
Wasabi singgah ke warung makan dekat salon Ray. Di sana dia mendengarkan sebuah gosip yang dibicarakan seorang pengunjung dengan pemilik warung makan.
"Bekerja dengannya harus dibawah tekanan. Memang sih gajinya besar tetapi harus siap mental," ucap seorang pengunjung warung yang sedang menikmati es kopinya. Memakai kemeja lengan panjang dan bersepatu sport.
"Siap mental bagaimana?" tanya Ibu penjual
"Dia dikelilingi banyak musuh, salah satunya ya harus siap mati tertembak untuk melindunginya," sahut pria itu.
Wasabi tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan, namun mendengar kata 'tembak' jiwa kepo-nya keluar
"Aku tak percaya dia punya banyak musuh. Dia baik suka membagikan kami sembako gratis, dia juga seorang pejabat di negara Malaysia. Pokoknya setahuku dia baik, bukankah orang baik itu tak punya musuh," lanjut si penjual
"Haha... ya benar, aku pun heran. Dia seperti itu untuk pencitraan saja. Aku pernah menjadi bodyguardnya jadi sedikit tahu mengenainya," ucap si pria
"Maafkan aku jika mendengar perbincangan kalian, apakah aku boleh bergabung?" sela Wasabi sambil menyantap makanan paginya.
"Gabung aja bro. Kita lagi ngobrolin pejabat yang bikin macet diujung jalanan ini," sahut pria itu
"Memangnya siapa yang kalian maksud dan kenapa bisa macet? Apakah ada kecelakaan lalulintas?
"Pejabat itu Tuan Jun, tidak ada yang kecelakaan, hanya saja dia suka membagi-bagikan sembako. Tapi pembagiannya tidak tertib, sehingga ramai orang berdatangan sampai membludak hingga ke jalan besar," jelas si ibu penjual
"Jun? Saya belum pernah mendengar namanya," ucap Wasabi
Mendengar nama Jun, tiba-tiba Wasabi jadi teringat akan satu nama yang keluar dari mulut Alice, Jue. Memang tidak ada hubungannya hanya saja namanya hampir mirip
"Yang terlewatkan, Aku akan kembali ke hotel itu. Semoga ada titik terang," gumam Wasabi sementara Si ibu penjual menjelaskan siapa Jun, namun Wasabi hanya menganggukkan kepala.
Wasabi segera menghabiskan makanannya. Lalu pergi meninggalkan Warung makan. Wasabi berjalan kaki seperti biasa dia berjalan dan mencari gang kecil untuk berteleportasi. Namun ditengah jalan, Setya yang kebetulan lewat memanggilnya dari jendela mobil.
"Wasabi, Ayo naik mobil ku," panggil Setya
Wasabi pun langsung naik mobil Ayahnya
"Ayah kenapa lewat sini? Mau ke mana?"
"Ada orang yang mau membeli tanahku, Aku janji bertemu dengannya, tetapi arah jalan ke rumahnya macet, sepertinya sedang ada pembagian sembako," ucap Setya
"lya memang betul sedang ada pembagian sembako, aku tahu dari obrolan orang di warung makan itu," Wasabi membenarkan
Belum terlalu jauh mereka pergi, tiba-tiba Wasabi melihat orang yang ingin dicarinya terlihat di kaca spion. Photografer yang tempo hari di lihatnya saat kecelakaan terjadi. Pria itu sedang keluar dari warung makan yang tadi Wasabi singgahi.
"Ayah sebentar, bisakah kau mundur ke tempat warung makan tadi?
"Oke, tapi ada apa Wasabi?
"Nanti ku ceritakan,"
Ayahnya memundurkan mobilnya yang belum terlalu jauh berjalan. Setelah sampai Wasabi langsung turun dan menghampirinya, dia tak mau kehilangan jejak lagi
"Hei tunggu..! Kamu photografer yang...," panggil Wasabi yang terkejut saat pria itu berbalik ke arahnya
Si phorografer memakai Jaket Hoodie tebal dan mengalungkan kameranya, rupanya orang yang tadi berbicara dengan Wasabi. Hanya saja saat itu ia tidak memakai jaket dan kameranya di letakkan di sampingnya.
"Kamu orang yang tadi?" ucap Wasabi
"Ya, ada apa?"
"Aku melihatmu semalam, saat kecelakaan tunggal yang terjadi pada polisi patroli. Aku sempat melihat mu memotret kejadian itu. Tapi saat aku ingin menemui mu, aku kehilangan jejak. Apakah itu phorografer itu kamu? Karena dia memakai jaket yang sama,"
"Ya benar, semalam aku memotret mobil polisi yang menabrak tiang listrik. Maaf ada apa ya?"
"Aku Detektif Wasabi, aku ingin....," belum selesai Wasabi berbicara si phorografer pun memotong ucapannya
"Maaf aku hanya memotretnya, aku tak ingin menjadi saksi, aku takut kesaksianku salah. Cari orang lain saja. Maaf," ucap si pria phorografer kemudian berbalik dan berniat pergi.
"Oh terimakasih kalau begitu, kau telah meloloskan penjahat yang seharusnya tertangkap," ujar Wasabi, kemudian berpura-pura pergi berharap photografer itu kembali berbalik ke arahnya dan memberikan keterangan meskipun sedikit.
"Tunggu detektif Wasabi," panggil si pria phorografer
Wasabi tak jadi pergi, ia berbalik dan kembali mendekatinya.
"Aku akan memberikan keterangan, tetapi berjanjilah padaku kamu harus menangkapnya,"
"Ya pasti, aku akan berusaha. Tolong katakan apa yang kamu lihat malam itu,"
"Aku Jack, sepertinya akulah satu-satunya saksi. Mobil itu berjalan dengan kecepatan tinggi dan berputar-putar lalu menabrak tiang listrik. Tak ada mobil lain yang mengejarnya sepertinya ada perkelahian di dalam mobil itu, karena aku sempat mengamati mobil itu seperti berguncang," jelas si pria phorografer
"Lalu apakah ada seseorang yang keluar dari mobil?"
"Ya ada, aku juga memotretnya. Beberapa detik kemudian, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti hingga terdengar bunyi decitan tajam. Mobil itu berhenti di tengah jalan tepat di samping mobil polisi itu," ungkap Jack
Jack memperlihatkan semua potret yang dia ambil. Dia bahkan memberikan kartu memori kamera digitalnya kepada Wasabi.
Dari semua potret itu Wasabi menemukan sebuah bukti baru. Wajah yang selalu berada di belakang layar. Meskipun tak jelas, tetapi sebuah cincin yang terlihat dari balik kaca jendela memberi jawaban dari semuanya.
Wasabi tersenyum penuh dengan rencana di otaknya. Dia pun menyarankan Jack untuk berhati-hati setelahnya, hingga Wasabi mengungkap semua yang bersalah. Setelah itu Wasabi masuk kembali kedalam mobil Setya dan menceritakan semuanya.
Wasabi melewatkan satu nama "Jue". Saat di Hotel Park Alice mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan temannya di hotel Park, tetapi saat di kantor polisi Alice sama sekali tidak menyinggung persoalan itu.
Wasabi kemudian kembali ke Hotel dimana Mr.Vin melakukan transaksi dengan para pebisnis dari berbagai negara
Seorang perempuan tersenyum manis saat menyapa Wasabi dari meja resepsionis. Setelah memperkenalkan diri dan juga menunjukkan identitas tertulis. Wasabi menyampaikan maksud dan tujuan datang ke tempat itu, si resepsionis pun mempersilahkan Wasabi.
"Baik, silahkan tuan Wasabi,"
"Saya ingin tahu pada tanggal 7 April, siapa yang memesan kamar di VIP. Saya tidak tahu nomer nya, tetapi kamar itu berada diujung. Kalau tidak salah malam itu, pemesannya seorang pria," ucap Wasabi
"Oke, tunggu sebentar saya akan mengeceknya," ucap si resepsionis. Wasabi melihat label nama di seragam pakaian resepsionis itu, wanita itu bernama Nova.
"Maaf untuk tanggal 7 April, yang memesan kamar VIP yang berada di ujung? Semuanya yang memesan kamar tersebut seorang wanita. Dia bernama Raisya dan kamar yang berada di seberangnya adalah seorang turis yang bernama Elisabeth," jelas Nova
Sepertinya bukan seorang turis, batin Wasabi
"Kami juga masih mempunyai data identitas scanning mereka. Mohon maaf, kami tidak dapat mencetaknya tetapi jika Tuan Wasabi ingin melihatnya, silahkan," ucap si Resepsionis dengan memutar sedikit layar komputernya sehingga Wasabi bisa melihatnya.
"Raisya... Sepertinya, Aku pernah melihatnya, tetapi dimana ya?" gumam Wasabi.
"Boleh saya meminta kertas dan bolpoin. Saya perlu mencatat alamat lengkapnya," pinta Wasabi
"Boleh silahkan,"
Setelah mendapatkan identitas Raisya, Wasabi ke rumah Raisya dengan segera. Baginya waktu adalah uang, ia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang jika kasus belum terpecahkan.
Ting....Tong..
Beberapa kali memencet bel, seseorang membukakan pintu rumahnya dari dalam.
Ceklek
"Maaf ingin bertemu dengan siapa ya?"
"Ahh...jadi ternyata kamu Raisya?" seru Wasabi yang langsung ingat dimana ia bertemu wanita itu
"Iya saya Raisya, kalau boleh tahu anda siapa ya?"
"Apakah kamu memiliki memory ingatan dengan kapasitas kecil," ucap Wasabi pelan namun sangat dingin menyakiti hati
Raisya masih mengingat dengan mengernyitkan dahinya
"Kamu benar-benar lupa? Kita pernah bertemu di Bali, di hotel. Kamu sedang bersama Riyan saat itu," ucap Wasabi mengingatkan
"Astaga, aku ingat. Tapi kenapa sekarang kamu terlihat tampan sekali. Haha saat itu suasanya malam jadi aku tidak begitu memperhatikan wajah seseorang, maaf," ucap Raisya
Wanita itu lalu mempersilahkan Wasabi masuk kedalam rumahnya
"Langsung saja ke inti persoalan. Saya detektif Wasabi, Saya kemari ingin menanyakan beberapa pertanyaan. Saya mohon nona Raisya menjawabnya tanpa ada yang ditutupi," ucap Wasabi
"Mampus aku, jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Joy," pikir Raisya
Wasabi melihat ketakutan dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh Raisya yang sedikit gemetar. Seringkali wanita itu memainkan kuku jarinya.
"Tak perlu tegang nona Raisya, rileks saja,"
"Ah siapa yang tegang aku hanya grogi berbincang dengan lelaki tampan seperti Anda hehe," ucap Raisya berusaha menutupi kegugupannya
Aku yakin Raisya menutupi sesuatu, terlihat dia begitu ketakutan ketika mendengar identitas ku, batin Wasabi
"Oke. Apakah nona Raisya kenal dengan nona Alice? Jika iya, apakah hubungan kalian?"
Raisya kembali teringat dengan perkataan Alice, jika ada yang bertanya hubungan mereka, Raisya harus menjawab bahwa mereka adalah teman satu kampus.
"Aku dan Alice berteman, kami satu kampus,"
"Oh ya? Dimana? Jurusan apa?"
"Di Universitas Trisakti,"
"Oh begitu," Wasabi tersenyum. Jelas sekali Raisya berbohong, dia tahu betul Alice kuliah bukan di Universitas Trisakti tetapi di Universitas Bung Karno.
"Oh ya, Saya mendapat undangan ke pesta pertunangan. Saya ingin mengajak Nona Raisya, tidak enak jika datang sendirian," ucap Wasabi
"Oh baiklah, kapan dan pukul berapa? Oh ya panggil saja aku, Raisya kita seumuran. Dan bisakan kita memakai bahasa aku, kamu agar terdengar lebih akrab,"
"Ok Raisya, malam ini pukul 8, bagaimana apa kamu bisa?"
"Bisa! bisa sekali apalagi kalau menemani pria tampan seperti mu hehe," ucap Raisya tersipu malu
Haha.. Dia tidak tahu saja, kalau aku akan mengajaknya untuk interogasi selanjutnya, batin Wasabi
"Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang. Tunggu kedatangku nanti malam. Ok," sahut Wasabi sembari mengedipkan Satu matanya seakan menggoda Raisya
"Ok bye tampan," ucap Raisya melambaikan tangan kepada Wasabi, "Hah dia hanya menanyaiku seperti itu...Syukurlah,"