
Pesta Bom Beraksi. Anak buah Ratu Ratih semua keluar, menyerang orang yang melempar bom. Namun begitu anak buahnya keluar, mereka di tembak. Peluru-peluru beterbangan saat itu juga.
Beberapa anak buah Mafia tersebut memilih mundur dan mereka yang sudah memegang senjata siap untuk menembak.
Entah siapa yang meledakkan basecamp mafia itu. Dan siapa yang menyerang basecamp pertahanan mafia tersebut. Wasabi belum sempat mencari tahu. Ia pun menyuruh Andi dan Emi segera keluar sementara dirinya harus menyelamatkan misi, yaitu menyelamatkan Desiani.
Wasabi terus menaiki tangga menuju tempat Desi di tahan. Di sebuah kamar yang tertutup.
Wasabi mencoba berteleportasi tapi tetap tak berdaya. Dia pun mendobrak pintu dengan sekuat tenaga. Wasabi mundur mengambil ancang-ancang, kemudian menendang pintu dengan sekali tendang.
Desiani terbaring lemas dilantai yang tidak beralas. Disamping nya terlihat jarum suntik dengan beberapa obat-obatan.
"Kamu Desiani?" tanya Wasabi
Desiani terbangun terlihat badannya bergerak sedikit terkejut tetapi dia tak mampu bangun. Dirinya setengah sadar. Sepertinya dia terbawa pengaruh obat, seperti orang teler dan lunglai
Tak berapa lama ia pun duduk dengan sangat lemas tak bertenaga.
"Desiani?" Desi mencoba mengingat dia sedikit bingung. Beberapa detik kemudian dia menjawab, "Iya aku Desiani,"
Wasabi berpikir, jika anak gadis didepannya ini sudah sangat buruk kondisinya. Dia harus segera ditangani atau dirinya akan menjadi gila.
"Tempat ini akan hancur, ada seseorang yang meledakkannya. Kita harus cepat keluar," ujar Wasabi dan kemudian ia langsung menggendong Desiani.
Saat Wasabi hendak keluar, Ranti datang dengan sebuah pistol yang telah di todongkan ke punggung Wasabi.
"Serahkan Desi padaku," ujar Ranti
"Langkahi dulu mayat ku," seru Wasabi menoleh dan melirik tajam.
Wasabi menurunkan Desi, kemudian Desi turun dari gendongannya, ia berdiri sambil menjauhi Wasabi karena pria itu menarik tangannya ke belakang. Wasabi berputar kemudian menendang pistol yang ada di tangan Ranti.
Tetapi Pistol masih berada digenggaman tangannya, dengan menahan sakit lengannya. Ranti mencoba menodongkan lagi.
Sebelum Ranti menekan pelatuk, Wasabi meraih tangan Ranti yang memegang pistol kemudian dia berputar membelakangi Ranti sambil menarik tangannya kebelakang dan sedikit keatas. Sehingga tangan Ranti merasakan sakit hingga urat bahunya sampai lehernya tertarik
Pistol pun berhasil diambil Wasabi. Dan ditembakkannya peluru ke arah kaki Ranti kiri dan kanan.
Ranti merintih dan mengerang kesakitan. Ini pembalasan tempo hari, saat Wasabi dia tembak di dada.
Wasabi yang berada di lantai atas melihat api sudah menyambar sebagian gedung. Ia juga mengintip dari balik jendela yang berlubang besar, ada seorang anak buah Mafia menendang pria berseragam tim penyelamat.
Seperti agensi CIA atau agency GSA (Garnet Security Agency) tapi Wasabi tidak mengenal mereka, mungkin juga lain atau kiriman dari polisi atau tuan Paldo. Entahlah yang jelas para mafia menyelamatkan dirinya masing-masing. Wasabi pun harus menyelamatkan dirinya serta sahabatnya.
(GSA sebuah agency yg di ciptakan buah KARYA dari salah satu NOVEL MADAM SEPTIRA WIHARTANTI)
Wasabi turun kebawah. Dengan berjalan, masih dengan posisi menggendong Desiani yang terlihat lemah.
Namun, saat mendekati pintu keluar, Wasabi terkena reruntuhan ternit dan kayu dari atap. Pria itu menahan reruntuhan dengan punggungnya yang lebar. Desiani masih berada dalam gendongannya.
"Desi, kamu turun dan lari. Aku udah gak kuat menahan reruntuhan ini," ujar Wasabi dengan merapatkan giginya karena menahan dua beban.
Desiani kemudian turun dari gendongannya
"Kita keluar bersama. Ayo!" seru Desi yang terlihat sudah lebih segar dibandingkan tadi.
"Api sudah mulai menyebar. Gak ada waktu! Cepat lari. Temui temanku diluar, Andi dan Emi mungkin mereka sudah diluar," ujar Wasabi
Desiani masih berdiam, gemas rasanya melihat dirinya yang klemat-klemet bak putri Jawa yang anggun lemah gemulai.
"RUN...!" teriak Wasabi dengan suara seperti singa mengaum saking sebalnya melihat Desiani yang lamban
Wasabi berteriak seperti itu sengaja agar Desi segera lari meninggalkannya. Desi terkejut mendengarnya dan kemudian Dia lari secepat mungkin.
Wasabi mulai pening. Akibat asap dari kobaran api. Keringat bercucuran. Terkuras sudah kekuatannya. Terdengar suara tembakan tanpa henti dan disertai ledakan Bom ke 12 kalinya, itu menurut perkiraan Wasabi yang dia dengar
Bunyi nya terdengar sangat dekat dengan Wasabi, hingga telinganya berdenging, tak berapa lama darah mengucur di kepalanya. Diapun jatuh terlunglai.
"Tuan Paldo apakah Anda yakin kita harus menghancurkan tempat mereka?" tanya Chaky
Tuan Paldo beserta asistennya berada di dalam mobil tak jauh dari lokasi basecamp mafia. Menunggu sang aktor kembali bersama sanderanya
"Bagaimana kalau Desi masih disana?"
"Aku yakin Wasabi sudah menolongnya," ucap Paldo santai
"Tapi kalau tebakan Anda salah?" baru saja Chaky mengatakan itu, ia sudah melihat Desi dari kejauhan sambil berlari dan mencari-cari seseorang seperti kebingungan.
"Tuan Paldo lihat! itu Desi sedang berlari mencari bantuan," ujar Chaky
"Tapi siapa dua orang yang bersamanya di belakang?" tanya Chaky
"Mereka pasti Andi dan Emi. Dekatkan mobil ini ke arah mereka," pinta Paldo
Mobil Tuan Paldo mendekat. Tuan Paldo pun turun dan langsung memeluk Desi.
"Nak kamu baik-baik kan nak. Maafkan Papa ya?" ucap Paldo sambil mengelus rambut Desi
Desi melepaskan pelukan dan sedikit mendorongnya lalu berkata, "Papa jahat...! Papa gak sayang sama Desi.Kata Mama Mayang, Desi ingin di jadikan bahan percobaan untuk bisnis penelitian Papa,"
Tuan Paldo mengernyitkan dahinya, jadi inilah yang dikatakan Mayang sehingga Desi mau saja mengikuti perkataan Mayang.
"Papa akan jelaskan. Masuklah dulu. Kalian Andi dan Emi kan? Kalian ikut saya. Ayo cepat masuk ke mobil," perintah Tuan Paldo
Andi, Emi dan Desi masuk kedalam mobil. Disusul Tuan Paldo. Mereka duduk berhadapan di dalam mobil limo.
"Desi selama ini sembunyi di tempat yang Papa tidak tahu. Desi takut di jadikan percobaan oleh Papa," cerita Desiani ketika sang Ayah bertanya kenapa dia tidak pulang.
"Papa Sayang sama kamu. Tidak mungkin Papa menjadikanmu percobaan, Mama Mayang bohong. Dia sengaja bekerja sama dengan mafia dan menjadikanmu sandera untuk mendapatkan keuntungan lebih. Dan juga untuk mendapatkan bagian Warisan yang lebih besar," ungkap Paldo
"Kalau bukan karena Wasabi, kedok dia selamanya tidak akan pernah terbongkar," ucap Tuan Paldo dan seketika dia teringat akan pria itu
"Astaga, dimana Wasabi?" tanya Paldo
"Dia masih didalam," sahut Desiani
"Kekuatannya tiba-tiba menghilang. Apakah dia bisa keluar dari bangunan yang sudah roboh itu?" sahut Andi
Andi ingin menolong Wasabi tetapi ia tidak dapat masuk kembali ke dalam, karena terhalang reruntuhan dan kobaran api yang mulai membesar
Emi menggigit jari dan menangis. Dia hanya bisa berdoa. Andi mengelus punggungnya menenangkan Emi. Paldo sama paniknya, Ia langsung menghubungi pemadam kebakaran serta memanggil agency penyelamat yang lain
Disisi lain. Wasabi tersungkur terkena reruntuhan. Pandangannya buram dan samar.
Ada seseorang yang mengambil dan menyingkirkan bongkahan kayu besar di atas punggung Wasabi.
"Wasabi bertahanlah," suara seorang laki-laki.
Wasabi mendengar orang itu berkata, namun tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang menolongnya
"Siapa yang menolongku, gumamnya dengan lemas dan kemudian pingsan karena terlalu lama menghisap asap dari kobaran api hingga kehabisan oksigen di otaknya.
Wasabi kemudian di gendong di belakang punggung seorang laki-laki yang bertubuh kekar.
Siapakah dia, mafia ataukah polisi?
Mereka pun berhasil keluar dari bangunan yang hampir roboh karena api sudah mengelilinginya, asap hitam semakin mengepul besar membuat pandangan menjadi kabur.