
Diruang khusus interogasi.
Sunyi hening hingga terdengar bunyi detik jam. Inspektur Hendra bersama asistennya berada didalam. Sedangkan Martin berada di hadapannya tetapi karena meja itu panjang sehingga jarak mereka menjadi agak jauh.
Kedua tangan Martin di borgol dan di kaitkan di meja. Dengan tatapan seriusnya Dia mengakui segala kejahatannya.
"Ya Aku lah yang membunuh semua orang, yang kau sebutkan itu," ucapnya tersenyum kecut
"Apa motifmu membunuh mereka,"
"Kesenangan belaka,"
"Dia pasti berbohong," ucap Wasabi berkata dibalik kaca luar
"Ish sial! kenapa Aku tak diperbolehkan masuk?" gerutunya
"Aku akan masuk sekarang," sahut Wasabi lagi
"Jangan Wasabi. Didalam ada cctv yang terpantau juga oleh Jendral. Jendral belum tahu soal kau. Maka dari itu biarlah polisi yang menangani ini. Masalahnya kau masih mahasiswa, jadi aku takut jika Inspektur dituduh menyalahgunakan kekuasaannya untuk mempekerjakan seseorang yang masih mahasiswa, kecuali kau dalam masa akhir kuliah, " ucap Bai
"Huh, sudahlah aku mau ke toilet sebentar," ucap Wasabi
"Kesenangan? Kau sakit jiwa!Apa hubunganmu dengan mereka? Apa kau mengenalnya?" tanya Inspektur Hendra
"Bukan urusanmu!" ucap Martin terlihat gelisah, "Bisakah Aku ke toilet sebentar? Aku tak dapat menahannya, "
"Jangan mengalihkan perhatian! Kau bisa ketoilet setelah interogasi selesai" ucap Inspektur Hendra
"Aku sudah selesai. Kalau begitu Aku akan keluar dengan caraku sendiri," ucap Marti
Tak berapa lama Martin berdiri. Borgolnya yang terkunci ternyata sudah terbuka. Dengan cepat Dia menendang meja hingga sisi meja terbentur ke dada Inspektur dan sekretaris prianya yang ada di sampingnya
Inspektur Hendra dan asistennya kesakitan.
Martin kemudian melempar kursi kearah kaca jendela yang anti peluru. Kaca jendela itu hanya retak kecil.
Ketika sekretaris Inspektur Hendra ingin mengambil pistol, ternyata ia tidak membawanya, Pistolnya masih berasa di laci kerjanya
"Gawat! Pintu dikunci dari dalam, Aku tak bisa menolong mereka. Aku harus meminta bantuan. Tapi semua polisi sedang bertugas di luar. Oh Wasabi..! Aku akan memanggilnya. Tapi bagaimana dengan Jendral," gumam Bai
Inspektur Hendra beranjak bangun dan mengambil pistol di saku pinggangnya kemudian menembaki Martin.
Martin mengelak kemudian Dia salto dengan cepat dan merebut pistol dari tangan Inspektur Hendra. Membelakanginya dan menyikut wajah Inspektur Hendra hingga hidungnya berdarah.
Pistol berhasil direbut, Martin kemudian menarik pelatuknya dan...
Cetes cetes
Bunyi peluru kosong,
Diam-diam Chen Dika mengambil kursinya dan memukul punggung Martin. Martin memalingkan wajahnya ke Chen dan berbalik menyerangnya. Chen memukul lagi dengan kursi. Kali ini Dia memukul kepala bagian atas hingga mengucur darah dari kepalanya.
Hebatnya lagi Martin masih bertahan. Chen Dika sedikit ketakutan. Ingin rasanya Dia menembak tapi mau bagaimana lagi Dia lupa membawa pistolnya.
Inspektur Hendra dan Chen Dika datang menyerang tapi belum sempat keduanya memukul, si Martin mengelak dengan cepat dan membalas memukul mereka dengan sekali tendang dan sekali tinju, hingga terpelanting jauh.
Dia tahu setiap gerakan Inspektur Hendra dan Chen Dika, sepertinya Martin bukanlah orang biasa.
Sial pintunya terkunci, gumam Martin begitu dirinya telang menyentuh daun pintu
Dia pun segera mengambil kursi lagi dan membenturkannya ke kaca jendela beberapa kali kemudian Dia mundur mengambil ancang-ancang dan berlari mendobraknya. Kaca pecah Dia berhasil keluar dari ruangan.
"Mau lari kemana Kau!" Wasabi datang tepat waktu sekarang Dia berada tepat didepan Martin.
Kedua lelaki ini saling menatap tajam.
Martin kuat juga batin Wasabi
Martin tersenyum, Wasabi harus segera cepat menangkapnya sebelum dia kabur.
Wasabi mengepalkan tangannya danmendorong tangannya kedepan. Seperti sedang meninju. Martin terpelanting melayang jauh hingga menabrak tembok. Tembok pun menjadi hancur sebagian. Seluruh badan Martin terkunci dengan kekuatan bayang hitam yang dimiliki Wasabi.
"Katakan yang sebenarnya! Kenapa Kau menculik anak itu? Dan apakah Kau juga membunuh Nyonya Cen, Nona Cindy, Billy, Tom, Tuan Gio dan Nyonya Fernandus?" tanya Wasabi sambil mengikat badan Martin dengan kekuatannya dari jarak jauh
"Ya Aku membunuh mereka semua. Haha," jawab Martin
"Oh ya, apa Kau pernah merasakan bagaimana di...setrum" Wasabi lalu mengeluarkan Setrumannya
"Ahh Aku mengaku, aku benar-benar Ayah anak itu". ucap Martin
"Stop Wasabi Kau bisa membunuhnya, " Inspektur Hendra mencoba menghentika Wasabi
Wasabi menuruti perkataan Inspektur Hendra. Dan Inspektur menyuruh Bai untuk memborgol Martin.
Bai mendekati Martin dan memborgol tangan kirinya, kemudian saat Bai ingin memborgol tangan yang satunya. Wasabi melepaskan kekuatan bayang yang sedari tadi mengikat badan Martin. Tapi dengan cepat Martin mengambil pistol milik Bai yang ada di saku pinggang
"Aku akan menembak diriku sendiri jika kalian tetap memasukkan ku ke penjara, dan itu artinya kalian akan kehilangan informasi," ujar Martin seraya menaruh pistol di pelipisnya
"Konyol, Kau bersalah mana mungkin Aku membebaskanmu," sahut Inspektur Hendra
Tiba-tiba
Dor
Martin menembak kepalanya sendiri. Seketika Martin terjatuh dan lantai dipenuhi oleh darah segar yang mengalir deras.