
"Arghh," Wasabi mulai mengeluarkan lenguhan suara.
Matanya masih terpejam tetapi dahinya sudah mengerut karena ada yang sakit di belakang punggungnya juga sedikit luka pada bagian kepala. Sebentar lagi pria itu akan membuka matanya
"Dia mulai sadar," bisik Arga
"Soal tadi tolong tetap rahasiakan, jangan katakan apa yang tadi ku bilang," ucap Setya
"Baik Pak Setya. Jika Anda butuh bantuan, hubungi saja saya. Dengan senang hati saya akan membantu. Kalau begitu saya pergi dulu, mau urus soal mafia tadi," pamit Arga yang kembali memakai kata 'Saya'
"Terimakasih atas bantuannya. Jangan bilang yang lain kalau saya yang memberitahumu soal mafia itu," ucap Setya juga memakai kata Saya, sebenarnya karena tidak terbiasa menggunakan kata 'Aku' saat mereka masih bekerja bersama dulu
"OK," ucapnya berbisik sambil mengisyaratkan dengan tangannya tanda setuju. Kemudian dia pergi menutup pintu.
Wasabi mulai membuka mata.
Dia terkejut karena orang yang ada di depannya kini adalah orang yang pernah ia lihat saat di dalam laboratorium. Wasabi kemudian beranjak dengan cepat. Tapi punggungnya masih terasa sakit.
"Siapa Anda?"
"Jangan banyak bergerak, kondisimu masih belum stabil. Tenanglah. Saya akan menjelaskan semuanya,"
"Ok tapi hubungi dahulu temanku, Aku ingin memberitahukan padanya bahwa aku masih hidup," ujar Wasabi
"Baik, silahkan ini handphone Saya," ucap Setya
Wasabi kemudian menghubungi Andi dan Emi.
Andi begitu senang mendengar kabar dari kawannya itu, setelah dari kemarin Andi mencarinya dengan tim satuan khusus yang dikerahkan Tuan Paldo, tetapi tidak ada yang menemukan Wasabi
"Wasabi bagaimana keadaan mu. Terluka parahkah atau lecet kah. Butuh nafas buatan lagi kah. Katakan wasabi," ucap Andi
"Stop. Aku tidak mau nafas buatan dari mu. Saat ini Aku baik-baik aja. Hanya sakit bagian punggung saja. Kalau keadaanku sudah membaik aku akan pulang," ucap Wasabi
"Bagaimana keadaan Desi," timpalnya lagi
"Alhamdulillah kalau baik-baik saja. Aku juga ga mau ngasih napas ku lagi, so gak usah kepedean. Cie cie cie mikirin Desi. Keadaan Desi baik. Dia sudah ditangani oleh psikiater untuk menghentikan candu depresi," ucap Andi
"Hmm baguslah,"
"Segeralah pulang, Tuan Paldo ingin berterimakasih dan dia ingin segera bertemu dengan mu. Akhirnya misi kita selesai Wasabi. Nyonya Mayang dan para mafia telah ditangkap. Ada polisi yang ikut membantu menangkapnya, tidak tahu siapa yang melaporkan mereka," ucap Andi
Saat Andi mengatakan ada polisi yang menangkap, Wasabi langsung melirik orang yang duduk di samping ranjangnya.
Apa orang ini polisi? batin Wasabi
"Kamu salah Wasabi, mau ku kasih tahu gak dia siapa?" sela Author
"Hush-hush author ngetik aja gak usah ikut drama," cibir Andi
Akhirnya author kembali ngetik.
"Aku lega mendengarnya. Ambillah liburan dengan Emi. Aku disini bersama dengan orang baik," ucap Wasabi yang sebenarnya dia tidak tahu apakah orang didepannya baik atau tidak, dia berkata seperti itu agar Andi dan Emi tidak berpikiran buruk.
"Ok, tapi mana bisa liburan, aku ga bawa uang banyak ni. Yaudahlah kita tunggu kamu aja. Semoga lekas membaik," ucap Andi
Wasabi menutup telponnya dan memberikannya kembali ke Setya.
"Terimakasih," ucap Wasabi
Kemudian Wasabi merogoh kantongnya dan memberikan sampel obat ke Setya, obat yang sempat dia ambil saat di tempat mafia.
"Anda belum bilang siapa Anda? dan Apakah Anda tahu jenis obat apa itu. Saya tidak sengaja menelannya beberapa butir. Dan berefek sangat hebat," ujar Wasabi
"Dan juga saya bisa membaca fikiran orang lain. Sungguh hebat. Tapi sekarang sepertinya efek itu sudah hilang. Karena pandangan saya kembali normal dan Saya tidak dapat membaca pikiran Anda," ujar Wasabi
"Saya yang menolong mu dari kobaran Api. Mereka menciptakan obat khusus yang diberi nama Formula CR A2. Obat pembaca pikiran dan juga ketangkasan. Pemakai akan menjadi tangkas dan hebat jika meminumnya. Tetapi efeknya akan hilang dalam enam jam kedepan," ucap Setya yang sedikit tahu mengenai crystal tersebut.
"Obat ini ilegal, tidak memiliki ijin. Pemasok dana terbesar dalam pembuatan obat itu adalah Nyonya Mayang," jelas Setya
"Nyonya Mayang? Sepertinya Anda tahu banyak tentang dia,"
"Tidak banyak, hanya sedikit. Sebenarnya Mayang hanyalah pion. Dia membantu Mayang untuk membalaskan dendamnya pada Paldo. Kemudian sebagi imbalannya Mayang harus memberikan dana yang besar kepada Ratu Ratih,"
"Lalu kenapa Ratu Ratih menangkap saya juga?" Tanya Wasabi
"Itu karena Saya yang menyuruhnya untuk mencari mu. Saya tidak tahu kalau ternyata saat itu kamu juga menyelidiki kasus penculikan Desi. Saya marah kepada Ratu Ratih karena dia melukai mu. Sehingga saya tidak ingin membayarnya,"
"Apakah itu ulah mafia juga saat perjalanan ke Bali pesawat yang saya tumpangi bermasalah?" tanya Wasabi
"Ya mereka mengatakan mereka ingin mengambil alih kemudi namun gagal malah menyebabkan pesawat itu jatuh,"
"Jelaskan semuanya, kenapa Anda mencari saya dan kenapa saat itu saya berada di dalam kapsul. Apa Saya ditangkap karena ingin di jadikan bahan percobaan?" selidik Wasabi
"Kamu terluka dan Saya membawamu ke Dr. Lee untuk mengobati luka itu. Sebenarnya Dr. Lee hanya menerima kerjasama yang menguntungkannya. Sehingga saya terpaksa berbohong bahwa saya menginginkan kekuatanmu. Dan untuk mendapatkan kekuatan utuh, kamu harus sembuh dahulu. Saya hanya ingin kamu sembuh karena senjata itu berbahaya. Mereka berhasil mengeluarkan racun yang masuk kedalam tubuhmu lewat senjata itu," ungkap Setya
"Saya sempat cemas. Kalau-kalau kekuatanmu diambilnya. Makannya saya ke lab lagi saat itu untuk memastikan kondisimu. Saya menduga jika kamu memiliki kekuatan special. Tak disangka dugaan itu benar, maka dari itu penanganan nya pun harus khusus," timpalnya lagi
"Lalu Anda sendiri siapa dan kenapa Anda sepertinya mengenal Saya?"
"Oh maaf Saya lupa memperkenalkan diri. Saya Setya, teman lama orang tua mu," ucap Setya yang tidak berani mengakui dirinya jika dialah Ayah biologis Wasabi
"Hah? Anda kenal dengan orang tua Saya?"
"Saya sedikit banyak mengenalmu, dari surat orang tuamu. Ketika saya menerima surat itu, kedua orangtua mu telah tiada," Setya malah menambah kebohongan
"Saya mencarimu tetapi saya hilang jejak, sehingga saya meminta bantuan para Mafia. Alasan saya mencarimu adalah untuk menemukan siapa pembunuh orang tuamu. Bukan untuk mencelakai kamu. Saya masih yakin mereka tidak bunuh diri, tetapi dibunuh," ungkap Setya
"Sekarang kita sudah bertemu, apa yang Anda inginkan dari Saya? Bagaimana caranya menemukan pelakunya?"
"Karena kita sudah bertemu, maka marilah bekerjasama untuk menemukan siapa pelakunya. Apa Kamu mau?"
"Tentu, Saya mau dan bersedia. Sudah lama Saya ingin mengungkap kasus itu. Tapi Saya terlalu kecil dan akhirnya pencarian buntu,"
Setya menganggukkan kepala tanda ia mengerti keadaan Wasabi, ingin sekali dia memeluknya namun biarlah dia pendam dahulu rasa rindunya. Belum saatnya.
"Baiklah, ayo kita ungkap kebenaran bersama," seru Setya
Setelah itu mereka pun banyak berbincang, Setya lalu menanyakan kemana Wasabi pergi setelah kematian orang tuanya. Wasabi bercerita jika kakeknya dari Bali datang setelah mendapatkan kabar dari kepolisian. Setelah itu sang kakek membawanya untuk tinggal di Bali
Pantas saja Aku kehilangan jejakmu, batin Setya
"Mari kita berjabat tangan untuk mengusut kasus kematian Orang Tuamu, Pak Ken dan Ibu Alma,"
"Semoga kita bisa mengusutnya," Wasabi menjabat tangan Setya yang sebenarnya adalah Ayah Kandungnya
Saat berjabatan tangan, Wasabi merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya. Perasaan tenang, ia pun berpikir mungkin ini pertanda baik karena ada yang perduli dengannya
"Jujur saya tidak tahu kasus apa yang sedang diselidiki orang tua saya saat itu. Sepertinya kasus itu sangat berbahaya,"
"Saya akan menceritakan semua yang saya ketahui. Tapi sebaiknya kita makan dahulu,"
"Haha pantas saja saya merasa lapar. Sudah malam dan saya belum makan sedari siang. Hanya sedikit burger dan itu tidak mengenyangkan," ucap Wasabi