
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia.
"Akhirnya sampe Jakarta juga. Aku duluan ya," ucap Wasabi kemudian pamit langsung pulang.
"Ok Wasabi. Makasih ya. Berkat kerjasama denganmu kita juga ketiban rejeki," ujar Andi
"lya nih Wasabi. Terimakasih ya," sahut Emi
"Sama-sama, kita satu tim. Semuanya berjasa dalam kasus ini. Aku pulang duluan ya. Mau istirahat. Bye...," Wasabi langsung pergi setelah pamit. Tubuhnya butuh istirahat.
"Sampai ketemu besok di kampus ya," sahut Andi sedikit berteriak karena Wasabi sudah menjauh
"Bye...," Emi juga berteriak sambil melambaikan tangan pada Wasabi
Wasabi pulang dengan motornya. Sedangkan Andi dan Emi makan dulu di kantin dekat bandara. Sesampainya di rumah, Wasabi dikejutkan dengan kehadiran Setya yang sudah berada di depan rumahnya.
"Hah Pak Setya bagaimana mungkin bisa secepat ini?" tanya Wasabi
"Terkejut karena saya lebih cepat dari kamu haha," terka Setya
"Iya...Sebentar ya saya cari kuncinya dulu," sahut Wasabi sambil mencari kuncinya di tas. Setelah ketemu dia pun membuka pintu rumahnya
"Anda punya hutang cerita, tolong katakan semuanya yang anda ketahui," sahut Wasabi menagih janjinya.
"Iya oke. I know," Serta tersenyum. "Saya akan membayarnya lunas,"
Mereka pun masuk kedalam rumah.
Rumah lama peninggalan orang tua Wasabi. Rumah yang Setya beli saat bersama Alma. Setya juga mulai mengingat setiap langkah kakinya saat memasuki rumah itu. Dari awal beli hingga peristiwa terakhir yang membuat dirinya hancur.
Peristiwa kelam enam tahun yang lalu, dia datang ke rumah ini dan melihat istrinya serta suami barunya sudah mati tergantung di halaman belakang rumahnya sendiri.
Setya lalu menutup mukanya dengan kedua tangannya, menahan tangis dan mencoba tegar.
Wasabi yang berjalan di depannya kemudian berbalik dan menatap tingkah anehnya Pak Setya.
"Ada apa? Anda sepertinya sedih?" tanya Wasabi
"Wasabi. Bolehkah aku memeluk mu?" ucap Setya.
Wasabi mengernyitkan dahinya
"Bolehkah aku meminjam. pundakmu untuk merebahkan kesedihanku," timpal Setya
"Silahkan. Kalau itu dapat menghilangkan kesedihan Anda, dengan senang hati," ucap Wasabi
Setya lalu memeluk Wasabi, anak yang telah lama dia tinggalkan. Semua dia lakukan demi keselamatan orang yang dia sayangi. Tetapi tetap saja keselamatan keluarganya terancam.
Penyesalan berujung duka. Setya tidak seharusnya menghindar, itu kesalahan fatal. Musuh harusnya ditangkap bukan dihindari.
(Pasti bingung kan, baca terus ya 😅)
Wasabi merasakan pelukan hangat, seperti seorang Ayah yang sangat dia rindukan. Seketika Wasabi tersenyum tipis untuk kali pertamanya pada Setya.
Wasabi hanya diam dipeluk, ia pun hanya memandang ke arah pintu ruang tamu. Tetapi reaksi wajahnya berubah ketika kedua matanya mendapati sebuah mobil Jeep yang terparkir di depan rumahnya.
Memory lama yang tak akan pernah dia lupakan adalah mobil Jeep yang keluar dari halaman rumahnya, tepat dihari kematian orang tuanya.
Lalu ditambah pria di depannya ini menangis dan memeluknya, apakah dia merasa bersalah?
Wasabi melepaskan pelukannya dan menatap tajam wajah Setya yang terlihat sedih.
"Aku baru menyadari mobil Jeep yang terparkir di depan rumahku. Apakah itu milik Anda?" tanya Wasabi tiba-tiba
"Ahh. Iya mobil itu milikku. Mobil itu sudah sangat lama usianya," ucap Setya
Tangan Wasabi mengepal. Dendam yang dia pendam keluar dari dengan cepat. Kemarahan pun meluap. Terpancar dari sorot matanya. Ada api amarah yang hendak meledak.
Debuug
Wasabi lalu meninju wajah Setya tanpa bertanya lagi. Dan tanpa mencari tahu.
"Ahh! Kenapa kamu memukul Saya!. Apa salah Saya?"
"Masih tidak mau mengaku juga.. Haah rasakan ini...," Wasabi langsung menendang Setya. Tendangan melayang ke perut. Setya merasakan sakit yang luar biasa.
Debagg
Sekali lagi tinju melayang ke arah wajah Setya, mengenai hidungnya dan berdarah. Setya memegang hidungnya yang terasa sakit akibat terkena pukulan
Ciiaaat
Wasabi melayangkan tendangan bertubi-tubi ke badan Setya hingga terjatuh. Tapi Setya membiarkannya. Dia pasrah dan tanpa perlawanan.
Wasabi meraih kerah baju Setya dan menariknya memaksa pria didepannya itu untuk berdiri.
"Bangun...!" pekik Wasabi dalam keadaan emosi
"Katakan kenapa kamu membunuh orang tua ku haah!" tuduh Wasabi tanpa bukti
"Aku tidak membunuh orang tua mu!"
"Bohong...!" Wasabi berteriak keras tepat di wajah Setya "Kamu kira aku bodoh!"
"Cepat katakan! Atau kamu mau mati ku tembak tepat di rongga mulutmu. Hingga tenggorokan mu pecah dan merasakan panas yang luar biasa. Tak dapat bicara. Sesak nafas dan mati," gertak Wasabi masih dalam keadaan emosi dan lepas kendali
"Jangan! Kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin," ucap Setya
"Cukup. Aku tak punya waktu untuk basa-basi," desis Wasabi lalu mengeluarkan pistol dari jaketnya dan menodongkan ya ke jidat Setya.
"Mau ku tembak di bagian mana?" tanya Wasabi
"Jangan Wasabi. Kamu akan menyesalinya jika melakukan itu," pinta Setya tak langsung mengatakan
Tanpa berfikir panjang Wasabi menarik pelatuknya. Setya memejamkan mata dan terpaksa mengakui kebenarannya.
"Aku tidak membunuh orang tua mu. Mana mungkin aku membunuh orang yang aku cintai. Alma adalah mantan istri ku," ungkap Setya
"Apa maksudmu!"
"A-A-Aku Ayah biologis Mu,"
Mata Wasabi terbelalak lebar. Dia terkejut mendengarnya. Antara percaya atau tidak.