
Dirumah sakit.
"Wasabi..." sapa Emi
"Hai Emi, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, " Wasabi balas menyapa
"Ya begitulah," ucap Emi
"Aku baru saja dari sini,"
"Iya Andi sudah cerita," ucap Emi
Suasana pun hening seketika. Emi duduk disamping ranjang Andi dan Wasabi berdiri disamping Emi.
"Kenapa semua terdiam," tanya Andi
"Wasabi duduklah. Aku tahu Kau mungkin merasa tidak enak jika bertanya langsung padaku," pinta Emi
Wasabi mengambil kursi yang berada di sudut dan duduk didekat mereka.
"Jujur sampai sekarang Aku masih ketakutan Wasabi," ungkap Emi
"Kau bisa menceritakannya nanti jika kau benar-benar siap," ucap Wasabi
"Siap atau tidak aku terus dihantui perasaan ini. Paranoid. Dan itu sama sekali membuatku tidak nyaman," ucap Emi
Dia pun mulai menceritakan kisah yang dialaminya hari itu.
"Kemarin lusa, hari dimana Andi belum kecelakaan. Tepatnya, siang hari. Cuaca gerimis dan Aku berteduh di balkon sebuah toko barang antik. Karena gerimis, orang-orang yang berlalu-lalang segera mempercepat jalan mereka. Beberapa ikut berteduh di sampingku," ucap Emi
"Ada dua orang pria. Yang satu seorang anak muda seumuran kita. Dan yang satunya tidak jelas berapa umurnya karena dia memakai masker yang menutupi hampir seluruh mukanya. Disamping itu Dia memakai jaket hoodie berwarna biru tua kehitaman,"
"Jadi kau wanita sendiri disana?" tanya Wasabi
"Iya, "
"Tak berapa lama hujan makin lebat. Seorang pria yang seumuran kita memulai perbincangan. Dia bernama Billy kelihatannya dia seorang yang ramah. Kami sedikit bercanda hingga tak terasa hujan sudah berhenti. Sementara Pria yang memakai jaket itu sedari tadi diam. Kemudian ia berjalan duluan dan masuk ke depan gang kecil di seberang. Disusul Billy, Dia juga menyeberang jalan dan masuk kedalam gang itu,"
Kira-kira Visualnya seperti ini
"Aku sebenarnya juga akan menuju gang itu tetapi Aku menunggu mereka berjalan duluan. Aku membersihkan kaki ku terlebih dahulu yang terkena cipratan air hujan. Kemudian Aku melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam gang itu.Tak kusangka dengan jarak beberapa meter. Si pria hodie ini membius Billy dari belakang," Emi bercerita sambil mempraktekkan cara di bius namun masih dalam posisi duduk
"Aku langsung bersembunyi dibalik mobil seseorang yang terparkir. Kemudian Aku mengintip sedikit, Aku ingin tahu kemana Dia membawa Billy dan mau diapakan si Billy ini. Tapi Aku kehilangan jejaknya," sahur Emi.
Emi tiba-tiba berhenti dan Dia mulai ketakutan sendiri.
"Minumlah Emi," ucap Andi
"Terimakasih," Emi mengambil gelas berisi air putih lalu mengenggaknya, setelah itu ia kembali becerita
"Aku berjalan seperti biasa dan mempercepat langkahku. Tapi saat Aku melewati gudang kosong di bangunan tua. Aku melihat dia masuk ke dalam sambil merangkul Billy. Aku mengintip di depan pintu yang sedikit terbuka. Dia menjatuhkan Billy begitu saja dan...dan...." Emi terdiam mengingat rangkaian pembunuhan tersebut.
"Sayang kau pernah mendengar suara Iblis?" tanya Andi
"Andi ini bukan waktunya bercanda,"
"Astaga Andi, kau mengacaukan cerita tegang ini menjadi stand up comedy," ucap Wasabi
"Lanjutkan Emi," pinta Wasabi
"Tembakan itu tidak terdengar sama sekali. Aku terkejut dan saat aku ingin pergi, Aku mengacau. Aku menyenggol pintu tua yang terbuat dari besi, sehingga terdengar bunyi deritan besi yang berisik. Dia menatapku dan melihatku. Lalu menodongkan pistolnya ke arahku. Aku lari secepat mungkin karena dia mengejarku," ucap Emi
"Suasana jalanan saat itu bagaimana? Apakah ada yang lewat atau sama sekali sepi?" tanya Wasabi
"Sepi dan saat itu tidak ada kendaraan yang melintas. Aku terjebak dan salah jalan. Aku masuk ke dalam gang buntu. Dia mendekat dan tertawa keras. Dia kembali menembak ku tapi untung saja dia kehabisan peluru,"
"Dan...Dia mendekat ingin mencekikku tapi Aku langsung mengayunkan kakiku, menendang wajahnya dari arah samping hingga masker topengnya terbuka. Aku berharap bisa melihatnya tapi dia masih memakan kain yang menutupi wajahnya. Kami lun bergelut. Kekuatannya hampir sama denganku," ungkap Emi
"Jika dari suara yang kau dengar? Dia pria? tapi tenaganya saat melawanmu seperti hampir sama sepertimu? Seharusnya jika dia pria maka tenaganya akan jauh lebih kuat. Menarik," ucap Wasabi
"Ya... Postur tubuhnya tinggi sepertimu, kurus dan mempunyai kaki yang panjang,"
"Lalu apa yang terjadi setelah itu," tanya Wasabi lagi
"Dia mengeluarkan pisau, bukan pisau lipat. Pisau itu kecil dan bergerigi sedikit,"
"Apa kau tahu berapa kira-kira panjang telapak kakinya?" tanya Wasabi
"Sebentar kemarikan kakimu. Aku sempat mengukur kakinya saat berteduh,"
Kemudian Wasabi menjajarkan kakinya ke samping kaki Emi.
"Sepertinya ukurannya sama sepertimu,"
"42 jika itu ukuran kakinya. Berarti pembunuh itu sama,"
"Maafkan Aku Wasabi aku tak dapat membantumu," ucap Wasabi
"Tak apa Andi, Sill sudah mencoba lewat CCTV yang ada," Ucap Wasabi
"Ahh Emi apakah Kau ingat Mobil apa dan milik siapa yang terparkir saat kau bersembunyi, barangkali mobil itu memilki kamera cctv,"
"Aku tidak tahu milik siapa tapi Aku tahu mobil itu terparkir di depan rumah,"
"Mungkin kita bisa menyelidikinya lewat kamera mobilnya, itu pun jika ada,"
"Aku tak yakin dia memiliki kamera mobil. Karena mobil itu keluaran tahun lama. Mungkin saja pemiliknya juga sudah tua," ucap Emi
"Tak ada salahnya kita menyelidikinya dahulu," sela Andi
"Andi betul," Wasabi membenarkan
"Sebaiknya, Kita kesana sekarang sebelum terlalu sore," ajak Wasabi