
“Alex, apa kau melihat ponselku?”
Efira mengobrak-abrik kasurnya, mencari ponselnya yang entah kemana.
“Cari saja disana” Jawab Alex dari dalam kamar mandi.
Ya, pagi sudah menyapa. Rencananya mereka akan memulai perjalanan pagi ini.
Efira terus mencari kesana-kemari tapi, nihil. Ia tidak menemukan apapun selain dari pada akhirnya kamar mereka menjadi seperti kapal pecah.
“Apa sudah ketemu?”
“Astaga Efira, what are you doing hm?”
Alex yang baru keluar dari kamar mandi langsung terkejut melihat kondisi kamarnya menjadi begiti tidak tertata.
“Aku sudah mencarinya ke seluruh sudut ruangan tapi, masih tidak ketemu” Ucap Efira, sorot matanya mulai terlihat panik, sayang sekali jika ponselnya benar-benar hilang, ada banyak kenangan di dalamnya.
Alex menghela napasnya pelan, lelaki itu berjalan menuju nakas di samping ranjang mereka.
“Apa kau sudah mengeceknya disini” Tanya Alex, membuka lacinya sambil menoleh pada Efira.
Benar saja, ponselnya tergeletak manja disana.
“Apa kau yang meletakkannya disana?” Tanya Efira, mengambil ponselnya lalu mencoba menghidupkannya.
“Mati? Apa dayanya habis?”
Setelah menunggu, ternyata ponselnya hanya dalam kondisi off.
Melihat riwayat panggilan dari Deavn begitu banyak, ia bingung dan juga khawatir.
“Devan menelfonku semalaman, apa yang sedang terjadi?” Gumam Efira tapi, hal itu tentu masih bisa di dengar suaminya.
Alex yang saat itu masih mengenakan pakaian memilih tidak menjawab ucapan Efira.
“Apa dia menghubungimu?”
“Hm” Gumam Alex.
“Apa yang ia katakan?” Tanya Efira.
“Dia akan menikah”
Hah?
Hal itu sukses membuat Efira membelalakkan matanya, apa dia tidak salah dengar?
“Tidak tau, aku langsung memutuskan sambungan panggilan kemarin. Malas sekali, kenapa dia menikah kita sedang di luar negeri ha?”
Kini jadi Alex yang merajuk, tidak terima jika bulan madunya harus terhenti di tengah jalan karena kakak iparnya itu.
Efira saat itu langsung menelfon Devan, ingin meminta penjelasan yang sebenar-benarnya.
“Yak, bisa-bisanya kau menikah disaat aku sedang tidak di rumah ha? Apa kau sudjah lupa jika kau memiliki saudara yang juga harus menghadiri pernikahanmu? Apa aku perlu menjitak kepalamu dulu agar kau mengerti? Kapan resepsinya”
Efira terlihat langsung mengeluarkan isi pikirannya saat Devan mengangkat panggilan dari adik satu-satunya itu.
“Aku sudah menghubungi suamimu, dia memang adik ipar yang kurang ajar. Acaranya besok siang”
“Memang salahmu, kenapa menikah mendadak begini? Satu minggu yang lalu kau bahkan tidak mengatakan apapun. Apa kau gila?” Efira masih cukup kesal dengan berita yang mendadak ini.
“Sudahlah, cepat pulang saja. Apa kau tidak ingin menyaksikan kakakmu menikah?” Ucap Devan dari seberang sana.
“Apa aku harus menunggu pesawat dari sana?”
“Aku sudah mengirimnya kemarin sore, pergilah ke bandara dan hubungi pilotnya, mereka masih di sana”
Efira langsung menutup panggilannya sepihak, tidak ada bedanya dengan Alex bukan?
“Apa kita benar-benar akan mengakhiri bulan madu di hari ini?” Tanya Alex.
Efira menghembuskan napasnya kasar, melihat indahnya kota florence dari balkon kamarnya.
“Sayang sekali bukan? Kita bahkan belum sempat menjelajahi satu pun tempat di kota ini. memang Devan sedikit sial*n” Ucap Efira, diakhiri umpatan untuk kakaknya.
“Ya sudah, kita bisa kesini lain waktu. Ayo bereskan dulu barang-barangnya. Aku akan memesan taxi online dulu untuk ke bandara” Ucap Alex.
Mereka akhirnya hanya memiliki satu malam di Florence, begitu disayangkan bagi Efira.
“Kau akan habis di tanganku nanti Devan. Cih, benar-benar menyebalkan”
“Lihat saja, pasti aku akan menjitaknya setelah sampai di rumah”
“Devan kurang ajar”
Umpatan-umpatan kecil terus terdengar sepanjang Efira membereskan baju-baju dan peralatan yang harus di bawa pulang.
Sepanjang itu, Alex hanya duduk melihat istrinya mengomel tidak jelas. Sama sekali tidak ingin membantu wanita itu, menurutnya Efira sangat menggemaskan di saat yang seperti saat ini ia lihat.
“Apa kau tidak ingin membantuku ha?” Kira-kira begitu sahutan Efira yang terkesan ketus pada Alex.
“Tidak” Jawab Alex singkat, sukses membuat Efira mendengus kesal.