
Siang itu Joy dan Ray dalam perjalanan menuju toko pakaian pesta, langganan keluarganya Joy. Pakaian yang dipesan sesuai ukuran sudah jadi dan siap dipakai karena juga sudah di cuci oleh pihak tokonya.
Joy sibuk dengan ponselnya sedangkan Ray sibuk menyetir, tidak ada percakapan yang menarik sedari pagi hanya diam dan diam. Perjodohan yang tidak diinginkan keduanya.
Joy pun bosan karena sedari tadi mereka diam, tapi akhirnya Joy membuka pembicaraan.
"Saat Daddy bilang dia membatalkan perjodohan ku dengan Riyan. Aku sempat senang dan mengira bahwa Aku bebas dan dapat memilih jodohku sendiri," cerita Joy
"Tak tahunya kamu malah jatuh ke dalam perjodohan juga. Haha....," sahut Ray
"Sungguh menyebalkan, dan anehnya kalian berdua sama-sama memiliki usaha salon," ucap Joy yang sebenarnya menganggap remeh usaha itu
"Hemm itu bukan usaha sesungguhnya. Salon hanya kedok, aku sebenarnya mempunyai usaha minuman keras," ucap Ray
"Hah? Astaga dan Daddy ku telah salah memilih calon," gumam Joy
"Sebelum denganmu, Aku di jodohkan dengan Alice. Tapi entah kenapa perjodohan itu batal. Kamu sahabat Alice kan?" tanya Ray
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku melihat fotomu dengannya, yang kamu pajang di dinding ruang ruang makan,"
"Aku menganggapnya teman, tapi dia sepertinya tidak,"
"Kenapa?"
"Kita menyukai orang yang sama,"
"Haha itu biasa terjadi," Ray tertawa renyah, "Lalu kenapa kamu menerima perjodohan ini?"
"Awalnya aku berontak dan kabur dari rumah, tapi malah aku bertemu penculik. Dari kejadian itu Daddy ku sempat terserang jantung. Aku tidak ingin melukainya lagi," ungkap Joy
"Kamu sendiri?" tanya Joy balik
"Aku hanya ingin balas budi, Aku anak angkat," ucap Ray
"Apa kamu memiliki pacar?"
"Tidak, tapi ada orang yang ku suka. Kamu sendiri, siapa orang yang kamu suka?" sahut Ray
"Haha Dia lelaki yang pintar, tampan, berani dan pastinya kamu tidak bisa menandingi kelebihannya," ucap Joy sambil tersenyum sendiri, karena membayangkan wajah Wasabi
"Sepertinya kamu tergila-gila dengannya, boleh ku tahu siapa namanya?" tanya Ray
"Dia seorang Detektif, namanya Wasabi," ucap Joy
Ray langsung tertawa keras mendengar nama Wasabi. Baginya nama itu sangatlah lucu.
"Apa yang kau tertawakan?" ucap Joy denga membelalakan matanga, tak suka karena dia tahu Ray pasti menertawakan namanya.
Baru kali ini Joy tersenyum, dia manis juga. Tapi saat marah lebih manis. Ahh sebaiknya aku tidak usah bilang aku tertawa karena apa, batin Ray
"Hemm Kita sudah sampai kamu masuk duluan ya, Aku akan memarkirkan mobil ku," ucap Ray karena lahan parkir toko tersebut sedang penuh sehingga Ray perlu mencari beberapa meter di luar toko
Joy masuk ke dalam, lalu disusul Ray. Tak berapa lama ponselnya berdering.
Qisty, tumben dia telepon. Apakah dia sudah membuka hatinya untuk ku hehe...batin Ray
"Hallo cantik," sapa Ray, pria itu berdiri di teras toko
"Ray, maaf aku menelepon mu. Aku butuh bantuanmu bisakah kamu membantuku?" sahut Qisty dari seberang telepon. Nada suaranya terdengar terisak karena menangis
"Tidak masalah. Apapun yang kamu mau, Aku akan mengusahakannya sayang," ucap Ray
"Ini semua gara-gara Detektif Wasabi! Hiks Aku butuh pengacara untuk mengeluarkan aku dari sini please ku mohon," sahut Qisty
"Apa! Memangnya kamu dimana sekarang?" tanya Ray khawatir karena dia begitu sayang dengan Qisty.
Detektif Wasabi bukankah itu orang yang dicintai Joy batin Ray
"Aku di kantor polisi. Tolong kirimkan pengacara mu ke sini, aku tunggu.... sayang," sahut Qisty terpaksa mengatakan sayang agar hati Ray melayang dan segera mengirimkan pengacaranya ke sana.
"Oke aku dan pengacaraku akan kesana. Tunggu aku," ucap Ray kemudian mematikan sambungan teleponnya
Sialan Wasabi berani sekali macam-macam dengan wanitaku, ucap Ray berbicara dalam hati
"Ray, kamu lama sekali," seru Joy memanggil Ray dari kejauhan, "Masuklah dan coba pakaianmu dahulu. Setelah itu kita pulang,"
"Haha, Aku punya ide," pikir Ray yang langsung mendapatkan ide untuk membalaskan dendamnya. Kebenciannya pun berawal dari sini.
.
.
Di lain tempat, perasaan Wasabi gelisah. Tiba-tiba saja dia teringat akan Joy.
"Kenapa perasaan ku menjadi tak karuan begini ya. Kenapa aku terus memikirkan Joy. Apa karena sebentar lagi dia akan bertunangan?" gumam Wasabi
Tak berapa lama Wasabi mendapat telepon dari Ayahnya.
"Wasabi bisakah kamu pulang," ucap Setya yang kesulitan bernapas, ia berhenti sejenak mengatur napasnya lalu melanjutkan kembali, "Sekarang! Jantungku terasa sakit sepulang dari rumah Kakek Hugo," ucap Setya yang berbicara dengan napas tersengal-sengal
"Bertahanlah sebentar. Tunggu aku, Ayah!"
Wasabi segera pergi tanpa menghabiskan makan siangnya di kafe tersebut. Lalu membayar semua ke kasir. Dia hanya membayar pesanannya sendiri dan kopi pesanan Inspektur Hendra karena yang lainnya belum sempat memesan.
Di sisi lain Wasabi segera menghubungi Andi dan meminta Andi untuk melacak dimana keberadaan Kakek Hugo.
Setelah pembayaran selesai, tanpa aiueo dan tanpa memperdulikan sekitarnya Wasabi langsung berteleportasi, meninggalkan motornya di sana
Whuss...
Tak berapa lama Wasabi sampai di kediamannya.
"Ayah...Kamu dimana?" panggil Wasabi
"Ayah di Toilet," teriak Setya
"Astaga, Kita ke UGD sekarang," pekik Wasabi dengan menyentuh pundak Ayahnya.
Wasabi ingin berteleportasi lagi menuju rumah sakit. Tetapi Ayah Wasabi menghentikannya.
"Tunggu!" Sahut Ayahnya cepat
"Kita ke Laboratorium Dokter Lee saja," pinta Ayahnya dengan menahan sakit di dadanya
"Maksud Ayah di Bali? Itu terlalu jauh,"
"Tidak, Dia di Jakarta sekarang. Di rumahnya juga ada Klinik dan Laboratorium kecil. Aku akan membuat blackhole. Bantu aku berdiri," sahut Setya
Wasabi menuruti permintaan Ayahnya, ia pun membantu Ayahnya berdiri lalu Setya membuat "Black Hole" besar dan mereka berdua masuk ke dalamnya. Dalam hitungan detik mereka sudah berada di kediaman Dokter Lee.
Ayah Wasabi pingsan setelah melakukan perjalanan yang menggunakan kekuatannya. Dokter Lee yang sebelumnya sudah ditelepon Setya, langsung menyambutnya di depan rumah.
"Masuklah Wasabi, Aku sudah menyiapkan peralatannya, rebahkan dia di sana," Dokter Lee berjalan duluan menuju ruang tindakan. Ia membuka pintu mempersilahkan Wasabi untuk masuk.
Di dalamnya ada kasur untuk pasien dan disampingnya peralatan medisnya
"Ya benar di situ," ucap Dokter Lee
Pria itu terlihat sibuk memasang semua alat deteksi di bagian dada dan tangan. Wasabi
pamit keluar, lalu kembali menghubungi Andi.
"Bagaimana? Kamu sudah menemukan keberadaannya?" tanya Wasabi
"Aku baru saja ingin menghubungimu. Aku sempat kesulitan mencarinya. Sekarang, Dia ada di bandara," ucap Andi
"Bandara?" gumam Wasabi seraya berpikir sejenak. Setelah Ayahnya pulang dari rumahnya, kini pria itu ke Bandara. Wasabi semakin beranggapan jika sakit yang di derita Ayahnya kini adalah perbuatannya.
"Terimakasih Andi," ucal Wasabi kemudian mematikan sambungan teleponnya
Wasabi begitu terburu-buru, dia tidak ingin kehilangan jejak. Tetapi begitu sampai di Bandara, betapa bingungnya dia mencari sosok yang mengaku Kakek Hugo.
Ia berdiri di ruang keberangkatan. Dia dapat melihat pesawat yang datang dan pergi dari dinding kaca itu. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi kakek Hugo dengan mengatur nomernya agar tak dikenali.
Begitu sambungan terhubung, terlihat seorang pria mengangkat teleponnya saat hendak menaiki anak tangga di pesawat. Di samping pria yang mengangkat ponsel itu adalah seorang pria yang sangat dikenali Wasabi, Takashi.
Mau kemana mereka? Jika Ayah sakit karena ulah mereka, tunggu saja pembalasan ku. batin Wasabi