Detective Wasabi

Detective Wasabi
Keracunan



Inspektur Hendra kembali ke kantor polisi setelah pergi mengurus beberapa masalah lain. Ia berjalan ke ruangannya melewati polisi lain yang sedang duduk didepan komputer mereka menyusun laporan-laporan dari pelapor.


Ada juga yang bertugas mengumpulkan data informasi korban atau pelaku kejahatan.


Salah satu polisi tersebut memanggil Inspektur Hendra sebelum memasuki ruangannya. Dia berdiri dan berbicara dari bangkunya


"Siang tadi Wasabi kemari. Ada yang ingin dia bicarakan, penting katanya," ucap Gibran salah satu bawahan Inspektur Hendra


"Hmm pasti tadi dia menelepon ku. Ah kenapa. disaat genting seperti ini ponselku rusak," gumam Inspektur Hendra


"Tolong hubungi Wasabi dan sambungkan teleponnya ke ruangan ku. Terimakasih Briptu Gibran," Inspektur Hendra lalu segera masuk ke ruangannya


Memangnya dia sendiri tidak bisa menghubungi? Dasar manja, batin Gibran


Briptu Gibran langsung menghubungi Wasabi dan menyambungkannya ke sambungan telepon yang ada di ruangan Inspektur Hendra.


"Hallo Wasabi. Ada apa? Oh ya maaf ponselku rusak. Aku sudah di kantor sekarang,"


"Inspektur, apakah kau yakin pembicaraan kita di telepon ini aman?" tanya Wasabi


"Sebentar," Inspektur Hendra berhenti berbicara lalu melihat keluar jendela


"Sepertinya tadi Briptu Gibran baru meletakkan gagang teleponnya. Apa aku salah lihat," pikir Inspektur Hendra dalam hati


"Wasabi 30 menit lagi temui Aku di cafe depan. Sekarang,"


"Baik Inspektur," Kemudian Wasabj menutup telepon nya


30 menit ke kafe depan? sekarang? batin Wasabi


Wasabi mencerna perkataan Inspektur Hendra.


Ke kafe depan hanya membutuhkan waktu 5 menit. Mungkin maksudnya adalah Kafe yang jika dari arah kantornya membutuhkan waktu 30 menit. Itu berarti, yang dimaksud Inspektur adalah kafe dimana Vin menjual 2 gadis ada yang tidak beres, sehingga dia harus menggunakan bahasa seperti ini.


Di kafe, sambil menunggu Inspektur Hendra di kafe yang telah di sepakati. Wasabi memulai penyelidikannya. Ia ingin menemui penjaga dan pelayan yang saat itu terekam di kamera CCTV sedang melayani tamu yang membawa dua gadis yang hilang. Gadis yang bernama Qisty dan Adel


"Selamat datang Pak, silahkan duduk. Ini menu kami, Saya Andri siap melayani Anda," ucap Andri menyambut tamunya di depan pintu


Sepertinya ini penjaga yang saat itu terekam CCTV, tapi kenapa dia memakai baju pelayan, batin Wasabi


"Terimakasih. Bisakah kamu ikut duduk dengan saya? Ada yang ingin saya tanyakan,"


"Oh baiklah," ucap Andri dengan segala keheranannya


Setelah semuanya duduk Wasabi mengeluarkan sebuah foto dan menunjukkannya pada pelayan tersebut


"Apakah Anda mengenal wajah ini?" tanya Wasabi sementara Andri masih melihat foto tersebut


"Jika Anda mengenalnya mohon katakan apa yang anda lihat hari itu. Karena gadis ini dilaporkan hilang,"


"Astaga, lalu siapa Anda? Apakah Anda polisi?


"Ssst," Wasabi memberi isyarat untuk mengecilkan volume suara


"Saya detective Wasabi, saya yang akan membantu penyelidikan ini,"


"Oh begitu, semoga cepat terungkap. Kalau begitu saya akan memberikan keterangan sesuai yang saya tahu. Dia Qisty. Saya mengenalnya karena dia sering ketempat ini. Terakhir saya melihatnya itu kemarin lusa. Kalau tidak salah, karena saya sedikit lupa. Dia kemari bersama temannya yang ini," ucap Andri Sambil menunjuk foto gadis yang disamping foto Qisty


"Kamu mengenal gadis itu juga?"


"Tidak saya tidak mengenalnya. Tetapi saya tahu wajahnya karena dia sangat cantik,"


"Hmm rupanya kamu tipe orang yang gampang mengingat jika dia cantik ya. Lalu apakah kamu menemukan keanehan? atau keganjalan?"


"Iya, seperti itulah cantik jadi teringat. Ya sedikit. Ketika saya menyapa biasanya dia selalu ramah dan membalas sapaan saya. Tetapi hari itu, dia seperti tidak mengenali saya. Saya pikir mungkin karena dia kemari dengan beberapa laki-laki dan mungkin salah satunya pacarnya. Hanya tebakan saja. Anda tahu kan seperti jaga jarak. Saya pun langsung memahami, bisa saja laki-laki itu pencemburu," cerita Andri


"Ada beberapa laki-laki katamu? Bisa kamu sebutkan berapa jumlah mereka?"


"Ada 5 laki-laki, tiga orang laki-laki berbahasa Inggris. Oh tidak dua, yang satunya ada sedikit aksen Malaysia. Dan dua lagi orang Indonesia,"


"Dua aksen Inggris, satu aksen Malaysia dan dua orang dengan aksen Indonesia?" Wasabi memastikan lalu dijawab anggukan kepala oleh Andri. Setelah itu Wasabi bertanya lagi, "Apakah dua orang ini yang kamu lihat?" tanya Wasabi sambil menunjukkan foto dua orang Jepang


"lya betul. Tiga orang masuk ke dalam yang dua orang lainnya hanya mengobrol di depan pintu lalu pergi,"


"Hemm pantas saja dua orang itu tidak terlihat di CCTV," ucap Wasabi berbicara dalam hati sambil mengamati dan mencari-cari letak CCTVnya


"Oh ya apa yang mereka pesan?"


"Saya tidak tau, karena saat itu saya bekerja mengganti satpam yang tidak masuk, jadi saya bertugas membuka pintu dan berdiri di depan," jelas Andri


"Tapi jika Anda ingin tahu mungkin Anda bisa melihatnya lewat buku penjualan kami. Atau pelayan yang saat itu melayani mereka," ucap Andri


"Hemm kalau boleh saya ingin lihat penjualan yang keluar pada hari itu,"


"Sebentar akan saya cetakkan penjualan sekitar hari dan jam itu," kemudian Andri pergi ke dalam kantor bagian administrasi.


Tak berapa lama Inspektur Hendra datang.


"Kamu pintar sekali Wasabi, langsung tahu tempat yang ku maksud. Aku sempat meragukan mu haha,"


"Haha...Inspektur, instingmu salah. Lama sekali? ada yang tidak beres?"


"Maaf aku harus mengecoh dahulu. Aku masuk kedalam kafe depan kantor dan keluar lewat pintu belakang. Aku mencurigai satu orang. Aku merasa Briptu Gibran mengawasiku. Ada apa sebenarnya Wasabi?"


"Instingku tidak pernah salah. Siapa yang memberimu laporan bahwa surat kepemilikan bangunan itu Asli. Semuanya palsu. Kita dibodohi,"


"Astaga itu terlihat begitu mirip. Aku juga tidak mengecek ulang. Semua ku pasrahkan anak buahku. Kalau aku yang mengerjakan semua. Apa tugas mereka!?"


"Haha," Wasabi terkekeh


"Aku menyuruh Briptu Yani saat itu,"


"Lalu bagaimana sikap Briptu Yani? Apakah ada tanda-tanda mencurigakan darinya?


"Tidak seperti biasa dia selalu bersikap perfeksionis dan tegas. Tetapi aku menemukan keanehan pada Briptu Gibran. Aku mengecek CCTV agar yakin. Dan benar saja dia sempat menguping pembicaraan kita. Aku mencoba pergi keluar. Ternyata dia mengikuti ku. Lalu aku sengaja menyapanya dan malah memanggilnya untuk bergabung denganku di kafe depan itu. Tetapi sikapnya tenang tak ada kegugupan sama sekali," cerita Inspektur


"Dia sudah terlatih Inspektur. Kita tak boleh menganggapnya remeh. Kita harus menemukan gadis itu malam ini. Aku rasa ini saling berkaitan dengan banyak hal, sehingga yang menjadi kawan bisa saja menjadi lawan. Dan bisa jadi ada keterlibatan petinggi kota. Hanya dugaan,"


"Ya kau benar. Jika banyak yang terlibat bisa saja ini berhubungan dengan orang penting di kota ini. Kita harus tetap waspada," bisik Inspektur Hendra


"Permisi Pak. Ini data yang Anda minta," Andri menyerahkan laporan data kepada Wasabi


Tidak jelas kenapa Wasabi meminta laporan menu yang tidak ada kaitannya dengan kasus.


"Terimakasih, duduklah. Ada yang masih ingin ku tanyakan,"


"Silahkan Pak,"


"Hemm bisakah kamu memberiku kopi dahulu?"


"Oh baik, Pak, ada lagi?"


"Tidak itu saja,"


"Baik. Maaf Detectif Wasabi apakah Anda juga ingin memesan minuman atau makanan?"


"Minuman saja, Kopi hitam dua sendok, dan dua sendok cream dan satu sendok gula," jelas Wasabi


"Maaf, sendok teh?"


"Ya jelas lah sendok teh. Kamu ingin saya menjadi diabetes," sahut Wasabi


"Haha maaf Pak, baik saya akan membuat kan. Tunggu sebentar,"


"Jangan galak-galak Wasabi," sahut Inspektur Hendra


"Hmhh Inspektur kau membawa kucingmu kemari, tidak takut hilang?"


"Tidak, aku sudah meletakkan alat GPS didalam tubuhnya,"


"Haha kau begitu menyayanginya. Sampai membawa kucing itu kemanapun,"


"Tentu saja. Kucing ini datang kepadaku saat pemakaman istriku. Aku merasa roh istriku ada didalam tubuh kucing ini,"


"Maaf inspektur, tapi dia tetaplah kucing biasa," ucap Wasabi


"Aku ingat satu hal lagi,"


"Apa itu? Duduklah," pinta Wasabj


Andri segera duduk, tak berapa lama dia merasa pusing tiba-tiba. Kemudian lehernya terasa sangat panas lalu menjalar ke paru-parunya hingga Andri kesulitan bernafas.


"Argh leherku. Hah..hah...," Andri menyentuh lehernya yang terasa panas dan sesak


"Kenapa lehermu! Kau sesak nafas?" tanya Inspektur Hendra


"Apakah dia keracunan?" tanya Wasabi


"Aku tidak tahu,"


"Tolong..." Wasabi ingin memanggil karyawan lainnya


"Sebentar aku telepon ambulance," sahut Inspektur Hendra


Andri mencengkeram lengan Wasabi, ada yang sangat ingin dia katakan.


"O-orang itu me-miliki. ku-kuccing dengan mata yang ber-beda," ucap Andri terbata karena sesak napas


"Kucing? Hey kau bersabarlah...,"


Demi keselamatan Andri, Wasabi menengok kiri dan kanan. Karena tidak ada yang melihatnya ia langsung membawanya ke rumah sakit dengan kekuatan teleportasinya.


"Hah... lagi-lagi dia pergi begitu saja dengan kekuatannya. Padahal aku sudah menelepon Ambulance"


Tak berapa lama ada salah satu pengunjung yang mengetahui Wasabi menghilang begitu saja, ia langsung datang mengerumuni ke meja Wasabi dan dengan cepat gosip pun menyebar.


Ditengah kerumunan itu Inspektur Hendra langsung meminum kopinya dengan beberapa tegukan lalu bergegas pergi ke meja kasir dan membayar lebih, dia ingin kabur karena tidak ingin ditanyai macam-macam. Tetapi Inspektur Hendra malah melihat seseorang yang keluar dengan terburu-buru.


"Apakah aku harus mencurigai orang yang baru saja keluar itu. Bisa saja itu hanya pengunjung biasa. Ah.. Aku harus cepat membayar ini semua,"


Disamping itu Wasabi telah sampai di rumah sakit. Andri segera ditangani.


Andri keracunan, ini berarti ada yang mengikuti Inspektur Hendra atau memang ada mata-mata di kafe itu. Gibran atau orang lain. Lalu kucing.... Aku harus kembali kepertokoan itu? batin Wasabi


Wasabi kembali ke pertokoan. Tepatnya ruko yang sempat di datanginya.


Sesampainya di sana dia langsung mencari dimana keberadaan kucing itu. Kucing dengan mata yang berbeda, tepat seperti apa yang di ceritakan Andri. Tak berapa lama dia menemukan kucing itu berbaring di sofa putih, persis seperti bulunya yang putih


"Siapa tuan mu kucing manis," tanya Wasabi


Wasabi tak ingin mengulur waktu. Dia kembali ke Kafe untuk menanyakan apa yang dimakan dan diminum Andri sebelumnya.


Tetapi, Kafe itu menjadi rame karena gosip yang menyebar luas. Hingga Wasabi dikepung pengunjung bak artis Korea yang dikerumuni fansnya


Pemilik Kafe pun turun tangan menangani pengunjungnya yang tiba-tiba membludak. Bukan karena ingin makan atau minum tapi karena ingin mengetahui tentang Wasabi


"Permisi Nyonya,nona dan tuan-tuan sekalian. Maaf. Pengunjung Kafe yang lain butuh ketenangan untuk makan dan minum. Mohon bubar dan jangan mengganggu kenyamanan disini," Wanita pemilik kafe itu pun mengusir tamunya yang membuat kehebohan


"Maaf Pak Anda bisa ikut saya ke dalam?" pinta pemilik Kafe tersebut


Wasabi mengikuti pemilik kafe ke dalam ruangannya


"Maaf Anda siapa! dan kenapa karyawan saya mendadak sakit seperti itu. Bagaimana keadaanya!?"


"Maafkan saya Nyonya...."


"Nona! nama saya Gem," pemilik kafe tersebut meralat


"Nona Game,"


"Gem, G E M," jelas pemilik kafe


"Maaf Nona," ucap Wasabi sambil melayangkan senyumnya.


Gem yang tadinya jutek langsung terpesona dengan senyum maut Wasabi. Wasabi kemudian menceritakan apa maksud dan tujuan dia kemari


"Oh, Astaga! Maaf saya sempat salah mengira maksud dan tujuan Anda,"


"Kalau begitu Saya akan menutup kafe ini, dan silahkan Anda mencari bukti kebenarannya lewat karyawan saya yang lain," ujar Gem


Dia juga tidak ingin menghambat penyelidikan dan malah memberikan akses penuh kepada Wasabi


Beberapa menit kemudian, Kafe telah kosong pengunjungnya. Siang itu pukul 14:00 Semua karyawan berkumpul.


"Saya akan kesampingkan masalah gadis yang hilanb. Karena ada hal yang baru terjadi. Apakah ada yang melihat kapan Andri meminum atau memakan sesuatu terakhir kalinya?" ucap Wasabi dengan pertanyaan yang membuat semua orang gugup. Padahal tidak semuanya bersalah.


"Terakhir tadi dia meminum minumanku," ucap Rere


"Bisa Anda jelaskan kronologi nya?"


"Aku baru saja mengambil minumanku di pantry karyawan. Dan membawanya ke meja kerja. Aku melanjutkan kerjaku membuat laporan. Lalu beberapa menit kemudian saat aku ingin minum, dia merebut minumanku dan menyuruhku mencetak laporan penjualan yang Anda minta," jelas Rere


"Dia sedikit mulai gerah, berkali-kali memegang lehernya yg terasa panas dan kering. Bisa jadi Andri keracunan setelah minum dari minumanku. Tapi sungguh bukan aku pelakunya. Karena sebelum itu aku juga meminum minuman dari gelasku," timpalnya lagi


"Saat itu siapa saja yang ada di pantry?"


"Ada Aku, Black dan Nona Gem," jawab Rere


"Siapa yang bernama black?"


"Aku, itu hanya sebutan saja. Namaku Berta karena aku hitam jadi mereka memanggilku black. Aku hanya mengambil minum setelah itu aku kembali ke meja kasir," jelas Black


"Saya hanya membuat makan siang saya. Saya bahkan tidak tahu siapa saja yang ada di pantry karena pandangan saya tidak jelas jika tidak memakai kacamata," jas Gem


"Jadi dengan kata lain Nona menyalahkan kami. Begitu!" tanya Black


"Hah, jadi kamu pikir saya yang meracuni karyawan saya begitu!" Gem tak mau kalah


"Tenang semuanya!" Wasabi menengahi


"Semua bisa saja menjadi pelaku disini," imbuhnya


"Ya itu berarti termasuk Anda, bukan begitu Tuan Wasabi," ujar Gem


Wasabi tersenyum tipis


"Apakah Andri sempat masuk ke dalam pantry setelah dari ruangan mu?" tanya Wasabi kepada Rere


"lya dia masuk mengambil ke pantru untuk mengganti minuman ku yang sudah dia rebut,"


"Ada kemungkinan dia mencoba sesuatu juga di pantry," gumam Wasabi


"Ijinkan saya ke pantry Nona Gem,"


"Silahkan"


Di pantry kafe itu, mata wasabi berkeliaran.


"Apa yang Nona buat untuk makan siang Nona Gem?"


"Saya membuat nasi goreng, tapi saat Saya ingin memakannya. Saya mendengar suara teriakan minta tolong. Saya segera beranjak bangun dari kursi kemudian berlari kedepan. Tapi saya ceroboh, taplak meja itu tertarik tangan saya dan malah membuat makanan saya terjatuh," jelas Gem


Wasabi melihat rak cuci piring dan rak piring bersih. Semua piring itu terbuat dari bahan keramik. Dia pun melihat isi tong sampah. Hanya ada makanan dan sampah lainnya. Tidak ada bekas piring pecah.


"Nona Gem piring itu terjatuh? Anda memakai piring keramik itu bukan?" ucap Wasabi sambilmenunjuk ke arah piring yang telah di cuci.


"Piring itu terjatuh tetapi saya sempat menangkap. Pada saat menangkap posisi piringnya miring dan menjatuhkan semua makanan,"


"Saya akan membawa makanan yang terjatuh ini bersama minuman dari gelas Nona Rere. Jika hasil laboratorium ditemukan racun. Maka saya akan mencari tahu lebih dalam, Apakah Nona Gem atau salah satu karyawan yang berniat jahat. Sambil menunggu Andri siuman," ungkap Wasabi


"Loh kenapa saya juga dibawa-bawa?" sahut Gem tak ingin dilibatkan


"Karena saya juga tidak tahu apakah Andri juga menyicip makanan Anda. Mengingat Anda tidak jelas melihat jika tidak memakai kacamata," jelas Wasabi


"Tapi saya sudah meminum minuman dari gelas saya itu, dan lihat saya tidak kenapa-kenapa bukan?" ucap Rere


Wasabi sudah mengantongi sebuah gelas dan makanan yang terjatuh tadi kedalam plastik, untuk di teliti. Dia tak menghiraukan perkataan Rere. Dia malas menjelaskan. Pikirannya sedang tertuju ke arah lain. Baru saja akan menyelidiki, tetapi ada saja masalah yang datang.