
Pukul 10 Malam
Wasabi pulang dengan mengendaral motor menikmati suasana malam. Sudah lama dia tak memakai kendaraan itu dan dia merindukannya.
Tak berapa lama ponselnya berdering. Wasabi menepikan motornya dan mengangkat ponselnya
"Wasabi tolong Aku! Wasabi, Aku takut!" Naimi menelepon dengan menangis ketakutan
"Ada apa Naomi? Kau dimana sekarang!" tanya Wasabi
"Aku di kamar ku. Aku rasa ada orang di rumah ku. Tolong Wasabi. Cepat lah kemari," seru Naomi
Wasabi segera kerumah Naomi, Dia duduk dan me megang setang kendaraan, lalu menggunakan kekuatan teleportasinya. Dalam sekejap dia sudah berada di depan rumah Naomi.
Wasabi segera memarkirkan motornya dan masuk kerumah Naomi dengan kekuatan tak terlihatnya.
Sepi tak ada siapapun. Kata Wasabi dalam hati
Wasabi berkeliling rumah Naomi. Tapi Dia tak menemukan apapun. Ia melihat hiasan dinding yang kebanyakan prestasi Naomi. Penghargaan yang diraih Naomi banyak sekali. Wajar saja dia pernah mendapatkan prestasi pendidikan di luar negri
Wasabi mencari letak kamar Naomi. Tapi Dia malah masuk ruangan yang penuh dengan lukisan.
Aku heran kenapa orang-orang disekelilingku sangat menyukai lukisan batin Wasabi
Setelah merasa aman. Wasabi menelepon Naomi dan menyuruhnya keluar dari kamar.
"Benarkah sudah aman?"
"Iya keluar lah!" ucap Wasabi "Aku ada di ruang lukisan,"
"Oh kamar ku diseberang ruangan itu. Sebentar aku keluar," Naomi keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Wasabi erat.
"Wasabi, Aku takut. Jika pelaku itu datang kemari lagi bagaimana,"
"Tak ada siapapun disini. Kunci pintu dan jendela. Agar dikira tak ada orang dirumah ini. Lalu mati kan lampu," sahut Wasabi sambil melepaskan pelukan Naomi
"Naomi bisakah Kau melepaskan pelukanmu. Aku tak nyaman,"
"Kau tinggal lah disini. Ku mohon," Naomi terus memeluknya erat
"Tidak bisa Naomi. Atau jika Kau mau akan ku suruh Emi menemanimu,"
"Hemm Aku tak suka cara Emi menatapku. Sepertinya dia membenciku,"
"Dia tak seperti itu. Emi orang yang bersahabat. Naomi, Aku tak bisa bernafas. Lepas kan pelukanmu. Atau Aku akan bertindak kasar," ucap Wasabi
Naomi masih belum melepaskan pelukannya. Wasabi pun terpaksa mendorongnya dengan kasar.
Naomi terdorong ke meja yang penuh perlengkapan melukis. Hingga beberapa cat, dan kuas terjatuh.
"Ahh sakit Wasabi," lirih Naomi
"Maaf Naomi, Aku bertindak seperti itu karena Kau tak mendengar kan ku. Jangan sampai karena kelakuan mu ini, membuat ku tak bersimpati lagi padamu," ujar Wasabi dengan tatapan dinginnya
Naomi terdiam, air matanya sudah menggenang dan menunggu untuk jatuh.
"Apakah Aku salah jika Aku menginginkanmu untuk menemani ku malam ini disini," sahut Naomi pelan
"Aku masih ada urusan. Ikuti saranku. Kunci semua pintu dan jendela. Masuk kamar dan tidur lah. Jika sesuatu terjadi Kau bisa menghubungi polisi atau menghubungiku kembali,"
Naomi terdiam, air matanya sudah menggenang dan menunggu untuk jatuh.
"Ternyata aku tak penting dimatamu," ucap Naomi menangis
Astaga, lagi-lagi dia mengeluarkan jurus airmatanya. batin Wasabi.
Wasabi tidak suka melihat perempuan yang lemah dan sedikit-sedikit menangis.
"Aku kesepian dan butuh seseorang yang bisa membuat ku aman dan nyaman. Dan orang itu kamu Wasabi, Aku menyukai mu,"
"Jadi Kau meneleponku hanya untuk mendengar kan curhatanmu. Kau memanfaatkan situasi, dan berkata ada orang dirumah mu, agar Aku bisa menemanimu. Sebenarnya tak ada orang lain yang mencurigakan disini bukan?"terka Wasabi
"Apa? Aku tak mungkin melakukan hal..."
"Maaf Aku permisi,"
Wasabi keluar dan mengendarai motornya. Bisa saja dia menghilang dengan teleportasinya saat itu juga. Tapi Wasabi masih ingin menikmati alam di malam itu.
Wasabi.. Aku akan merebut hatimu kembali. batin Naomi lalu mengusap air mata buayanya dan tersenyum mencoba menghibur dirinya sendiri.
Sesampainya dirumah.
"Kau masih ingat rumah?" tanya Setya
"Ayah... Aku lapar,"
"Aku akan membuatkan mie ramen untukmu,"
"Oh.. Ramen lagi..." keluh Wasabi
"Haha.. Hanya itu yang ada dirumah, seharian ini aku direpotkan oleh anak kecil,"
"Sudah lah tak usah Ayah. Aku pesan delivery order saja, " ucap Wasabi
"Kau terlihat lusuh? Darimana?"
"Rumah Naomi,"
"Naomi? Anaknya kiyoshi?"
"Ya, dia berbohong dan berkata kalau ada seseorang yang menyelinap rumahnya. Aku kesana dan mengecek ke seluruh rumah tapi tak ada siapa pun. Dan ternyata dia kesepian dan ingin aku menemaninya,"
"Mungkin saja memang benar ada yang nyelinap. Bukankah Nyonya Cen saat terbunuh pun, tak ada orang tahu," sahut Setya
"Ya menurutku pelaku itu melewati atap atau dari balkon kamar. Dan balkon kecil kamar itu hanya bisa terlihat dari belakang rumah. Belakang rumah Nyonya Cen tertutup bangunan kecil. Sedangkan kamar Nyonya Cen berada di lantai satu. Jadi kemungkinannya pelaku memanjat dari atap bangunan di belakang rumah. Karena dari posisi itulah aman dari segala cctv yang terpasang di rumah Nyonya Cen. Ayah, Aku mendapatkan informasi dari pembantu Nyonya Cen, Dia bilang kalau Nyonya Cen hamil," sahut Wasabi
"Tidak mungkin Wasabi. Jika pun dia hamil, mungkin usia kandungannya sudah 3 bulan atau lebih. Kecuali dia main api dengan pria lain. Tapi kurasa tidak. Aku yakin Nyonya Cen adalah tipe orang yang setia, " ucap Setya
"Dan juga jika pun Nyonya Cen hamil. Laporan mengenal kehamilannya akan tertera di hasil visum,"
"Atau ada seseorang yang memalsukan laporan itu," terka Setya
"Selemah itukah keamanan polisi kita? Atau..."
"Atau apa?"
"Hemm terimakasih Ayah. Kau membuka jalan pikiran ku, "
"Kau selalu saja membuatku penasaran,"
.
.
.
"Hay Wasabi, ku pikir Kau sudah lulus, haha, " sapa Rara
"Hmm belum lah,"
"Habisnya Kau jarang masuk. Kau masuk jika ada ujian. Memangnya siapa yang memberitahumu jika hari ini ujian?"
"Tuh, " ucap Wasabi seraya menunjuk dengan melempar lirikan matanya ke arah Dhifa, teman sebelah Rara
"Ehem pantas saja, ada fans sejati rupanya" Rara menyenggol lengan Dhifa
"Hehe tidak seperti itu, Aku kan teman yang baik. Kita wajib memberitahu teman kita kan supaya dia bisa lulus juga," ucap Dhifa
"Lalu kenapa wajah mu merah seperti itu," tanya Rara
"Terimakasih ya," ucap Wasabi
Tak berapa lama dosen masuk ruangan dan setelah itu kelas kembali hening, mereka mulai mengerjakan soal ujian.
Wasabi mendapatkan bahan ujian dari foto catatan yang dikirim Diva setiap harinya.
Akhirnya ujian selesai juga, Wasabi dapat mengerjakan semua berkat Dhifa. Selesai ujian, kelas bubar. Semua berhamburan keluar kelas. Wasabi pun mengajak Dhifa untuk ke kantin. Rencananya Wasabi akan mentraktir Dhifa namun Gadis itu meminta Rara untuk ikut menemani. Wasabi tak masalah. Malah bagus biar tidak ada gosip yang lain.
Di kantin Wasabi duduk berhadapan dengan Dhifa dan Rara. Mereka memesan makanan. Suasananya terasa canggung. Karena Wasabi tak pernah akrab dengan mereka sebelumnya.
Tak berapa lama pesanan datang. Mereka langsung memakan makanannya. Di samping itu Joy masuk ke kantin dan melihat Wasabi duduk semeja dengan teman perempuannya. Joy terlihat kesal dan langsung melengoskan mukanya.
Seperti biasa Joy duduk bergabung dengan temannya tapi dia hanya memainkan hapenya, diam di pojokan sambil memakan cemilan.
"Joy," Wasabi tiba-tiba duduk di samping Joy
"Hah Kau selalu saja mengagetkanku,"
"Makannya jangan melamun,"
"Mau apa kesini? Nanti pacar mu marah.
"Ya, Aku tahu makannya aku segera kesini biar pacarku gak marah,"
"Siapa yang Kau maksud? Aku? Kita udah putus," Joy mulai jutek
Wasabi hanya melempar kan senyumannya ke Joy. Dan membuat Joy melting.
Wasabi meraih tangan Joy dan mencium punggung tangannya. Membuatnya jadi pusat perhatian mahasiswa lain dikantin itu.
"Kau tahu joy, saat Kau berkata putus, Aku tak pernah mengiyakannya. Hubungan kita akan terus berlanjut. Kau segalanya buat ku. Aku sayang kamu," ucal Wasabi
Semua mahasiswa yang ada di kantin itu bersorak dan membuat Joy tersipu malu. Dhifa dan Rara juga melihat apa yang dilakukan Wasabi.
"Hemm ternyata mereka. beneran sepasang kekasih," ucap Dhifa
"Sudah ku bilang padamu, jangan dibawa perasaan. Habis ini kita pulang saja, toh Wasabi juga sudah membayar semuanya,"
"Hiks.. Aku gak mau pulang, huaaaa aku patah hati Ra..., " ucap Dhifa
"Haha seperti anak kecil saja,"
Kembali ke Wasabi
Astaga Aku tak pernah segombal ini, kenapa aku jadi bucin. Tapi terpaksa, karena aku benar-benar tidak ingin kehilangan Joy, batin Wasabi
"Hemm Joy, Aku ada urusan. Aku pergi dulu," pamit Wasabi
"Mau kemana? Kau tak ingin menemaniku sarapan?"
"Kau belum makan dari pagi! Ini sudah jam 10 pagi Joy?!"
Joy menggeleng lalu Wasabi mengelus kepala Joy. Dan memesankan makanan untuknya
Setelah makanan datang, Wasabi menyuruhnya makan "Makanlah, atau mau ku suapin"
"Haha itu memalukan. Aku bisa makan sendiri. Bagaimana urusanmu?"
"Aku sudah mengantongi nama baru,'
"Pffft. Semoga kali ini Kau tidak mengantongi namaku. Aku ingat betul saat Kau mengantongi namaku dan masuk dalam nama orang yang Kau curigai sebagai terdakwa,"
"Hahaha ya Kau terlihat mencurigakan. Sikapmu tidak menunjukkan ekspresi kehilangan seorang Sahabat,"
"Huh, Aku sedih tapi aku bisa menahannya. Aku tak ingin terlihat cengeng dihadapan orang.
Dia tipe ku sekali batin Wasabi
"Pelan-pelan saja makannya," ucap Wasabi
"Oh ya, acara pembukaan gallery seni itu akan dibuka malam ini. Tapi pak walikota tak bisa menghadirinya. Percuma saja waktunya di undur. Huuf, " ujar Joy
"Kau tak tahu apa yang terjadi dengan pak walikota itu?" sahut Wasabi
"Anaknya menghilang kan?" ucap Joy berbisik
"Ya menghilang dan tak akan pernah kembali," Wasabi balas berbisik namun sangat pelan sampai-sampai dia berbisik dekat di telinga Joy
"Maksudmu?"
Kemudian Wasabi berbisik kembali ke telinga Joy. Sementara teman lainnya memandang Wasabi dan Joy dengan pandangan berbeda. Padahal cuma berbisik.
"Anaknya di temukan tewas,"
"Innalilahi WA ina ilaihi rojiun," sahut Joy
Wasabi kemudian menceritakan tentu saja dengan suara pelan. Tak terasa makanan Joy sudah habis
"Aku sudah selesai makan. Kau pergi lah," ucap Joy
"Hemm terasa berat," gumam Wasabi
"Pergi lah sebelum aku menahanmu untuk terus disini haha,"
"Haha ya sudah, Aku pergi dulu ya" pamit Wasabi kemudian pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi
"Apalagi? " tanya Joy
"Ada yang tertinggal,"
Joy celingukan mencari sesuatu yang tertinggal.
"Apa yang tertinggal?" tanya Joy
Cup.
Wasabi mencium pucuk kepala Joy. "Jaga dirimu, dan jaga hatimu untukku, love you," ucap Wasabi dengan cepat lalu pergi lagi
Dia gampang sekali mengambil hatiku batin Joy