
"Sill panggilkan Wasabi kemari," perintah Inspektur Hendra karena orang terdekat dengannya saat itu adalah Sill
"Baik Ayah," Sill berlari menuju sel tahanan sementara khusus
Briptu Gibran juga dipanggil ke dalam ruangan. Setya gadungan menunduk, kali ini usahanya untuk menipu akan terbongkar.
Wasabi datang dan langsung ingin membuka topeng Setya gadungan tetapi ditahan oleh Inspektur Hendra
"Dia bukan Ayahku, lihat saja mukanya yang ketakutan karena takut ketahuan," seru Wasabi sembari duduk di depan meja Inspektur Hendra
"Siapa kamu! Aksi pelarianmu sudah menjadi jawaban jika dirimu bukanlah Ayah Wasabi. Apa tujuanmu menyamar sebagai Ayahnya?" tanya Inspektur Hendra
"Apa Kau juga kan yang menyamar sebagai diriku?" tanya Wasabi
"Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu. Karena aku baru menyamar kali ini," ucap pria itu
"Jujurlah, kami akan senang jika kamu langsung mengakuinya," ucap Inspektur
"Hah apakah aku harus mengakui hal yang tidak aku lakukan!" ucap Pria penyamar
"Lalu kenapa kau menyamar sebagai Pak Setya?" tanya Inspektur
"Namaku Brams, Aku pengantar pizza. Ketika aku sedang mengantar pizza ke salah satu rumah gedong, Aku ditawarkan uang yang banyak. Dia memberiku uang tunai sepuluh juta di depan. Sisanya jika Wasabi mengatakan dimana dua gadis itu," aku pria yang bernama Brams
"Dua gadis siapa yang mereka pinta?"
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya disuruh berkata seperti itu saja,"
"Dimana kamu mengantar pizza itu," tanya Wasabi
"Di perumahan elite,"
"Atas nama siapa pemesan itu," tanya Wasabi lagi
"Joko," jawab Brams
"Dia tak mungkin memakai nama asli," sahut Wasabi
"Bagaimana ciri-ciri orang yang menyuruhmu," tanya Inspektur Hendra
"Aku tidak tahu yang mana yang Anda maksud. Ada banyak orang. 7 orang sepertinya dia bodyguard karena pakaiannya seragam. Lalu ada 2 orang berdasi serta 1 orang berjas dan berdasi.
"Bagaimana ciri fisik orang yang berdasi saja dan orang yang memakai jas dan dasi," tanya Inspektur Hendra meminta keterangan detail
"Yang berdasi, ada satu pria botak pendek dan satunya pria tinggi besar dan memiliki hewan sejenis naga di bahunya. Hewan aneh,"
"Dia blue orang yang ingin membunuhku tadi petang. Tapi dia lepas saat aku kembali dari Batam," sela Wasabi
"Aku tidak tahu namanya. Dan satu orang berjas dia memiliki tatto di lengan tangan kanannya. Dia masih muda, tingginya, rambut dan juga wajahnya hampir mirip seperti Wasabi," jelas Brams
"Kamu bilang dia berjas, bagaimana kamu melihat tattonya. Apakah dia membuka jasnya?"
"Sama seperti keterangan Qisty, orang yang melakukan pelecehan terhadapnya memiliki tatto dilengan," gumam Wasabi
"Buka topengmu Brams," pinta Wasabi
Brams kemudian membuka topengnya yang sangat rekat dengan kulitnya. Ia harus melepaskannya dengan hati-hati. Topeng itu juga tipis dan di tambah dengan riasan bedak serta sedikit shadow blush on, untuk menutupi bagian lipatan mata dan sisi wajah. Setelah semua terlepas ia menaruhnya di meja.
"Astaga topeng itu benar-benar seperti aslinya," gumam inspektur Hendra
"Brams terimakasih sudah mengakuinya. Untuk sekarang kamu ku tahan sementara menunggu persidangan kasus ini," ucap Inspektur Hendra lalu menyuruh anak buahnya membawa Bram ke sel tahanan sementara.
Sedangkan Gibran masih berada disitu. Ada rencana yang susun Wasabi dan Inspektur Hendra.
"Wasabi aku sudah menemui dua gadis itu di rumah Qisty," ucap Inspektur Hendra
"Hmm Aku kira Inspektur akan terjebak. Maaf Inspektur Hendra,"
"Untungnya aku pintar. Begitu kamu bilang mereka ada dirumah Adel, aku langsung memutar otakku. Rumah Adel jauh dari kota, orang tuanya bekerja di pabrik dari malam hingga pagi, dan jika sesuatu hal terjadi padanya akan sangat susah membawanya ke rumah sakit. Rumah Qisty adalah pilihan yang tepat. Rumahnya dekat dengan rumah sakit. Kamu pintar Wasabi,"
"Aku baru mendengar pengakuan dari pihak Qisty saja, karena Adel saat itu sedang beristirahat. Apakah semuanya aman?" tanya Wasabi pada Inspektur Hendra tetapi pandangannya melihat ke arah Gibran
"Ya sangat aman. Kamu bisa pulang Wasabi. Qisty dan Adel sudah memberikan kesaksian mereka. Tadi saat aku kesana, Adel terbangun. Meskipun kondisi dia terlihat lemah tetapi kesaksiannya jelas," ucap Inspektur Hendra
"Oh ya Wasabi jangan lupa kamu mampirlah ke rumah Andi.
"Terimakasih Inspektur Hendra. Ya, aku akan ke rumah Andi setelah ini," ucap Wasabi kemudian ia pergi meninggalkan ruangan
"Briptu Gibran peringatan untukmu. Jangan coba-coba melepaskan tahanan meskipun mereka hanya tahanan sementara," ucap Inspektur Hendra yang tahu apa yang dilakukan anak buahnya itu saat memantau kantor dari rekaman CCTV
Inspektur Hendra saat itu sedang berada diluar menuju rumah Qisty. Pria itu memantau gerak gerik anak buahnya dari CCTV yang bisa terkoneksi ke jaringan ponselnya.
"Maaf Inspektur, Saya hanya ingin pelaku itu ditemukan secepatnya," ucap Gibran
"Semua ada prosesnya. Ingat itu! Bukankah jam kerjamu sudah berakhir?"
"Ya, tadi Saya menyelesaikan laporan terakhir. Ini saya sudah mau pulang. Kalau begitu saya permisi undur diri,"
Gibran keluar dari ruangan dan langsung mengeluarkan ponselnya. Dia berjalan keluar kantor polisi, saat teleponnya sudah tersambung dia cepat-cepat bergegas keluar lobby.
"Rencana berubah, pizza sudah dimakan. Kita harus waspada," ucap Gibran dari teleponnya
"Di rumah Q. Malam ini aku akan membuat sate haha," ucap Gibran menyeringai
Tanpa disadari, Wasabi telah mendengar percakapan Gibran lewat telepon, dari balik dinding.
Sate, jangan-jangan dia mau membakar rumah Qisty? batin Wasabi