Detective Wasabi

Detective Wasabi
Balas Budi



"Sebentar lagi Aku sampai di Kantor. Bersiaplah, Kita temui Clara dirumahnya," ucap Inspektur Hendra pada Bai lewat sambungan telepon


"Oh Siap Komandan, Laksanakan," jawab Bai


Inspektur Hendra menutup telephonenya. Lalu ia melihat riwayat panggilan di ponselnya, ada 16 kali panggilan dari Sill. Setelah itu ia balas menghubungi Sill.


"Hallo Sill Kau menghubungiku sebanyak 16 kali panggilan, ada apa?" tanya Hendra


"Ayah, Aku tertembak oleh Emi. Tapi Dia tak sengaja melakukannya dan itupun karena kesalahanku," sahut Sill


"Lalu bagaimana kondisimu? Apakah sudah membaik?" tanya Inspektur Hendra


"Ya masih sakit. Dan sedikit bengkak. Aku menelepon Ayah karena ada berkas-berkas Administrasi yang harus diurus sekarang," ucap Sill


"Lalu dimana Emi? Semestinya Dia yang bertanggung jawab," ucap Inspektur Hendra


"Tadi Dia disini, Aku tak tahu dimana sekarang. Ponselku tertinggal dirumah. Aku meminjam ponsel suster disini,"


"Baiklah Ayah akan meminta asisten Ayah kesana,"


"Kenapa tak Ayah saja yang kemari?" pinta Sill


"Ayah sibuk sayang. Ada pembunuh yang masih berkeliaran kalau tidak cepat. Ayah takut akan semakin banyak korban,"


"Huft intinya adalah Aku selalu nomer dua," Sill marah dan langsung menutup telephonenya


Sill menutupi wajahnya dengan kedua. tangannya dan Dia menangis. Sebelum ke TKP, Wasabi dan Emi menghampiri Sill ke ruang IGD terlebih dahulu. Wasabi mengelus kepala Sill. Sill terkejut dan membuka tangannya.


"Wasabi...Emii, Kau kemana saja!"


"Oh maaf Sill, Aku tadi ke kamar Andi sebentar. Barusan Aku mengurus administrasi mu. Tapi pihak rumah sakit mengatakan Kau perlu dirawat disini beberapa hari karena setelah peluru tersebut dikeluarkan, lukamu mengalami pembengkakan. Aku bertanya padamu dulu, apa kau bersedia dirawat disini?" tanya Emi


"Aku ingin pulang, tolong urus itu. Aku tak ingin disini, itu menakutkan. Kau tahu kan ada pembunuh yang sedang berkeliaran," ujar Sill


"Baiklah jika Kau ingin pulang. Aku akan kebagian Administrasi lagi,"


"Sill, ku lihat lukamu sedikit parah. Jika kau mau, Aku akan menemanimu disini hingga malam hari,"


"Tidak Aku ingin pulang. Kecuali jika Ayahmu mau menjaga ku,"


"Pffft Cinta yang tak terbalas..." goda Wasabi


"Kau mengejekku hah?"


"Baiklah akan ku telpon Dia,"


"Hah... Tidak jangan aku hanya bercanda," seru Sill tapi Wasabi benar-benar menelepon Ayahnya.


"Halo Ayah, bisakah kau ke rumah sakit sekarang. Aku tertembak! Arghh, sakit ayah," ucap Wasabi


"Apa! Kau dimana?"


"Aku di rumah sakit Sehat Sejahtera tepatnya di ruang IGD kamar No.4," ucap Wasabi


Hanya dalam hitungan detik. Ayah Wasabi muncul dengan kekuatan black holenya.


"Wasabi..." ucap Setia yang melihat Wasabi berdiri dengan keadaan baik-bakk saja.


Setya lalu melihat Sill yang terduduk di ranjang.


"Sebenarnya siapa yang tertembak?"


"Hemm begini Ayah...."


"Tidak...tidak ada apa-apa," ucap Sill gugup.


"Emi tak sengaja menembak dan mengenai Sill. Dia mengira Sill orang jahat. Yah itu juga salah Sill karena Dia menjahili Emi. Lukanya membengkak karena terkena tulang dan menyebabkan sedikit keretakan. Pihak rumah sakit menyarankan agar Sill dirawat beberapa hari. Tapi Dia tidak mau karena takut masih ada pembunuh yang berkeliaran," jelas Wasabi


"Lalu kenapa Kau menelepon ku dan berbohong," tanya Setya.


"Dia ingin dirawat jika Ayah yang menemaninya disini haha..." ucap Wasabi


"Aku tahu Ayah tak akan mau jika Aku mengatakan yang sebenarnya," ucap Wasabi


Kemudian datang suster Niken dan Emi.


"Permisi Nona Sill. Mohon tanda tangani surat pernyataan yang mengatakan bahwa Kau tidak bersedia dirawat. Karena pihak rumah sakit, tidak akan bertanggung jawab jika nanti ada masalah pada luka itu kedepannya," ujar perawat


Sill mengambil surat itu dan mulai membaca sebelum menandatanganinya. Tetapi surat itu kemudian diambil Tuan Setya dan di kembalikan pada Suster.


"Maafkan sebelumnya. Pasien berubah pikiran, Dia bersedia dirawat disini," ucap Setya dengan tegas


"Baiklah kalau begitu silahkan ke ruang administrasi lagi untuk mendapatkan kamar perawatan.


"Baik," ucap Setya pada suster, lalu ia berkata pada Sill seraya membelai pucuk kepalanya, "Kau harus dirawat hingga lukamu membaik. Jangan takut, Aku akan menjagamu Sill,"


"Hah..." Sill berdebar


Deg Deg Deg


Setya mengikuti suster Niken ke ruang administrasi meninggalkan semua yang ada di ruangan tersebut


"Apa Kau senang..? " tanya Wasabi


"Astaga Wasabi kau membuatku malu di depan Ayahmu!" ucap Sill seraya memukul dada Wasabi


"Apa yang ku lewatkan?" tanya Emi, "Sill menyukai Ayahmu? Wasabi?" terka Emi


"Haha..." Wasabi tak menjawab ia hanya tertawa


Emi menangkap jawabannya, "Hahaha semoga perjalanan cintamu lancar ya,"


"Sial.. kalian meledekku..." ucap Sill dengan wajah memerah


Sementara Tuan Setya sibuk mengurus kamar. Wasabi dan Emi akan meninggalkan Sill dan mulai ke TKP.


"Nah itu Ayahku sudah kembali, jaga dirimu ya," sahut Wasabi


"Kau mau kemana Wasabi?" tanya Setya


"Penyelidikanku belum selesai. Aku harus kesana sebelum sore," ucap Wasabi


"Berhati-hatilah, jangan lupa makan," pesan Setya


Kemudian Wasabi dan Emi pergi meninggalkan Setya dan Sill. Tak berapa lama data beberapa suster yang membantu Sill memasang infus. Setelah itu mereka akan pindah ruangan ke kamar perawatan.


"Aku tadi sudah menelepon Ayahmu. Dan dia tidak keberatan jika aku menemani mu,"


"Terimakasih," ucap Sill menunduk malu


Tentu saja dia tidak keberatan, Ayah bahkan berniat menjodohkan ku dengan mu paman, batin Sill


"Kau ini kenapa Sill, tak perlu sungkan,"


Setya mendorong Sill yang memakai kursi roda menuju ruang perawatan. Sesampainya di ruang perawatan. Sill kembali ke ranjang brangkar dan merebahkan tubuhnya. Dia merintih kesakitan. Suster memeriksa kondisi pasien dan setelah itu meninggalkan pasien untuk beristirahat.


"Jika ingin minum atau makan sesuatu katakanlah. Jangan malu atau merasa tak enak, oke," ucap Setya


"Kenapa Paman mau menjagaku?" tanya Sill


"Kau pernah membantuku saat Aku kecelakaan. Aku anggap ini sebagai balas budi,"


"Oh rupanya hanya karena balas budi. Aku kira hatinya sudah mulai terbuka," ucap Sill dalam hati


Ia pun pamit untuk beristirahat


"Beristirahatlah. Aku akan disini dan tak akan kemana-mana," ucap Setya sembari tersenyum.


Astaga ini kali pertama dia tersenyum padaku, Sill berkata dalam hati dengan pipi memerah


Hemm dasar anak muda. Wajah polosnya tak bisa berbohong, batin Setya