You

You
Baku Hantam



“Kau akan aku beri hukuman tambahan” Ucap Alex.


Alex dan Efira berjalan di belakang yang lainnya menuju tempat theater.


“Apa maksudmu?” Tanya Efira.


“Kau tidak menemaniku mengerjakan laporan tadi, kau malah asik berdua dan bercanda ria dengan Frans” Jawab Alex cepat.


Cih, hal macam apa itu? Pikir Efira.


“Kau cemburu?”


Efira menggoda sahabat lelakinya itu, menoel sedikit dagu Alex sebagai sikap godaannya.


“Tidak juga” Ucap lelaki itu, tidak mau mengakui kelemahannya.


“Aku hanya tidak suka jika kau terlalu dekat dengannya” Lanjutnya.


“Kenapa?” Tanya Efira menuntut penjelasan.


“Ya pokoknya tidak suka”


“Kau mau tau sesuatu?” Bisik Efira pelan.


“Apa?” Alex mendekatkan telinganya kepada Efira.


“Tidak ada, aku hanya menggodamu saja”


Sialan!


Mereka menonton film dengan sangat khidmat. Begini posisinya, (Samuel,Devan, Gio, Deva, Bella, Aulia, Frans, Elena, Efira, dan Alex).


Jadi, semuanya berjalan dengan baik dan damai. Tidak ada Alex yang cemburu karena Frans atau Alex yang mengacau karena hal lain. Semua aman sampai film selesai diputar.


“Itu tadi sangat menyenangkan” Ucap Elena.


“Kau lihat bagaimana main character-nya menghabisi second character? Waaah itu sangat keren” Balas Aulia.


Begitulah kehebohan yang terjadi setelah mereka keluar dari ruang theater.


“Apa pop corn-nya sudah habis?” Tanya Bella kepada yang lain.


“Milikku masih ada” Ucap Devan.


Devan dan Samuel memang tidak menikmati film yang diputar sama sekali, mereka bahkan tidur selama film itu diputar tadi.


“Kau mau?” Lanjut Devan.


Bella hanya mengangguk semangat.


“Ini”


Devan memberikan kotak pop corn-nya untuk Bella.


“guys, tidakkah kalian ingin menonton drama korea bersama?” Ucap Bella kepada teman-teman wanitanya.


“Aku akan langsung istirahat, kau juga sebaiknya beristirahat. Besok kita akan pulang, perjalanan pasti akan sangat melelahkan” Tutur Efira menjelaskan.


“Aku juga akan tidur, jika aku menonton aku tidak akan mengerti juga” Jawab Elena.


“Kenapa begitu?” Tanya Aulia.


“Ya karena yang kalian lihat pasti memiliki subtitle berbahasa lokal, sedangkan bahasa lokalku disini masih sangat buruk” Balas Elena.


“Benar juga” Ucap Deva.


“Yasudah, kalian istirahatlah. Aku dan yang lain akan menonton drama sebentar” Ucap Bella.


“Selamat malam” Ucap Bella sebagai tanda perpisahan mereka sebelum kembali ke kamar masing-masing.


Para lelaki sudah masuk kamar sejak tadi, tanpa tau konferensi macam apa yang dibicarakan para gadis.


“Selamat malam, have a nice dream, Efira” Ucap Elena sebelum akhirnya gadis itu menarik selimut, menutup matanya perlahan dan terbang ke alam mimpi.


“Too” Jawab Efira singkat, menjemput mimpinya juga.


Ting


Namun, belum sampai di pagi hari Efira harus dikejutkan dengan suara dari ponselnya.


Sudah pukul 01.00 dini hari, siapa yang berani mengganggu tidur seorang Efira Javonte?


Frans


Bisa ke bale? Aku ingin bercerita.


Begitu isi pesan dari sang pengirim.


Efira mengerutkan keningnya, “Malam-malam begini?” Gumam Efira pelan.


^^^Efiraa^^^


^^^Oke^^^


Balas Efira pada sang pengirim pesan.


Gadis itu segera mencari jaketnya lalu keluar menuju bale yang berada di sekitar vila.


“Hei” Sapa Efira.


Lelaki itu tampak memerah, seperti habis menangis?


“Dia meninggalkanku, Efira. Dia mengira bahwa aku memiliki kekasih yang lain disini”


Grep


“Kenapa bisa tiba-tiba dia begitu?” Tanya Efira lagi, mengelus pelan punggung seseorang itu.


“Ada yang memataiku disini. Mungkin di luar sana dia mengirimkan orang untukku. Dia bahkan tidak mau mendengar ucapanku” Tuturnya.


“Tenanglah, kita cari jalan keluarnya bersama setelah ini. Mau aku ambilkan minum?” Tawar Efira.


Lelaki itu hanya menggeleng pelan, “Aku pinjam bahumu saja, aku butuh seseorang untuk menguatkanku saat ini”


Sret


Bug


Bug


Bug


“Sudah aku bilang, jangan pernah menyentuh Efira” Ucap Alex dengan nada penuh amarah.


Ya, Alex adalah seseorang yang telah menyeret lawan bicara Efira lalu memberi lelaki itu pelajaran berharga.


“Apa-apaan kau ini?” Ucap Efira berteriak. Biar saja meskipun sudah malam.


“Kau yang apa-apaan, katakan ada hubungan apa kau dengan lelaki sialan ini?” Alex mengatakan hal tersebut dengan luwes, nadanya sangat mengintimidasi.


“Kami teman” Jawab Efira.


“Pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang bertemu dan berpelukan di tengah malam begini?” Tanya Alex.


“Pantas saja kau selalu membela lelaki ini di depanku bahkan bule ini juga seperti selalu mengejar-ngejar dirimu. Apa aku butuh penjelasan lagi untuk apa yang sudah aku saksikan?” Lanjutnya.


Frans, lawan bicara Efira sebelumnya hanya mampu menyeringai. Apa Alex sedang cemburu buta? Apa itu alasan Alex selalu menghindarkan dirinya dengan Efira?


“Cih, kau cemburu denganku? Maaf, Efira bukan tipeku” Ucap Frans datar, lebih tepatnya tatapannya seolah meremehkan Alex.


“Lalu untuk apa kau menemuinya di tengah malam begini? Siapa lelaki normal yang akan kuat bersama seorang gadis di tempat sepi ini berduaan ha?” Ucapan Alex masih terdengar menggebu-gebu.


Yang paling beruntung adalah teman-teman yang lain tidak mendengar kegaduhan yang terjadi di luar vila.


“I’m sorry but, aku tidak normal” Jawab Frans.


Deg


What the meaning is it?


Alex menatap Frans bingung.


“I’m gay” Bisik Frans seduktif, seolah mengerti arti dari tatapan Alex.


“Aku hanya bercerita pada Efira bahwa kekasihku meninggalkanku, dia mengira aku memiliki hubungan lain dengan salah satu dari kalian para lelaki. Dia juga mengetahui bahwa kita satu kamar, membuatnya semakin membabi buta dengan kecurigaannya” Lanjut Frans.


What the f*ck?


Jadi, tadi dirinya sudah tidur satu kamar dengan seorang gay? Pikir Alex.


Baiklah, lupakan itu dulu. Sekarang, Alex harus minta maaf.


“Okay I’m sorry” Ucap Alex singkat, bulu kudunya merinding ketika Frans menerima uluran tangannya.


Tidak disangka, jika Frans ternyata ‘belok’.


“Kau terlalu terburu-buru dude, ini sakit jika kau mau tau” Jawab Frans lalu mengelus pipinya yang membiru karena sahabat Efira itu.


“Ayo, aku obati” Ucap Efira, gadis itu tidak mengindahkan Alex sama sekali.


Tentu saja dia kesal. Apa-apaan sahabatnya itu?


“Efira?” Panggil Alex.


Jangankan menjawab, menoleh saja tidak.


...***...


“Kau tidak bisa melupakan hukumanmu Efira” Ucap Alex. Dia mencegah tangan Efira setelah gadis itu meletakkan kompers.


“Apa?” Ketus Efira.


“Tidakkah kau ingin mengambilkan aku bantal dan selimut? Aku akan tidur di ruang tengah” Jawab Alex.


Tidak perlu berpikir lama-lama, Efira segera mengambilkan bantal dan juga selimut untuk Alex. Sepertinya lelaki itu akan tidur di sofa di malam terakhir ini.


“Terimakasih” Ucap Alex.


“Hm” Gumam Efira sebagai jawaban. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya tapi?


Alex mengangkat satu alisnya lalu mengeluarkan smirk-nya. Dia menahan Efira tepat sebelum gadis itu membuka pintu kamarnya, membawa gadis itu ke dalam gendongannya dan merebahkan Efira di sofa. Dikuncinya gadis itu di pelukannya hingga Efira sama sekali tidak bisa bergerak.


“Temani aku tidur” Gumam Alex, memeluk Efiranya dari belakang seperti semalam.


“Apa yang kau lakukan tengah malam di luar kamarmu?” Tanya Efira, penasaran atas ketiba-tibaan Alex yang datang saat dirinya bersama dengan Frans.


“Aku haus, aku pergi ke dapur. Lalu aku melihat pintu terbuka, awalnya aku ingin langsung menutupnya tapi, aku melihat siluet manusia di luar. Aku hanya memastikan awalnya tapi, aku malah melihat bule itu memelukmu” Jawab Alex.


Tidak ingin membahas lebih jauh, Alex segera berucap, “Jangan banyak bicara, ayo tidur”