Detective Wasabi

Detective Wasabi
Victim



Di Bali


Wasabi sudah tiba di Bali pukul 7 malam. Dia memesan penerbangan tercepat ke Bali. Dia bisa saja menggunakan teleportasinya tetapi dia ingin menghemat tenaganya. Untung saja uang dari Tuan Paldo masih utuh dan belum dia pakai.


Di Kafe loyal, Wasabi dan Chaky membuat janji untuk bertemu. Wasabi penasaran kenapa Chaky tidak langsung saja membicarakannya di ponsel.


Tiga puluh menit berlalu, Chaky tak kunjung datang


Wasabi lalu menelepon Chaky.


Terdengar suara ponsel terhubung tetapi ada suara operator yang langsung berbicara kalau si pemilik nomer tidak dapat dihubungi.


Sementara itu di rumah Chaky


"Astaga Vio, kamu bodoh! kenapa kamu mengangkat ponselnya?" ucap seorang pria sambil menoyor kepala Vio


"Hahaha..habisnya aku bingung sih Rex,"


"Ambil dompet, jam tangan dan ponselnya. Ingat Jangan lupa dimatikan," perintah Rex kawan laki-lakinya


"Aku akan mencari barang berharga lainnya. Siapa tau bernilai mahal. Setelah selesai ambil dompet, bantu aku mencari barang mahal lainnya," timpal Rex


"Ok Rex,"


"Ayo! Lakukan dengan cepat. Sebelum orang itu terbangun," seru Rex dengan nada berbisik


Chaky terbaring di sofa dengan mulut ternganga. Sambil membawa botol minuman keras yang ia dekap di dada.


"Aku sudah selesai," sahut Vio


"Sssttss jangan keras-keras nanti dia terbangun," Rex mengisyaratkan dengan satu telunjuk di bibir dan berbicara dengan berbisik-bisik


"Maaf. Tapi sepertinya dia mabuk berat, kita sedari tadi berisik dia tidak terbangun,"


"Benar juga. Dia benar-benar teler," desis Rex, "Vio, ayo kita keluar," ajaknya kemudian


Rex dan Vio keluar dari rumah Chaky. Tetapi sialnya langkah mereka terkepung polisi.


"Angkat tangan! Mau lari kemana kalian," ucap Polisi Arga


"Sial kita tertangkap," gerutu Rex


"Kamu sih lama," Vio menyalahkan temannya


"Cukup," ucap Arga sambil memborgol tangan Rex dan Vio.


Arga mengamankan Rex dan Vio sedangkan polisi lainnya langsung masuk kedalam dan memeriksa keadaan Chaky


"Kami mendapat laporan bahwa terjadi pembunuhan dirumah ini," ucap Arga


"Apa..? Pembunuhan.!?" pekik Vio terkejut


"Hey kami tidak membunuh. Kami hanya mencuri barang berharga," ungkap Rex


"Benar Kami bukan pembunuh," timpal Vio


"Kalian harus memberikan kesaksian di kantor polisi nanti," seru Arga


Tak berapa lama Wasabi datang kerumah Chaky. Dia bingung kenapa ada banyak polisi di dalam dan di halaman rumah Chaky


"Permisi. Maaf Pak, kenapa ada banyak polisi dirumah ini?" tanya Wasabi


"Saya sepertinya pernah bertemu dengan kamu, dimana ya?" tanya Arga sambil berfikir


"Saya Wasabi, saya teman Chaky. Dimana Chaky?"


Oh Wasabi. Pantas saja wajahnya mirip dengan Setya batin Arga


"Huh. Kau datang terlambat. Chaky baru saja dibunuh. Mereka pembunuhnya," sahut Arga


"Bukan kami bukan pembunuh," Rex langsung bersuara


"Apa! Tidak. Satu jam yang lalu saya masih menerima pesan darinya. Kita bahkan janji bertemu di sebuah kafe," ungkap Wasabi.


"Baiklah. Aku ikut,"


"Hemm kamu detective kan? Mungkin kamu bisa membantuku sedikit. Masuklah kedalam. Temui Aris. Temukan sesuatu bukti atau apapun itu. Lalu datanglah ke kantor secepatnya," perintah Arga seenaknya.


Wasabi yang baru datang tiba-tiba tercengang. Kenapa Polisi itu percaya sekali padanya. Apa dia mengenalku? kenapa dia tahu kalau aku bekerja sampingan sebagai detective, batin Wasabi


Wasabi masuk ke dalam rumah Chaky. Ada tim khusus yang memeriksa sidik jari dan barang bukti lainnya, sebelum Chaky di angkut. Lampu di ruangan itu sengaja dimatikan untuk penyelidikan dengan senter ultraviolet.


"Permisi, Saya ingin menemui komandan Aris," sahut Wasabi


"Ya saya sendiri. Maaf, Anda siapa? Selain polisi dilarang masuk," seru Aris.


"Saya Wasabi. Letnan Arga menyuruh saya untuk ikut dalam penyelidikan," jawab Wasabi seadanya


"Oh, Baiklah. Silahkan," sahut Aris


"Kenapa dia langsung percaya. Jika aku orang jahat, bisa saja aku berbohong," pikir Wasabi dalam hati


"Kamu mirip sekali dengan mantan Jendral Setya," sahut Aris


"Oh, Saya anaknya, Anda mengenalnya?"


"Benar dugaanku. Astaga wajahmu seperti duplikatnya, Ya Saya sangat kenal. Wasabi jika kamu menemukan sesuatu. Taruhlah di plastik ini, dan gunakan sarung tangan," titah Komandan Aris yang langsung di jawab Wasabi dengan anggukan


Mata Wasabi tertarik dengan sesuatu yang ada di belakang rumah. Dia memulai dari dapur. Bau ruangan ini habis seperti ada pembakaran. Wasabi lalu mencari asal bau pembakaran tersebut dengan mengendusnya.


Dia mencarinya hingga ke halaman belakang. Wasabi menemukan pakaian dengan bercak darah yang sebagian hangus terbakar, sarung tangan sebagian kotor dan terbakar. Wasabi mengambilnya untuk dijadikan bukti.


Ketika Wasabi melangkah masuk kembali ke dalam rumah, dia melihat di bawah halaman, dekat pojokan pintu dia menemukan foto dengan tulisan di belakangnya my shi.


"Foto ini mungkin terjatuh, saat mereka ingin membakarnya,"


Setelah memungutnya, Wasabi menyimpannya di saku celananya lalu masuk ke dalam rumah Chaky. Pria itu hidup sendirian, seperti dirinya. Bedanya kini Wasabi telah bertemu Ayahnya kandungnya.


"Rumah ini kotor dengan abu rokok. Cerutu kah? Atau asap bekas bakaran tadi?" terka Wasabi seraya mengendus aroma asap yang tertinggal


"Bukankah Chaky tidak merokok. Aku juga tidak melihat yang lain merokok," pikirnya


Ada suatu benda tersempil di dalam Sofa. Terlihat seperti kertas foto yang sudah di remat. Inspektur Aris lalu menarik nya keluar


"Lihat...Bukankah ini Bu Alma, siapa pria ini?" tanya Komandan Aris.


Alma seorang detektif yang terkenal, kematiannya menjadi sorotan para polisi dan sempat heboh. Wasabi ikut melihat foto itu.


Wasabi melihat tanggal yang ada di pojok foto. Tertera keterangan 31 Januari 2001. Orang yang berada di sebelah Alma adalah Tuan Paldo saat masih muda.


"Apakah itu artinya Tuan Paldo benar. Dia menikahi Mama di bulan Januari 2001," pikir Wasabi dalam hati


"Bisakah foto itu saya pinjam?" tanya Wasabi meminta komandan Aris. Pria itu pun memberikannya


Wasabi membalikkan foto melihat apakah ada keterangan lain. Kosong, tapi saat Wasabi merabanya, ada sesuatu yang sedikit timbul.


Ia pun terpikir akan memeriksanya dengan senter ultraviolet. Ada salah satu tim penyidik yang sedang menggunakan senter tersebut. Dia lalu meminjamnya. Segera foto tersebut di senter, benar dugaan Wasabi. Ada tulisan di belakang foto yang terbaca jika dibawah sinar ultraviolet.


Tulisan dibalik foto tersebut adalah "Kencan pertamaku, Aldio love Alma,"


"Shiit Aku diperbodohi, dia tidak menikah di tanggal itu tetapi hanya berkencan," gumam Wasabi pelan


"Ada apa Wasabi. Kamu menemukan sesuatu,"


"Ya. Sepertinya aku tahu siapa yang membunuh Chaky. Aku Akan menjebaknya. Aku akan membuatnya mengaku," ucap Wasabi


Wasabi memberikan barang yang ia temukan di halaman kepada komandan Aris, lalu pamit undur diri karena akan menelepon Inspektur Hendra.


"Ya, Ada apa Wasabi?"


"Inspektur, bisakah kau memintakan pihak bank untuk mencetak mutasi rekening atas nama Martis. Aku ingin tahu siapa yang mempekerjakannya,"


"Sudah malam seperti akan sulit, mungkin besok pagi. Aku akan mengabari secepatnya setelah mendapatkan informasi dari bank,"


Wasabi pun berterima kasih dan pamit pulang, meninggalkan rumah Chaky dan ke kantor polisi segera.