
Malam itu, Alex dan Efira melaju ke sebuah restoran dimana di restoran tersebut Alex juga sudah memiliki janji dengan Cris.
“Sebenarnya kenapa? Apa kau sudah mengetahui siapa kakakku?” Tanya Efira pada Alex.
“Kita tunggu Cris, dia sudah menuju kemari” Jawab Alex.
“Kau tau spoiler pada sebuah cerita?” Ucap Efira, mencoba merayu Alex setidaknya untuk memberitahu secuil saja apa yang ingin dibicarakan, setidaknya itu mengurangi rasa ingin tahunya.
“Tidak tau dan tidak mau tau” Jawab Alex lalu menyuapkan satu buah sushi untuk kekasihnya.
Meskipun kesal, sepotong sushi itu tetap masuk ke mulut Efira, mengingat sushi tersebut tidaklah bersalah.
“Tuan, nyonya, maaf saya telat”
Cris datang sedikit terburu0buru, rupanya dia menyadari bahwa dirinya salah telah membuat atasannya menunggu.
“Duduk dan pesan dulu” Jawab Alex, memanggilkan waiters untuk tangan kanannya itu.
“Terimakasih tuan” Cris mengucapkannya sesaat setelah dirinya memesan makanan dan minuman.
Sederhana saja, sebenarnya lelaki itu lelah berlarian dari lantai dasar sana menuju lantai tiga dimana itu adalah ruangan VVIP di restoran tersebut.
“Dia Cris, salah satu tangan kananku di dunia IT. Devan tentu saja sudah mengenal lelaki ini sejak masih bersama ayah”
“Salam kenal Cris?” Efira mengulurkan tangannya, sebagai tanda perkenalan kepada orang baru yang ada di hadapannya.
“Terimakasih nona” Cris membalas jabatan tangan tersebut dengan secepat kilat, menandakan dirinya memang orang yang kaku dan tertutup?
“Jadi, bagaimana inti dari pertemuan kita malam ini?” Tanya Efira lagi, tergesa-gesa mungkin.
“Santai honey, makan saja dulu aku yakin kau tidak akan sanggup mengunyah makananmu jika kita langsung masuk ke pembahasan inti. Lagipula malam ini kita memiliki banyak waktu sampai esok hari” Ucap Alex.
Tidak ada banyak kata yang keluar dari mulut gadis itu selain dari gerutuan pelan dari bibir mungilnya.
Mereka mulai melahap makanan masing-masing. Efira yang paling terlihat lahap entah itu lapar atau memang ingin acara makannya segera selesai lalu segera membahas tentang kakaknya.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
“Hei, hati-hati” Ucap Alex, memberikan minum untuk kekasihnya yang tengah tersedak.
“Kita ini mau menikah, aku tidak ingin nanti ada berita bahwa kekasih dari Alexander Harrison masuk rumah sakit karena tersedak” Ucap Alex santai.
Memang sialan.
Plak
Akhirnya, Alex kembali merasakan pukulan maut itu setelah sekian lama tidak menikmatinya.
“Kasian bahuku selalu menjadi sasaran dari singa betina ini” Gumam Alex pelan. Sedangkan Efira tidak begitu mempedulikan lagi apa yang dikatakan sahabat sekaligus kekasihnya itu.
Selang beberapa menit kemudian, mereka akhirnya selesai dengan makan malamnya.
“Katakan saja sekarang, tidak usah mengulur-ulur lagi” Ucap Efira pada Cris.
Cris mengangguk, lalu mulai mengeluarkan berkas-berkas yang telah ia kumpulkan untuk membahas kasus ini bersama dengan atasannya.
“Ini adalah data-data dari nyonya Johnson dimana nyonya Johnson 25 tahun silam pergi membawa seorang bayi yang di duga itu adalah anak pertama dari keluarga Javonte, Julio Gevandri Javonte”
Cris mengeluarkan beberapa lembar foto dimana di dalam foto tersebut ada nyonya Johnson membawa seorang bayi di bandara?
“Ya, foto ini tidak dapat jika kita hanya merentas akun dari bandara. Nyonya Johnson telah mempersiapkan kepergiannya dengan sangat rapi. Foto ini didapat dari salah satu mafia yang saat itu memang bekerja sama dengan nyonya Johnson. Bandara ibu kota menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Johnson, tentu saja harus dengan data-data yang disembunyikan”
Cris melihat tuannya sebentar, mengerti dengan tatapan atasannya lelaki itu menatap Efira lekat “Tuan Alex tidak akan mengangkat saya sebagai tangan kanannya jika saya tidak bisa diandalkan nona. Anda cukup tau hanya dengan data-data ini, jangan tanyakan selebihnya dari hal ini” Ucap Cris.
Memang sangat terlihat bahwa aura yang dibawakan Cris sangat berbeda, tidak bersahabat, dingin, kaku dan tentu saja keras.
“Baiklah, maafkan aku. Lanjutkan” Ucap Efira.
“Saat itu, nyonya Johnson terbang ke Korea terlebih dahulu untuk melakukan operasi plastik. Mengubah wajah dan juga identitasnya disana, lalu pergi menuju New York setelah keadaannya membaik”
Sebuah plot twist yang begitu tidak bisa dibayangkan oleh pasangan tersebut. Seniat itu kah hingga mengubah identitas beserta wajahnya?
“Keluarga Javonte tidak bisa dikatakan keluarga yang macam-macam, meskipun pada masa itu keluarga Johnson berdiri jauh lebih tinggi daripada keluarga Javonte. Tapi, masa akan tetap berubah, kejayaan keluarga Johnson tidaklah lama setelah kematian sang direktur utama ditambah dengan tidak adanya keturunan dari keluarga Johnson yang mengharuskan tahta itu menggelincir kepada orang lain”
“Ini adalah potret sebelum dan sesudah dia melakukan operasi plastik”
Cris menunjukkan sebuah gambar dimana disana terlihat perbedaan yang sangat signifikan dari nyonya Johnson.
“Nama barunya adalah Anita Margaret”
“Anita Margaret? Dia tidak menggunakan nama keluarganya?” Tanya Alex.
“Tentu saja tidak, itu adalah nama aslinya. Anita Margaret, gadis biasa yang sangat beruntung bisa bersanding dengan tuan Johnson. Itu kenapa dia memilih keluar dati kediaman keluarga Johnson, selain dari bayi itu tentu saja dia tidak ingin menjadi bahan bullyan karena di keluarga Johnson karena statusnya yang tergolong menengah ke bawah”
Alex mengangguk, “Lanjutkan”
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Saat itu, ponsel Alex tiba-tiba berbunyi, seseorang tengah menghubunginya. Lelaki itu melihat sebentar siapa yang tengah menelfonnya saat itu.
“Tuan Pyton?” Gumam Alex.
Lelaki itu menatap Cris dan juga kekasihnya sebentar, meminta waktu sebentar uintuknya menjawab panggilan tersebut.
“Selamat malam tuan Pyton?”
“Hai Alex, apa kabar?”
“Sangat baik, tumben sekali menelfon di jam begini?”
“Aku di Jakarta bersama istriku untuk menemui anakku yang sudah melangsungkan pertunangan tanpa kehadiranku. Bagaimana jika kita adakan pertemuan besok? Aku mungkin akan berada disini tidak lama”
“Boleh, besok aku akan meminta sekretarisku menghubungimu untuk membuat jadwal pertemuan kita. Aku pun ingin tau bagaimana pesona putra seorang tuan Pyton” Ucap Alex, seolah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Baiklah, aku menunggu kabar baik darimu” Balas tuan Pyton dari seberang sana.
“Pasti akan menjadi pertemuan yang begitu menyenangkan ya tuan Pyton”
“Tentu saja, omong-omong apa yang sedang kau lakukan di malam hari begini?” Tanya tuan Pyton.
“Aku sedang makan malam dengan kekasihku” Jawab Alex, menatap Efira sebentar.
Gadis itu hanya mengerutkan keningnya, ingin tau pembicaraan apa yang sedang dibahas dengan atasan kekasihnya dulu.
“Sepertinya aku mengganggumu, baiklah lanjutkan makan malammu. Aku menunggu kabar darimu besok. Selamat malam” Tuan Pyton terdengar begitu sopan dari seberang sana.
“Selamat malam”
Sepersekian detik setelahnya, sambungan panggilan mereka terhenti.