Detective Wasabi

Detective Wasabi
One Day In China with Joy



Keesokan paginya. Di kediaman Wasabi.


Wasabi turun dari kamarnya di lantai atas, membawa koper besar. Ia berencana ke China mengunjungi biksu Washi. Ada yang ingin ia tanyakan seputar kekuatannya.


"Kau mau kemana Wasabi?" tanya Setya yang terkejut dengan penampilan Wasabi juga juga membawa Ransel besar


"Ayah, pagi ini aku mau ke China menemui sahabat Kakek Hugo," pamit Wasabi


"Biksu Washi maksudmu?" tanya Setya


"Ya Ayah, ada hal yang ingin ku bicara kan dengannya," ucap Wasabi


"Kenapa tidak melalui telepon?" tanya Setya


"Dia tidak memiliki media sosial, jika meneleponnya akan memakan Roaming, lebih baik aku kesana sekaligus healing," ucap Wasabi


"Kenapa kau tak bilang padaku sebelumnya. Jadi Aku bisa mengurus paspor ku dulu," ujar Wasabi


"Haha Aku hanya sehari disana. Mungkin lusa aku pulang,"


"Sendirian?"


"Joy ikut bersama ku,"


"Hemm awas saja kalau Kau macam-macam dengannya. Jangan nakal disana,"


"Tentu saja nakal, gak afdol kalo ga nakal,"


"Ayah masukan kamu ke kandang banci kalo kamu sampai menghamili dia sebelum nikah. Jaga sikap kamu!" ucap Setya serius, padahal Wasabi hanya bercanda


"Haha, baiklah aku tidak akan nakal. Tadi hanya bercanda,"


Ting Tong.


"Itu pasti Joy," gumam Wasabi


"Astaga Wasabi, seharusnya pria yang menjemput Wanitanya. Ini malah sebaiknya,"


"Because I'm special hahaha, kau tau ayah, dia juga yang bayar perjalanan kita ini,"


"Dasar cowok gak modal," ucap Setya


"Dia yang mau, aku tidak minta," jawab Wasabi apa adanya seraya membuka pintu rumahnya


Ceklek.


"Hai manis.." sapa Joy pada Wasabi


"Hai pahit, " balas Wasabi


"Hemmm..." Joy ingin marah namun dibelakang Wasabi muncul sang Ayah


"Ayah aku berangkat ya," pamit Wasabi seraya mencium punggung tangan Ayahnya


"Pagi paman. Eh Maksud Joy, Ayah hehe. Joy juga pamit," ucap Joy juga mencium punggung tangan Ayah Wasabi


"Pagi sayang, hati-hati ya. Ingat disana harus jaga sikap dan jaga diri ya. Jangan sampai kebablasan," ucap Setya


"lya Ayah, terimakasih," sahut Joy


"Bye Ayah, love you," sahut Wasabi berjalan ke arah mobil Joy dan mengambil alih kemudi


"Hati-hati ya.. Salam buat Biksu Washi,"


Wasabi dan Joy masuk kedalam mobil.


7 jam kemudian, pesawat yang Wasabi dan Joy tumpangi sudah sampai di China. Perjalanan sedikit lama dari biasanya karena cuaca yang tidak stabil.


Sesampainya di Kuil, ia di sapa ramah oleh biksu Washi dan biksu-biksu lainnya. Rupanya keadaan biksu Washi kurang sehat. Kedatangan Wasabi ke sana sangat tepat.


Wasabi juga memperkenalkan Joy, seseorang yang sempat hadir di bayangan biksu Washi. Ternyata Joy sangat manis jika dilihat dari dekat.


Setelah menanyakan kabar dan membicarakan lainnya. Wasabi dibawa ke ruangan khusus karena biksu Washi ingin berbicara serius. Tentu saja Joy tidak diperbolehkan masuk.


"Masuk lah. Ada yang ingin saya bicarakan juga denganmu Wasabi," ucap Biksu Washi


Joy di antar ke kamar tamu khusus wanita sedangkan Wasabi di kamar khusus pria. Biksu Washi mulai berbicara serius di dalam kamar Wasabi.


"Pertama-tama kau dulu yang sebutkan maksud kedatanganmu kemari," ucap Biksu Washi


"Kemarin, Saya tertembak di bagian dada. Saat itu Saya merasa peluru itu sudah menembus karena saya merasa sesak dan panas. Setelah itu saya jatuh pingsan. Tetapi Joy dan beberapa teman mengatakan ada asap hitam dan kemudian luka itu tertutup. Apakah kekuatan saya ini bisa membahayakan saya nantinya. Maksud saya, apakah selama ya saya tidak dapat terluka. Atau bahkan tidak dapat mati," ujar Wasabi


Biksu Washi tersenyum.


"Sebenarnya Saya terus dibayangi oleh dirimu saat itu. Ada perasaan gelisah. Dan saya mulai bertapa sore itu hingga malam tiba. Dan benar saja. Kau terluka. Saya berhutang nyawa pada Hugo meskipun dia tidak memintanya. Maka saya akan membalaskan budi baiknya lewat cucunya. Di bantu dengan biksu lain. Kami mengantarkan kekuatan kami dan mengeluarkan peluru itu," jelas biksu Washi.


"Hanya itu yang saya bisa. Bukan mencegah kematian tapi berusaha menyelamatkan. Hanya saja, efek dari mengirim kan kekuatan itu, membuat saya kehilangan kekuatan saya selama 100 tahun ke depan. Kau lebih membutuhkannya Wasabi mengingat Saya sudah semakin tua," ucap Biksu Washi


"Astaga, jadi kekuatan asap yang berwarna hitam saat itu. Dari pertolongan biksu Washi?" tanya Wasabi


"Tidak semuanya Wasabi. Kau lah penyembuh itu sendiri. Kami hanya membantu mengeluarkan peluru dari dalam dirimu. Dan memancing kekuatan penyembuh mu untuk berproses dengan sendirinya. Kekuatan penyembuh itu hanya akan di dapat dengan hati yang tenang. Dengan hati yang ikhlas. Bukan dengan emosi. Namun yang kulihat saat ini, kekuatan listrik, kekuatan bayang hitammu masih belum stabil. Karena mereka akan muncul ketika Kau merasa kan amarah. Jadi saya sarankan. Jika dalam agama mu disebut berdzikir. Dan berkungfulah untuk mengatur kestabilan kekuatanmu itu sendiri," ujar Biksu Washi


Wasabi dapat melihat bagaimana biksu menjaga kebugaran dirinya yang sudah berumur 80 tahun tetapi masih berjiwa pria umur 50 tahun. Karena beliau tidak makan daging, hewan yang berlemak juga sering berkungfu, yang sama seperti olahraga.


"Hemm saya menjadi paham sekarang. Saya berterima kasih atas bantuan biksu Washi saat itu, " ujar Wasabi


"Bukankah dalam masing-masing agama Kita diajarkan harus saling tolong menolong?" sahut biksu Washi dengan tenang dan tersenyum


"Iya, Biksu benar. Oh ya biksu, apa yang ingin biksu katakan?" tanya Wasabi kemudian


Biksu Washi mengambil sebuah kotak yang dia siapkan didalam laci kamar Wasabi. Kemudian memberikannya pada Wasabi.


"Ambil lah. Sebab saya tak punya keturunan untuk diberikan. Simpanlah, dan jaga giok ini. Tapi, Kau juga bisa menjualnya jika dalam keadaan genting, itu bernilai 140ribu yuan," ujar Biksu Washi


Wasabi tercengang seketika tangannya bergetar, benda kecil yang agak berat tersebut bernilai 300juta rupiah.


"Tapi, bukankah giok ini langka sekali. Saya tidak bisa menerimanya. Itu terlalu berharga," sahut Wasabi


"Batu giok hijau ini sudah digunakan sejak zaman Dinasti Han, dan dulu sering digunakan oleh para anggota kerajaan karena melambangkan kemurnian serta diyakini memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat dan memberi umur panjang bagi pemiliknya. Jadi, cukup wajar bernilai tinggi. Namun bagi saya, persaudaraan jauh lebih tinggi nilainya ketimbang benda seperti itu. Anggap saja cinderamata dari saya," sahut Biksu Washi


Wasabi masih enggan memilikinya. Namun untuk menghormati pemberian biksu Washi ia pun menerimanya


"Sebenarnya giok itu sudah lama ingin Saya berikan untuk Hugo, tapi saya tidak sempat. Dan saat Kau kemari, Saya pun lupa memberikannya. Hugo sangat berharga dimata saya, dan saya melihat jiwa Hugo didalam dirimu. Terima lah. Agar saya tenang," timpal Biksu Washi


"Terimakasih. Saya akan menjaganya baik-baik. Semoga biksu Washi selalu sehat," ujar Wasabi


Biksu itu pun hanya tersenyum


"Sudah malam, beristirahatlah," ujar Biksu Washi keluar dari kamar Wasabi dengan hati yang tenang.


Setelah itu Wasabi membersihkan dirinya dahulu sebelum tidur.


Keesokannya. Wasabi mengajak Joy berkeliling China.


"Wasabi, kita berkeliling naik apa? Apa Kau sudah menyewa kendaraan sekaligus guide" tanya Joy


"Tak perlu Joy. Kita akan berteleportasi," ucap Wasabi


"No, no, no kalau orang-orang pada ngeliatin kita gimana? Selain itu Kau juga pasti akan kelelahan.


"Kalau aku lelah tinggal Kau pijiti saja," jawab Wasabi santai


"Wasabi serius lah,"


"Aku serius. Aku akan mengajak mu ke tembok besar China, jembatan kaca zhangjiajie, 798 art zone, pantai hainan, terakhir kita akan ke Wangfujin," ucap Wasabi. Joy masih asing mendengar nama-nama pariwisata tersebut. jujur saja ia belum pernah ke China. Berbeda dengan New York dia sering bepergian ke wilayah barat ketimbang timur


"Sebanyak itu?" tanya Joy


"Joy semua perjalanan itu bisa kita lalui dalam hitungan menit, jika memakai alat transportasi, mau berapa lama kita disini?" sahut Wasabi


"Ok. Tapi carilah tempat mendarat yang sepi,"


Wasabi mulai merangkul Joy dan


Whuuus


Mereka sudah berada di atas tembok besar China.


"Wow.. Menakjubkan," pekik Joy




Wasabi meraih tangan Joy. Joy masih terkesima dengan pemandangan disana, rambutnya tertiup angin melambai-lambai. Wasabi sebaliknya yang menjadi perhatiannya bukan pemandangannya melainkan wanita yang bersamanya kini.


"Joy...," panggil Wasabi


Joy menoleh ke arah Wasabi, mereka saling memandang.


"Mungkin pertemuan kita di awali dengan kesan yang buruk. Aku sangat membencimu saat itu. Aku merasa risih dengan semua perhatianmu. Dengan sifat agresifmu. Dan aku tidak menyangka cinta telah menyihir semuanya. Membuatku terbiasa dengan semua tingkahmu. Aku ingin menua bersamamu dalam sebuah ikatan pernikahan. Apakah Kau bersedia menikah denganku?" ucap Wasabi


Mata Joy berkaca-kaca, ia di lamar di atas tembok besar China.


"A-aku..."Joy tersenyum bahagia., "Ini sudah kali ke berapa Kamu mengajak ku menikah dan jawaban ku tetap sama. Aku bersedia menikah denganmu,"


Wasabi menyematkan cincin berlian ke jari manis ditangan kiri Joy. Kemudian mencium pucuk kepalanya. Kemudian mereka saling memandang, Joy mengalungkan tangannya ke leher Wasabi. Dan wajah keduanya mendekat. Joy mendaratkan bibirnya ke bibir Wasabi lebih cepat dan menyesapnya penuh hasrat.


"Aku mencintaimu," ucap Joy


"Kau agresif sekali bibirku sampe lecet," ujar Wasabi


"Haha, tapi kau menikmatinya kan? " sahut Joy


"Heem, bikin candu, aku juga mencintaimu, Joy, kebahagiaan ku. Kita akan menikah, seminggu setelah Ayahku menikah," sahut Wasabi


"Hah? Ayah Setya menikah?"


"Aku lupa memberi tahu mu. Ayah akan menikah dengan Sill," ucap Wasabi


"Sill??Dia akan menjadi ibu tiri mu?" tanya Joy lagi


"Iya, dia akan menjadi ibu tiri Kita, nantinya. Hehe,"


"Sill paling tidak suka padaku. Jika dia menolak ku bagaimana?"


"Haha, tidak Joy. Jika dia menolakmu, maka Kau harus merayunya dan mendekatinya," ujar Wasabi


"Hemm Kau ini bukannya membantu," Joy mendelikkan mata berniat ingin memukul Wasabi namun Wasabi sudah berlari mereka pun kejar-kejaran seraya turun kebawah seperti film indiahe.


Setelah lama main kejar-kejaran mereka pun capek terus berhenti deh. Menikmati pemandangan lagi, mumpung udaranya masih sejuk


"Udaranya dingin ya sejuk," sahut Joy


Wasabi memeluk Joy dari belakang, "Iya, enaknya kelonan hehe, Siap untuk perjalanan selanjutnya?" tanya Wasabi


Joy mengangguk tanda siap


Whuuuss


Selanjutnya mereka berada di Jembatan kaca zhangjiajie. Joy ketakutan, kakinya bergetar. Wasabi terus memaksa kalau hal itu menyenangkan tapi Wajah Joy langsung pucat melihat ketinggian yang membuatnya merinding.



"Pliss aku mau turun," pekik Joy memejamkan matanya seraya bergantung di lengan Wasabi


"Haha oke oke," ucap Wasabi


Whuuus


Selanjutnya mereka sampai Di 798 art zone





Joy terlihat pucat dan duduk di bangku taman. Gara-gara Wasabi mengajaknya ke jembatan dengan lantai kaca tertinggi


"Joy Kau pucat? Kau baik-baik saja? Atau kita sebaiknya pulang," ujar Wasabi


"Tidak aku tidak apa-apa, biasanya aku tidak mual jika berada di ketinggian. Tapi mungkin ini sangat tinggi dan membuatku takut," ucap Joy


"Ini salahku. Aku minta maaf. Aku tak akan membawa ku ke tempat itu lagi,"


Cup Muach.


Joy mencium pipi Wasabi, "Terimakasih Wasabi, aku berterimakasih karena Kau membawa ku kesana dan Aku sudah merasakan bagaimana kakiku bergetar menginjak kaca transparan itu," Joy tersenyum. Dia tidak ingin pasangannya menjadi bersalah karenanya.Joy tahu betul bagaimana cara menghargai pasangannya


Deg Deg Deg


Kenapa dia semakin terlihat manis. batin Wasabi


"Sekarang kita dimana?"


"Kita sampai di 798 art zone. Kau pasti menyukai tempat ini. Ada berbagai macam kesenian mulai dari aneka patung unik, mural yang artistik, dan lukisan yang indah," jelas Wasabi


"Wow, ini seperti jalanan kota lama. Ada banyak arsitektur lama, dan kesenian di perlihatkan disini. Aku menyukainya," sahug Joy


Setelah menghabiskan banyak waktu melihat, berswafoto di 798 art. Wasabi mengajaknya beristirahat di ace cafe, masih di lokasi 798 art.


"Ini dia Joy Ace Cafe 751," sahug Wasabi


"Aku pernah mendengar Ace Cafe tapi sepertinya di London,"


"Ya ini cabang pertamanya di Tiongkok. Mereka memilih stasiun kereta 751 asli dalam zona 798 art. Lalu menggabungkannya dengan seni arsitektur yang bisa Kau lihat di dalam cafe tersebut. Aku yakin Kau akan terkesan dengan desain mereka.




Joy dan Wasabi masuk kedalam Cafe. Joy lagi-lagi terkesima dengan arsitektur bangunannya


"Wow, Aku ingin memiliki rumah yang desainnya jauh lebih bagus dari ini haha,"


"Huh, Aku sudah bersusah payah membuatkan rumah untukmu. Tapi, sepertinya tidak seperti yang Kau harapkan," gumam Wasabi menunjukkan raut wajah sedih


"Kau membuatkan rumah untukku? Aku tidak tahu, memangnya dimana?" tanya Joy


Wasabi mengangkat wajahnya lalu meraih tangan Joy dan meletakkannya di dada Wasabi.


"Disini. Rumah itu selalu terbuka untukmu," ucap Wasabi


"Astaga sayang..Kau belajar gombal dari mana?" Joy tersenyum lebar


"Andi yang mengajariku. Dia selalu saja gombal dengan Emi di depan ku. Sampai-sampai jurus rayuannya itu tertular ke padaku. Udah yuk makan, Aku lapar. Pesan Joy. Yang mahal ya," pinta Wasabi


"Hemm minta yang mahal, yang bayar siapa?" ucap Joy


"Kau hehehe," sahut Wasabi


"Itu kecil. Asal uang bulanan untukku ditambah," ucap Joy


"Siap Nyonya Wasabi,"


Mereka kemudian memesan makanan dan menyantap makanan itu dengan lahap. Dan yang membayar semuanya adalah Joy, tentu saja dengan uangnya Wasabi.


"Oke sudah ku bayar, ini bos dompetnya," ucap Joy


"Kau bawa dulu Joy. Taruh di tasmu. Aku merasa berat jika mengantonginya di saku, " Wasabi malas membawa Tas


"Hemm jangan salahkan aku jika isinya nanti habis,"


"Jika isinya habis Kau pulang sendirian. Kan aku bisa teleportasi tak perlu naik pesawat hahaha," celoteh Wasabi


"Ishhh nyebelin.. Hmm aku kalah jika berdebat denganmu," ucap Joy


"Kita ke pantai sekarang yuk. Aku mau berselancar," ajak Wasabi


Dalam sekejap mereka sudah sampai di Pantai Hanian China.


Sebelum terjun ke pantai, Wasabi dan Joy membeli pakaian untuk berenang. Joy membeli pakaian renang yang berlengan panjang dan celana yang panjang. Wasabi tidak memperbolehkannya memakai pakaian yang hanya menutupi dada.


"Wasabi, Kenapa kau hanya membeli celana. Kau juga harus membeli pakaian renang yang menutupi roti sobek mu itu," Protes Joy


"Roti sobek? " tanya Wasabi seraya berfikir


"Perutmu yang berkotak-kotak itu kan seperti roti sobek," sahut Joy tertawa


"Tidak ada disini, habis.."


Untung lah habis batin Wasabi


Akhirnya dengan penuh gerutuan dan protes Wasabi merangkul Joy menuju pantai lalu


Wasabi menyewa papan seluncur ditempat persewaan dekat pantai. Wasabi mulai melancarkan aksinya



"Omegot, keren banget," ucap pengunjung wanita


"Hoi bro i love you," teriak seorang bule barat


Ternyata di samping Joy juga ada cewek-cewek yang melihat aksi selancar Wasabi. Semua bersorak keren, tampan. Bahkan ada yang mengatakan, "Hey cowok tampan, menikah lah denganku,"


Semua membuat kuping Joy panas.


"Apa! No no no silahkan Menatapnya sampai puas. Karena hatinya cuma buatku," gumam Joy pelan


Joy lalu ke pantai dengan papan seluncurnya. Dua tiga kali, dia belum bisa menyeimbangkan badannya. Berbeda dengan papan skateboard miliknya. Dia pun mencoba kembali dan berhasil. Ombak pun dia kuasai meski belum bisa jika ombaknya terlalu besar.


"Joy belajar dengan cepat," ucap Wasabi


Beberapa jam berlalu. Membuat kulit mereka memerah. Wasabi dan Joy segera mandi dan berganti pakaian kering.


"Hari yang menyenangkan. Kita bermain disini berdua. Seperti bulan madu saja haha" sahut Joy


"Kalau gitu besok kalau kita nikah. Tidak usah bulan madu lagi ya. Kan sudah hari ini," ujar Wasabi


"No no no itu berbeda," protes Joy


.


.


.


Persinggahan terakhir selanjutnya di Wangfujin. Pusat perbelanjaan oleh-oleh dan kuliner makanan.




Joy mencoba membeli makanan yang dijual disana


"Makananan disebelah sana sangat uji nyali, " sahut Wasabi


"Memangnya apa yang dijual?"


"Ada cicak, kodok, kaki seribu, kecoa, kalajengking semua ditusuk dan siap di bakar. Haha," sahut Wasabi


"Wasabi Kau membuat selera makanku hilang," ucap Joy


"Aku mau itu ada lobster, udang dan ikan-ikan lainnya," tunjuk Joy


"Boleh... Kau tunggu disini ya. Aku mau beli minuman disana,"


"Ya.."


"Uangnya mana," ucap Wasabi karena dompetnya di bawa oleh Joy.


"Oh iya. Nih dompetmu,"


"Kau bawa lagi, aku cuma ambil beberapa," kemudian Wasabi membeli minuman yang agak jauh dari tempat Joy berdiri.


Tak berapa lama ketika Wasabi datang. Dia melihat Joy dan seorang pria memeluknya, terlihat Joy memberontak. Lalu pria itu mencium paksa memegang kepala Joy dengan kedua tangannya dan mencium pipi Joy kiri dan kanan.


Wasabi menghampirinya marah dan menarik kerah baju pria itu dari belakang dan meninjunya.


"Jangan menyentuh istriku lagi!" pekik Wasabi


"Hah. Joy Kau meninggalkan aku untuk orang seperti dia. Hahaha seleramu rendah," cibir pria itu yang tak lain adalah Adams


"Dia jauh lebih baik dan tentunya menghargai perempuan. Tidak sepertimu!" sahut Joy


"Haha Joy joy, Kau masih sama seperti dulu. Semakin cantik kalau marah,"


Wasabi sudah siap mau meninjunya wajahnya lagi tapi Joy melarangnya. Dia tidak ingin terjadi keributan di tempat umum.


Joy lalu membayar makanan yang dibelinya. Dan pergi menggandeng lengan Wasabi.


"Sayang, ayo kita pulang," ucap Joy


Mereka pun pergi meninggalkan pria yang sudah mengatai Wasabi. Joy terlihat menikmati makanannya sambil berjalan.


Hemm ini enak, bumbu apa yang mereka pakai. Seharusnya aku beli banyak tadi. Wasabi cobalah," sahut Joy lalu menyuapinya ke Wasabi


Wasabi menepi dan memalingkan wajahnya.


"Tidak, Kau saja yang makan,"


"Kau kenapa? Jangan bilang Kau cemburu, gara-ada Adams tadi memelukku dengan paksa," sahut Joy


"Itu normal. Siapa dia?"


"Dia Adams mantan pacarku sebelum dengan Riyan. Dan Dia juga cinta pertama ku. Aku menjalin hubungan dengannya 6 tahun dan berakhir dengan penghianatan," cerita Joy singkat


"6 tahun itu waktu yang lama Joy. Apa Kau masih punya perasaan padanya?" tanya Wasabi


"Astaga Wasabi. Aku sudah move on. Aku cuma mencintaimu sekarang," jawab Joy


"Lalu kenapa tadi kau tak membiarkan aku memukulnya lagi. Kenapa kau membelanya,"


"Aku tidak membelanya, aku hanya...,"


Cupp.


Wasabi mengecup bibir Joy. Dengan sekejap mereka sudah berada didepan kamar Joy.


"Hari ini menyenangkan, aku tidak ingin merusaknya. Tidur lah, besok kita berangkat pukul 5 pagi. Selamat malam Joy,"


Wasabi pergi kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal, karena Joy terlihat seperti membela Adams.