
Di Kediaman Rumah Tuan Samy. Rumah itu terlihat gelap dari luar, pertanda penghuni rumah tersebut telah beristirahat. Wasabi bisa saja melihat masuk ke kamar Joy, tapi tidak sopan dan bukan ranahnya. Siapa Wasabi seenaknya masuk tanpa ijin.
"Hemm mungkin mereka sudah tidur," batin Wasabi
Wasabi lalu mengirimi Joy sebuah pesan di ponselnya.
Isi Chat Wasabi ke Joy
"Kenapa dia? Tidak biasa nya dia ketus seperti ini, Mungkin Joy butuh istirahat. Ahh tapi rasanya menyakitkan. Apakah seperti ini yang dirasakan Joy, di acuhkan. Karma dibayar tunai," gumam Wasabi
Wasabi pun pulang tanpa mengetahui keadaan Joy yang sebenarnya.
Malam itu di kantor kepolisian
Inspektur Hendra masih menginterogasi Vin serta anak buahnya yang tertangkap. Bahkan, Alice yang hanya kebetulan lewat pun dibawa serta karena tingkahnya yang mencurigakan.
"Mister Vin. Tak ada data tentangmu di sistem kepolisian. Siapa kamu?! Warga negara mana?"
"Menurutmu?" sahut Vin
"Hmmh," Inspektur Hendra sambil menghela nafas
"Aku sudah berusaha sabar menghadapimu. Ini sudah ke sembilan kalinya dan tak ada satupun jawaban yang kamu jawab dengan serius. Haruskah aku menggunakan kekerasan!" tanya Inspektur Hendra dengan tegas
"Silahkan. Kalau perlu tembak mati saja aku!" jawab Vin santai
"Apa?" Inspektur Hendra Terkejut mendengar pernyataan Mr. Vin.
"Kenapa nona Alice? Kamu juga nampak terkejut saat dia bilang lebih baik ditembak mati. Apa hubunganmu dengan dia?"
Alice masih terdiam ketakutan. Dia memegang ujung bajunya, meremas dengan kedua tangannya. Terlihat sekali dia sangat gugup. Inspektur Hendra mulai kehilangan kesabarannya. Dia mulai menggunakan emosinya.
Dipukulnya meja
BRAAAAKK
Inspektur Hendra
"Jawab...!" Teriaknya
Suasana menjadi hening. Penginterogasian masih dilakukan bersama banyak orang dalam satu ruangan. Jika Mr. Vin tidak juga mengatakan sebenarnya maka dia akan di interogasi di ruangan khusus. Bahkan dengan menggunakan berbagai cara. Hingga dia mengakui perbuatannya.
Mr. Vin berdiri berusaha membela Alice. Dengan tangan di borgol di depan. Dia mengacungkan jari telunjuknya dan mengancam Inspektur Hendra.
"Hey! Kalau kau menyakitinya. Aku akan menyakitimu hingga 7 keturunanmu," ancam Vin
"Kamu mengancamku dengan cara rendahan seperti itu. Terlihat jelas kamu membelanya. Apa dia juga terlibat dalam kasus penculikan dan penjualan anak!?" tanya Inspektur Hendra
"Dia tidak terlibat. Lepaskan dia dan aku akan mengatakan kronologi kejadian yang sebenarnya," ujar Vin
"Tidak bisa semudah itu. Dia juga harus diperiksa dan dimintai keterangan sesuai prosedur yang terjadi," ucap Hendra
"Ajudan bawa Nona Alice ke dalam periksa dan tanyai dia," perintah Inspektur Hendra
"Hey! Aku bilang lepaskan dia," Vin marah dia berdiri lalu menarik kerah. Inspektur Hendra dengan tangan terborgol
"Cukup! Aku akan mengatakan sebenarnya,"
Vin pun melepaskan cengkeramannya dan duduk dengan
kesal.
"Terimakasih Nona Alice. Silahkan cerita,"
"Jujur, saya baru tau kalau dia terlibat dalam penculikan anak kemudian menjualnya. Bisakah Anda jelaskan secara terperinci, dari mana Anda tahu?"
"Saat itu dia memasang foto profilnya di Whatsapp dengan seseorang gadis. Saya mengenal gadis itu. yang tak lain adalah Joy teman semasa kecil dan juga teman SMA saya," Alice menceritakan awalnya
"Saya langsung menelepon Mr.Vin. Dan Saya terkejut saat dia bilang akan menjualnya ke seorang pengusaha di jepang. Saya pun marah tetapi dia malah tertawa dan berkata jika saya ingin melepaskan Joy, saya harus memberikan surat kepemilikan rumah yang baru saya beli. Saya membawanya dan ada didalam tas saya,"
Inspektur Hendra menyuruh anak buahnya untuk mengecek isi tas Alice dan benar didalam nya ada surat rumah miliknya.
"Lanjutkan," pinta Inspektur Hendra
Saya langsung bergegas ke hotel itu. Namun ketika Saya datang. Saya bertemu Wasabi dengan keadaan basah dia sedang mengeluarkan kekuatannya seperti aliran listrik, hingga membuat Vin pingsan tersengat listriknya," cerita Alice
"Dan apa hubungan Anda dengan Mr. Vin?!"
"Dia kakak kandung Saya,"
"Apa?" Inspektur Hendra terkejut karena menurut informasi data Alice, adalah anak satu-satunya.
"Saya dibuang orang tua Saya sewaktu masih sekolah dasar. Hanya sebuah kesalahan kecil. Mereka tega menyiksa bahkan rela mengusirku dari rumah mereka," ungkap Vin pada akhirnya
"Miris sekali hidupmu. Tapi, maaf Aku tidak tertarik akan cerita masa lalu mu. Yang ku butuhkan adalah sebuah pernyataan kenapa kamu menculik mereka dan ceritakan seperti apa kronologinya," pinta Inspektur Hendra
"Aku akan menceritakan semuanya, tapi lepaskan Alice dahulu. Dia tak bersalah, saya jamin," ucap Vin
"Ok Alice kamu bisa tanda tangan disini. Jika suatu waktu Aku membutuhkan kesaksianmu maka datang lah segera.
"Iya Saya akan datang lagi, jika kesaksian Saya di butuhkan kembali," ucap Alice.
Setelah tanda tangan, Alice pun segera pergi dari ruangan interogasi
Vin mulai menceritakan kejadiannya dengan runtut dan seksama. Sedangkan anak buahnya yang lain telah selesai di interogasi dan dimasukan ke sel tahanan sementara hingga putusan pengadilan di umumkan
Satu jam kemudian.
Inspektur Hendra
"Terimakasih untuk kesaksian dan pengakuan kejahatanmu," ucap Inspektur Hendra
Kemudian menyuruh ajudannya untuk di bawa ke sel tahanan sementara.
Masih dihari yang sama, Inspektur Hendra menghubungi Wasabi untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Hallo, ya inspektur," jawab Wasabi dari seberang telepon
"Mr. Vin telah mengakui semua perbuatannya. Dia juga menceritakan bagaimana dia menjualnya gadis yang telah di culik. Besok mulailah lacak keberadaan gadis itu," jelas Hendra
"Bisakah kita membicarakan lebih detailnya besok pagi?" pinta Inspektur Hendra yang sudah merasa lelah
"Oh iya baik inspektur. Tapi jika pagi tidak bisa, ada kuliah pagi. Mungkin siang harinya,"
"Oke baik lah. Besok siang. Aku akan menunggumu di kantor. Terimakasih," ucap Inspektur Hendra menyudahi pembicaraannya.