Haha...Aku tahu, Dokter Lee adalah musuh Tuan Paldo. Aku ingin menawarkan kerjasama," ucap Wasabi.


Sekali lagi dia hanya menerka. Chaky menyimpan nomernya sementara Dokter Lee tidak tahu nomer Chaky. Jika dia berteman dengan tuan Paldo tidak mungkin Dokter Lee tidak menyimpan nomer asistennya.


"Cih... darimana kamu tahu," desis Dr. Lee


"Aku tahu dari mana? Dokter Lee tak perlu tahu,"


"Apa mau mu?"


"Aku ingin Dokter Lee hanya menjawab semua pertanyaanku,"


"Aku akan menjawab semua pertanyaan bahkan aku akan menceritakannya tanpa diminta. Asalkan kamu bersedia menjadi bahan penelitian ku. Aku akan menjadikan mu lebih hebat," ujar Dokter Lee


"Ah lupakanlah. Aku tak jadi bertanya. Aku akan pulang. Dan aku akan biarkan Tuan Paldo hidup bebas. Toh dia tak ada urusannya denganku,"


"Oke Oke aku akan menjawab semua pertanyaan mu. Asalkan dia jatuh,"


Wasabi tersenyum licik, lalu mulai bertanya.


"Apa hubungan dokter Lee dengan Proffesor Han?"


"Dia senior di tempat kerja kami yang dulu. Setelah itu dia keluar karena ada tawaran yang bayarannya jauh lebih bagus. Akhirnya dia bekerja dengan perusahaan ilegal. Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Semua hanya berkomunikasi dengan asistennya. Hanya tuan Han yang tahu, tetapi dia telah disumpah untuk tutup mulut. Aku yakin sekali dia dibunuh karena kasus penelitian tersebut,"


Wasabi menganggukkan kepala


"Darimana Dokter Lee mengenal Pak Setya?"


"Ah.. dia yang pernah membawa mu kemari. Haha..Kami pernah tak sengaja bertemu saat perang terjadi di Papua. Aku menjadi relawan dokter disana, tak kusangka dia masih menyimpan nomerku," ujar Dokter Lee


"Apa kamu tahu? Saat kamu tertembak. Setya panik luar biasa haha... Dia bilang, kamu memiliki kekuatan dan dia takut kalau kamu mati maka dia tidak bisa mendapatkan kekuatanmu. Makannya dia tak ingin kamu terluka sedikitpun. Aku tercengang dan hampir tidak percaya soal kekuatan yang dia maksud," kata Dokter Lee


"Dasar Ayah," gumam Wasabi


"Kamu bilang apa?"


"Tidak ada, hanya tertawa kecil," bohongnya


"Lalu selain Pak Setya, apakah ada orang lain yang menyuruh Dokter Lee untuk meneliti seseorang yang memiliki kekuatan teleportasi?"


"Sejujurnya ada. Tapi itu sudah lama sekali. Aku tidak tahu siapa dia. Kami hanya berbicara di telepon dan itupun hanya sekali," jawab Dokter Lee


Kring...Kring


"Ah aku lupa menyetel mode silent," gumam Wasabi


"Joy. Kenapa dia telepon malam-malam begini," pikir Wasabi


"Siapa yang telepon. Kenapa tak langsung diangkat? Angkatlah!"


Tak berapa lama tangan kiri Wasabi menjadi keram dan berubah kembali menjadi biru bercahaya.


"Oh tidak, amazing! tanganmu!" Dokter Lee terkejut


"Bukan siapa-siapa. Tidak penting," Wasabi mematikan ponselnya


"Aku sendiri tidak tahu kenapa tanganku seperti ini,"


"Tanganmu bereaksi saat kau melihat nama penelpon itu. Apa dia pacarmu? Atau seseorang yang dapat menggetarkan hatimu. Sehingga ada suatu gejolak yang dapat membangkitkan aliran kekuatan seperti sinar biru itu tadi," ujar Dokter Lee


"Haha tidak mungkin. Ini bukan karena penelpon itu," Wasabi menepisnya


Tak berapa lama tangan wasabi kembali seperti semula.


"Tak percaya? Cobalah kamu menyebut namanya atau memikirkan seseorang yang tadi menelpon," perintah Dokter Lee


Untuk membuktikan ucapan Dokter Lee pun Wasabi melakukannya, ia juga penasaran. Saat Wasabi mencoba menyebut nama Joy.


"Sudah kulakukan tetapi tetap tak bereaksi," ucap Wasabi


"Ahh aneh atau kamu ingin aku meneliti tanganmu? Haahaa...Aku sungguh penasaran dengan dirimu," ungkap Dokter Lee


"Astaga sebaiknya aku pulang sebelum aku dimakan mentah-mentah oleh mu haha,"


"Aku tak sekejam itu. Aku dokter yang berperasaan," ucap dokter Lee


"Oh ya. Ku kira kau dokter yang berbahaya?"


"Tidak. Aku tidak berbahaya. Aku tidak bisa meledak,"


"Lelucon macam apa itu," sahut Wasabi


"Haha.. Yasudah pulanglah. Atau kamu mau bertanya lagi. Aku sedang sibuk, ada proyek baru yang harus aku kejar.


"Oh sementara ini itu saja pertanyaanku,"


"Aku orang sibuk jadi, telepon saja jika itu mendesak,"


"Terimakasih. Saya pulang dulu," Wasabi pamit setelah obrolan yang cukup menyenangkan.