Detective Wasabi

Detective Wasabi
Agresif



Keesokan harinya.


Mobil Wasabi yang diberikan tuan Paldo, sedang di bersihkan oleh Setya. Mobil itu terkena debu saat pengiriman. Meskipun mereka telah membungkusnya dengan penutup plastik tetap saja debu dapat masuk dari celah kecil.


"Ayah sedang apa?" ucap Wasabi seraya menyampirkan tas ranselnya di satu bahu.


Wasabi memakai kaos oblong berwarna putih , celana jeans berwarna biru tua dengan model sobek-sobek di lututnya, dan jaket jeans biru muda. Serta sepatu sneakers putih.


"Merawat mobilmu, kenapa tidak pakai mobil ini ke kampus? Sekarang musim hujan," sahut Setya yang mengoleskan pelicin di mobil Wasabi agar terlihat kinclong


"Ongkosnya mahal Yah, lebih baik jual saja. Atau Ayah bisa memakainya. Aku lebih nyaman pakai motor," ujar Wasabi yang merasa sayang untuk mengeluarkan ongkos bensin mobil yang harganya bisa buat makan dia seminggu. (Lebay dikit boleh dong 🤪)


"Hemmh sayang kalau dijual. Ini mobil anti peluru. Oh ya, Ayah sudah menyiapkan bekal roti dimeja, sudah di ambil belum?"


"Aku tidak lihat yah, karena buru-buru. Sudah ya," pamit Wasabi.


"Ehhh bentar," Setya membuka jalur blackhole nya dan mengambil bekal makanan yang telah ia siapkan


"Wihh, keren. Katanya gak mau pake kekuatan sering-sering,"


"Ini kan urgent, buru-buru hehe. Nih, bawa," seru sang Ayah


Wasabi mengambil bekalnya dan memasukkannya ke tas. Ia pun tersenyum tipis. Teringat sang Mama selalu menyiapkan bekal untuknya. Wasabi yang sudah duduk di kursi motor pun kembali memarkirkannya. Pria itu turun lalu memeluk Ayahnya.


"Terimakasih Ayah, aku sayang Ayah. Jangan tinggalkan aku lagi,"


Setya membalas pelukan Wasabi, hari itu dia bagaikan anak kecil yang manja dengan orang tuanya. Bukan manja melainkan rindu.


Wasabi melepaskan pelukannya, sang Ayah menepuk pipinya pelan.


"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkan mu, sampai maut menjemput ku,"


"Haishh jangan bilang seperti itu. Sudah dulu Yah, Assalamualaikum," pamit Wasabi yang langsung mencium punggung tangan Ayahnya, ia pun kembali menaiki motor sportnya, tak lupa helm ber-SNI kemudian melakukannya perlahan.



Sesampainya di kampus, Wasabi langsung memarkirkan motornya lalu turun dan segera berlari kecil menuju kelas. Dia terlambat.


Tetapi kedatangan Wasabi malah di sambut oleh wanita-wanita lain di kampus itu. Mereka menyapa Wasabi, beberapanya ada yang memberikannya coklat, ada yang minta tanda tangan bahkan ada juga yang meminta foto bersama. Wasabi menolak semuanya. Pria itu terus berjalan dengan langkah besar.


"Heh minggir kalian! Dia pacar aku ya! Awas kalau deketin," Joy menarik lengan wanita-wanita yang mengerubungi Wasabi. Lalu menggandeng lengan Wasabi dan menariknya menjauhi kerumunan. Semua bersorak memarahi Joy, sementara Joy tidak peduli.


"Dah aman, kalau ada aku semua beres kan," ucap Joy mengantar Wasabi hingga depan kelas


"Hemmh, tapi gak usah pake ngaku pacar segala!" dengus Wasabi lalu masuk ke kelas mengabaikan Joy.


"Ihh nyebelin banget, udah ditolong juga," gerutu Joy dalam hati


Ia pun melihat jadwal kelas Wasabi selanjutnya. Joy benar-benar terobsesi dengan Wasabi. Padahal ia sempat ingin melepaskan Wasabi, tetapi Wasabi malah mendatangi dirinya dan membuatnya menaruh harapan lagi.


.


.


Kelas selanjutnya, di ruangan lain. Joy sudah menunggu Wasabi di depan ruangan itu.


"Wasabi," sapa Joy mendekatinya sambil tersenyum.


"Hey," balas Wasabi tanpa senyum, pandangannya fokus ke pintu kelas dan melewati Joy begitu saja


Joy kesal, ia mengejar Wasabi dan menarik jaketnya.


"Apaan sih, Joy aku udah telat," alasan Wasabi


"Telat apanya, Dosennya belum dateng sante aja Napa!" celetuk Joy


"Buat kamu," ucap Joy memberikan Wasabi coklat panas dengan gelas plastik yang aman dipakai. Diluar gelas itu ada kertas tebal agar tangan tidak kepanasan saat memegangnya.


"Apa nih?"


"Coklat panas kesukaan Wasabi ku," sahut Joy yang sudah menstampel kepemilikannya


"Thanks, tapi kata Wasabi ku, dihilangkan," desis Wasabi


"Hmm, bukannya udah cukup ya ucapan makasih? Lagian aku juga ga minta, ambil balik nih,"


"Apa yang di beri tidak boleh di kembalikan. Harusnya sama ini," Joy menarik kerah Wasabi ke arahnya dan dengan cepat Joy mengecup pipi Wasabi sebelum pria itu mengelak.


Wasabi terkejut dengan keagresifan Joy, dia pun sedikit menjauh. Joy melepaskan kerah Wasabi


"Kamu tuh..." ucapan Wasabi terputus


"Stop! Aku gak mau denger kamu ngomong apa! Udah ya, makasih buat kemaren, bye," celetuk Joy, meninggalkan Wasabi dengan langkah anggun dan penuh kesombongan.


"Dasar cewek agresif," gumam Wasabi lalu masuk kedalam kelas.


Benar kata Joy, si Dosen belum datang. Wasabi duduk dan meletakkan coklat panasnya dimeja, lalu meraih gelasnya lagi dan ujung bibirnya tersungging manis.


Wasabi mencoba coklat panas pemberian Joy. Ia meneguknya sedikit, "Enak, manis,"


Lalu meneguknya lagi lebih banyak, "Pahitnya pas, hmm enak banget,"


Tanpa di sadari, Wasabi telah menghabiskan minuman itu. Tak berapa lama dosen datang dan pelajaran dimulai


.


.


.


Dua jam kemudian, kelas selesai. Wasabi pergi ke ruangan lain untuk pelajaran selanjutnya. Kelasnya belum dimulai, masih ada lima belas menit. Sambil menunggu, Wasabi membuka tempat makannya yang berisi roti sandwich bikinan Ayahnya.


Wasabi menggigitnya sekali.


"Hemm enak, gak nyangka Ayah bisa bikin sandwich seenak ini," batin Wasabi


Ketika Wasabi ingin menggigit roti itu lagi, Joy datang dan langsung duduk di pangkuan Wasabi.


"Wah kelihatannya enak," Joy langsung ingin menggigit roti tersebut tetapi tangan Wasabi semakin menjauh.


"Enak aja," ucap Wasabi yang langsung memasukkan semua roti kedalam mulutnya hingga habis.


Wasabi dengan lahap mengunyah dengan mulutnya yang penuh.


"Ihhh pelit banget sih," gerutu Joy


"Ngapain duduk disini, berat.. Hush hush," usir Wasabi sambil mendorong Joy pelan, yang sedang duduk di pangkuannya.


"Gak mau pindah, sebelum," Joy melirik Wasabi dengan tatapan nakal


Wasabi tidak ingin kecolongan lagi, dia langsung menjauhkan wajahnya.


"Hahaha ngapain ngejauh gitu, pede banget jadi orang!"


"Ya terus apa, sana ah! Jangan sampe aku berbuat kasar ya," ancam Wasabi


Joy masih belum beranjak dari pangkuan Wasabi, Joy yang sedari tadi menggenggam ponsel di tangannya itu segera mengambil foto Wasabi bersama dengan dirinya.


Cekrek


Wasabi terlihat menjauh tanpa senyum sementara Joy tersenyum manis


"Ih jutek banget wajahnya, gak apalah," ucap Joy sambil mengamati hasil fotonya.


Wasabi merebut ponselnya, ia ingin menghapus fotonya,


"Eh balikin," Joy ingin mengambil ponselnya


"Aku mau hapus," Wasabi mengarahkan ponsel Joy setinggi-tingginya sambil membuka galeri dan menekan tombol delete


Tetapi Joy berhasil merebutnya kembali sambil beranjak dari pangkuan Wasabi.


"Yess, ahaha, kamu ga bisa hapus weeek... Dah sayang," Joy lalu pergi


"Ngapain sih pake ngambil foto segala? Awas aja kalo disalahgunakan," gerutu Wasabi