You

You
Episode 2



Tiga bulan telah berlalu, tanpa terasa ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku sebagai seorang mahasiswa. Hari dimana aku akan ujian skripsi. Aku merasa ini mimpi tapi penuh dengan debaran. Dengan menggunakan kebaya putih dari ibuku, aku mempresentasikan hasil skripsi yang sudah kukerjakan selama tiga bulan ini. Satu per satu pertanyaan dari dosen penguji dapat kujawab dengan lancar walaupun ada beberapa yang hampir saja tidak dapat kujawab. Di akhir ujian skripsi, aku begitu bahagia karena mendapat nilai A. Aku benar-benar senang sekali.


“Shan selamat ya,” ujar teman-temanku yang sudah menontonku sejak awal di ruangan sidang saat aku mulai melangkah keluar ruangan.


“Makasih guys, makasih datang nonton aku sidang. Kalian cepat nyusul ya,” ucapku.


“Pasti,” jawab Nini.


“Padahal kayaknya kamu santai-santai aja dan cuma ngegame doank kerjaannya, tapi kok bisa duluan sidang? Mencurigakan,” ledek Ari.


“Haha, aku menggunakan kekuatan cintaaaaa,” jawabku seenaknya.


“Shan, ini buat kamu,” kata Geri yang tiba-tiba datang dan membawakan bunga dan coklat untukku. Dia adalah senior dua tahun di atasku dan selalu membantuku di kampus bahkan hingga saat sebelum aku ujian skripsi. Aku tahu dia masih memiliki rasa padaku walaupun sudah aku tolak pernyataan cintanya setahun yang lalu. Dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu dan akan tetap menungguku.


Kuakui aku memang mengaguminya ketika masih menjadi mahasiswa baru. Namun, kekaguman itu hanya sebatas rasa kagum saja, aku pikir dia sangat hebat dengan prestasinya yang sangat banyak di kampus ini. Kami pernah berada di satu tim yang sama saat mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Saat itu aku menyadari bahwa ia benar-benar orang yang hebat dan baik. Namun sayangnya aku tidak memiliki rasa untuk mencintainya.


Tak pernah terlintas dipikiranku untuk menjalani sebuah ikatan tanpa rasa suka. Walaupun kuakui sangat sulit bagiku untuk jatuh cinta, tapi aku tak ingin menerima seseorang untuk berada di sisiku tanpa rasa suka. Aku memang pernah belajar untuk mencintai Geri. Tapi sebanyak apapun aku mencoba, aku tak pernah berhasil menumbuhkan rasa suka di hatiku. Mungkin aku harus sedikit mengubah pendirianku jika ingin bisa merasakan cinta. Mungkin aku harus menerima Geri suatu hari nanti, mungkin.


Bunga yang Geri berikan sangat harum sekali dan aku menyukainya. Bunga lili kuning, lambang pengharapan. Ah, apa maksudnya ini? Kenapa tidak memberikan bunga mawar merah atau mawar pink saja.


Aku menerimanya sambil memberikan senyum termanis yang kumiliki pada Geri. Dia membalas senyumanku dengan malu-malu.


“Cieee..,” ejek teman-teman yang lainnya.


“Kak Geri, nanti mau ikut kami makan-makan, gak? Shan yang bayarin loh,” ajak Novi.


“Lah? Kok aku yang bayarin? Ini akhir bulan loh. Bokek.. hehe ” tanyaku memelas.


“Maaf ya, kakak lagi gak bisa, soalnya setelah ini masih harus balik ke tempat kerja lagi,” tolak Geri dengan halus.


“Wow keren, jadi kakak kesini cuma mau ngasi ucapan selamat aja sama Shan, ya?” tanya Gina.


Geri hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu, karena sudah bukan rahasia lagi jika ia menyukaiku. Caranya mencintai seseorang tidak bisa ia sembunyikan. Bisa kutebak ia bergolongan darah B.


“Shan, aku permisi dulu, selamat atas ujian skripsinya. Traktirannya aku tunggu, ya,”ujar geri.


“Iya, kakak, ntar kabarin aja kalau sudah gak sibuk,”


“Cieee…” ledek teman-teman lagi sambil mengiringi kepergian Geri. Kami tertawa dan bersiap-siap pergi makan.


Seperti biasa, bukan peraturan atau tradisi tertulis, tapi setelah ujian skripsi, entah mengapa harus ada aturan untuk mentraktir teman sekelas. Yang saat itu kutraktir bukan semua teman di kelas, tapi cukup perwakilannya saja (dengan kata lain teman dekat), dikarenakan masalah keterbatasan ekonomi, mungkin. Yah, selain itu karena ini akhir bulan. Keterbatasan ekonomi ditambah kondisi akhir bulan, ini sungguh "combo" menyedihkan seorang mahasiswa sepertiku. Belajar dari pengalaman, jadi mungkin lain kali kalau aku berpikir untuk lanjut S2, lebih baik aku mengambil jadwal sidang tesis di tanggal muda. Eh, tesis itu apa ya? #mendadak amnesia seusai sidang skripsi.


Aku pergi bersama Gina, Nini, Valen, Ari, Winda, dan Novi. Tadinya Devi dan Desy ingin ikut namun karena ada urusan lain yang lebih penting terpaksa tidak dapat bergabung bersama kami. Hal pertama yang dilakukan untuk merayakan keberhasilan ujian skripsiku adalah makan.


“Shan, aku gak nyangka kamu makan sebanyak itu,” ujar Winda yang melihat porsi makanku melebihi porsi makan Ari dan Valen.


“Memangnya kenapa, Win?” tanyaku.


“Gak sesuai badan,” jawab Winda lalu tertawa.


“Liat Nini tuh, makan dikit sesuai sama badannya yang kecil. Jadi ada alasan ngapa kok badan dia kecil. Trus si Valen, makan banyak, badannya juga besar. Nah kamu, makan banyak tapi badan kecil kayak tikus gitu. Lari kemana coba makanannya?Lari ke ......."  ejek Ari.


"Stop.. Ari... jangan dilanjutkan, aku tahu kamu mau nomong apa. Please, kita lagi makan," ujar Winda.


“Lari ke perutmu,” jawabku ketus sambil menunjuk perut Ari yang makmur.


“Oh iya Win, gimana rencana tunanganmu sama Kak Seno? Sudah berapa % persiapannya?” tanya Novi mulai membuka topik pembicaraan baru.


“Haha.. rahasia,” ujar Winda.


“Yah, main rahasia-rahasiaan,” ujar Novi ketus.


“Novi sama Ardi sendiri bagaimana? Sudah ada rencana mau melanjutkan ke pernihakan?” tanyaku tiba-tiba asal ceplos.


“Wow Shan frontal, rencana nikah pasti ada lah ya, cuma ya bukan dalam waktu dekat ini. Lagian Ardi juga belum selesai kuliah,” jawab Novi.


“Aku belum kepikiran nikah loh, “ sambung Ari.


“Ah itu wajar,” sambung Valen lagi.


“Iya, wajar. Belum aja calon soalnya,” jawab Winda sambil disusul suara tawa kami yang terdengar berirama.


Tiba-tiba, aku teringat tentang kehidupan rumah tangga papa dan mama. Apa nanti kehidupan rumah tanggaku juga bisa berakhir seperti itu ya? Bukankah akan terasa menyakitkan? Walaupun awalnya hanya kebahagiaan yang kurasakan, tapi semenjak kepergian kak Andre, semuanya berubah seakan kebahagiaan itu hanyalah mimpi yang tak pernah ada sebelumnya


Hal itu yang menjadi pertimbanganku saat ini; "Apakah aku sudah siap menikah atau belum?" Aku tidak ingin seandainya menikah hanya akan berakhir seperti rumah tangga papa dan mama. Selain itu, aku hanya akan menikah dengan seseorang yang benar-benar aku cintai, sedangkan saat ini, aku merasa jika hatiku kosong, seperti tidak ada rasa cinta sedikitpun.


“Kira-kira kalau kita nikah nanti, apa bisa tidak ada masalah sama sekali ya?” tanyaku tiba-tiba terbawa suasana.


Seketika itu, tatapan mata semua teman-teman tertuju padaku. “Ah, aku salah bertanya,” pikirku.


“Masalah pasti ada, Shan. Cuma bagaimana cara mengatasinya itu yang terpenting,” jawab Gina.


“Iya, aku pikir juga begitu. Dulu waktu mamaku meninggal juga rasanya sedih banget. Aku pikir saat itu juga kebahagiaanku berakhir, ternyata nggak juga. Nih lihat, sekarang aku bisa berada di titik ini. Sedih memang kadang masih terasa kuat banget. Tapi mau bagaimana lagi?Toh kehidupan kita tetap berjalan lurus ke depan kan?" sambung Nini dengan mata berkaca-kaca.


“Nini maaf,” selaku.


“Iya, gak apa-apa kok. Aku juga yang malah jadi keingat gini,” ujar Nini sambil menyeka air matanya.


Gina dan Nini memang benar, hanya saja, aku tidak tahu bagaimana caranya mengatasi masalah yang terjadi di kehidupan keluargaku. Aku tak dapat membayangkan bagaimana kehidupan yang pernah Nini lalui saat ia kehilangan mamanya. Mamanya meninggal karena sakit beberapa minggu sebelum ujian akhir nasional SMP diadakan. Bukankah itu akan sangat mengganggu konsentrasi belajarnya? Jika aku yang berada di posisi Nini, mungkin saat itu aku benar-benar tak akan mampu menghadapi ujian nasional yang dekat dengan kepergian mamanya itu. Tapi Nini benar-benar berbeda dan sangat tegar. Aku ingin setidaknya memiliki sedikit saja ketegarannya.


Mendadak suasana siang itu menjadi begitu hening dan tenang.


“Kok jadi main diam-diaman gini?” complain Ari tiba-tiba mencoba mencairkan suasana.


“Haha, iya ya,” sambung Novi sambil tertawa garing.


Setelahnya aku menyadari, setiap orang tentu memiliki masalah masing-masing. Tinggal bagaimana menyikapi dan mencari solusinya itu yang terpenting. Tapi, entah bagaimana mencari solusi untuk keluargaku.


Setelah selesai makan, Nini mengajak kami untuk karaoke bersama sambil meluapkan segala emosi yang ada. Tentu saja aku tidak menolak ajakan Nini karena bisa dibilang kalau aku sangat suka sekali bernyanyi. Sebenarnya, karaoke adalah kegiatan wajib yang biasanya kami lakukan sebulan sekali terutama setelah memacu otak yang sangat keras saat kuliah dulu. Terkadang, rasanya ingin menyarah saja saat kuliah. Dalam satu minggu ada 4 praktikum dan setiap minggunya kadang harus membuat 4-6 laporan praktikum belum lagi ditambah tugas-tugas kuliah lainnya. Entah bagaimana seseorang dapat membagi waktunya dengan jadwal kuliah yang seperti itu dan kerja paruh waktu atau berpacaran. Aku saja yang tidak bekerja paruh waktu dan tidak berpacaran saja terkadang sering kelabakan saat mengerjakan tugas-tugas kuliah.


Setelah memesan ruangan dan beberapa cemilan, kami mulai cabut undi untuk menentukan siapa yang duluan bernyanyi. Di putaran pertama, ada Nini yang membawakan lagu tentang mama. Suara Nini memang sangat bagus, dan ia membawakannya dengan penuh penghayatan terlebih lagi karena mama nini sudah meninggal ketika ia masih SMP.


Mendadak seisi ruangan menjadi senyap kembali ketika Nini mulai menangis dan tidak dapat melanjutkan menyanyi. Namun keadaan itu tidak berlangsung lama, karena Ari segera mengambil mic dan bernyanyi. Ari memang selalu berusaha mencairkan suasana saat keadaan berakhir seperti ini. Coba tebak lagu apa yang ia bawakan? Sudah bisa ditebak pasti lagu aneh. Dan benar saja, ia membawakan lagu Anaconda dari Nicki Minaj.


Kami semua kaget dengan mulut menganga melihat MV lagu tersebut, karena jujur saja itu adalah pertama kali aku melihat MV lagu itu. Mungkin itu juga yang pertama kali bagi teman-teman yang lain selain Ari. Gina segera menekan tombol next sebelum lagu itu selesai dinyanyikan.


“Gak sesuai usia, Ri. Masih di bawah umur semua,” ujar Gina.


Kami semuapun hanya tertawa melihat Ari tidak menyelesaikan nyanyiannya. Selanjutnya giliran Novi yang bernyanyi. Ini adalah kali pertamaku berkaraoke dengan Novi. Karena sebelumnya aku biasa berkaraoke hanya dengan Nini, Valen, Ari, dan Susi. Novi membawakan lagu berbahasa Jepang, kokoro no… apa gitu.. gak tahu juga lanjutannya. Teman-teman bersorak sambil mulai menari-nari, sementara aku hanya diam-diam terus menyantap cemilan yang sudah kami pesan. Bisa dibilang kalau sebenarnya aku masih lapar.


Sampai pada giliranku bernyanyi namun aku malah merasa kebelet pipis. Aku meminta teman yang lain untuk melanjutkan saja sementara aku ke kamar kecil. Aku buru-buru berlari dan segera masuk kamar kecil. Ketika keluar dari ruangan itu, aku menabrak seorang pekerja karaoke tersebut dan setelah melihat wajahnya tentu saja aku mengenalinya.


“Wira,” ujarku kaget.


“Hai, Shia,” sapanya kembali.


“Kamu sudah kembali? Kamu kerja disini?” tanyaku penasaran.


“Ah, iya, baru hari ini. Kenapa, kamu rindu?”


“Tidak sama sekali. Kamu hebat ya, bisa nongol dimana-mana dan jadi pekerja apa saja,” ujarku kagum.


“Wira,” panggilku lagi.


“Ada apa, taun Putri?”


“Ish… namaku Shanvierra. Gini, malam ini boleh ketemu, gak? Ada banyak hal yang mau aku tanyakan,”


“Boleh, jam 7 ya. Aku tunggu kamu di danau Angsa,”


Sebenarnya banyak hal yang ingin kusampaikan saat ini juga. Tapi, melihatnya yang sedang bekerja, aku pikir, mungkin sebaiknya jika nanti saja membicarakannya. Aku hanya harus bersabar sedikit saja dan tetap menunggu.


Kami berdua hanya terdiam sejenak sebelum akhirnya aku memutuskan untuk masuk kembali ke ruangan karaoke. Aku merasakan bahwa saat itu ada hal yang ingin disampaikan Wira tapi sepertinya itu hanyalah khayalanku.


“Oi Shan, giliranmu nyanyi,”


“Oh, oke,”


Akupun mulai membawakan lagu dan jangan tebak lagu apa itu.


“Lagu kebangsaannya Shan,” ujar Valen setelah kuselesai bernyanyi.


“Iya, benar,” sahut Nini.


“My heart is broookeeeennnn,” sambung Winda sambil meniru suaraku.


“Shan jomblo gara-gara broken heart dan gak bisa move on kali,” ledek Ari.


“Mending pacaran sama Ari aja Shan,” ledek Valen.


“Gak deh, mending aku pacaran sama Nini aja,” belaku.


“Ogah,” kata Nini.


“Nini, I love u,” ujarku sambil memeluk Nini.


“Shan lesbi!” teriak Nini.


Tak lama berselang, hp milik Gina bergetar.


“Halo, pak,” jawab Gina pada panggilan tersebut.


“Iya pak, di tempat karaoke lagi sama teman-teman… Oh iya pak saya ke sana segera,”


“Guys, aku keluar bentar. Bentar aja kok,” ujar Gina.


“Ngapa, Gin? “ tanya kami kepo.


“Ada barang orang ilang, aku kan kerja disini bagian teknisinya, disuruh ngecek rekaman cctv nya, gak lama kok.” jawab Gina.


“Dirimu kerja disini? Kok aku baru tahu, ah kalo gitu aku minta diskon,” sahutku.


“Mintalah sana sama penjaga kasirnya, hahahah..” jawab Gina lalu pergi.


Ketika Gina mulai meninggalkan ruangan, hal pertama yang akan terjadi adalah makanan dan minuman Gina akan habis seketika oleh teman-teman yang lain, termasuk aku yang merupakan salah satu pelaku utamanya.


Beberapa saat setelah Gina pergi, hp-ku berdering dan itu adalah panggilan dari Gina. Ia memintaku untuk menemaninya disana. Tentu saja hal ini membuat teman-temanku yang sedang bernyanyi merasa senang karena giliran orang yang bernyanyi menjadi lebih sedikit.


“Shan,” panggil Gina ketika aku mulai duduk di sebelahnya.


“Iya, Gina,” jawabku.


“Tadi kamu ngomong sama siapa di depan toilet?” tanya Gina.


“Teman aku, Gin. Kan dia kerja disini juga. Ngapa, Gin? Dia yang nyuri barang, kah?” tanyaku balik.


“Ishh, bukan nyuri barang. Coba kamu liat ini,” jawab Gina sambil memperlihatkan rekaman cctv ketika aku berada di depan pintu kamar mandi.


Aku memperhatikan rekaman cctv itu dengan seksama, walaupun terlihat sedikit kabur, namun dapat terlihat dengan jelas jika aku berada disana.


“Astaga, Gina,” lirihku ketika selesai melihat rekaman cctv itu.


“Kamu ngomong sendirian loh, Shan. Kayak orang gila,” ujar Gina dengan wajah serius.


“Tapi tadi aku beneran ngomong sama temanku, masa dia hantu? Gina, soal rekaman ini tolong jangan bilang sama teman-teman yang lainnya,” pintaku.


“Iya deh,” jawab Gina pelan.


Aku hanya terdiam sebelum akhirnya kembali ke ruangan karaoke bersama Gina. Kami kembali ke ruangan itu seolah-olah tak ada hal apapun yang terjadi namun dalam hati entah apa yang ada dipikiranku.


Aku benar-benar merasa jika aku sungguh bertemu Wira dan berbicara dengannya di depan kamar kecil tadi. Apa selama ini aku hanya bermimpi? Apa selama ini aku yang menciptakan khayalan tentang Wira? Atau keberadaan Wira memang sedang bermasalah di dunia ini? Apa sebelumnya Wira juga tidak tertangkap kamera cctv yang lain? Apa selama ini aku hanya berbicara sendiri seperti orang gila di tempat umum lainnya? Ah, aku harus mencari tahu kebenarannya. Wira benar-benar membuatku galau.


Aku memutuskan untuk tidak bernyanyi lagi dan hanya mendengarkan suara teman-temanku yang bisa membuat telinga pecah saja, ops. Mereka bersemangat sekali terutama Ari. Sesekali Valen menanyaiku tentang strategi game online yang sedang kami mainkan bersama sambil menunggu urutan menyanyi yang sedang berjalan. Aku lebih ingin ngegame saja untuk saat ini daripada harus memikirkan Wira. Aku dan Valen berada di guild yang sama dalam game yang kami mainkan. Namun, sebagai seorang wakil ketua di guild, keberadaanku di game itu lebih unggul daripada Valen.


Aku sudah lama menjadi seorang gamer perempuan, jika diingat-ingat, mungkin sejak SMA aku sudah mulai menyukai game. Awalnya aku tidak begitu menyukai bermain game online, aku lebih suka bermain di halaman rumah bersama kak Andre atau bermain bersama teman-teman di taman. Namun semenjak kedua orang tuaku sering bertengkar, hal itu membuatku takut dan sedih. Aku mulai mencari cara untuk menutupi kesedihan dan hatiku, hingga akhirnya aku mulai suka bermain game online dan menarik diri dari lingkungan sekitar. Ketika aku  kelas 3 SMA, orang tuaku bercerai dan itu benar-benar menghancurkan hatiku. Aku hampir saja tidak lulus ujian sekolah karena terlalu memikirkan hal itu. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan keadaan tersebut.


Aku bukan tipe orang yang akan menghancurkan diri sendiri jika mengalami masalah yang berat. Aku masih memikirkan masa depanku dan akan menjadi apa aku nanti kedepannya. Setidaknya, aku harus tetap menjaga diriku untuk orang tercinta yang masih kumiliki, yaitu ibuku.


Setelah selesai berkaraoke, aku segera pergi ke mall, tempat dimana aku makan es krim bersama Wira. Aku meminta petugas mall untuk memutar rekaman cctv di sana pada saat aku bersama Wira. Walaupun tidak mudah bagiku untuk membujuk petugas tersebut memutar kembali rekaman cctv yang ada, namun pada akhirnya, ia bersedia memutar kembali rekaman tersebut dengan alasan logis yang kukarang. Di video itu, ada Wira di sana. Tapi bagaimana dengan kejadian di tempat karaoke tadi? Sejenak aku merasa bersyukur karena Wira ada di rekaman cctv itu. Berarti Wira bukan sebatas imajinasi yang kuciptakan sendiri.


Berbagai pertanyaan menghantui pikiranku. Aku tahu Wira mungkin benar-benar bukan berasal dari masa ini. Tapi bukankah seharusnya keberadaannya tetap nyata? Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengannya malam ini untuk memastikan bahwa pertemuanku dengan Wira hari ini bukanlah khayalanku belaka.


Dengan menggunakan gaun putih dan sepatu putih, aku datang ke tempat yang telah kami janjikan. Menunggu kedatangannya benar-benar membuatku gelisah. Sesekali kuambil daun yang berguguran di tepian danau dan melayarkannya ke tengah danau. Riak-riak kecil yang terbentuk membuyarkan cerminan bulan yang terpantul di danau, bersamaan dengan buyarnya lamunanku yang mulai menjelajah jauh seakan ingin membawa Wira kemari.


Menit terus berganti meninggalkan detik yang sedari tadi berhitung maju. Entah sudah berapa banyak daun yang kulayarkan untuk menjemput Wira, namun ia tak juga datang. Aku merasakan keberadaannya di dekatku, tapi mengapa ia tak muncul di hadapanku. Aku tahu ia dekat tapi seakan ada jarak yang memisahkan kami.


“Wira, aku mohon, datanglah. Wira kamu dimana? Kamu gak bisa terus-terusan buat aku kayak gini. Kamu curang Wira. Wira, aku mohon, tolong kali ini kamu harus datang,”


Masih kulayarkan dedaunan ke tengah danau untuk menjemput Wira, namun semua terlihat sia-sia. Ia tak kunjung datang menemuiku. Kuambil beberapa bebatuan yang terdiam di tepi danau, melemparkannya jauh ke tengah danau dan berharap mengenai Wira. Walaupun aku tahu tak ada apapun di tengah danau, tapi aku tetap berharap Wira dapat merespon atas apa yang sudah aku lakukan.


“Wira, kamu dimana? Tolong, datanglah! Aku menunggumu," lirihku.


Dua jam berlalu namun Wira tak juga muncul, akupun termangu mendapati waktu yang sudah terbunuh itu menjadi sia-sia. Asaku seakan melayang jauh terbawa angin malam yang semakin dingin. Hawa dingin yang kian menusuk seakan menembus ke dalam hatiku dan membujuk mataku untuk menangis. Entah apa yang membuatku menangis saat itu. Tapi aku benar-benar sedih ketika Wira tidak datang. Aku benar-benar mengharapkan kedatangan Wira.


Aku gelisah, apakah aku yang menghadirkan imajinasi Wira hari ini? Apakah aku benar-benar mengharapkan kehadirannya sampai-sampai aku berfantasi tentang keberadaannya? Tapi aku benar berpikir bahwa aku telah menemuinya hari ini. Apa yang salah dengan diriku? Mungkinkah aku mengidap suatu penyakit misterius yang membuatku memiliki khayalan yang berlebihan? Ah, itu tidak mungkin. Aku tidak boleh terus-terusan larut dalam kesedihan dan keanehan ini.


Keesokan harinya aku terbangun dengan mata sembab. Terdiam sejenak di tepian tempat tidur sambil melayangkan pikiran tentang kejadian semalam. Aku menatap wajahku di depan kaca dan berpikir jika aku tetap cantik sekalipun mata ini mengejekku dengan umpatan yang tak dapat kupahami. Aku berjalan perlahan membuka jendela kamar kost-ku dan mulai membuat sarapan.


Aku masih memikirkan Wira, aku masih memikirkan kejadian semalam. Tapi rasanya terlalu sakit untuk memulai hari baru dengan memikirkan hal semacam itu. Aku harus tetap berkonsentrasi membuat sarapan, untuk sejenak, tolonglah, lupakan Wira dulu wahai pikiranku.


Walaupun hanya menyantap telur mata sapi dan beberapa potong sosis, namun bagiku ini sudah cukup sebagai menu pembuka sarapan. Aku mengambil hp dan memulai sarapanku sambil war di game online yang sedang kumainkan. Kulihat di list friends dan Valen juga sedang log in game.


Di notifikasi obrolan guild kulihat Valen gagal menyerang musuh di guild lawan, aku tertawa ringan melihatnya dan mulai menyerang musuh lain. Tiga kali serangan dengan tiga kali kemenangan. Aku pikir hal itu wajar saja dengan statusku sebagai wakil ketua. Sekalipun aku menikmati permainan game online yang sedang kumainkan, ataupun sarapan seadanya yang terhidang di hadapanku, tapi tak sedikitpun semua itu dapat menghapus kegalauan yang terjadi semalam. Aku tetap saja memikirkan Wira.


Setelah selesai menyantap sarapan, aku kembali ke tempat tidur dan melanjutkan permainanku. Masih ada waktu untuk memainkan tiga akun game lainnya. Saat tengah asyik bermain, sebuah pesan singkat masuk dan membuat game yang kumainkan sedikit terganggu. Sebuah pesan masuk dari Geri cukup membuatku terkejut dan hampir jatuh dari tempat tidur.


“Malam ini sibuk, gak? Aku mau nagih janji traktirannya,” tanya kak Geri.


Wow, modus buat ajakan jalan nih nampaknya, pikirku. Akupun segera membalas pesan tersebut sambil tersenyum.


“Gak kok, kak. Kakak mau ditraktir dimana?” tanyaku.


“Di tempat makan di dekat danau angsa boleh gak? Tahu tempatnya, kan?”


Ah, danau angsa, tempat dimana aku berjanji akan bertemu Wira. Mana mungkin aku bisa lupa dan tidak tahu tempat itu.


“ Tahu, kakak. Boleh, ketemuan disana jam 7 ya, kak,” balasku.


“Aku jemput kamu, ya. Kita pergi sama-sama,” ajak Geri.


“Iya kakak, aku tunggu,” jawabku.


Aku tidak berpikir untuk melanjutkan permainan atau kegalauanku dan memutuskan untuk segera bersiap-siap pergi malam ini dengan Geri walaupun sebenarnya masih terlalu awal untuk itu. Ini bukan kali pertama aku jalan bersama Geri. Semenjak bersama-sama mengikuti kegiatan LKTI beberapa tahun yang lalu sebenarnya kami sudah sering pergi bersama, namun ketika ia menyatakan cintanya dan tidak dapat kuterima, barulah kami mulai jarang bersama, walaupun sesekali ia tetap mengajakku untuk pergi bersama. Entah apa yang membuatnya tetap mempertahankan perasaannya padaku, aku juga tidak tahu. Tapi sebisaku aku akan berusaha tidak membuatnya bersedih terlalu lama.


Ah, kalau sudah begini aku bingung akan mengenakan pakaian apa malam ini? Sepertinya aku harus mulai merazia setiap inci lemari pakaianku, mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang cocok. Entah mengapa terkadang aku merasa pakaian yang kupunya hanya sedikit walaupun sebenarnya lemari sebesar ini isinya hanya pakaianku saja.