Detective Wasabi

Detective Wasabi
Crush



Joy berdansa dengan Ray, membuat hawa panas disekitar Wasabi. Wasabi pun keluar ruangan dan membawa segelas air minum yang berisi sirup, bukan alkohol. Sambil memandangi orang-orang yang juga asyik mengobrol antara satu dengan lainnya juga menikmati sajian makanan di halaman belakang.


"Mereka belum menikah, jadi masih ada waktu untuk merebutnya," ucap Setya yang tiba-tiba datang menghampiri Wasabi yang sedang bersandar di pilar rumah


Wasabi hanya tersenyum kecil


"Aku jadi teringat tentang Mu Ayah. Kau tak kesepian? Kenapa tidak mencari Istri lagi?" ucap Wasabi


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau menginginkan seorang Ibu, hemm?" sahut Setya


"Ayahmu ini masih belum menemukan orang yang lebih baik dari Alma. Aku lebih memilih menyendiri bersama kenangan Ku dengan Alma,"


"Aku ingin Ayah bahagia," ucap Wasabi mengatakan alasannya


"Aku sudah bahagia bersama putraku. Lebih baik kau saja yang menikah dan memberiku seorang cucu," Setya melempar balik ucapannya


"Hemm," jawab Wasabi mulai malas.


Kemudian Wasabi memutar badannya berbalik melihat Joy yang masih di bawah panggung bercengkrama dengan temannya. Memandanginya dari kejauhan sambil masih bersandar malas pada pilar.


"Kau lihat Ayah? Dia tidak terlalu cantik. Dia juga bukan gadis yang ramah. Dia tidak lugu dan pemalu, malah sebaliknya. Tapi entah kenapa Aku jatuh hati padanya. Cinta tidak bisa diatur Ayah, cobalah membuka hatimu untuk wanita lain. Kau ingin Wanita seperti apa? Yang muda atau yang tua? Janda atau masih perawan?" ucap Wasabi


Setya ikut berbalik dan juga melihat Joy, "Sudahlah Aku tak ingin membahasnya. Aku masih ingin sendiri," ucap Setya yang langsung masuk ke dalam, dia memilih duduk sendirian dari pada mendengarkan nasihat anaknya.


Sementara itu Sill datang mewakili Inspektur Hendra, Ayahnya yang tak bisa hadir.


Aduh banyak tamu yang Aku gak kenal, batin Sill


Ada seseorang yang bertubuh gendut menyenggol Sill hingga Sill terdorong jatuh ke depan dan mengenai orang yang duduk di sofa.



(Kira-kira visualnya kayak gini)


Gila cakep banget tuh orang. Tipe ku banget, dewasa banget. Astaga Jantungku, batin Sill lagi


"Ehem...Kalian sedang apa!?" ucap Wasabi yang ingin menghampiri Ayahnya


"Ma-maaf Pak, Saya terdorong seseorang tadi," ucap Sill pada orang yang di tubruknya, sambil beranjak berdiri kemudian melihat orang yang berkata tadi.


"Wasabi, Aku tak sengaja terjatuh,"


"lya, tidak apa-apa. Kenapa kau senyum-senyum Wasabi?" ucap Setya. Ternyata orang yang duduk, yang sedang di jatuhi Sill tadi adalah Setya


"Ayah, Aku jadi teringat perkataan Inspektur Hendra yang ingin menjodohkan mu dengan Sill," sahut Wasabi


"Sill? siapa Dia?" tanya Setya


"Ayah? ini Ayahmu?" tanya Sill


"lya.. Tampan kan? Haha..." ucap Wasabi sambil terkekeh, kemudian ia berkata lagi, "Ini Sill, Ayah. Dia anak Inspektur Hendra. Cantikkan?"


OMG kalau gantengnya kayak gini, Sill gak bakalan nolak hehe, batin Sill.


Seketika wajah Sill langsung merona merah, untung cahaya disana sedikit remang.


Duda ganteng astaga pikiranku jadi kacau, batin Sill lagi


Setya tidak menghiraukan ucapan Wasabi, ia pun tersenyum dan menyapa Sill, "Hallo Sill, mana Ayah Mu? Duduklah sini, Wasabi Kau juga duduk. Kalian berdiri dan Aku duduk itu pemandangan yang tidak enak," ucap Setya


"Oke oke," Wasabi pun kemudian duduk di lengan sofa


"Iya Pak, saya duduk. Ayah sedang sibuk. Dia banyak menangkap penjahat hari ini. Itu semua juga berkat bantuan Wasabi," ucap Sill


"Sill, Aku belum terlalu tua. Panggil saja paman atau Om," ucap Ayah


"Kenapa tidak panggil Sayang sekalian," goda Wasabi


Setya menjewer telinga Wasabi yang terus-menerus menggodanya.


"Aw aw.. Sakit Ayah," seru Wasabi


"Ah sudahlah Aku mau menemui Pak Samy, Aku jadi nyamuk disini," ucap Wasabi sambil menggosok telinganya yang memerah karena habis di jewer


"Maaf ya Sill, entah kenapa Wasabi bertingkah aneh. mungkin karena Joy bertunangan,"


"Ya, paman, Wasabi memang terkadang jahil,"


"Sebaiknya Aku pulang sajalah," ucap Setya berkata dalam hati. Ia berusaha menghindari Sill


"Sill Saya pulang dulu ya?" pamit Setya yang langsung berdiri tapi tiba-tiba Mommy Joy datang menghampiri.


"Loh kok pulang, sebentar lagi acara tukar cincin. Tunggu sebentar lagi ya Pak Setya," pinta Noura Mommynya Joy


"Oh begitu. Sebenarnya saya ada sedikit urusan tapi baiklah, setelah tukar cincin saja saya pulangnya," ucap Setya sedikit berbohong


"Iya terima kasih Pak," ucap Noura


"Selamat Malam Nyonya Samy, Saya kemari mewakili Ayah saya, Inspektur Hendra. Dia meminta maaf tidak dapat hadir. Selamat ya atas pertunangan Anaknya," ucap Sill


"Oh ya tidak apa-apa. Kehadiranmu sudah sangat berarti. Terimakasih ya," ucap Noura kemudian melihat ke sekeliling lalu ia berpamitan


"Saya permisi ya mau mendampingi Joy," ucap Noura


Mammy Joy pergi menghampiri Joy, ia akan mendampinginya di acara tukar cincin.


"Paman, seharusnya Wasabi yang ada di depan sana. Wasabi begitu mencintai Joy," ucap Sill membuka pembicaraan


"Ya Sill, semoga Wasabi bisa move on atau bisa merebut Joy, mereka belum berstatus menikah kan. Sebenarnya Joy adalah cinta pertama Wasabi," ucap Setya


"Bukannya cinta pertamanya itu si Emi temannya semasa kecil. Tapi sepertinya Wasabi bukan tipe orang yang bisa move on dengan cepat. Oh ya Paman, namanya siapa? Sill belum tahu," ucap Silk yang memborong pertanyaan


"Saya? Nama Saya Setya. Haha Emi itu saya rasa itu bukan perasaan cinta. Dia hanya mengagumi Emi seperti idola karena Emi selalu membela Wasabi saat kecil dulu," ucap Setya yang sudah tahu ceritanya dari Wasabi sendiri


"Namanya bagus, pasti Paman tipe orang yang setia dengan pasangannya," ucap Sill


'Haha.. Iya.. Sampai sekarang pun saya masih setia mencintai Ibunya Wasabi," ucap Setya


"Paman, setia boleh saja tapi bagaimana pun juga kita itu butuh seorang pendamping. Lihat Ayah Sill. Selalu sibuk dengan pekerjaannya. Padahal semua itu bisa dikerjakan anak buahnya. Nanti kalau sudah terlalu capek dan sakit siapa yang repot. Ayah terlalu lama menyendiri setelah kepergian Mama," ucap Sill


"Sill kamu seperti Wasabi ya. Ada apa dengan kalian hari ini? Tiba-tiba kalian yang masih single mendadak jadi penasihat orang dewasa untuk segera mencari pasangan. Memangnya itu mudah?" Setya sedikit emosi. Dia tidak suka masalah pribadinya dicampuri seseorang


"Eh hehe maaf Paman," Silk jadi salah tingkah dan langsung terdiam membeku. Begitu juga dengan Setya yang langsung diam.


Ray menyematkan cincin ke jari manis Joy. Sedangkan Joy juga menyematkan cincin dengan terpaksa dan tanpa senyum.


Tatapannya terus memandangi Wasabi yang berada di sudut ruangan, sedangkan Wasabi berbalik memunggunginya dan menghabiskan minumannya. Dia tidak sanggup melihat Joy bersama pria lain. Kemudian Ia keluar dari rumah Joy dan pulang.


Setelah Joy menyematkan cincin pada Ray, air matanya menetes.


"Mom, Joy merasa pusing. Joy permisi ingin ke kamar," bisik Joy di telinga Mommynya


"Mungkin Kau kelelahan. Istirahatlah sayang," ujar Noura


Joy lalu pergi ke kamar dan Ray mengikutinya.


"Kau kenapa Joy?" tanya Ray


"Jangan mengikuti Ku," ucap Joy lalu mempercepat langkahnya menuju tangga menuju kamarnya


Ray menghentikan Joy dengan menarik tangannya.


"Kau tidak bisa meninggalkan acara ini begitu saja. Acaranya belum selesai," ucap Ray


"Acara apa? Hanya tukar cincin. Kalaupun ada pembicaraan penting itu bisa dilakukan Daddy sendiri," ucap Joy melepaskan lengannya yang dicengkeram oleh Ray


Joy menaiki tangga menuju kamar, Ray mengikutinya. Sesampai di depan pintu kamar. Joy cepat-cepat membuka pintu dan masuk. Tapi Ray menarik rambutnya.


"Aah sakit," Joy berteriak. Namun teriakannya tidak didengar oleh siapapun karena volume musik yang keras


Ketika pil itu tertelan Joy terbatuk-batuk. Ia ingin memuntahkan pil itu namun tidak bisa.


"Apa yang Kau masukkan ke dalam mulut Ku! Pergi Kau!" ucap Joy marah.


Joy lalu mendorong Ray keluar kamar dan menutup pintunya dengan paksa. Ray menghadangnya dengan mendorong balik dari sisi luar. Mereka saling dorong pintu. Hingga Joy melemas dan pusing.


"Aku pusing. Obat apa yang kau berikan padaku. Dasar brengsek!" ucap Joy yang sudah melemah.


Ray mendorong pintu dengan kuat dan masuk kedalam


"Haha... Beberapa detik lagi Kau akan merasakan panas dan menginginkannya haha...,"


"Apa! Jangan bilang kau memberiku obat per4ngsang!" ucap Joy


Sial tubuhku mulai panas. Aku mulai menginginkannya. Tapi..tidak aku harus menahannya. Jangan sampai itu terjadi, batin Joy


Ray menutup pintu dan menguncinya dari dalam


"Katakan saja sayang jika kau menginginkannya. Aku siap. Bukankah aku tunanganmu sekarang!"


"Cih aku tak akan melakukannya denganmu," ucap Joy yang memundurkan langkahnya karena Ray berjalan mendekatinya


Ray terus mendekati Joy, kemudian Joy mundur hingga batas ranjang. Tubuhnya mulai memanas berkeringat dan bereaksi menciptakan gairah dalam tubuhnya. Tapi Joy menahannya dan berteriak meminta tolong.


Tak ada yang mendengar teriakan Joy Musik pesta itu amat berisik. Ray menggila dan mendorong tubuh Joy ke tempat tidur.


"Aku akan memberi pelajaran pada Wasabi. Dia mengirim wanitaku ke dalam tahanan. Jadi Kau harus ku kerjain," ucap Ray


"Aku tak ada hubungannya dengan wanitamu!"


"Wasabi amat mencintaimu. Betapa tersiksanya dia jika melihat orang yang di cintainya di perkosa kemudian hemmm selanjutnya aku akan membunuhmu atau menggantungmu" ucap Ray dengan terkekeh dan memandangi Joy penuh napsu.


Joy sangat seksi, apalagi dia mengenakan gaun yang memperlihatkan kulit putihnya yang mulus


"Katakan sayang? Kau ingin mati secara apa?" tanya Ray membuka kancing bajunya sementara Joy berusaha memundurkan tubuhnya


"Wasabi....!" teriak Joy


"Percuma tak ada yang mendengarmu," Ray menahan kaki Joy dengan tubuhnya sambil berbisik di telinga Joy dan mencium telinganya


Joy melengoskan wajahnya dan meronta kemudian ia menendang benda berharga milik Ray. Ray mengerang kesakitan. Joy langsung beranjak pergi dan berlari menuju jendela kamar. Lalu ia membuka jendela kamar dan berteriak.


"Tolooong! Wasabiii...tolong akuu!" ucap Joy dengan berteriak keras.


Dia pun tak ingin ambil pusing. Joy melompat dari balkon kamarnya. Tapi aksi Joy kembali dihadang Ray, Ray menarik tubuh Joy dan memaksanya masuk ke dalam kamar. Kaki Joy meronta-ronta


"Kau berani melawanku? Ayolah sayang. Bukankah tubuhmu sudah menginginkannya," ucap Ray yang dengan nakal ia sengaja meremat satu gundukan milik Joy


Joy melepaskan tangan Ray yang nakal karena sudah memegang dadanya. Ray melepaskannya, kemudian Joy berbalik dan meludahi wajah Ray


Plak


Tamparan mendarat di pipi Joy. Joy kesakitan sambil memegangi pipinya.


Ray segera mengambil tali yang telah dia kantongi di balik kedua Jasnya. Di tariknya tangan Joy dengan paksa lalu diikatnya. Tangan Joy sudah terikat kemudian ia menggendong Joy di bahunya dan melemparkannya keranjang. Joy ingin pergi namun kedua kakinya ditarik dan juga diikat kencang. Joy meronta dengan tangan kaki yang sudah terikat. Terakhir Ray menyumpal mulut Joy dengan kain yang sudah ia sediakan di kantong celananya


Joy terbaring di ranjang sementara itu Ray beranjak dan mencari tempat untuk menggantung tali. Sayangnya kamar Joy berternit, satu-satunya cara adalah menggantungkan talinya di atas lampu gantung.


Pria itu pun mengambil kursi, membuat simpul gantung. Dia berencana akan menggantung Joy disana. Jika pun lampu gantung ya tidak kuat maka Joy akan jatuh bersama lampu tersebut dan membuat luka di tubuhnya. Itulah tujuan Ray ingin melukai Joy. Ketika Ray menggendong Joy dan ingin di gantungkan. Joy menggigit bahu Ray. Ray mendorong Joy secara spontan.


Joy jatuh dan berusaha bangun dan berjalan kembali ke jendela yang masih terbuka, dengan kaki terikat. Dia meloncat-loncat sambil teriak meskipun teriakan kali ini tak jelas.


Wasabi masih berada di parkiran, Dia menunggu Ayahnya di dalam. Kemudian Dia mendengar teriakan Joy samar-samar, lalu Wasabi melihat ke sekeliling dan menghampiri asal suaranya.


Ray kembali menarik Joy. Kali ini Ray menutup jendela rapat-rapat. Joy kembali diseret di gantung dengan posisi dia masih berdiri di atas kursi.


"Mana Wasabi? Apakah Kau berhasil memanggilnya? Aku akan merubah rencanaku," ucap Ray


Cling


Wasabi muncul di kamar Joy dan melihat Joy diikat dan sebuah tali gantung mengalungi lehernya, dengan posisi kakinya masih berpijak diatas kursi


"Joy," panggil Wasabi"


"Kau gila ya! Lepaskan Joy!"ucap Wasabi


"Hoho... Ini dia sang pangeran penyelamat. Aku bisa menendang kursi ini sewaktu-waktu dan Joy akan..." ucap Ray dengan tangan mengiris lehernya sendiri isyarat menjelaskan akan mati


"Kau ingin membunuh tunanganmu sendiri?" ucap Wasabi


"Kalau kau ingin Joy selamat, lepaskan Qisty. Keluarkan dia dari tahanan sekarang juga," ucap Ray


"Hoh, jadi ini soal Qisty. Jangan mimpi, yang bersalah tetaplah bersalah.


Wasabi kemudian berteleportasi dan melepaskan Joy dari tali gantung itu secepat kilat dan dengan kekuatan tak terlihatnya. Sementara Ray mencari-cari keberadaan Wasabi.


Ikatan Joy terlepas dan Wasabi mengantar Joy dengan kekuatan teleportasi ke depan pintu kamar dan menyuruhnya keluar.


"Wasabi," ucap Joy yang bukannya langsung pergi, dia malah mencium bibir Wasabi


"Aku tahu kau pasti datang," ucap Joy melepaskan ciumannya lalu memeluknya erat sebenarnya Joy ingin melepaskan hasratnya terhadap Wasabi gara-gara pil gairah yang diberikan Ray, namun Joy menahan diri.


"Joy, Kau baik-baik sajakan? Turunlah kebawah, aku akan memberinya pelajaran," ucap Wasabi


"Fack pemandangan apa ini," protes Ray, "Jadi kau manusia aneh yang bisa menghilang?" cibir Ray


"Hati-hati sayang," ucap Joy kemudian pergi, ia mengikuti perkataan Wasabi untuk turun ke lantai bawah.


"Kenapa, kau baru tahu? Sekarang tali gantungmu kosong. Kau ingin mengisinya disana?" tanya Wasabi


"Kau menggagalkan rencanaku," ucap Ray Mendekati Wasabi dan mengayunkan pisau ke arah perut Wasabi. Segera Wasabi mengelak, Ray menggunakan kedua tangannya menyerang Wasabi sambil membawa pisau di tangan kanan dan kirinya.


Tangan kanan Wasabi menangkap tangan Ray, saat hendak menusuk bagian perut. Lalu dengan bersamaan Ray mengibaskan pisau di tangan kanan, Wasabi ingin menangkap dengan tangan kiri tetapi lengan Wasabi tergores pisau.


Musik keras dan kencang kini berhenti. Sepertinya Joy telah mengadu kepada Daddynya.


Wasabi membalas serangan dengan tangan kosong. Dia memukul Ray dengan tinjuan di perut dan wajah. Dan terakhir Wasabi menendang dagu Ray hingga Ray terpental ke belakang.


Ray kesakitan di pojok dinding. Dia sedikit mengelus dagunya, tulang rahangnya seperti hampir lepas.


Kemudian Ray melemparkan pisau ke arah Wasabi, Wasabi berhasil menghindar tapi pisau itu malah terkena Samy yang tiba-tiba masuk ke kamar Joy.


"Ah Dada ku..." ucap Samy tertusuk mata pisau yang menempel di dada, Wasabi dan Ray terkejut


"Sayang...! Kau terluka!"


"Ray melemparkan pisau itu!... Aku tak menyangka kau seperti ini. Kau...kau ingin membunuh Joy dan Aku!" ucap Samy


"Mommy kita harus bawa Daddy ke rumah sakit sekarang!" ucap Joy.


Kemudian Mommy dan Joy memapah Samy yang masih kuat berdiri untuk turun dan segera pergi menuju rumah sakit terdekat. Beberapa orang yang melihatnya di pucuk tangga langsung membantunya menuruni anak tangga dengan menggendong Samy


Wasabi menatap tajam Ray dan Wasabi dikerubungi amarah yang memuncak. dia meremat kedua tangannya namun yang terjadi ada bayangan hitam yang keluar dan meremat tubuh Ray


Rupanya Wasabi mengeluarkan kekuatan barunya. Dari kejauhan dia meremas tubuh Ray, pria itu merasa tubuhnya terikat sesuatu hingga sesak sampai ke tulang-tulangnya


"Kau apakan aku..ah...to-tolong lepaskan," ucap Ray


"Ah.. tubuhku seperti diremas-remas," timpal Ray yang kesusahan bicara, ia mengerang dan ingin meronta. Namun tubuhnya menjadi kaku


"Aku juga tak paham dengan apa yang ku lakukan. Jika aku mengangkatmu. Apakah kau juga akan terangkat, kita seharusnya mempraktekkanannya langsung,"


Wasabi mencoba kekuatan barunya. Dia mengangkat tangannya yang mengepal ke atas. Tak disangkanya Ray juga ikut terangkat. Wasabi menjatuhkan tangannya dengan keras. Ray kemudian terlempar jatuh dari atas.


"Kau jangan pernah mengusik hidup orang yang aku sayangi," ucap Wasabi


Kemudian beberapa satpam rumah datang menangkap Ray dan membawanya ke kantor polisi. Pesta dibubarkan.