You

You
Episode 10



Shia Side Story


Aku Shia. Masa kecil penuh kebahagiaan dan kesempurnaan yang pernah kumiliki berakhir dengan dendam dan kebencian. Ayah dipecat dan diusir dari Kerajaan, sedangkan ibu dipermalukan di pasar dan dilarang berjualan disana. Masih terekam diingatanku bagaimana saat itu dagangan ibu dirusak oleh anggota kerajaan. Beberapa serpihan keramik dari pot bunga ibu yang dirusak, ada yang mengenai wajahku walaupun tak meninggalkan bekas yang lama. Tapi itu benar-benar terasa sakit, tak hanya di wajah saja, namun di sekujur tubuh dan hatiku.


 Seandainya saat itu Raven tetap menemaniku hingga akhir, apa akan merubah segalanya? Mungkin tidak, tapi setidaknya ia akan mampu menghibur dan menemani disaat kuterpuruk seperti ini. Padahal ia berjanji akan menemuiku sesekali atau berkunjung, tapi sayangnya semua itu tak pernah ia lakukan.


Sejak saat itu, ayah dan ibu melarangku keluar dari dalam rumah. Mereka mulai mengajariku melafalkan mantra sihir  dan membuat ramuan. Aku mempelajarinya tanpa tahu tujuan dan dampaknya kelak. Setiap buku sihir yang mereka berikan, selalu kupelajari dengan sungguh-sungguh. Berbagai mantra sihir ataupun ramuan sihir, menjadi hal yang biasa kudapati setiap hari. Sekalipun mantra sihir itu terlalu panjang dan sulit sekali untuk di lafalkan, tapi selalu kucoba hingga akhirnya dapat kuhafalkan dan mempraktekkannya. Ayah dan ibuku benar-benar terlihat senang. Menyadari bahwa hal itu bisa membuat ayah dan ibu senang terutama setelah kejadian itu, aku semakin yakin bahwa hal yang harus kulakukan adalah selalu mempelajari sihir-sihir itu.


Suatu hari ada anak laki-laki yang tersesat di depan rumahku. Ayah dan ibu sedang pergi sehingga mereka tidak mengetahuinya. Halaman rumahku memang kecil, tapi berkat mantra sihir yang telah ayah dan ibu berikan, dapat membuat orang asing tersesat di dalamnya.


Aku menolongnya keluar dan mulai bermain dengannya, bagiku ia bagaikan Raven yang selalu kurindukan. Aku begitu lemah sehingga ia selalu mengajariku untuk menjadi kuat. Ia memintaku untuk mengejarnya setiap kali bertemu. Namun aku tak pernah mampu menangkapnya karena tubuhku yang begitu lemah.


Kami bermain di tepi danau bersama setiap kali ayah dan ibuku pergi. Kami membuat mahkota dari bunga-bunga yang tumbuh disana, berperan sebagai putri dan pangeran.


Suatu hari Wira menunjukkan sebuah gua padaku. Ia berkata jika gua tersebut adalah tempat persembunyian kami di saat suka maupun duka. Kami sering bermain di sana dan membakar ikan sebagai hasil tangkapan di danau.


Wira mengatakan kepadaku bahwa orang tuanya adalah seorang ksatria, sehingga ia mampu melakukan atraksi pedang di hadapanku. Ia mengajariku cara menggunakan pedang dan panah.


Suatu hari hujan turun begitu lebat sehingga kami tidak bisa kembali ke rumah dan terpaksa berteduh di dalam gua. Kupandangi setiap tetesan hujan yang jatuh ke permukaan danau, entah berapa banyak jumlahnya.


“Shia, kamu bisa menggenggam hujan ini gak?” tanya Wira sambil mulai mencoba menggenggam hujan yang menetes di depan kami.


“Bisa,” jawabku singkat. Sebenarnya saat itu aku telah membekukan air yang kugenggang. Ingin kutunjukkan pada Wira apa yang telah kulakukan, namun aku tak ingin dianggap sebagi seorang penyihir olehnya.


“Ternyata gak bisa ya,” lanjutku.


“Iya, mana mungkin bisa,” jawab Wira sambil tertawa menatapku.


Sejenak kamipun tertawa satu sama lain sambil terus mencoba menggenggam hujan.


 “Shia, kalau sudah besar maukah kamu menikah denganku?” tanya Wira dengan malu-malu.


“Hem, tentu saja aku mau,” jawabku sambil tersipu malu.


“Janji?” tanya Wira lagi.


“Hem, janji,” jawabku perlahan.


“Ayo kita membuat janji,” ajak Wira.


“Bagaimana caranya?” tanyaku.


“Ikuti aku,” jawab Wira sambil mulai menggigit ibu jari tangan kanannya.


“Tangan kamu berdarah,” ujarku yang mulai panik melihat darah mengalir dari tangannya.


“Iya, ini janji abadi yang akan kita buat, ayo gigit tanganmu juga,” pinta Wira.


Akupun mulai menggigit ibu jari tanganku seperti yang Wira lakukan. Saat darah segar mulai mengalir dari ibu jari tanganku, Wira menempelkan ibu jari tangan kami.


“Kamu ikutin kata-kata aku ya,” pinta Wira.


“Iya,”


 “Ini adalah janji kita, di saat kita besar nanti, kita akan menikah. Aku akan menjadi suamimu, Shia,”


“Ini adalah janji kita, di saat kita besar nanti, kita akan menikah dan aku akan menjadi istrimu, Wira,”


“Seperti janji pernikahan ya,” ujar Wira.


“Iya, ya,” sambungku.


“Aku sudah merasa memilikimu. Jadi aku berjanji akan terus menjagamu hingga kita menikah nanti,”


“Terima kasih, Wira,”


Tak lama kemudian, aku mendengar suara ibu dan ayah memanggil-manggil namaku. Aku ketakutan karena tak menyangka mereka akan pulang secepat itu. Mereka berhasil menemukanku dan menyeretku pulang. Aku menangis sepanjang jalan karena mereka begitu marah padaku. Kulihat Wira dari kejauhan memanggil namaku dan memohon kepada kedua orang tuaku untuk tidak memarahiku.


Mereka memenjarakanku beberapa hari di kamar bawah tanah tanpa memberiku makanan. Saat aku merasa hidupku akan berakhir mereka melakukan sesuatu pada diriku dan membuatku melupakan segala kenangan yang pernah kumiliki.


Aku menuruti setiap perkataan mereka, melakukan setiap doktrin yang mereka ajarkan, melafalkan berbagai macam sihir hitam, dan membuat berbagai jenis ramuan sihir yang sebelumnya belum pernah kubuat. Hatiku terasa kosong, aku menjalani kehidupan tanpa arti dan hanya untuk menjalankan tujuan kedua orang tuaku.


Sebelas tahun berlalu, untuk pertama kalinya orang tuaku mengizinkanku menginjakkan kaki di luar rumah. Aku bingung harus bersikap bagaimana, apakah bahagia atau biasa saja, sebab sejujurnya tidak ada hal yang benar-benar kurasakan, tidak ada orang-orang yang kukenal, dan tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan di luar sana.


Aku berjalan perlahan mengikuti kata hatiku, dan saat kusadari aku telah sampai di tepi sebuah danau yang luas. Aku tak berpikir jika danau ini indah ataupun jelek. Hanya ada air yang tergenang dengan sangat luas disana.


Kusadari ada seseorang yang sejak tadi mengikutiku. Akupun memintanya menunjukkan dirinya. Saat orang itu menunjukkan diri, aku langsung mengenalinya sekalipun wajahnya rusak. Kali ini aku benar-benar bahagia. Tak ada satupun kenangan yang kuingat sewaktu kecil, namun entah mengapa ketika bertemu dengannya lagi, aku dapat mengingat setiap kenangan bersamanya, bersama Raven.


“Wajah kamu kenapa, Raven?” tanyaku perlahan.


 “Hanya kecelakaan kecil saja,” jawab Raven singkat.


Aku tahu aku bisa menyembuhkan wajahnya kembali menjadi seperti semula dengan salah satu sihir yang telah orang tuaku ajarkan. Kuambil air yang ada di danau sebagai media yang kugunakan untuk memberikan mantra sihir.


“Semoga ini berhasil, “ bisikku dalam hati sebelum menyiramkannya di wajah Raven. Sejujurnya, ini adalah kali pertama aku melakukan sihir seperti itu secara langsung, sebab sebelumnya, aku hanya mempelajarinya tanpa mempraktekannya. Aku berharap ini benar-benar akan berhasil. Aku mohon…..


Seketika itu kulihat wajah Raven telah kembali seperti semula. Inikah Raven yang dulu pernah kukenali? Aku tak terlalu begitu mengingat wajahnya karena saat itu aku masih sangat kecil. Tapi yang kurasakan saat itu adalah aku benar-benar merindukannya.


“Terima kasih, Shia,” ujar Raven perlahan.


Ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya setelah sekian lama tidak bertemu dengannya. Namun aku ragu apakah aku bisa menceritakan semuanya, kami sudah tidak sedekat ketika kecil dulu. Aku sedikit merasa segan jika berbicara banyak dengannya. Tiba-tiba aku merasakan kesedihanku yang dulu pernah melanda saat Raven tiba-tiba meninggalkanku.


“Aku benci kehidupan ini, Raven. Aku benci ketika kamu tiba-tiba pergi begitu saja,” ujarku perlahan.


Raven hanya terdiam tanpa memberikan jawaban. Ia menatap permukaan danau yang terpantul cahaya matahari. Sedikit pantulanya mengenai wajah Raven dan semakin membuatnya indah di mataku.


“Aku tahu selama ini kamu mengawasiku, aku sering melihatmu dari balik jendela” ujarku lagi.


Lagi-lagi Raven tak memberikanku jawaban. Aku berpikir mungkin ia sudah tidak ingin berbicara denganku lagi. Aku bersedih dan segera beranjak dari sana.


Aku segera pulang dan menemui kedua orang tuaku. Kuceritakan tentang pertemuanku dengan Raven. Akupun bertanya mengapa aku bisa mengingatnya. Namun orang tuaku tak memberiku jawaban. Aku memaksa kedua orang tuaku untuk menghapus kembali kenanganku dengan Raven, namun sebanyak apapun mereka mencoba, Raven tetap ada di pikiranku.


Hari-hari berikutnya, orang tuaku mulai mengajakku membalaskan dendam kepada keluarga Kerajaan. Kami membunuh setiap orang yang pernah terlibat dengan insiden yang menimpa ayah dan ibuku. Ayah dan ibu melarangku membunuh orang lain yang tidak terlibat dengan kejadian itu dan akupun menurutinya.


Aku membunuh beberapa selir Raja yang saat itu memang terlibat dengan insiden yang menimpa ayahku dan wanita-wanita yang menghina ibuku di pasar.


Malam itu, saat kembali ke rumah, aku mendapati ayah dan ibuku telah terbunuh di rumah kami.  Aku begitu marah dan ingin membalaskan dendam mereka. Namun, aku selalu mengingat pesan orang tuaku untuk tidak melibatkan orang lain yang tidak terlibat dalam masalah ini.


Kali ini, aku tak memperdulikan pesan mereka lagi. Aku segera pergi ke istana dan membunuh setiap orang yang kutemui. Banyak anggota kerajaan yang terbunuh saat itu. Aku menyadari betapa besarnya kekuatan yang kumiliki. Tak ada satupun dari mereka yang mampu mengalahkanku. Sekejap aku merasa keangkuhan menguasai hati dan pikiranku, dan semakin besar perasaan itu, semakin besar pula kurasakan kekuatan mengalir di tubuhku. Sang raja bersembunyi di tempat yang tak kuketahui, seandainya saja saat itu aku menemukannya, mungkin sudah kubunuh orang itu.


Beberapa hari kemudian, aku mengetahui bahwa sang raja mengumpulkan para ksatria untuk mengalahkanku, namun aku tak memperdulikannya. Aku pergi ke sisi lain dari danau yang biasa kukunjungi. Di tempat ini, tak ada yang bisa menemukanku. Kubuat sebuah pembatas sihir agar tak ada seorangpun yang dapat menembus dan menemukanku.


Tapi entah mengapa Raven selalu bisa menemukanku. Ia memandangiku seolah memberikan pertanda untuk tetap bersamanya saat itu.


“Hai Raven,” sapaku.


“Hai juga Shia,” jawabnya singkat.


“Kamu selalu bisa menemukanku sekalipun sudah kugunakan penghalang sihir,” bisikku.


“Shia, sebaiknya kamu menghentikan semua ini,” pinta Raven.


“Apa yang harus kuhentikan?” tanyaku.


“Mengapa kamu membunuh orang-orang dan wanita-wanita yang tidak bersalah hanya untuk menambah kekuatanmu? Kamu tidak perlu menjadi kuat lagi, Shia. Kamu sudah sangat hebat,” ujar Raven setengah berteriak.


“Aku? Membunuh wanita-wanita itu untuk menambah kekuatanku? Kamu tahu darimana? Aku membunuh mereka gak untuk menambah kekuatanku. Aku membunuh mereka untuk membalaskan dendam orang tuaku. Kamu ingat kan apa yang pernah terjadi pada keluargaku? Atau pada kelaurgamu dulu?” jawabku sedikit membentak.


“Aku benar-benar hanya ingin balas dendam saja, Raven. Mereka yang sudah menghancurkan kebahagiaanku,” lirihku.


“Tapi Shia, seisi kerajaan sudah digemparkan dengan kelakuanmu. Mereka bilang kamu membunuh setiap gadis-gadis cantik untuk menambah kekuatan dan kecantikanmu,” terang Raven.


“Apa? Aku gak pernah melakukan hal itu. Orang tuaku memang banyak mengajari sihir hitam. Tapi mereka tidak pernah mengajariku sihir seperti itu,” belaku.


“Jadi, ada yang menyebarkan gosip buruk tentang kamu di kerajaan,”


“Mengapa mereka menyebarkan gosip seperti itu, seharusnya mereka sadar bahwa aku hanya membalaskan dendam yang dulu pernah menimpa keluargaku,”


“Shia, aku yakin kamu sedang dalam bahaya, kamu harus berhati-hati. Dan tolong, jangan membunuh lagi,” pinta Raven.


“Iya, terima kasih,”


Tak lama setelah itu, Raven meninggalkanku seorang diri di tepi danau. Matahari sudah mulai menuruni lereng gunung dan udara menjadi semakin dingin. Aku berjalan perlahan di tepi danau melewati pembatas sihir yang kubuat hingga akhirnya bertemu dengan seseorang yang berdiri di tepi danau seorang diri.


“Shia,” panggil laki-laki itu.


Aku merasa was-was karena khawatir ia adalah bagian dari anggota kerajaan yang akan membunuhku.


“Shia, kamu ingat aku?” tanya laki-laki itu lagi.


Aku menggelengkan kepala karena memang tidak mengenalinya.


“Coba lihat ini,” pinta laki-laki itu sambil memperlihatkan ibu jari tangan kanannya.


“Mengapa kamu menunjukkan bekas lukamu padaku?” tanyaku perlahan.


“Coba kamu lihat ibu jarimu juga, bukankah kita memiliki bekas luka yang sama,”


Akupun memperhatikan ibu jari tanganku seperti yang laki-laki itu minta. Kudapati sebuah bekas luka disana.


“Ini apa artinya?” tanyaku lagi.


Aku mencoba mengingat kenangan tentang Wira. Namun, sekeras apapun aku mencoba, aku tak mengingat apa-apa.


“Dulu, di tepi danau ini kita pernah berjanji untuk menikah. Kita melukai ibu jari kita dan mulai mengucapkan janji abadi,” ujar Wira.


“Benarkah?” tanyaku penasaran.


Aku benar-benar ingin tahu alasan mengapa orang tuaku menghilangkan semua ingatanku. Jadi saat itu, aku meminta bantuan Wira untuk membantuku mengingat masa lalu kami.


Ia menceritakan setiap kenangan yang pernah kami lalui. Perlahan, aku dapat mengingat setiap kenanganku bersama Wira, dan aku mengingat janji untuk menikah yang pernah kami buat. Tanpa mencurigainya sedikitpun.


Aku merasa bahagia bisa mengingat kenangan itu bersama Wira. Namun, bagaimana dengan Raven? Aku terus memikirkannya beberapa saat, namun aku tak yakin, apakah aku begitu menyayangi Raven karena ia adalah teman pertama yang kumiliki? Apakah aku menyayanginya sebagai seorang saudara dan tidak ingin menikah dengannya? Apakah aku hanya ingin menikah dengan Wira saja?


Hari berlalu dan terus berlalu, aku terus bersama dengan Wira dan hal itu semakin membuatku menyayanginya. Aku merasa mulai ada sesuatu yang tumbuh dalam hatiku, rasa cinta yang begitu dalam.


Di suatu pagi, Wira memanggilku untuk menemuinya di tepi danau. Aku begitu penasaran apa yang akan ia sampaikan padaku.


“Shia, sudah sejak kecil aku mencintaimu. Aku tak peduli bagaimanapun keadaanmu. Jadi apakah kamu mau menikah denganku?” tanya Wira saat matahari mulai memberikan sinarnya yang pertama.


Aku terkejut mendengar pernyataan itu. Aku benar-benar mencintai Wira dan ingin memilikinya seutuhnya.


“Aku juga benar-benar mencintaimu, Wira. Aku benar-benar mencintaimu. Aku mau menikah denganmu bahkan rela mati demi dirimu……”


Belum sempat kulanjutkan kalimat itu, tiba-tiba aku merasa ada benda tajam yang menembus jantungku. Aku tak lagi abadi. Aku menoleh ke belakang dan melihat beberapa orang kerajaan berdiri disana, termasuk orang tua Wira.


Aku kembali memandangi Wira yang berdiri tepat di depanku. Tak kusangka ia mengkhianati cintaku yang tulus. Air mataku mulai mengalir perlahan.


 “Aku benar-benar mencintaimu dengan tulus, Wira. Tapi mengapa ini yang aku dapatkan? Bukankah aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku? Bukankah kita sudah berjanji untuk menikah dan saling melindungi? Kamu lebih jahat dari seorang penyihir, Wira,” ucapku untuk yang terakhir kalinya.


Aku merasa begitu gelap dan dingin. Semuanya terlihat kosong. Aku tertidur lelap menunggu seseorang membangunkanku sambil mengumpulkan rasa benci yang mungkin masih tersisa di dalam diriku. Aku benar-benar tak menyangka akan dikhianati seperti itu. Sudah cukup kesedihan yang menerpaku di saat kecil, atau saat orang-orang itu membunuh keluargaku. Aku hanya ingin membalaskan dendamku. Seharusnya mereka tidak melakukan hal itu kepada keluargaku sejak awal. Kenapa harus dengan cara seperti itu untuk menyingkirkanku? Dan kenapa harus orang yang kusayangi yang melakukannya?


Di dalam kegelapan dan dingin yang menusuk, aku menyadari siapa yang benar-benar seharusnya aku cintai. Aku terus meyakini diri untuk tersadar bahwa selama ini aku telah salah mengartikan semuanya. Seharusnya disana ada Raven bukan Wira. Seharusnya aku memberikan cintaku pada orang yang tepat.


Entah sudah berapa lama aku menunggu. Suara samar-samar angin dan udara yang hangat mulai terasa nyata dan dekat.  Aku mulai merasa memiliki sesuatu yang sempat hilang dariku. Aku merasa hidup kembali.


Aku terbangun dan terkejut dengan kekuatanku yang semakin bertambah selama masa tidurku. Aku melihat seseorang berdiri di hadapanku. Pandanganku masih terasa kabur dan aku berpikir bahwa orang itu adalah Wira. Aku membencinya dan segera membunuh orang itu dengan kekuatan sihirku. Namun saat pandanganku sepenuhnya jelas, aku menangis sejadinya karena melihat orang yang kubunuh itu adalah Raven. Aku mendekapnya dalam pelukanku tapi ia sudah terlanjur tidak bernyawa.


“Raven, jangan pergi, tetaplah disini bersamaku. Raven jangan pergi….” lirihku sambil berlinangan air mata.


“Raven, jangan pergi….”


Aku menyadari selama masa tidurku yang panjang bahwa orang yang seharusnya kucintai bukanlah Wira melainkan Raven dan menyadari hal itu benar-benar membuat hatiku semakin hancur. Terutama setelah apa yang baru saja kulakukan; aku adalah orang yang membunuhnya. Samar-samar kudengar suara Wira yang memanggil namaku dan nama seseorang yang tidak kukenali, Shanvierra. Mendengarnya membuat rasa benci di hatiku semakin besar. Aku tak ingin lagi dipanggil oleh orang yang mengkhianati perasaanku.


Aku segera menghampirinya dan memandanginya. Saat itu, angin berhembus sangat kencang, dedaunan dari pohon-pohon yang mulai mengering berterbangan menjauhi kami. Ingin kuraih wajahnya dengan kedua tanganku, namun terasa berat untuk kulakukan, terlebih karena saat itu aku telah membencinya, aku tak ingin menyentuhnya.


“Bukan kamu yang seharusnya aku cintai, Wira. Bukan kamu,” ujarku setengah berteriak sambil berlinangan air mata.


Wira hanya terpaku menatapku seakan tak percaya jika aku benar-benar ada di hadapannya. Ia mencoba meraih tanganku namun segera kutepis. Ingin rasanya kubunuh orang yang telah mengkhianati cintaku, namun aku tak sanggup melakukannya lagi. Sudah cukup untuk melakukan itu lagi. Biarlah Raven menjadi orang terakhir yang kurenggut nyawanya. Aku berlari dan meninggalkannya seorang diri. Aku terus berlari dan berlari hingga tiba di tepian danau yang sepi. Dengan segenap kemampuan yang ada, aku mengubah diriku menjadi seekor angsa dan mengubur jauh-jauh kekuatanku. Aku ingin menghukum diriku karena telah membunuh orang yang kusayangi.


Berhari-hari kemudian, aku berenang ke tepian danau melihat beberapa orang yang sedang bersenang-senang disana. Dengan rupaku yang saat ini adalah seekor angsa, tak ada yang menyadari bahwa aku adalah Shia, penyihir yang paling ditakuti di kerajaan.


Tampak mereka begitu menyukai keberadaanku yang menghiasai danau itu. Mereka memberiku makan setiap harinya. Aku berpura-pura menerima makanan itu, namun sebenarnya selalu kubuang.


Suatu hari aku mendengar beberapa orang yang sedang bersantai di tepi danau bercerita tentang Wira. Akhirnya aku baru mengetahui bahwa ia bunuh diri dan telah meninggal. Aku begitu sedih mendengar kabar itu. Aku tak pernah benar-benar membenci Wira sekalipun Wira mengkhianati cintaku.


Aku berenang ke sana kemari mencoba menepis kesedihanku. Jika bisa, inginku tolak takdir yang telah membawaku dalam kepedihan ini. Aku tak pernah meminta untuk dilahirkan untuk menjadi penyihir. Masih adakah makna kehidupan yang berarti bagiku jika segala yang ada hanyalah penyesalan yang terlalu dalam.


Malam itu bulan purnama bersinar begitu terang. Aku berenang seorang diri di tepian danau sambil bersenandung. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatang seorang pria tua yang duduk di dekatku. Aku memperhatikan pria tua itu sejenak dan kembali bersenandung.


“Suara kamu benar-benar indah,” ujar pria tua itu.


Aku memperhatikan lingkungan sekitar. Tak ada orang lain di sekitar sini. Jadi dengan siapa ia berbicara.


“Shia, suara kamu benar-benar indah,” ujar pria tua itu lagi.


Setelah menyebut namaku, barulah aku tahu bahwa pria tua itu berbicara denganku. Aku heran bagaimana ia bisa mengetahui jika aku adalah Shia, dan terlebih, bagaimana ia bisa mendengar suaraku?


“Kamu siapa?” tanyaku.


“Aku sahabat dekat Wira,” jawab pria tua itu.


“Kamu mengerti bahasaku, kamu pasti bukan orang biasa,” ujarku.


“Iya, aku seorang pertapa yang Wira mintai tolong untuk menebus kesalahannya padamu,”


“Apakah kamu mau mendengarkan ceritaku?” tanya pria tua itu lagi.


“Iya,” jawabku perlahan.


Pria tua itupun mulai menceritakan semua tentang Wira, dari sejak awal ia bertemu dengan Wira hingga sampai penjelajahan waktu yang Wira lakukan hanya untuk menebus kesalahannya padaku. Pria tua itu juga menceritakan tentang gadis bernama Shanvierra yang merupakan diriku di kehidupan selanjutnya. Gadis itu telah dihapuskan keberadaannya dari dunia ini ketika aku dihidupkan.


Dari semua cerita tentang Wira itu aku menyadari kesalahpahaman diantara kami semua selama ini. Wira tak pernah mengkhianati cintaku. Ia terpaksa melakukan itu karena berpikir bahwa aku adalah penyihir yang sangat jahat. Aku baru mengerti perkataan Raven saat ia mengira bahwa aku adalah penyihir yang sangat jahat dan mengambil hati gadis-gadis cantik untuk menambah kecantikan dan kekuatanku. Mungkin itu alasan yang mereka gunakan untuk membujuk Wira mengakhiri hidupku.


“Jadi kamu sudah mengetahui semua ceritanya, kan?” tanya pria tua itu.


“Iya, sudah. Terima kasih karena telah memberi tahuku. Akhirnya aku bisa menjalani kehidupanku dengan tenang sekarang,” jawabku.


“Tapi, aku masih bingung, mengapa seolah-olah aku yang satu-satunya menjadi orang jahat disini?” tanyaku perlahan.


“Entahlah, mungkin mereka mengkhawatirkan kekuatanmu yang sangat besar dan membuatnya menjadi suatu cerita yang menakutkan. Terkadang manusia itu bisa sangat menakutkan dan kejam jika ada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka,” jawab pertapa itu.


“Sebenarnya aku menganggap ini sangat tidak adil,”


“Mungkin saja. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya pria tua itu.


“Tidak ada, aku rasa, aku akan tetap melanjutkan kehidupanku sebagai angsa di danau ini,” jawabku ragu.


“Apa kamu benar-benar yakin?”


“Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Aku sudah membuang jauh kekuatanku,”


“Apakah kamu ingin kembali ke masa depan dan menjalani kehidupan sebagai Shanvierra?”


Aku terdiam mendengar tawaran itu. Ada sedikit keraguan untuk menerima atau menolak tawaran itu.


“Keberadaan Shanvierra sudah terhapuskan dari dunia ini. Ia hanya akan meninggalkan lubang di masa depan yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Jadi maukah kamu mengisi lubang itu kembali? Ada yang menunggunya disana,”


Setelah lama memikirkannya, akhirnya aku menerima tawaran itu. Sebelum pergi, aku meminta pria tua itu untuk menyampaikan dongeng tentang danau angsa. Aku memintanya untuk membuat cerita yang tidak sama persis dengan yang aku alami. Aku juga memintanya untuk mengakhiri cerita itu dengan cerita tentang aku yang merenungi nasibku di danau ini. Pria tua itu menyanggupinya dan segera mengirimku ke masa depan.


Saat aku tersadar, aku sudah berada di kamar kost-ku. Entah mengapa aku mengetahui apa yang telah Shanvierra alami, setiap kenangannya, dan semua yang berkaitan dengannya. Mungkin karena aku telah mengambil bagian penting dalam dirinya, aku mengambil kehidupannya, aku benar-benar minta maaf.


Aku melihat di depan cermin penampilanku sebagai Shanvierra. Mataku terlihat bengkak. Aku mengingat kenanganku sebagai Shanvierra bahwa aku baru saja bertengkar dengar Rival.


Entah apa yang kupikirkan, aku segera pergi ke danau angsa dan memandang langit malam disana. Aku mengingat dulu Geri pernah menceritakan mitos tentang danau angsa.


“Jadi seperti itu cerita yang dibuat pria tua itu, “ bisikku.


Aku tertawa karena dulu pernah mengatakan nasib angsa itu sangat naas. Seperti mengejek diri sendiri, pikirku.


Tak lama kemudian, aku mendengar suara laki-laki yang memanggil namaku. Ia segera menghampiri dan memandangiku.


“Shanvierra, ternyata kamu disini. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku tadi mencarimu di kost tapi kamu gak ada,” ujar Rival panik dan terbata-bata.


Aku memandangi laki-laki itu. Air mataku mulai mengalir saat kusadari bahwa ia adalah Raven yang sangat kurindukan dalam tidur panjangku. Aku benar-benar takut jika aku tak bisa lagi bertemu dengannya, terutama setelah apa yang terjadi di masa lalu.


“Raven?” lirihku lalu memeluknya erat-erat.


Rival terkejut melihat apa yang aku lakukan dan bicarakan.


“Shanvierra kamu kenapa, aku benar-benar minta maaf udah kasar sama kamu tadi,” ujar Rival.


Aku hanya menggelengkan kepala dan terus memeluknya. Aku tak mau kehilangan dan menyia-nyiakan Raven lagi.


“Oke, aku akan cerita ke kamu tentang siapa aku dan Shia yang sebenarnya,” bisik Rival perlahan.


Aku melepaskan pelukanku dan memandanginya lagi.


“Raven, kamu gak perlu certain itu lagi,” ujarku.


“Raven? Kamu tahu siapa aku,” tanya Rival terkejut.


“Aku sudah kembali ke masa lalu, aku Shia,” jawabku.


“Dimana Shanvierra?”


“Aku minta maaf karena aku tidak dapat menyelamatkannya ataupun membawanya ke sini,”


“Aku yang seharusnya minta maaf karena aku di masa lalulah yang membawanya kembali dan mungkin membunuhnya di sana,”


“Raven, aku benar-benar minta maaf karena telah membunuhmu di masa lalu. Aku tidak menyangka jika itu kamu. Aku mengira kamu adalah Wira,” jelasku.


“Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan apa yang terjadi di masa lalu, aku juga banyak bersalah di sana, jadi sebaiknya kita mulai melupakannya dan menjalani kehidupan baru disini. Aku tahu kamu tetap Shanvierra atau Shia yang sama bagiku. Karena kalian memiliki hati yang sama,”


“Terima kasih, Raven,”


“Nah satu lagi, namaku Rival dan bukan Raven. Jadi tolong panggil aku dengan benar,” perintah Rival.


“Iya, Rival,” jawabku lalu memeluknya lagi.


Bulan bersinar terang saat itu. Aku tak tahu jika aku tak menerima tawaran pria tua itu untuk kembali ke masa depan, apa yang akan terjadi pada Raven. Kami tersenyum lalu menatap pantulan bulan yang menari di tengah danau. Kami begitu bahagia.