Detective Wasabi

Detective Wasabi
Penangkapan



"Alice. Kamu, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Wasabi


"Aku mau mengunjungi temanku. Dia menginap di sini lalu aku mendengar ada yang berteriak," sahut Alice sementara Wasabi sedikit curiga


"Lalu setelah itu kamu langsung kesini? Memangnya dikamar berapa?" tanya Wasabi


"lya. Aku langsung berlari cepat kemari. Kamar temanku di pojok sana," ucap Alice sambil menunjuk


"Temanmu siapa? Apa aku mengenalnya?"


"Namanya Jue tetanggaku dulu waktu di Bali," jawab Alice


"Wasabi, Aku tidak tahu kalau kamu punya kekuatan. Kekuatan apa itu? Apa yang kamu miliki," tanya Alice mengalihkan perhatian


Wasabi tidak menjawab, tubuhnya masih basah dan dia sedikit kedinginan.


"Tapi tolong jangan sampai kamu jadi pembunuh, Wasabi,' ujar Alice


"Maaf kalau membuatmu takut. Hemm Alice, pakaianku sedikit basah. Bisakah aku meminjam pakaian temanmu itu? Dia disini kan?" pinta Wasabi


Wasabi berterimakasih karena Alice telah mengingatkannya. Tetapi ia menaruh curiga pada Alice, karena terlihat berkeringat, arah pandangannya cenderung melihat ke kanan, dan mata Alice berkedip cepat. Sehingga alasan ganti pakaian sepertinya tepat.


"Ah.. Itu dia, aku kesini tapi dia malah pergi," sahut alice


"Darimana kamu tahu dia pergi. Katamu, begitu sampai disini. Kamu mendengar orang berteriak, dan langsung lari kemari," selidik Wasabi dengan menaikkan satu alisnya


"Astaga Wasabi. Jaman now gitu. Jelas aku nelepon dia dulu lah. Baru aku mendengar dia berteriak," Alice mulai memainkan banyak gerakan tubuh terutama tangan. Wasabi memperhatikan


"Aku boleh pinjam ponselmu? Aku harus menelepon Inspektur Hendra. Ponselku rusak tercebur saat aku menolong Joy," ucap Wasabi


"Oh iya sebentar....eh apa? Joy? Menolong bagaimana maksud kamu?" tanya Alice setelah menyadari ucapan Wasabi


Alice sambil mencari ponselnya di dalam tas. Dia membuka resleting utama kemudian membuka resleting lagi di bagian dalam tas. Dia sedikit susah mengeluarkannya. Dan Wasabi memperhatikan kesalahan itu. Dia hanya tersenyum kecil.


Wasabi menetralkan kembali tubuh Mr. Vin yang terkena setruman hingga pingsan. Tak berapa lama Vin tersadar. Dia pun masih lemah.


"Aku mengira kalau aku sudah mati tersetrum olehmu," ucap Vin


Sedikit terkejut dengan kedatangan Alice. Alice pun memberi isyarat lewat matanya


Wasabi lalu membawa Vin masuk ke dalam kamar. Di dudukan nya Mr. Vin di kursi dan memborgol tangan kanannya dengan lengan kursi. Wasabi selalu sedia borgol di saku celananya.


Pria itu juga menyuruh Alice masuk dan duduk disamping Mr. Vin sedangkan Wasabi sendiri duduk di kasur empuknya.


"Hey kamu tidak keberatan kan kalau ku pinjam bajumu," ujar Wasabi sambil membuka koper milik Vin, Wasabi mengganti baju nya yang basah dengan baju pria itu.


"Itu namanya tidak sopan,"


"Thanks....Siapa namamu?" Wasabi mengabaikan ucapan Vin dan bertanya


"Mr. Vin," ucap Vin


"Hmmh Vin...," dengus Wasabi mengulangnya tanpa memakai embel Mister.


"Alice ku harap kamu tak menyembunyikan sesuatu,' Wasabi menoleh pada Alice sambil mengancing baju kemejanya.


"Begitu susah nya kamu mengeluarkan ponsel. Dan pasti sebaliknya, menaruh ponsel pun, juga akan susah. Terutama menutup resleting yang ada di bagian dalamnya. Begitu bukan. Di tambah kamu bilang sambil berlari," jelas Wasabi


"Dan isyarat mata itu, memangnya aku bodoh. Aku malah semakin berfikir kamu ada kaitannya dengan penculikan ini," ungkap Wasabi


"Wasabi tapi memang aku habis menelepon Jue tadi. Aku sungguh tak ada hubungan dengan penjahat ini," ucap Alice


"Boleh aku lihat ponselmu?" pinta Wasabi


Alice memberikan ponselnya dengan ragu.


"Kenapa riwayat panggilannya kosong?" tanya Wasabi


"Aku juga tidak tahu. Mungkin terhapus saat aku terburu-buru memasukkannya ke dalam. Astaga wasabi. Kamu sahabatku, kenapa kamu tidak percaya padaku?" protes Alice


Wasabi tak menjawab perkataan Alice, dia lalu menelpon Inspektur Hendra untuk mengirimkan anak buahnya ke Hotel Park.


"Bisakah kita berdamai," ucap Vin


"Kamu cari mati?"


"Tidak-tidak," ucap Vin segera sedikit takut jika Wasabi menyetrumnya lagi


"Ada laporan sebelumnya dua gadis remaja menghilang Dimana gadis yang kamu tangkap sebelumnya," tanya Wasabi


"Aku tidak tahu. Dua gadis itu sudah berada ditangan pembeli," jawab pria itu


Wasabi mendekat dan menarik rambut Mr. Vin dengan kuat.


"Argh itu sakit. Bisa kau lepaskan!" teriak Vin


"Kamu memperlakukan Joy seperti ini bukan?" ucap Wasabi menerkanya


"Jadi si cantik itu namanya Joy," sahut Vin


Wasabi pun memberikan sedikit setruman, entah kenapa mungkin dia cemburu


"Ampun-Ampun,"


10 menit kemudian beberapa anggota kepolisian datang untuk mengamankan Vin dan klien yang ditipu pria itu


Alice memegang tangan Wasabi, "Wasabi aku tak ingin dibawa. Aku takut dengan orang tuaku, mereka pasti mengira aku jahat,"


"Kamu hanya perlu memberikan keterangan disana,"


"Kenapa harus disana? Kamu bisa menanyai ku disini,"


"Akan berbeda suasananya jika dikantor polisi. Disana juga semua laporan diketik dan direkam. Jadi tidak sembarang dalam menerima informasi yang diberikan. Maaf jika aku menekanmu dan membuatmu takut. Jika kamu tidak salah tidak usah takut," Wasabi mencoba menenangkan Alice.


Wasabi juga tidak ingin asal menuduh jika tak ada bukti. Semua yang dia lihat hanya analisis dugaannya secara pribadi.