
"Paman jelek! Aku lapar dan ingin makan ayam. paman tahukan Aku sedang sakit! Aku harus makan makanan yang bergizi bukan mie," Protes Bav
"Hehe tapi ini enak loh, mie ramen buatan paman. Makan ya?" Rayu Setya sambil tersenyum dipaksakan
Ting tong
Ah itu pasti Sill , Setya berkata dalam hati
Setya segera membuka pintu, dia berjalan cepat agar cepat sampai.
Kenapa jantungku berdebar? Astaga, batin Setya
mulai gugup
Ceklek
"Hai Paman," sapa Sill seraya melambaikan tangan
Di pandangan Setya, melihat Sill bagaikan ada angin yang menerpa wajah gadis itu, dan ia begitu bercahaya. Senyumnya mampu merontokkan semua organ yang ada pada tubuhnya, ya kira-kira seperti itu
"Ehemm untung Kau datang tepat waktu. Aku sudah kewalahan menghadapi anak itu," ucap Setya
"Ini pesanan Paman, Aku juga membeli beberapa makanan untuk anak itu," ucap Sill
"Untuk anak itu saja? Untukku tak ada?" sahut Setya
"Hah? hehe untuk Paman juga ada," ucap Sill
Setya mengambil tas belanjaan Sill dan mereka masuk ke dalam
"Terimakasih, Akan ku transfer total semua ini ke rekeningmu. kirim saja nomer rekeningmu," ucap Setya tak lupa menutup pintu rumahnya
"Ah tidak usah paman, cuman sedikit kok,"
"Hey Bav, ini pakaianmu. Apa kau bisa memakainya sendiri?" tanya Setya
"Nah gitu dong paman. Terimakasih, Aku bisa pakai sendiri. Aku akan kekamar! Jangan mengintip!" seru Bav
"Haaha kau lucu sekali, siapa namamu?" ucap Sill
"Namaku Bav, hemm tante apa itu? Aku mencium aroma ayam kesukaanku," ujar Bav
"Wah tebakanmu hebat, iya, ini tante belikan Ayam krispi, kamu suka?"
"Suka tante wah tante tahu kesukaanku, Tidak seperti Paman ini," cibir Bav
Sill hanya tertawa sementara Setya tersenyum kecil karena kelelahan. Anak kecil itu berlari kegirangan tidak seperti orang yang sakit.
"Aku membuatkannya ramen tapi dia menolak, "
"Kalau begitu biar ku makan saja ramennya. Itu favoritku," ucap Sill sambil menyiapkan makanan di atas meja makan
"Oh ya, kalau begitu baguslah ramen itu tak akan mubazir begitu saja. Kau pasti akan ketagihan makan ramen buatanku," ucap Setya
"Haha kita buktikan saja nanti. Sebentar Aku menyajikan makanan dulu,"
Setya terus memperhatikan Sill, hingga Sill tersadar jika Setya terus memandanginya.
"Paman kenapa paman terus melihatku, aku jadi salah tingkah," ucap Sill polos dan tersipu malu
"Hemm soal lamaranku, Kau belum menjawabnya,"
"Memangnya itu lamaran?" tanya Sill
"Hemm paman mau ku buatkan teh atau kopi?"
"Kopi, " jawab Setya sambil gelisah menunggu jawaban
"Manis atau pahit?" tanya Si lagi kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman
"Manis seperti mu," jawab Setya mengikuti Sill ke dapur
"Paman bisa saja, Ok sebentar ya," ucap Sill gugup, Setya terus melihatnya sampai-sampai Sill menaruh garam di minumannya dan bukannya gula. Setya hanya tersenyum geli melihatnya.
"Ini minumanmu paman," ucap Sill memberikan minumannya ke Setya
"Sill, apa kau mau membunuhku?"
"Hah mana mungkin?"
Tanpa ragu Sill mengambil kembali gelas minuman Setya dan meminumnya sedikit. Tak berapa lama Dia menyemburkan air yang diminumnya ke muka Setya.
Byuurr
"Astaga ini asin. Eh maaf paman, maaf aku-aku tak sengaja, benar aku minta maaf," Sill panik dan langsung mengambil tisu
Cepat-cepat ia membersihkan wajah dan baju Setya yang terkena semburan air tadi. Setya meraih tangan Sill yang sedang membersihkan wajahnya dan menggenggamnya.
"Sill tatap Aku, dan jawablah. Aku serius dengan pernyataanku. Aku ingin menikahi mu. Apa kau menerima ku?" tanya Setya dengan tegas namun lembut. Jantung Setya mendadak berdebar kencang
Sill masih terdiam
"Dan mengapa kau terus memanggilku paman Apa itu artinya kau menolakku?" timpalnya lagi
"A-aku aku bingung. Saat itu Paman sudah menolakku. Kenapa...kenapa sekarang Paman malah ingin menikah denganku?" ungkap Sill
"Se-sebenarnya paman cinta denganku atau hanya iba atau sekedar balas budi?" tanya gadis itu yang wajahnya sudah memerah
"Aku tidak tahu kapan cinta itu muncul, cinta itu bagaikan ilusi. Saat menunggumu di rumah sakit. Aku khawatir dengan keadaanmu. Terlebih saat Kau menghilang di tengahnya hujan saat itu. Sepulangnya dari rumah sakit. Rasanya aku selalu ingin menjagamu. Aku terus menepis perasaanku. Sampai akhirnya Aku sadar, Aku tak ingin kehilanganmu. Perhatianmu membuatku merasakan cinta lagi setelah sekian lama menyendiri," ucap Setya
Setya menunduk dan masih menggenggam tangan Sill. Kemudian Dia menarik nafas panjang.
"Aku mungkin tak pantas untukmu Sill. Umur mu dan umurku terpaut jauh. Aku siap menerima kenyataan jika kau menolakku. Aku akan bertanya sekali lagi. Sill, maukah Kau menikah dengan ku?" ungkap Setya
"Jangan pingsan lagi ya Sill,"
Sill tersenyum dan menjawabnya tanpa ragu "Paman sudah tahu perasaanku kan? Jadi mana mungkin aku menolaknya. Aku mau menikah denganmu paman," sahut Sill. Kali ini pipinya memerah. Kulitnya yang putih membuat warna alami itu terlihat cantik
"Sungguh?" Setya tersenyum lebar
"lya," Sill menganggukkan kepala dan tersenyum menunduk malu
Setya menarik dagu Sill agar wajahnya sejajar dengan Setya. Keduanya saling berpandangan, dan wajah mereka mulai mendekat. Setya mengecup pipi Sill.
Bav masuk ke dapur dan mengagetkan keduanya
"Sedang apa kalian disini?" tanya Bav
Setya terkejut dan mulai memikirkan sesuatu
"Tante Sill matanya terlilip debu jadi Paman membantunya meniup biar debunya hilang," ucap Setya. Sill pun langsung berakting kelilipan dan kemudian terkekeh geli
Setelah itu mereka makan bersama di meja makan. Pemandangannya terlihat bagaikan keluarga kecil yang harmonis.
Mereka mengobrol apapun mulai dari makanan dan hingga membahas soal luka.
"Apa kau akan terus memanggilku Paman jika kita sudah menikah nanti?" tanya Setya karena sedari tadi mereka bicara, Sill terus memanggilnya paman
"Hehe lalu mau dipanggil apa?" tanya Sill
Setya mendekat ke telinga Sill dan berbisik, "Panggil Aku Sayang," bisik Setya
Sill tersenyum geli mendengarnya, "Baiklah sayang," ucap Sill malu-malu
"Apa kalian pengantin baru?" tanya Bav memperhatikan tingkah Sill dan Setya
"Ti...," ucapan Sill dipotong Setya
"Iya.. lebih tepatnya akan," jawab Setya
"Segera secepatnya, mungkin seminggu lagi," timpalnya
"Hah? Se-secepat itu?" tanya Sill
"Untuk apa lama-lama sayang? pacaran setelah menikah itu lebih seru hehe," ujar Setya
"Pam.. hemm Sayang becanda kan?"
"Tidak aku tidak pernah bercanda kalau soal ini," sahut Setya Menatap Sill dengan lembut
"Astaga hari apa ini? Mendadak pria dingin yang ingin ku nikahi dan sempat menolak ku tiba-tiba mengajakku menikah. Seakan-akan Tuhan menjawab doa'ku. Ditambah hari ini, aku terus melihatnya tersenyum. Sangat manis...kenapa hatiku, jantungku, rahangku dan ginjalku rasanya panas seperti mau meledak," ucap Sill dalam hatinya
"Tante wajahmu seperti kepiting rebus," sahut Bav polos
"Hehe jangan bilang begitu. Itu namanya blush on alami, merona karena tersipu malu," ujar Setya