
“Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” Tanya Bella.
Saat ini mereka sedang berkumpul dan bersantai bersama setelah acara usai.
“Satu bulan sejak hari ini atau jika memang memungkinkan bisa dilaksanakan secepatnya” Jawab Alex.
“Apa tidak terlalu cepat?” Tanya Devan.
“Tidak, memang seharusnya jarak antara hari pertunangan dengan hari pernikahan tidak terlalu jauh, ujiannya orang yang akan menikah itu tidak mudah. Pasti banyak kerikil-kerikilnya, tinggal bagaimana keduanya melalui kerikil itu bersama” Sahut Aulia.
“Samuel, sebuah kode keras dari Aulia untuk segera melamarnya” Ucap Nando.
“Sabar ya Au” Gumam Samuel tapi, cukup bisa di dengar oleh yang lain.
Mereka pun bersorak dengan Aulia yang sudah memerah seperti kepiting rebus di tempatnya.
Sedangkan Devan dan juga Mira memilih untuk bergabung dengan tuan dan nyonya Harrison serta tuan dan nyonya Javonte, seperti biasa membahas pekerjaan.
Hingga pada suatu masa, nyonya Javonte berkata “Jadi, bagaimana hubungan kalian berlanjut?”.
Mira menyahuti dengan “Ah, itu hanya gimic waktu itu nyonya, jangan terlalu dianggap serius dengan hubungan kami”
“Kami akan segera melangsungkan pernikahan” Ucap Devan mantap.
Tentu saja hal itu membuat Mira terkejut bukan main. Kenapa jawabannya dan Alex malah berbanding terbalik begini?
“Jadi, sebenarnya bagaimana?” Tanya nyonya Harrison.
Devan langsung membungkan mulut Mira yang saat itu hendak menjawab dengan sebuah potongan donat.
“Mungkin saya dan Mira memiliki keterbelakangan yang berbeda tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa perbedaan kami sangat cocok di masa depan. Saya tidak menganggap pernikahan itu sebagai sebuah permainan tapi saya yakin bahwa jika bukan Mira maka tidak ada lagi” Ucap Devan mantap.
Mira yang awalnya kesal, sekarang mungkin sedikit luluh dengan ucapan manis yang tidak pernah Devan keluarkan dengan serius selama ini?
“Segerakan sebelum aku dan juga Efira. Kau akan sangat sibuk setelah aku dan Efira menikah” Ucap Alex yang tiba-tiba saja muncul menggandeng kekasihnya ikut bersamanya.
“Kemana yang lain?” Tanya tuan Javonte.
“Gio harus melakukan operasi secepatnya, sedangkan Samuel harus melanjutkan pekerjaannya, Aulia ikut bersama Samuel dan Bella Deva dan juga Nando, mereka ikut pergi bersama yang lain” Jawab Alex.
“Dasar anak-anak nakal, bisa-bisanya mereka tidak pamit” Gumam nyonya Javonte.
Para orang tua pun mengangguk mengerti.
“Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka tau bahwa kau sudah mengikat seseorang bersamamu sekarang?” Tanya Alex pada Devan.
“Sudah, mereka akan segera datang kemari untuk menemui calon menantu mereka” Jawab Devan.
Rasanya Mira ingin tenggelam mendengar jawaban Devan yang menurutnya sangat menjijikkan.
“Rasanya aku ingin menyumpal mulutmu” Gumam Mira, tidak terlalu keras tapi setidaknya Devan bisa mendengarnya, mengingat ada keluarga Harrison dan keluarga Javonte diantara mereka.
“Kalian sendiri, bagaimana dengan perencanaan pernikahan?” Tanya Mira pada Alex dan Efira.
“Sudah tertata dengan baik, aku hanya tinggal menyelesaikan gaun pengantinku” Ucap Efira.
“Anda merancangnya sendiri?” Tanya Mira lagi.
“Ya mungkin itu adalah salah satu impianku yang harus tercapai. Hanya terjadi satu kali seumur hidup” Jawab Efira.
Mereka melanjtkan pembicaraan ringan itu dengan sedikit camilan dan juga kadang diselingin candaan di tengah-tengahnya.
Terasa begitu damai dan juga tentram tentunya.
Terlepas dari kejadian-kejadian yang telah terjadi beberapa hari terakhir, sepertinya hari ini penjagaan diluar rumah Efira begitu ketat hingga acara berjalan dengan sangat baik.
...***...
‘Tuan, Devan adalah satu-satunya opsi’
“Apa kau yakin?” Ucap Alex dengan Cris di seberang sana.
‘Tunggu saja kedatangan orang tuanya kesana maka, anda pasti menemukan jawabannya’
“Terdengar sangat berani kau mengatakan hal itu padaku” Ucap Alex lagi.
‘Maafkan saya tuan’
“Terimakasih” Ucap Alex lalu menutup telfonnya secara sepihak.
“Devan dan keluarga Javonte?”