Detective Wasabi

Detective Wasabi
Hogeland



Hogeland masih berada di bilik toilet laki-laki. Ia duduk di atas closet menunggu datangnya Takashi sambil menggerutu hebat.


Ia terjebak dan tidak bisa keluar karena petugas keamanan berlalu-lalang mencari Hogeland, orang yang menyamar menjadi Kakek Hugo.


"Kenapa tidak terpikirkan olehku. Aku akan keluar dari kamar ini dan menemui petugas bandara yang berdiri di depan toilet, begitu petugas bandara mencurigai ku. Aku akan langsung menariknya ke dalam toilet lalu menghajarnya. Setelah itu aku akan menyamar jadi petugas disini dan lolos dengan aman," pikir Hogeland


Pria itu pun mengintip dari bawah pintu kamar toilet dan melihat sepatu pantofel, Hugo yakin itu adalah sepatu milik petugas keamanan Bandara.


Ia pun melepaskan tali pinggangnya lalu menggulung ujungnya di kedua sisi dengan tangannya, bersiap menarik petugas itu ke dalam kamar mandi begitu ia membuka pintunya.


Ceklek


"Halo kakek, kali ini kau tidak akan lolos lagi," ucap Wasabi yang berdiri tepat di depan pintu toiletnya


Hogeland terbelalak, ia sedikit diam terpaku tak berani berkutik padahal lagaknya saja yang tadi ingin menghajar petugas Bandara. Tetapi begitu bertemu Wasabi, nyalinya menjadi ciut.


"Wasabi," gumam Hogeland


Wasabi meneliti penampilan Hogeland dan juga tali pinggang yang ujungnya sudah di gulung di kedua tangannya.


"Siapa kau sebenarnya?! Kenapa kau menyamar menjadi Kakek Hugo!" ucap Wasabi perlahan mendekat ke arah Hogeland dengan melangkahkan satu kakinya, sementara Hogeland mundur lalu menabrak tepi closet


"Aku tidak menyamar! Aku memang Hugo!" tepis Hogeland


"Huh masih mau menyangkal?! Lalu kenapa kau memundurkan langkah seakan kau takut dengan ku?" ucap Wasabi dengan tersenyum miring


"Terserah Kau! Tapi Aku tak akan membiarkan mu menangkap Ku!" Secara tak sengaja Hogeland mengakui jika dirinya bukanlah kakek Hugo


Hogeland memulai pertarungan. Dia melepaskan satu sisi tali pinggang yang telah ia gulung kemudian mengibaskannya ke udara dan pecutan nya mengenai lantai.


Ia melempar tali pinggang itu ke atas lalu mengibaskannya lagi ke arah Wasabi. Wasabi menepisnya lalu mengambil Tali pinggang itu dari tangan Hogeland. Namun Hogeland tidak melepaskannya dia tetap menarik kuat ujung tali pinggangnya.


Wasabi pun tersenyum dalam hati, ia mengumpulkan tenaganya kemudian menarik keras Hogeland ke depan, saat Hogeland tertarik ke depan Wasabi segera menyingkir dari hadapannya agar Hogeland terjatuh ke tempat cuci tangan.


Benar saja, tak lama Hogeland tergelincir ke depan menghantam tepian tempat cuci tangan. Saat Hogeland kesakitan bersandar di dinding wastafel, Wasabi mengambil tali pinggang yang masih di genggam erat oleh pria itu lalu ia menariknya kebelakang sembari memutarnya. Tangan Hogeland ikut tertarik, ia berteriak keras.


Wasabi melepaskan Hogeland dan membiarkan pria tua itu bernapas. Hogeland melepaakan tali pinggangnya dan menyentuh telapak tangannya yang sakit. Namun matanya menjalar ke arah lain. Ia melihat alat pel yang berada di seberangnya, tepatnya dibelakang Wasabi.


Ia lari dengan cepat ke depan dan segera di ambilnya alat pel yang bergagang panjang di sudut ruangan, lalu di pukulkan ke badan Wasabi. Serangan itu ditangkis dengan satu tangan oleh Wasabi.


Wasabi langsung meraih gagang bawahnya dan menariknya dengan kuat. Hogeland tak ingin terulang lagi, ia takut dirinya ditarik lagi. Lalu ia melepaskan gagang pel berharap Wasabi lah yang jatuh. Namun tebakannya meleset. Wasabi tidak terjatuh. Ia malah memutar ujung alat pel itu dan mendorongnya dengan kekuatan penuh hingga ujung gagang mengenai dadanya.


Hogeland kesakitan hingga terjatuh kebelakang


"Ah sial akan Ku balas Kau!" pekik Hogeland


Hogeland geram dia pun dengan cepat mengambil sapu yang gagangnya lebih kecil dari gagang alat pel lalu mematahkan gagang itu menjadi dua bagian. Lalu memukulkannya ke badan Wasabi.


Wasabi menepisnya dengan gagang alat pel. Dan terjadilah perang gagang. Bilik toilet laki-laki itu cukup kecil sehingga ruang untuk menggerakkan tongkat gagang pel menjadi terbatas. Akhirnya Wasabi membuat alat itu dan menghindar dengan masuk ke dalam kamar kecil dan menaiki closet.


Lalu Wasabi menggantung tangannya di atas papan triplek penyekat kamar kecil kemudian menaikinya dengan mudah. Kini Wasabi berada di atas papan penyekat.


Hogeland masuk ke dalam mengejar Wasabi, dia mencoba menaiki closet tetapi tidak bisa meraih ke atas triplek pembatas.


Disamping itu Wasabi turun. Mendengar suara Wasabi turun Hogeland juga keluar tetapi Wasabi menjedorkan pintu ke muka Hogeland hingga terkena hidungnya.


"Katanya ingin membalas? Ayo hajar aku!" tantang Wasabi


Hogeland sedikit oleng. Lalu dia kembali menghajar Wasabi. Kali ini dengan tangan kosong. Dia menendang dan meninju Wasabi tetapi Wasabi hanya menghindari serangannya. Wasabi terus mundur, hingga punggungnya menabrak tembok.


"Huh Kau tak bisa bela diri? Kenapa tidak membalas serangan Ku! yang Kau lakukan sedari tadi adalah menghindar," sahut Hogeland namun Wasabi malah tersenyum


Sebenarnya itu taktiknya dalam menyerang, membuat musuh menang di awal hingga tenaga musuh terkuras. Lalu menjatuhkan musuh dengan mudah, saat musuh sudah tak bertenaga.


Hogeland lalu meninju Wasabi yang sudah tersudut di dinding dan tidak dapat bergerak. Begitu tinjuan hampir mengenai wajahnya. Wasabi mengelak ke bawah dan kemudian bergeser ke samping kiri.


Tinjuan Hogeland menghantam dinding hingga tangannya sakit. Sementara itu Wasabi mencengkram kerah belakang Hogeland dan menarik rambutnya dengan maksud ingin menghantamkan kepalanya ke dinding tetapi rambutnya terlepas, ternyata Hogeland botak. Dia memakai rambut palsu.


"Hah Aku baru ingat yang dikatakan si pengantar pizza yang menyamar menjadi Ayah ku . Dia bilang orang yang satunya pendek botak. Tentu saja kau terlihat pendek karena berdiri disamping Blue. Dan juga pfff botak," cibir Wasabi


"Kau menghinaku!"


"Itu kenyataan," jawab Wasabi


Hogeland ingin mengambil pemadam kebakaran yang tertempel di dinding tepat di sampingnya. Tetapi tertahan karena Wasabi memegangi kerah bajunya dengan sangat kuat.


"Rupanya Kau ingin memadamkan api amarahku ya dengan semprotan itu haha,"


Wasabi menarik kerah Hogeland dan meninju perutnya. Lalu dia kembali mencengkeram kerah bagian depan dengan kedua tangan dan berkata.


"Katakan apa hubunganmu dengan Kakek Hugo! Apakah Kau juga yang membuat Kakek Hugo meninggal?" tanya Wasabi penuh selidik dengan tatapan tajamnya


Bukannya mengatakan yang sebenarnya, Hogeland malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahaahaa...." tawa Hogeland


Wasabi menghantukkan kepalanya dengan keras ke wajah Hogeland hingga hidungnya berdarah.


"Brengsek!" ucap Wasabi yang mengambil kesimpulan jika jawaba tawa itu adalah benar, dialah yang mencelakai Kakek kandungnya.


"Kau!" seru Wasabi dengan mata terbelalak dan memory lama kembali teringat


*FLASHBACK ON*


Di sebuah pemandian air hangat.


Wasabi kecil, keluar dari kamar pemandian, ia mengajak kakeknya untuk masuk dan berendam lagi. Namun sang kakek menyuruh untuk menunggunya.


"Sebentar ya nanti kakek menyusul. Wasabi berendam dulu sendirian. Wasabi kan pemberani," ucap Kakek Hugo


"Ok Kakek," jawab Wasabi sambil melihat pria yang sedang berbicara dengan kakek Hugo


"Kakek Dia Siapa?" ucap Wasabi sambil menunjuk pria itu


"Hallo, namamu Wasabi ya?" sapa pria itu yang yang lain adalah Hogeland


"Ya," jawab Wasabi sambil melihat tanda jahitan di dada pria itu


"Wasabi masuk ke dalam," perintah kakek Hugo


Wasabi kecil masuk kembali ke dalam kolam pemandian air hangat. Di dalam sangat tenang dan nyaman. Wasabi tidak bisa mendengar percakapan Kakeknya saat itu. Tetapi terdengar samar kalau mereka sedang bertengkar. Tak berapa lama Kakek datang dengan muka tak ssenang. Namun kembali tersenyum saat menyapa Wasabi


Setelah mereka selesai mandi di pemandian air hangat. Kakek Hugo membayar di kasir. Sedangkan Wasabi kecil menunggu di luar melihat ikan di kolam. Lalu Hogeland datang.


"Wasabi sudah selesai ya mandinya, Kakek mu juga sudah selesai berendam. Pasti haus kan? nih Kakek kasih air mineral," ucap Hogeland


"Terimakasih Kek, nama Kakek Siapa?" tanya Wasabi


Hogeland tak menjawab ia langsung pamit pergi seraya sesekali melihat suasana


"Sudah dulu ya, jemputan Kakek sudah datang, Bye," ucap Hogeland.


Tak berapa lama Kakek Hugo datang menghampiri Wasabi kecil yang masih duduk di bangku SMP.


"Kakek sudah selesai membayar, yuk pulang. Eh Wasabi beli air minum ya, pintar, tahu banget kalau Kakek sedang haus," ucap Kakek Hugo


Tanpa bertanya minuman itu di beli atau di berikan seseorang, Kakek Hugo langsung meminumnya hingga separuh botol


Wasabi tersenyum dan berkata, "Wasabi tidak membelinya kek, tadi temannya Kakek yang memberikannya," ucap Wasabi


"Apa?" Kakek Hugo menghentikan minumnya kemudian terbatuk, lalu melanjutkan pembicaraan lagi, "Orang yang tadi berbicara dengan kakek di depan pemandian?"


"lya Kek memangnya ada apa?"


"Tidak apa-apa. Semoga baik-baik saja," ucap Kakek Hugo sambil mengelus tenggorokannya dan juga dadanya


"Maksud Kakek?" tanya Wasabi mulai menyelidik namun Kakek Hugo tidak menjawab, ia terburu-buru mengajak Wasabi untuk segera pulang.


Sesampainya di rumah, Kakek Hugo pusing dan muntah-muntah lalu dadanya sesak. Kakeknya pun merasa hidupnya tak lama lagi, dia tahu kalau dia teracuni. Kemudian dia memanggil Wasabi dari kamarnya.


"Wasabi," teriak Hugo dengan napas tersengal-sengal setelah berteriak.


"Kakek, Kakek kenapa kek?" ucap Wasabi.


Melihat kondisi kakek yang pucat dan berkeringat, Wasabi pun mengajak pria itu berbaring di tempat tidurnya.


"Kakek berbaring saja, biar Wasabi panggil Dokter ya?" ucap Wasabi segera memanggil dokter yang kebetulan adalah tetangga baiknya. Beruntung pula saat itu sangat dokter sedang tidak bertugas di luar


Setelah memanggil Dokter, Kakek Hugo berbicara serius.


"Wasabi, simpan baik-baik kunci ini. Kakek menyimpannya di bank Swiss. Kakek sudah mengatakan kepada petugas di sana hanya Kakek dan Wasabi yang bisa membukanya," ucap Kakek Hugo mendadak


"Kenapa harus dengan kunci membukanya?" tanya Wasabi


Ia semakin panik dan melupakan pesan kakeknya, Wasabi fokus pada kondisi kakek yang sesak napas. Di tambah dokter yang dipanggilnya tak kunjung datang


Belum sempat menjelaskan semuanya Kakek Hugo semakin susah bernafas dan akhirnya meninggal.


Dokter mendiagnosa bahwa Kakek Hugo terkena serangan jantung. Saat pemakaman, Wasabi kehilangan kunci itu.


*FLASHBACK OFF*


"Aku ingat sekarang, Itu adalah kunci milikku. Kenapa ada di lehermu? Jadi kau adalah pembunuh Kakek Hugo. Kau menaruh racun di minuman itu, iya Kan?" tuding Wasabi kemudian menarik kalung yang tergantung di leher Hugo


"Hei! Itu kalung ku. Apa buktinya jika aku yang meracuni? Minuman itu berada di tanganmu. Jadi pembunuhnya adalah kau Wasabi Hahaha...," tawa Hogeland


Wasabi tersulut emosi, ucapan Hogeland benar. Minuman itu ada ditangan Wasabi. Tapi dia tidak tahu jika minuman itu ada racunnya. Penyesalan pun datang, jika saja Wasabi tidak menerima pemberian orang itu, mungkin kakeknya saat ini masih hidup.


"Aku tak akan memaafkan Mu," ucap Wasabi memukul muka Hogeland dan menendang perutnya dengan lutut, secara bertubi-tubi hingga Hogeland tak dapat menangkis serangannya.


Terakhir Wasabi menyetrum tubuh Hogeland dengan kekuatan amarahnya.


"Kenapa Kau membunuh Kakek Hugo! Siapa Kau! Katakan huh!" teriak Wasabi


Tiba-tiba ada pengunjung yang masuk ke dalam toilet. Pengunjung yang datang dan melihat keributan itu memanggil petugas keamanan Bandara. Begitu petugas keamanan datang. Wasabi melemparkan Hogeland ke lantai. Hogeland pingsan dengan tubuh dan wajah penuh dengan luka dan lebam.


Hogeland pun diamankan serta Wasabi turut di mintai keterangan karena telah melukai Hogeland.