
Wasabi mulai mengusut kasus Joy, dia yakin kalau penculikan tersebut sudah direncanakan. Bukan suatu kebetulan. Ia mengambil ponselnya kemudian menelepon Joy.
Saat Wasabi mengetik nomer telepon Joy yang ia ingat di luar kepala. Ada sesuatu yang membuat Wasabi bergetar, hingga tangannya ikut gemetar, belum lagi rasa debaran di dadanya.
Ish Wasabi ini cuma Joy sampe segitunya. Stop gemetar, rileks, batin Wasabi
"Hallo Joy," ucap Wasabi dari seberang telepon
"Hai Wasabi,"
Deg Deg Deg Deg
Jantung Wasabi semakin berdegup kencang ketika mendengar suara Joy.
"Ada yang ingin ku tanyakan mengenai penculikan yang terjadi padamu tempo hari,"
"Ok. Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Joy
Tapi belum sempat Wasabi melemparkan pertanyaan., Ray langsung merebut ponsel Joy yang sedang meneleponnya.
Ray mematikan sambungan teleponnya dan mengantongi ponsel Joy
"Hey, kembalikan ponsel ku! Kamu sangat tidak sopan!" pekik Joy
"Kamu tidak seharusnya berbicara dengan Wasabi," ucap Ray dengan nada keras lalu pergi melangkah keluar dari toko tersebut dengan membawa baju setelan untuk acara mereka nanti.
"Kita sudah selesaikan? Ayo pulang. Akan ku kembalikan saat di rumah," ujar Ray
"Hey tunggu! Aku gak mau pulang sebelum Kamu mengembalikan ponselku!" pekik Joy masih mengejar Ray menuju luar parkiran, karena Ray memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari halaman parkir toko.
"Ya sudah kamu pulang jalan kaki," sahut Ray meninggalkan Joy. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil. Kemudian pergi melajukan mobilnya. Sementara Joy masih berada di depan toko itu.
"Ih Ray...! Sialan kamu!!" geram Joy
Disisi lain, Wasabi sempat mendengar keributan suara Joy dengan seorang pria sebelum sambungan telepon di matikan
"Sepertinya ponsel Joy direbut lalu dimatikan, siapa yang merebut ponselnya," gumam Wasabi yang sedang duduk di teras rumah Dokter Lee
Pria itu langsung mengecek lokasi keberadaan Joh dari lokasi GPS ponsel Joy, lokasi nya terus berjalan.
Mungkin Joy sedang berada di dalam mobil, batin Wasabi
Whuus
Wasabi segera ke lokasi Joy yang ada di GPS. Tak berapa lama Wasabi sudah berada di dalam mobil Ray.
"Jalanannya rata, kenapa seperti ada gempa ya?" gumam Ray
Mana Joy? Ponselnya ada disini, batin Wasabi yang saat itu melihat ponsel milik Joy di atas dashboard mobil.
Ponsel yang khas karena casing buatan khusus dari batu Ruby asli dengan pecahan bath kecil-kecil.
Wasabi juga melihat paper bag yang bertuliskan Weddingku yang berada di samping kursi kemudi
"Aku kembali ke toko itu gak ya, kasian Joy. Aku kembali aja deh," ucap Ray bicara sendiri.
Namun Wasabi yang mendengarnya jadi naik pitam
Perlu di hajar dia, berani ninggalin Joy, batin Wasabi
Wasabi pun menjitak kepala Ray dengan keras. Ray mengeluh dan berteriak keras sambil melihat kearah belakang kursi. Namun tidak ada siapapun.
Dengan jahil Wasabi membuka kaca jendela di kursi belakang lalu menutupnya lalu membukanya lagi membuat Ray ketakutan.
Dan hal terakhir yang Wasabi lakukan adalah menarik setir kemudi Ray ke arah kiri lalu menahannya hingga mobil tersebut sampai berbelok terus ke arah kiri . Ray berusaha membanting setir ke kanan untuk mensejajarkan kemudi tapi setirnya begitu keras dan terus membanting arah ke kiri, hingga akhrinya mobil Ray menabrak pohon di trotoar. Wasabi langsung menghilang menuju ke Toko Weddingku.
Ray keluar dari mobil dan melihat bagian depan sedikit penyok. Untung saja Ray bisa mengerem mobilnya jika tidak mungkin akan rusak parah. Setelah mengeluh, Ray masuk kembali ke dalam mobil dan berputar arah menuju toko, tempat dia meninggalkan Joy. Ia ingin marah tetapi marah kepada siapa karena dia sendiri tidak tahu harus marah dengan siapa
"Taksi gak lewat-lewat lagi. Wasabi mau nanya apa ya? Wasabi apa kamu bisa mendengar ku??" ucap Joy berbicara sendiri seperti orang gila
Tak berapa lama Wasabi muncul di belakang Joy.
"Ya, aku bisa dengar," ucap Wasabi membuat Joy sedikit terloncat
"Hah, kamu seperti setan," sahut Joy sembari melihat ke arah belakang.
Wasabi berdiri di belakang Joy, keduanya saling menatap dengan tatapan canggung
"Haha.. Joy, ku antar pulang yuk?" tawar Wasabi
"Naik apa? Teleportasi lagi?" ucap Joy seraya menaikkan kedua alisnya
"lya," jawab Wasabi singkat
Belum sempat Joy berkata lagi , Wasabi sudah menggenggam tangan Joy dan langsung berteleportasi. Orang yang berada di depan toko tersebut tidak menyadari saat Wasabi dan Joy menghilang.
Cliing...
Tak berapa lama Wasabi dan Joy sudah berada di depan rumah Joy.
"Wasabi. Kalau orang-orang disana tadi, lalu melihat kita yang tiba-tiba menghilang bagaimana?" Joy panik
"Buat apa mikirin orang lain," jawab Wasabi dingin
"Joy sudah hampir sore aku tidak akan lama. Ada yang ingin ku tanyakan," sahut Wasabi to the point
"Oke, kita bicarakan sambil duduk,"
Mereka duduk di kursi teras depan. Lagi-lagi perasaan canggung menghampiri keduanya. Anehnya Joy yang terbiasa agresif malah mati kutu setelah tahu perasaan Wasabi padanya.
"Hem kamu ingin menanyakan apa? Maaf ponselku tadi direbut Ray," ucap Joy
"Soal itu tidak masalah. Begini, pertanyaannya simple sih. Saat menjual mobil, apakah ada orang yang menyuruhmu untuk lewat ke arah pertokoan itu?" tanya Wasabi
"Ah iya. Ada salah satu karyawan yang bilang, kalau beberapa meter ke depan. Ada rumah yang disewakan. Karyawan itu juga mengatakan kalau berjalan kaki melewati pertokoan, makan akan lebih cepat sampai.Dia juga mengarahkan aku, blok-blok pertokoan mana yang aku harus ku lalu,"
"Dengan kata lain dia menuntunmu agar berjalan sesuai dengan arahan dia?"
"Iya sepertinya begitu. Tapi tak disangka aku malah bertemu seseorang dan menculik aku," ucap Joy
"Seperti apa ciri karyawan itu? orang yang mengarahkanmu itu?" tanya Wasabi lagi
"Dia gendut dan id card yang menempel di sakunya bertuliskan nama dan posisi dia. Aku sedikit lupa tapi kalau tidak salah namanya Aceng, posisinya sebagai Sales Manager, sahut Joy
"Apakah ada yang aneh? Dari gerak-gerik atau apakah ada yang mengikuti mu saat itu?"
"Aku tidak memperhatikan keadaan sekitar, karena saat itu pikiranku entah kemana-mana,"
"Apa nama toko tempat kamu menjual mobil itu?"
"Toko Makmur Mobil" lalu dibawahnya ada keterangan "Jual-Beli Mobil Bekas"
"Joy, bisakah kamu ceritakan, seperti apa kejadiannya hingga kamu mengambil keputusan untuk kabur?"
"Wasabi kamu ingin mencari tahu pelaku penculikan atau kamu ingin tahu tentang urusan pribadiku?" tanya Joy
Sial kenapa dia bisa tahu, batin Wasabi
Wasabi menatap Joy, sebenarnya dia ingin sekali tahu, apa alasan Joy kabur dari rumah dan apa yang terjadi dengannya saat itu. Tetapi Wasabi memilih diam
"Saat itu keluarga Riyan sedang bertamu dan itu kesempatan ku untuk menggagalkan perjodohan. Aku dan Rendy memerankan sebuah drama seolah-olah aku dan dia berkencan dan mabuk-mabukan. Aku sampai meminum minuman alkohol agar drama ku benar-benar real.
Aku dan Rendy masuk Seolah-olah aku habis kencan dengan Rendy belanja banyak dan mabuk," cerita Joy
"Lalu Orang tua Riyan marah dan memutuskan pertunangan. Aku senang tapi Ayah marah, dia memukul ku sampai mengusirku. Aku terbawa emosi dan langsung pergi dari rumah itu,"
"Lalu apa reaksi Riyan melihat itu?"
"Dia membela ku dan tidak ingin pertunangan itu di batalkan. Tapi orang tuanya bersikeras membatalkan lalu mereka pergi dengan perasan kecewa dan marah,"
"Riyan tidak ingin pertunangan kalian batal. Apakah dia pernah menyinggung atau berbicara tentang pertunangan kalian sebelumnya?" tanya Wasabi
"Dia pernah bilang, jika nanti dia dan aku resmi menikah, maka dia akan fokus memegang perusahaan Ayahnya,"
Mungkin ini bisa dijadikan alasan Riyan membenci Joy, tetapi penculikan itu terjadi begitu cepat. Tidak mungkin direncanakan secara dadakan. batin Wasabi.
"Joy apa kau punya musuh, atau seseorang yang tidak senang dengan dirimu,"
"Haha, jangan tanyakan itu. Kamu tahu sendiri kan aku di kampus bagaimana? banyak yang membenciku. Termasuk kamu, kamu juga pernah membenci ku saat itu,"
Wasabi tersenyum merasa tidak enak hati.
"Wasabi, Alice menyukai mu. Kenapa tidak kau pacari saja dia," sahut Joy
"Kita sedang membicarakan permasalahan mu kenapa tiba-tiba ada Alice di pikiranmu,"
"Saat kamu bilang ada orang yang membenciku. Nama Alice muncul begitu saja. Dia...dia sempat mengatakan kalau dia akan merebut hatimu. Saat itu aku tak mau kalah. Lalu dia memutuskan persahabatan kami begitu saja,"
"Dan sekarang kamu mengalah begitu saja?" Wasabi memutar pertanyaan namun Joy hanya diam, suasana menjadi canggung kembali.
"Aku pergi dulu Joy, aku akan menyelidikinya lebih lanjut," Wasabi pamit lalu beranjak dari duduknya dan mulai melangkah pergi
"Wasabi," panggil Joy
Wasabi berbalik dan Joy berjalan mendekatinya. Gadis itu mencengkeram kerah Wasabi dan menariknya dengan pelan hingga wajah mereka berdekatan.
"Aku menarik ucapanku, aku tidak akan mengalah. Kamu milikku, dan aku tidak akan memberikanmu pada siapapun,"
"Haha Aku bukan barang Joy," ucak Wasabi setelah itu Joy langsung mencium bibir Wasabi
Wasabi terkejut, jantungnya semakin berdetak kencang. Dia mulai membalas ciuman Joy. Tangan kiri Wasabi menarik pinggang Joy untuk mendekat dengannya. Dan tangan kanan Wasabi menyentuh tengkuk Joy.
Kecupan-kecupan kecil berubah menjadi cumbuan hasrat yang menggairahkan gelora jiwanya
Lalu mereka berhenti berciuman, saling menatap. Seakan berbicara dari hati ke hati jika keduanya saling mencintai
"Mmm Wasabi...Aku...," Joy ingin mengutarakan hatinya, meskipun pria itu sudah tahu.
"Joy, Aku cinta Kamu. Jangan pernah berpaling ke lain hati," ucap Wasabi.
Deg....Deg...Deg...
Jantung Wasabi berdebar kencang, begitu juga dengan Joy. Meski sebelumnya Wasabi pernah mengutarakan hatinya tetapi berbeda jika dikatakan disaat itu. Saat Joy akan bertunangan dengan orang lain seakan pernyataan cinta itu seperti ucapan terakhir.
"Aku juga mencintaimu," ucap Joy dengan tersipu malu
Deg..Deg..Deg..
Joy dan Wasabi saling menatap lekat satu sama lain saling membalas senyuman. Wasabi membelai pipi Joy yang merona merah. Lalu sebuah tepukan tangan terdengar.
"Very Nice," sahut Ray masih terus bertepuk tangan
"Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan?" ucap Ray
"Ehemm... Joy masuk," ucap Samy, Daddynya Joy yang langsung membuka pintu rumahnya
Rupanya ciuman mereka tadi di lihat oleh Ray dan Daddynya Joy. Wasabi masih bersikap tenang. Sedangkan Joy sudah salah tingkah.
"Pak Samy maaf jika tadi saya dengan lancang mencium Joy. Saya mencintai dia, jangan salahkan Joy soal ini," ucap Wasabi
"Hmm Saya terima maaf mu," Samy menatap tajam dan tidak senang meskipun di mulut ia berucap memaafkan.
"Terimakasih pak," sahut Wasabi seraya menunduk
"Om kenapa Om maafkan dia. Dia sudah mencium tunangan saya,"
"Pertunangan kalian akan resmi nanti malam kan? Semua orang tahu siapa yang memulai ciuman tadi,"
Joy merasa kikuk
"Hemmm Wasabi sebaiknya kamu pulang saja. Aku mau bersiap untuk acara nanti. Bye..., " ucap Joy mengalihkan pembicaraan
"Okay, kalau begitu aku pulang ya," pamit Wasabi pada Joy kemudian dia berpamitan dengan Daddynya Joy, "Terimakasih Pak Samy, Saya permisi pulang,"
"Wasabi, berhati-hatilah. Saya harap kamu segera menemukan orang yang ingin mencelakai Joy," ucap Samy yang tidak bisa memarahi Wasabi.
Biar bagaimanapun, Samy berhutang budi pada Wasabi karena menyelamatkan Joy saat gadis itu tenggelam.
"Saya akan berusaha. Terima kasih,"
Wasabi pergi berjalan ke depan pagar rumah dan mulai menghilang berteleportasi
"Ray, sebaiknya kamu juga pulang. Biar acara nanti malam, kamu tidak terlalu lelah," sahut Samy
"Iya Om, Saya juga permisi. Ini bajunya Joy," sambil menyerahkan paper bag bungkusan yang berisi baju milik Joy. Sedangkan miliknya ada di dalam mobil
"Hey mana ponsel ku?!" pinta Joy dengan nada bicara ketus
"Nih, nomer Wasabi sudah ku hapus," ucap Ray seraya menyerahkan ponsel milik Joy.
"Hapus saja, Aku sudah hafal nomernya weeek," ucap Joy sambil mengejek lalu masuk ke dalam rumah
"Joy...!" panggil Samy seraya menggeleng kepala.
"Maaf ya Ray, maklumlah kalian masih belum saling mengenal tapi lama-lama kalian juga akan saling mencintai," ujar Samy
Ray kemudian pamit pulang dan berlalu pergi. Sementara Joy tertawa sendiri, bahagia, senang campur aduk. Hatinya sedang berbunga-bunga
"Hihi Astaga Wasabi... Dia mengakui cintanya pada ku, di hadapan Daddy, kenapa Daddy tidak marah ya. Ahh Wasabi. Andai saja orang yang ditunangkan dengan ku itu adalah kamu," ucap Joy pada dirinya sendiri sambil terkekeh geli
Samy melihat kebahagiaan Joy yang bertingkah kegirangan sambil tertawa-tawa sendiri dikamar.
Apakah aku terlalu egois. Joy dan Wasabi ternyata saling mencintai. Wasabi orang yang baik dan bisa melindungi Joy. Tapi semua sudah terlambat. Semoga pilihan Daddy kali ini terbaik buatmu," batin Samy