
Wasabi dan Inspektur Hendra telah sampai di lokasi penyergapan. Tempat itu sangat luas, dikelilingi pagar berjaring besi serta banyak tong-tong kosong. Ditengahnya. gedung bertingkat tiga. Ada dua penjaga bersenjata didepan gerbang. Sedangkan di dekat gedung tak ada siapa pun.
Wasabi masuk dengan kekuatan keduanya, kekuatan nya yang dapat merubah wujudnya menjadi tidak kasat mata.
"Inspektur Kau urus yang depan ini, Aku akan kedalam memastikan apakah tempat ini aman, " ujar Wasabi
"Oke. Berhati-hatilah," ucap Inspektur Hendra
Wasabi menganggukan kepala, kemudian dia menghilang.
Whuus
Sementara itu Inspektur Hendra beraksi mengalihkan perhatiannya di depan.
Dia berjalan dengan santainya menghampiri penjaga itu dan ketika dia sudah berhadapan. Penjaga itu pun di setrum menggunakan Alat setrum.
Penjaga satunya menembak dari arah samping. Dengan cepat Inspektur Hendra menarik penjaga yang disetrum tadi dan menjadikannya tameng. Penjaga yang disetrum dengan setruman kecil itu terkena tembakan temannya sendiri. Ketika penjaga kehabisan peluru, Inspektur Hendra mendaratkan pukulannya ke perut dan beberapa
tinjuan ke muka lawan.
Hingga akhirnya lawan mampu di kalahkan. Inspektur Hendra memborgol kedua tangan penjaga di pagar besi yang berjaring-jaring.
"Katakan dimana Martin!" tanya Inspektur Hendra
"Dia tak ada disini," jawab Anak buah Martin
Inspektur Hendra menekan badan penjaga itu hingga pipi dan badannya tergencat pagar. Lalu dia membuka kunci pistol dan mengarahkan ke pelipis penjaga itu.
"Katakan dimana Martin!" Inspektur Hendra mengulang pertanyaannya
Seorang anak buah yang lain sedang berjaga di atap dan mengamati Inspektur Hendra yang dilihatnya datang seorang diri.
"Haha polisi bodoh, bertindak sendirian, " gumam Anak buah Martin
"Satu target muncul, ambil posisi kalian!" anak buah Martin memberi aba-aba ke temannya lewat handytalky
Disamping itu, Wasabi berhasil memasuki gedung tanpa terlihat oleh musuhnya.
Wasabi berjalan kelantai atas dan mendengar keributan di bawah.
"Gawat Inspektur dalam bahaya. Dari mana mereka muncul? atau mereka memiliki ruang bawah tanah?" ucap Wasabi
"Sakit...hiks" suara anak kecil mengerang kesakitan dan menangis
Wasabi terus mencari asal suara anak kecil itu hingga ke lantai tiga. Ada dua kamar bersebelahan.
Suara anak itu terdengar lebih jelas di kamar ini batin Wasabi seraya menempelkan telinganya ke pintu
Wasabi mengalihkan perhatian penjaga didalam kamar dengan menembak atap dekat kamarnya
Wasabi segera berteleportasi masuk kedalam kamar, masih dengan wujud yang tak bisa terlihat.
Whus.
Anak kecil itu dan beberapa penjaga merasakan sedikit hembusan angin. Tapi mereka tidak tahu jika Wasabi juga berada di kamar itu.
Tak berapa lama dua penjaga keluar. Mencari tahu siapa yang sudah menembak di depan kamar.
"Ternit atap bolong, siapa yang bermain pistol?" ucap salah satu anak buah dengan tangan yang bersiap menembak
"Mungkin peluru nyasar, Kau tidak lihat dibawah sedang kacau" jawab anak buah yang lain
"Mungkin," ucap yang satunya
"Ada apa ini, mengganggu tidur siangku saja!" seseorang yang rambutnya di cat putih keluar dari kamar di sebelah kamar anak yang diculik
"Bos, maaf kami juga tidak tahu,"
"Sudahlah kunci kamar anak itu, kalian berjaga disini. Jangan sampai anak itu kabur!" perintah Martin
"Bagus rupanya cecunguk itu ada dikamar sebelah," gumam Wasabi dalam hati.
Mereka mengunci pintu. Setelah semuanya pergi, Wasabi pun memperlihatkan wujudnya. Untung saja anak kecil itu tidak langsung berteriak.
"Hah," anak itu terkejut
"Sstt, Paman akan menolongmu dan mengeluarkanmu dari sini. Tolong ikuti perkataan paman. Cukup Diam saja. Oke," bisik Wasabi
"Ok," anak kecil itu mengangguk lalu berbicara dengan suara berbisik
"Peluk Aku dan pejamkan matamu. Jangan buka sebelum ku suruh," timp Wasabi
Anak kecil itu mengangguk dan melakukannya sesuai perintah Wasabi.
Bagus, Aku akan menitipkan anak ini. Hemm Sill tidak Dia sedang sakit. Mungkin dengan Joy, ah tidak Dia sedang marah padaku. Ayah, ya setelah itu Aku akan akan kembali membantu Inspektur Hendra dan menangkap cecunguk itu, pikir Wasabi
"Wasabi Kau membawa siapa?" tanya Setya
"Ayah Aku titip sebentar. Dia anak yang diculik kemarin. Jaga Dia oke!?"
Belum sempat ayahnya bicara Wasabi sudah pergi dengan kekuatan teleportasinya
"Hemmm Wasabi apa dia lupa? Aku belum pernah mengasuh anak kecil. Kenapa tak berikan dia pada keluarganya. Apakah Wasabi merasa keluarganya terlibat?" pikir Setya
Anak kecil itu menatap Setya tajam Setya lalu tersenyum dan bertanya.
"Siapa namamu? dan berapa umurmu?"tanya Setya
"Aku Bav, umurku empat tahun, "
"Paman Aku ngompol sewaktu paman tadi membawaku kemari. Aku takut dan tak sengaja pipis dicelana," aku Bav
"Apa!? Astaga....Apa yang harus kulakukan tak ada pakaian ganti untukmu, " ujar Setya
Setya lalu memiliki ide namun sebelumnya ia mengajak Bav ke kamar kecil dan membersihkan dirinya. Lalu Setya mengambil sebuah kain besar melipat beberapa lipatan dan membalutkannya ke anak kecil itu.
"Selesai. Sementara kau pakai ini saja ya," ucap Setya
"Apa ini paman? aku belum memakai ****** *****," tanya Bav
"Tak ada celana yang pas sayang, hehe. Itu namanya sarung. Sementara kau pakai itu dulu," ujar Setya
Anak kecil itu marah dan meminta celana. Setya bingung karena anak kecil itu terus merengek. Dia bisa saja membeli ke toko pakaian tapi Dia lebih memikirkan keselamatan anak itu.
Akhirnya Setya menelepon Sill dan menyuruhnya membeli beberapa pakaian anak umur 4 tahun, Untung saja Sill menyanggupinya dan langsung mematikan ponselnya karena masih malu soal kejadian tadi siang dan juga agar dia bisa cepat membelinya.
"Kenapa dia masih memanggilku paman? Apa Dia menolak lamaranku?" gumam Setya yang seketika resah gelisah
Disisi lain
Wasabi membantu Inspektur Hendra, Dia muncul ditengah-tengah pertikaian. Inspektur Hendra masih bertahan dengan kuat. Dua pistol di kiri dan kanan. Terkadang ia bersembunyi di balik tong-tong kosong
Tembakan terus terjadi. Wasabi menyikut lawan dari belakang dan mengambil senapan dengan paksa lalu menembaki lawan satu-persatu.
Dor dor dor
Inspektur Hendra terkena peluru di bagian lengannya.
Wasabi yang melihatnya langsung membawa Inspektur Hendra menepi.
Wasabi merobek kaosnya dan membalutnya di lengan Inspektur Hendra yang terkena tembakan untuk menghentikan pendarahannya.
"Kau terlihat kelelahan. Atur nafasmu sementara disini. Bawa senapan ini. Jika sudah membaik, masuklah ke gedung itu dan naik kelantai 3. Disana ada orang yang kita cari. Aku akan mengalihkan mereka," ujar Wasabi
"Dimengerti komandan!" ucap Inspektur Hendra
"Inspektur kaulah komandanku!" sahut Wasabi
Wasabi kemudian pergi meninggalkan Inspektur Hendra dan kembali menyerang dengan kekuatannya menggunakan kekuatan bayangan hitamnya. Dan Kekuatan listrik yang dimilikinya. Kekuatan itu muncul jika Dia merasa geram dan marah.
Dengan jarak jauh Wasabi menggenggam 5 lawannya dan membuatnya terpental jauh.
Beberapa anak buah Martin tercengang
Bai dan Polisi lainnya baru datang dan segera membantu. Dengan datangnya beberapa pasukan polisi, dan ditambah dengan kekuatan hebat yang dimiliki Wasabi anak buah Martin semakin lama semakin berkurang.
Ada yang menembaki Wasabi dari atas. Dia pun segera melihat orang yang menembakinya dan menangkapnya dengan kekuatan hitamnya.
Semua berakhir. Ada yang tewas seketika dan ada yang terluka dan masih hidup. Kini tinggal yang berjaga didalam gedung.
Sementara itu Inspektur Hendra sudah naik ke lantai 3, melihat dua penjaga di depan kamar dia pun langsung menembakinya dan mati.
Inspektur Hendra masuk kedalam kamar diam-diam dan mendapati Martin sedang tertidur lelap.
Inspektur Hendra
Bisa-bisanya Dia tidur ditengah kebisingan tembakan ckckck dasar babi batin Inspektur Hendra
'Hai babi kecil bangunlah," ucap Inspektur Hendra
"Hah, Kau?" Marti terkejut karena Inspektur Hendra bisa lolos dengan 30 anak buahnya
"Jika Kau bicara lagi Aku akan menembak mulutmu! Ikut Aku. Dan lanjutkan tidurmu didalam Sel," Ujar Inspektur Hendra
.