
Pukul 08.00 pagi, Wasabi mengambil motornya yang ia titipkan di rumah yang dulu pernah menjadi kantor Orang tuanya. Wasabi tidak tahu rumah itu milik siapa, jika milik orang tuanya pasti surat itu ada ditangannya.
Martis sudah berada di sana pagi-pagi sekali sebelum Wasabi datang. Setelah mengambil motornya, Wasabi langsung bergegas ke kampus.
Dia terus terbayang ucapan Joy, yang ingin menemuinya di belakang kampus. Ada hal apa sebenarnya membuat Wasabi penasaran.
Sungguh mati aku jadi penasaran (stop jangan nyanyi plis)
Sesampainya di kampus. Wasabi langsung berjalan ke kelas seni mencari Joy. Karena belum pukul sembilan tepat, sehingga dia tidak langsung ke belakang kampus.
"Hallo Detective ganteng. Mau cari siapa?" sapa seorang wanita yang bernama Mila, teman sekelas Joy yang sedang bersandar di dinding dekat tangga kampus.
Wasabi mengabaikan sapaan wanita itu. Dia terus berjalan dengan pandangan yang lurus. Dan mengintip ke dalam ruang kelas sambil mencari ke kanan, dan kiri tapi sosok Joy tidak ada di kelas seni itu.
"Hey.. Wasabi kamu mau mencari siapa?" tanya Mila sembari menepuk bahunya dari belakang. Wanita itu sampai datang menghampiri Wasabi
"Hemm Joy, dimana dia?" tanya Wasabi
"Dari awal pelajaran sampai sekarang Joy belum menampakkan batang hidungnya,"
"Awal pelajaran? Memangnya kalian masuk pukul berapa?"
"Hari ini kami kelas praktek di pagi hari jam tujuh, karena jadwal dosennya tabrakan sama kampus lain," jawab Mila
Wasabi melihat jam tangannya masih pukul 08. 47 pagi.
"Berarti, Dia tidak masuk?" tanya Wasabi
"Maybe. Dia itu suka bolos," sahut Mila
"Oke, Makasih," tanpa senyum pria jutek itu berlalu pergi meninggalkan kelas Seni.
Wasabi jadi ragu, haruskah dia menemui Joy? Sementara gadis itu belum berangkat sejak pagi.
"Ah ngapain pusing sih, ga penting juga. Ke kantin sajalah sambil menunggu kelas," ucap Wasabi
"Wasabi sini!" Panggil Emi yang duduk di meja kantin seraya melambaikan tangannya mengajak Wasabi duduk bergabung dengannya.
"Hai.. Sendirian? Mana Andi?" tanya Wasabi
"Entahlah, handphone nya tidak aktif. Malah aku ingin bertanya kabar Andi padamu," jawab Emi
"Aku tidak tahu dia dimana. Aku pulang dari rumahnya sebelum fajar,"
Wasabi merasa hatinya tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal. Pikirannya menjadi tidak fokus sejak mendapatkan telepon dari Joy, ditambah dia bermimpi buruk tentang gadis itu. Padahal Wasabi ingin sekali mengabaikan perasaan gundahnya.
"Maaf Emi aku harus pergi sebentar," Wasabi lalu pergi ke toilet. Dan menggunakan kekuatan tak terlihatnya. Dia pergi ke belakang kampus. Dia tidak melihat Joy disana, tetapi ada beberapa orang yang sudah bersembunyi dibelakang tembok dan ada juga yang bersembunyi di balik pepohonan. Beberapa diantaranya mengantongi pisau dan membawa sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
"Ternyata firasatku benar. Dimana Joy? Apa dia dirumahnya?" pikir Wasabi lalu melacak keberadaan Joy lewat GPS ponselnya.
Joy masih dirumahnya, disekap dengan tangan dan kaki yang diikat di kursi.
Wasabi segera kerumah Joy dengan mengendarai sepeda motornya. Sesampainya di dekat rumah Joy, dia memarkirkan motornya di depan rumah tetangga. Lalu pria itu masuk ke rumah Joy dengan kekuatan teleportasinya.
"Hmmhsjnskksmsnsk," Joy sedikit berkeringat karena terus mengeluarkan tenaga agar lepas dari ikatan.
"Woy diam," Pekik Wonk yang sedang tiduran di sofa lantai atas. Lebih tepatnya ruang santai yang ada di lantai dua.
"Sudah jam 9 lebih kenapa Wasabi belum juga masuk perangkap," gumam Wonk
"Hhmymmym," Joy berteriak namun Wonk tidak tahu apa yang ia katakan. Lalu ia membuka lakban yang terpasang di mulut Joy.
"Arghhh sakit dasar setan," umpat Joy
"Aku sudah bilang kan. Kamu salah menangkapku haha," cibir Joy
"Ini semua gara-gara anak buahku yang salah mencari informasi rumah. Wasabi itu sukanya sama Emi, harusnya Emi yang aku sandera. Bukan kamu! Tapi tak apalah toh sama saja kan?"
"Hmmm kenapa aku kesal sekali saat mendengar nama Emi. Kenapa sih Wasabi ga bisa liat aku yang lebih cantik," batin Joy kesal
"Lepasin! Aku mau kencing!" pekik Joy
Rumah Joy yang sepi membuat Wonk bebas berbuat sesuka hatinya. Saat itu orang tua Joy sedang keluar negri, sementara pembantunya disuruh pulang oleh Joy itu pun karena dia di ancam.
"Kencing saja disitu," sahut Wonk tak peduli. Ia pergi berjalan ke balkon luar, lantai dua dan menelpon seseorang dan pergi meninggalkan Joy.
Pandangan ke arah jalanan depan rumah Joy, lalu ada kendaraan yang sangat ia kenal. Motor Wasabi yang sedang terparkir beberapa meter di depan rumah tetangga Joy.
"Hah itu bukannya motor Wasabi?" gumam Wonk
Wong lalu masuk ke dalam dan mendapati Joy sudah tidak ada di kursi yang dia ikat sebelumnya. Hanya ada tali yang tergeletak di lantai.
"Sialan Wasabi. Aku mengabaikan kekuatan dan kecerdikannya.
Wong segera turun kebawah. Tetapi di pertengahan anak tangga, dia tersandung sesuatu hingga jatuh ke lantai dasar.
"Hey Wasabi lagi-lagi kamu curang. Tunjukan wujud mu dan kita berkelahi secara jantan!" Hardik Wonk
Kemudian Wasabi menunjukkan wujudnya. Joy mengintip mereka dari pagar tangga atas, terkejut.
"Hah. Tak kusangka Wasabi mempunyai kekuatan seperti itu. Aku kira yang dikatakan penjahat itu hanya lelucon," gumam Joy
Perkelahian sengit terjadi. Baru satu ronde Wonk sudah kelelahan.
"Hanya segitu kemampuanmu?" tanya Wasabi
"Jangan sombong kau Wasabi!"
Ciiiaaat!
Wonk melayangkan tendangannya ke muka Wasabi. Wasabi segera mengelak dengan menundukkan kepalanya kemudian dia bergeser ke kanan dan menangkap tendangan kaki kanan Wonk.
Setelah di tangkap dengan cepat Wasabi menarik dan memutarnya ke kiri, hingga badan Wonk ikut berputar dan jatuh tengkurap
Wasabi menindih punggung Wonk dengan lutut kirinya dan ditekan hingga dia kesulitan bernafas. Sedangkan kaki kanannya menginjak lantai. Wasabi menarik sejumput rambut Wonk dengan tangan kirinya dan menariknya hingga wajah Wonk mendongak keatas, sedangkan tangan kanan Wasabi menodongkan pistol ke pelipis Wonk.
"Untuk kesekian kalinya aku bertanya, siapa yang menyuruhmu?" tanya Wasabi, ia hanya menggertak
"Aku tak akan mengatakannya. Jika aku mengatakannya keluargaku akan terancam, lebih baik aku mati ditangan mu," ucap Wonk
"Mudah sekali kamu bicara. Cepat katakan!" pekik Wasabi
"Jangan harap!!"
Rupanya Wonk sempat menggenggam pisau lipatnya sebelum ia jatuh ke lantai, dengan pelan-pelan dia membuka lipatan pisau itu dan menyayat tangan Wasabi yang sedang memegang pistol
"Shittt," umpat Wasabi menahan sakit
Wasabi kesakitan dia menghantamkan kepala Wonk ke lantai dan kemudian berdiri. Meskipun kecil, pisau itu mampu menyayat hingga terkena urat Wasabi. Darah pun mengucur deras.
Wonk mengambil kesempatan lalu merampas pistol itu dan menembakkan peluru ke kepalanya sendiri. Wonk memilih bungkam dengan cara bunuh diri.
"Ahhh!!!" Joy berteriak ngeri, dia ketakutan sambil menutup matanya. Lalu mengintip ingin tahu apa yang terjadi dengan luka Wasabi
"Hemmhh! Gila!" dengus Wasabi kesal karena tidak mendapatkan jawaban
Joy dengan cepat menuruni tangga.
"Astaga," sambil menutup mulutnya dengan tangan dan mata terbelalak
"Maaf Joy rumahmu terkena darah kotornya. Aku akan menghubungi polisi. Kasus ini harus segera diselesaikan. Sebelum ada korban lebih banyak," ucap Wasabi
"Kamu...tidak apa-apa kan?" tanya Wasabi sambil menatap Joy
"Kamu yang kenapa-kenapa, lihatlah tangan mu terus saja mengucurkan darah segar," Joy langsung berlari pergi mengambil handuk hangat, kapas, perban dan obat penghenti darah dan luka.
Sementara itu, Wasabi mengambil sapu tangan dan menekan luka di lengannya untuk menghentikan pendarahan. Tangan kirinya menekan luka, sementara tangan kanannya sibuk mencari nomer telepon Inspektur Hendra.
Telepon tersambung, Wasabi menceritakan secara singkat dan Inspektur Hendra pun akan segera datang. Saat Wasabi menutup teleponnya. Joy datang dan meminta Wasabi untuk duduk.
"Aku akan membersihkan lukamu," ucap Joy.
Wasabi menurut tetapi dia menolak pertolongan Joy, "Tidak usah, darahnya sudah berhenti,"
"Astaga. Lukamu cukup dalam. Setelah ini pergilah ke dokter. Aku takut pisaunya itu mengandung bakteri dan lukamu semakin memburuk," ujar Joy sambil mengusap lengan Wasabi dengan handuk hangat.
Wasabi terdiam dia terus memandangi Joy yang mengoceh tanpa henti.
"Kenapa rasanya menyenangkan diperhatikan seperti ini," pikir Wasabi
Dia sudah lama tidak mendapatkan perhatian terutama seseorang dari kaum hawa sejak ibunya meninggal.
"Kenapa Kamu menatapku seperti itu?" tanya Joy yang mendapati mata Wasabi sedang melihat ke arahnya
"Ck. Jangan-jangan kau mulai tertarik padaku," terka Joy
"Iya," jawab Wasabi singkat
"Hah?" Joy yang sedang mengoleskan salap untuk menutup lukanya yang terbuka kemudian menghentikan aktivitasnya. Ia terkejut dengan ucapan Wasabi
"lya, kamu terus menggangguku," jelas Wasabi
"Aku mengganggumu? Kapan!? Hah semalam? Itu karena penjahat itu yang menyuruhku,"
"Lupakanlah,"
"Aneh," gerutu Joy dan mulai membalut luka Wasabi dengan perban.
Joy mulai berkata serius.
"Kemarin lusa Aku melihat foto-foto Mu ada di meja pak Kiyoshi," ucap Joy, Wasabi mendengarkan
"Fotomu dan seseorang yang mirip denganmu," timpalnya lagi
"Apa Kiyoshi tahu, kamu melihat foto-foto itu?" tanya Wasabi
"Dia tidak tahu, karena aku kesana mengambil berkas ku yang tertinggal,"
"Berkasmu tertinggal dan saat dia kembali ke ruangannya, dia akan lihat berkas itu tidak ada. Jadi kemungkinan dia tahu kalau seseorang telah masuk ke ruangannya. Dan Dia pasti akan mengecek rekaman CCTV siapa yang memasuki ruangannya," jelas Wasabi
"Ahh aku tidak berpikir kesana. Memangnya ada urusan apa kamu dengan pak Kiyoshi?"
"Aku tidak tahu. Kalau begitu berhati-hatilah. Kunci pintu dan jendela. Jika orang tuamu tak dirumah mintalah seorang teman untuk menemanimu disini," ucap Wasabi menasihati
"Atau kalau sesuatu terjadi padamu kau bisa menghubungi ku. Tapi ingat tidak untuk main-main," imbuhnya
"Kalau begitu aku ingin kamu yang menemaniku malam nanti,"
"CK, Kamu bisa menyuruh Riyan untuk menemanimu kan?" ujar Wasabi
"Oh ya, kamu benar. Sebentar lagi aku akan menikah dengannya," ucap Joy tidak senang
"Ku doakan semoga berjalan dengan baik,"
"Apa kamu ... tidak ingin mencegahnya? Aku tidak mencintainya. Awalnya aku hanya menyetujuinya saja tanpa peduli apa itu cinta. Tapi semua berubah setelah aku bertemu denganmu, Aku... mencintaimu," ungkap Joy
Ada yang sesuatu yang menyerang Wasabi, rasanya sangat tidak enak. Detak jantungnya pun berdetak hebat. Tapi Wasabi belum pernah merasakannya.Ia pun menyingkirkan persoalan itu
"Dengar Joy. Aku tak peduli siapa yang kamu cintai. Siapa yang akan menikah denganmu. Jadi untuk apa aku mencegahnya?"
"Hah. Itu terdengar menyakitkan! Dengar Wasabi, jangan pernah datang dihadapan ku apalagi mencoba menyelamatkanku," desisnya
Joy berusaha tegar tetapi ia tidak dapat menahan air matanya yang mengalir, ia pun pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Wasabi sempat melihat air mata Joy, "Apa ucapanku terlalu kasar?" pikirnya
Tak berapa lama petugas kepolisian datang. Wasabi kemudian mejelaskan kepada mereka titik persoalannya.
"Wasabi, bagaimana? Apakah kasus kali ini membuatmu kesusahan?
"Ya sedikit,"
"Apa kamu perlu bantuan ku. Atau tim khusus untuk ungkap pelaku dari kasus lama?" tanya Inspektur Hendra
"Sejauh ini belum Inspektur Hendra, tapi ada yang ingin saya tanyakan. Apakah Inspektur mengenal Shi?" tanya Wasabi
"Tidak. Siapa dia?" Inspektur Hendra balik bertanya
"Bukankah Inspektur Hendra sendiri yang bilang kalau Anda mengenal orang tua Saya? Lalu kenapa Inspektur sendiri tidak mengenal Shi? Dia partner rekan kerja Mama sebelum dia meninggal,"
"Setauku, Detektif Ama hanya memiliki satu partner dan itu adalah Detektif Ken. Tidak pernah ada kehadiran partner lainnya," jelas Inspektur Hendra
"Benarkah? Kalau begitu terima kasih," ucap Wasabi.
"Sama-sama, Oh ya Wasabi bisakah kamu ke alamat ini?" tanya Inspektur Hendra sembari memberikan secarik kertas yang tertulis sebuah alamat diatasnya
"Ada warga yang menemukan bau busuk, di rumah salah seorang profesor. Bau busuk itu tercium dikamar dan di kubur tetapi tidak dalam. Lalu di tutupi semen dan keramik lagi. Setelah dibongkar ternyata yang terkubur adalah mayat Profesor Han. Dia baru keluar dari penjara karena terlibat penelitian formula EXO yang ilegal itu. Aku menyuruhmu karena saat itu Mamamu sedang meneliti kasus ini jadi mungkin ini ada kaitannya," jelas Inspektur Hendra
"Astaga miris sekali. Baiklah aku akan mencari tahu siapa pembunuhnya,"
Wasabi dan Inspektur Hendra keluar dari rumah Joy bersamaan, setelah tubuh Wonk dibawa dan dibersihkan oleh tim INAFIS.