
Hari ke-tiga di Roma, Alex dan Efira bangun sedikit siang rupanya.
“Alex, apa yang akan kita lakukan hari ini?” Tanya Efira, ini adalah hari terakhir mereka di Roma. Malam nanti mereka sudah pergi melanjutkan honeymoon di Florence.
“Bersantai saja, aku akan sedikit bekerja hari ini” Ucap Alex, mereka sedang berada di dapur, lelaki itu menyiapkan makanan untuk mereka sarapan.
“Tiga hari dua malam disini, baru kali ini menginjakkan kaki di dapur” Gumam Alex sambil masih fokus dengan masakannya.
“Kau membuat apa?” Tanya Efira.
“Panini”
Lelaki itu masih memanggang roti yang entah jenis roti apa itu, Efira tidak tau karena bentuknya tidak seperti roti pada umumnya.
“Apa kau pergi kesini tanpa membawa bekal pengetahuan kota ini hm?” Tanya Alex saat melihat ekspresi bingung Efira yang melihatnya menyiapkan sarapan.
Gadis itu hanya menggeleng pelan dengan cengiran yang membuat Alex gemas setengah mati.
“Apa aku boleh memakanmu saja hari ini? Kau terlihat begitu menggemaskan” Ucap Alex.
Efira mendelik, melihat suaminya horor.
“Sudah tiga hari kau selalu memakanku di pagi hari apa menurutmu aku ini kuat ha?”
“Tapi, kau tidak pernah menolaknya sayang. Pada akhirnya kau juga menikmatinya bukan” Ucap Alex menggoda.
“Cih” Efira berdecih kesal, bayangan liburan indahnya sedikit tidak seperti ekspektasi.
“Jika kau tidak mau melayaniku dengan sepenuh hati, ya sudah biarkan saja, setidaknya ular kobraku harus memiliki gua. Disini juga banyak bar, aku bisa mencarinya disana” Ucap Alex, sedikit jengkel dengan Efira yang selalu menolak atau bahkan menggerutu saat Alex meminta haknya.
Bukankah sebenarnya itu hal yang wajar?
“Kau ini bicara apa ha? Mau selingkuh? Mau jajan di luar sana?” Omel Efira tidak terima.
Alex selesai dengan hidangannya, membawa dua porsi panini berisi daging tuna olahan yang entah darimana dia mendapatkannya.
“Makan dulu” Ucapnya meletakkan roti panggang itu di pantry, tepat di depan Efira.
“Jawab dulu, Lex”
“Nanti saja kita bahasnya” Ucap Alex, melahap panini miliknya tenang.
“Alex?” Gumam Efira pelan tapi, masih bisa cukup di dengar oleh Alex.
“Hm?” Jawab Alex singkat.
“Apa kau sibuk sampai harus bekerja saat liburan begini?” Tanya Efira.
Alex diam sejenak, “Memangnya apa yang harus aku lakukan? Keluar? Kau kan ingin di hotel saja tidak kemana-mana, apa yang harus di lakukan di dalam hotel berdua? Meminta jatahku? Nanti kau marah-marah seperti semalam. Lalu, hal apa yang bisa aku lakukan disini?”
Sarkas, Alex langsung to the point tidak perlu basa-basi.
“Kau marah? Kesal?” Tanya Efira.
“Aku menikahimu tidak semudah yang dilihat Efira, tidak hanya tentang aku berjanji bersamamu hingga tua bahkan hingga mati, ini tentang tanggung jawab, entah sebagai sahabat, rekan kerja dan suamimu sebisa mungkin aku memberikan yang terbaik untukmu tapi, kau?”
Efira pun langsung terdiam menunduk, melihat suaminya begitu membuatnya merasa bersalah juga. Benar, effort Alex padanya pun tidak pernah main-main, lelaki itu selalu memberikan yang terbaik.
“Alex, maafkan aku” Efira masih menunduk, tidak berani menatap suaminya.
“Kau butuh waktu?” Tanya Alex, mendekati lalu memeluk istrinya, membiarkan wanita itu menangis disana.
“Maafkan aku jika aku mungkin terkesan memaksamu akhir-akhir ini” Lanjut Alex, membuat Efira malah semakin menangis dan memeluk Alex kencang sambil menggelengkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Terharu, hanya itu yang ada di pikiran Alex. Bukankah lelaki itu tidak bersalah lalu kenapa dia yang meminta maaf.
“Maafkan aku, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Maaf” Hanya itu yang bisa di ucapkan Efira.
Alex hanya tersenyum, mengelus pelan surai hitam Efira, memberikan ketenangan agar wanitanya berhenti menangis.
Sudah baikan tapi, Alex masih fokus dengan laptonya di ranjang bersama Efira di sampingnya, gadis itu bahkan sudah ketiduran hingga malam menyapa.
“Kau sudah makan?” Tanya Efira setelah menarik ototnya yang kaku sebangun tidur.
“Aku menunggumu” Jawab Alex.
“Aku sudah memesankan makanan untuk kita, mungkin sebentar lagi sampai” Lanjut Alex.
Efira mengangguk paham, mendekati suaminya dan bergelayut manja di lengan penuh otot itu.
“Kenapa kau jadi seperti kucing manis begini?” Tanya Alex tapi, dia begitu gemas.
“Biarkan saja”
Tung
Tung
Tung
Bel pintu berbunyi, “Sepertinya pesananku sudah datang, aku akan mengambilnya dulu” Ucap Alex, bangkit dan mengambil pesanannya.
Mereka makan malam dengan baik, makanan khas Italia selalu menjadi pilihan keduanya.
“Aku mau mandi dulu” Ucap Efira, mengambil bathrobe-nya dan mengambil baju ganti di koper.
“Aku akan melanjutkan pekerjaanku” Ucap Alex.
15 menit kemudian Efira sudah keluar tapi, TIDAK DENGAN BATHROBE-NYA.
Alex mendelik, melihat bagaimana ling*rie merah itu membalut tubuh sexy istrinya. Dia mengeluarkan smirk nakal andalannya.
“Kita booking kamar ini untuk satu malam lagi, besok saja ke Florence-nya” Ucap Alex, segera mengambil telepon hotel untuk mengabari resepsionis dan membayar biayanya, melakukannya dengan terburu-buru lalu segera datang menghampiri Efira.
“You look so sexy baby” Bisik Alex, membawa Efira masuk ke pelukannya dengan sentuhan-sentuhan sensual disetiap inci tubuh wanitanya.
“I’m your b*tch tonight” Bisik Efira tidak kalah sensual.
****, Alex segera menyerbu istrinya dengan banyak kecupan merah. Malam itu, keduanya benar-benar menikmati masa-masa mereka pada malam terakhir di Roma.