You

You
Butik dan Markas



Efira dan Alex memasuki butik dengan tenang, disambut beberapa karyawan yang memang dipekerjakan oleh Efira untuk membantu Aulia mengurus butiknya.


“Aulia sudah datang?” Tanya Efira pada salah satu karyawannya yang sedang merangkai beberapa bunga untuk ornamen suatu gaun.


“Sudah non, mbak Aulia sudah di ruangan sejak tadi pagi” Jawabnya.


“Terimakasih” Ucap Efira, berjalan menuju ruangan Aulia berdampingan dengan kekasihnya.


Tok


Tok


Tok


“Masuk” Ucap seseorang dari dalam sana.


Ceklek


Efira membuka pintu ruangan tersebut, melihat Aulia sedang sibuk dengan banyak gambar di mejanya.


“Sibuk sekali rupanya ibu manager kita” Goda Efira.


Aulia langsung melihat ke sumber suara, mendapati sahabatnya berdiri di ambang pintu sana.


“Aaaa, Efira. Kau datang? Aku benar-benar merindukanmu” Ucap Aulia, berhambur memeluk sahabatnya.


“Aku hanya ingin membantumu menyelesaikan sebuah gaun yang dipesan temanku beberapa waktu lalu, itu pasti sangat menyulitkanmu bukan?” Ucap Efira.


“Lumayan, desainmu sangat mengesankan tapi, untuk dijadikan realita pun begitu mengesankan” Ucap Aulia diakhiri dengan kekehan mengingat dirinya tidak sanggup menyelesaikan gaun itu sendirian dan berakhir harus mengatakannya kepada Efira untuk menyerah saja dengan gaun itu.


Bukan Aulia tidak profesional tapi, memang itu terlalu rumit untuknya, ada banyak makna di dalam gaun itu yang hanya Efira yang tau dengan desain yang dibuatnya.


“Baiklah, mari aku bantu. Aku harus segera menyelesaikannya karena aku ada acara setelah ini” Ucap Efira, mempersilahkan Alex duduk di ruangannya terlebih dahulu.


“Tunggulah di ruangan sebelah, kau bisa istirahat sebentar disana” Ucap Efira pada Alex.


Alex memicingkan matanya, “Aku mau menemanimu saja” Ucapnya lalu mengikuti kemana Efira pergi.


“Aleex” Itu adalah sebuah peringatan dari Efira untuk kekasihnya.


“Sayang, biarkan aku menemanimu. Aku janji tidak akan menganggumu, aku hanya ingin menemanimu saja, tidak lebih” Ucap Alex.


“Aku benar-benar panas disini. Tidak sadarkah kalian sedang berada diantara seseorang yang sedang melajang?” Ucap Aulia.


Alex hanya mampu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, merasa sedikit malu juga dengan Aulia.


“Biarkan saja dia ikut, apa salahnya juga jika Alex menunggumu, dia kekasihmu” Lanjut Aulia pada Efira.


“Baiklah” Ucap Efira menyerah.


Mereka segera berjalan menuju tempat yang khusus untuk Efira bekerja.


Ceklek


Ketika pintu itu dibuka, terpampanglah sebuah gaun mewah yang belum selesai disana.


“Kau membuatnya dengan sangat rapi” Puji Efira kepada Aulia.


“Itu akan berbeda jika tanganmu yang membuatnya langsung, pasti akan terlihat sangat spektakuler” Ucap Aulia.


Efira dan Aulia segera mengeksekusi gaun tersebut, membuatnya dengan sangat baik dan rapi. Alex bahkan sampai ketiduran di sofa ruangan tersebut.


“Ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah?” Tanya Aulia di tengah pekerjaan mereka.


“Tunggu saja undangannya, tidak perlu terburu-buru” Jawab Efira, masih fokus dengan pekerjaannya.


Inilah kehebatan seorang Efira, dia bisa fokus dengan suatu hal disaat mulutnya bahkan asik berceloteh sejak tadi.


“Aku dengar kau sempat masuk rumah sakit, kau sakit?” Tanya Aulia.


“Darimana kau tau?” Ucap Efira.


“Gio adalah pemilik saham di rumah sakit yang kau tempati waktu itu, dia memberitahu bahwa penjagaan disana benar-benar ketat. Apa ada masalah serius?” Tanya Aulia lagi.


“Tidak ada, hanya saja,…” Efira berhenti sejenak, menggantung ucapannya.


“Apa?” Tanya Aulia penasaran.


“Aiken datang dan menghancurkan segalanya” Sahut Alex.


Keduanya langsung menoleh pada sumber suara, rupanya Alex masih memejamkan matanya dan melipat kedua tangannya di dada.


“Aku tidur tapi, kalian begitu berisik sejak tadi. Tentu saja aku terganggu, lalu aku mendengar kalian bahkan membicarakan kapan aku dan Efira akan menikah” Jawab Alex.


Efira antara kaget dan juga malu bersamaan disana.


“Lebih baik segera selesaikan pekerjaan kalian, fokuslah dengan apa yang sedang ada di hadapan kalian agar hasilnya pun memuaskan” Ucap Alex, masih dengan matanya yang terpejam.


Sedangkan Aulia masih dipenuhi tanda tanya di kepalanya.


“Aiken?” Aulia mengulang nama itu.


“Lelaki bajing*n itu, apa yang sudah dia lakukan hingga kau harus dilarikan ke rumah sakit?” Tanya Aulia pada Efira.


“Masih dengan motif yang sama dengan yang dulu” Jawab Alex.


“Lalu bagaimana dia sekarang? Kau sudah memberinya pelajaran?” Aulia segera menatap Alex.


“Dia sudah tenang di neraka”


Deg


Semuanya terdiam, masih mencerna ucapan Alex.


“Tenang saja, dia tidak akan mengganggumu lagi, dia sudah ditangani oleh pihak berwajib” Ucap Alex, seolah tau dengan isi pikiran dua wanita di hadapannya.


Aulia dan Efira bernapas dengan lega setelah mendengar hal itu.


...***...


Di markas Aiken, banyak sekali keributan terjadi. Dimulai dari mayat-mayat penjaga yang tercecer di depan gerbang dan pintu masuk.


“Tuan, di depan, penjaga di depan, mereka, penjaga di depan, mereka mati” Ucap seseorang, niat awalnya ingin membuang sampah berakhir tidak menyenangkan setelah mendapati rekan-rekannya bersimbah darah di depan pintu utama.


“Ada apa?” Ucap seseorang yang lain, sebut saja dia adalah salah satu tangan kanan Aiken.


“Para penjaga mati dengan luka tusuk tepat di jantung mereka” Jawab saksi yang lain.


“Sial, ada apa lagi kali ini?” Gumamnya.


“Urus mayat-mayat itu lalu, kita bahas ini di ruang meeting. Aku tunggu, tidak pakai terlambat” Lanjutnya, sebagai tangan kanan dia tentu saja bertanggung jawab dengan markas ketika Aiken tidak ada.


Ceklek


“Oh **** damn”


Sang tangan kanan hanya mampu mengeluarkan umpatannya ketika melihat sebuah kepala tergantung di tengah-tengah ruang meeting.


Dia lalu segera memanggil rekan-rekannya yang lain.


“Lihat, mainan apakah yang digantung disana” Pintanya.


Seseorang langsung bergerak cepat, berniat mengambil kepala yang disebut sebagai mainan itu dan,


Deg


“I-Ini” Ucapnya tergagap, menyentuh kepala itu membuat bulu kudunya berdiri.


“Ada apa? Cepat turunkan kepala bodoh itu, siapa yang sudah berani bermain-main disini ha?” Sang tangan kanan berteriak marah disana.


“T-Tapi i-ini b-bukan m-m-mainan t-t-tuan” Ucap seseorang diatas sana yang memegang kepala Aiken.


“Lalu apa? Jangan bercanda, cepat bawa turun mainan itu” Perintah sang tangan kanan.


Seseorang diatas sana segera memutar kepala yang ia pegang.


Deg


Semua orang tercengang melihat wajah Aiken terpampang menggantung disana.


“Sialan, siapa yang berani memanipulasi hal ini?”


Sang tangan kanan terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihat.


Seseorang tadi segera membawa kepala itu turun, memberikannya pada sang tangan kanan sebagai bukti bahwa itu bukanlah sebuah kamuflase belaka.


Banyak keributan yang terjadi, ditambah dengan koki markas yang juga ditemukan meninggal karena menghirup bahan kimia berbahaya di dalam sapu tangan yang bukan hanya berisi obat bius tadi.


“Si*alan sekali, mereka harus segera diberi pelajaran” Gumam sang tangan kanan, menatap kepala atasannya dengan sedih.