You

You
Villa



“Efira, ini sangat mewah. Di Amerika banyak yang mewah tapi, disini luar biasa” Lagi-lagi Elena dibuat ternganga akan panorama di sekitarnya.


Saat ini, Efira dan rombongan sudah berada di sebuah villa yang disewa Efira.


Jangan salah, keluarga Javonte tidak mungkin tidak memiliki villa pribadi tapi, gadis itu sedang menginginkan suasana baru.


Villa Samudra Luxury Beach Front namanya. Salah satu villa bintang lima di Bali.


Villa ini dikelilingi oleh persawahan di satu sisi, sedangkan tidak jauh dari sana ada sebuah pantai, itu adalah Pantai Pabean.


“Aku rasa Bali adalah jantungnya pantai pariwisata” Ujar Frans.


“Jika kalian bosan melihat lautan samudera, kita bisa memandang gunung Agung dari sini” Ucap Efira.


“Kau memang terbaik” Komentar itu keluar dari bibir Deva. Takjub dengan apa yang ia saksikan saat ini.


“Yang terbaik untuk teman-teman terbaik” Jawab Efira.


Mereka memutuskan untuk segera masuk.


Di villa itu ada tiga kamar yang bersembunyi di kerimbunan pohon kelapa.


Alex bersama dengan Devan, Frans serta ketiga temannya yang lain tidur dalam satu kamar. Mungkin Efira lupa mempertimbangkan hal ini. Para lelaki itu mengalah demi wanita-wanita untuk kenyamanan bersama.


Efira dan Elena berada di dalam satu kamar. Sedangkan Aulia, Bella dan Deva berada di kamar lainnya. Sungguh malang nasib para lelaki.


Tidak ada tuan muda Harrison, yang ada semuanya sama. Entah bagaimana mereka akan tidur nantinya.


“Interiornya keren, nuansa modern bercampur dengan ukiran khas Bali serta ukiran-ukiran kayu tradisional ini. Ugh, memukau” Puji Elena. Mengomentari interior villa tersebut.


“Tidak heran jika villa ini menjadi villa bintang lima” Tutur Efira. Membanggakan pilihannya dalam menyewa tempat.


“Kau tau apa kesalahanmu?” Tanya Alex. Ekspresi lelaki itu terlihat tidak bersahabat.


“Apa?” Efira malah balik bertanya.


“Kau ini ditanya kenapa jadi balik bertanya?” Jawab Alex.


“Tidak tau” Jawab Efira singkat, merespon pertanyaan sahabatnya sebelumnya.


“Kau membawa rombongan dan menyewa villa yang hanya memiliki tiga kamar” Jelas Alex.


Hahaha


Benar juga, begitu batin Efira berkata


“Maafkan aku teman-teman. Mau pindah tempat?” Tanya Efira, berniat mengganti apa yang menjadi kesalahannya.


“Tidak perlu, ini sudah cukup” Jawab Nando.


“Aku bisa tidur di ruang tengah jika memang tidak cukup nanti” Sahut Samuel dengan keputusan bijaknya.


“Jika kau rewel, Alex. Kau saja yang pindah dan cari tempat yang kau inginkan” Balas Gio sarkatis kepada Alex.


Jiwa julid Gio sudah keluar rupanya.


“Ya ya, aku akan tetap disini. Siapa yang akan menjaga Efira jika aku pergi hm?” Sahut Alex menanggapi teman-temannya.


“Aku akan menjaganya” Jawab Frans.


Sial, Alex lagi-lagi harus mendidih karena lelaki bule itu.


“Kau pikir kau siapa?” Alex menanggapinya dengan tatapan tajam pastinya.


“Aku? Frans” Sahut Frans, tersenyum penuh kemenangan.


“Oke, stop. Jika kalian melanjutkan perdebatan ini, tidak akan ada habisnya hingga besok atau bahkan hingga liburan kita selesai disini” Ucap Bella menengahi, memisahkan perselisihan dua orang pejantan itu yang terlihat mulai memanas.


Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah, menonton acara televisi yang menurut mereka sangat membosankan.


“Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Deva. Gadis itu terlihat suntuk. Ingin keluar tapi, yang lain masih berada di dalam.


“Bagaimana dengan bermain bola voli pantai? Alex bersama Samuel, Devan, Aulia dan Bella. Sedangkan aku bersama Frans, Gio, Nando dan juga Deva” Efira mengatakannya dengan enteng.


Cih


“Kenapa? Kau tidak terima Frans satu tim dengan Efira?” Ucap Nando. Lelaki itu tertular oleh virus julid dari Gio sepertinya.


“Aku tidak ingin main” Jawab Alex.


“Kau masih memiliki burung bukan? Jangan kekanakan karena hal ini” Balas Gio frontal.


“Jaga mulutmu, Gio. Kau lupa ada Aulia disini?” Protes Samuel dengan perkataan temannya itu.


Gio saat itu langsung sadar dan hanya tersenyum tanpa dosa, “Maaf”. Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.


“Memangnya kalian tidak ingin ada wasit?” Ucap Alex, percobaan membela diri sendiri?


“Benar juga” Gumam Bella.


“Biar aku yang jadi wasit” Sahut Devan.


Selain tidak pengertian dengan bosnya, Devan juga sedang malas bergerak. Tolong maafkan Devan kali ini Alex, karena lelaki itu menjadikan dirimu tumbalnya agar tidak banyak bergerak.


“Kau ini sialan sekali” Umpat Alex kepada Devan.


Usia mereka yang tidak terpaut jauh, membuat Alex berbicara dengan nada yang santai begitu.


“Maafkan saya tuan tapi, anda harus ikut” Jawab Devan.


“Aku akan menemani Devan. Sepertinya menjadi pemain cadangan menyenangkan” Ucap Nando.


“Hey, apa kau memiliki burung?” Ucap Alex, masih tidak terima. Kenapa ketika Nando dan Devan tidak ingin bermain teman-temannya biasa saja sedangkan jika dirinya tidak itu main malah dipaksa?


“Kau mau lihat?” Tanya Nando.


“Menjijikkan” Gumam Alex.


PLAK


PLAK


Punggung Alex dan Nando sepertinya akan mendapatkan cap lima jari karena Bella.


“Sudah Samuel katakan, ada Aulia. Kenapa kalian tidak mengerti juga?” Ucap Bella.


“Baiklah. Untuk para gadis, adakah dari kalian yang ingin menjadi wasit?” Tanya Bella, berniat meringankan beban para gadis.


Tapi, mereka adalah gadis –gadis tangguh yang senang bermain. Bahkan Aulia yang menggunakan jilbab saja senang berolahraga.


“Tidak ada?” Tanya Bella memastikan.


Efira, Aulia dan Deva mengangguk. Tanda bahwa mereka ingin bermain.


“Biar Nando dan Devan yang menjadi wasit” Ucap Bella secara final.


Personil lengkap.


“Baiklah, ayo bersiap” Efira bangkit dari duduknya, diikuti oleh yang lain.


“Tuan, kenapa anda tidak bersiap?” Tanya Devan pada Alex.


Lelaki itu hanya diam di tempatnya, menekuk wajah tidak terima.


“Menurutmu? Efira bersama Frans? Apa gadis itu sedang menghindariku?” Alex berceloteh di depan Devan dan juga Nando, menyedekap-kan tangannya di dada.


Itu lucu, cemburu memang seperti itu.


“Setidaknya bersiaplah karena nona Efira akan mengamuk jika anda tidak segera bersiap.” Saran Devan.


“Kau terlalu lambat, dude. Tidak ingin dia didekati siapapun tapi, kau sendiri tidak pernah memberi kepastian” Ucap Nando menyindir Alex.


Alex tidak peduli, dia memilih pergi meninggalkan dua orang itu di ruang tengah sebelum Efira benar-benar mengamuk. Efira memang suka marah-marah tapi, Alex tidak pernah mempermasalahkannya. Siapa yang mampu membuat Alex bertekuk lutut jika bukan Efira?


Hanya Efira. Yang sialnya adalah sahabatnya sendiri.