You

You
Perjalanan



Efira dan Alex sudah berada di perjalanan, diantar keluarga Javonte.


Tuan dan nyonya Harrison sedang sibuk dengan taman mereka yang baru saja kedatangan tanaman-tanaman baru.


“Bunda dan ayah dulu honeymoonnya kemana?” Tanya Efira bertanya kepada tuan dan nyonya Javonte.


“Di kebun strawberry” Ucap sang bunda.


“Bundamu yang menginginkannya, udara sejuk disana tidak mau dibandingkan dengan udara musim dingin Korea atau bahkan Eropa” Tuan Javonte menyahuti.


“Sepertinya seru, apa kita honeymoon kesana saja, Lex?” Tanya Efira yang langsung dihadiahi mata melotot Alex.


“Tidak bisa” Alex langsung menyela, wajahnya sudah menekuk tidak suka, membuat semuanya langsung tertawa.


“Omong-omong, kapan kau akan menyusul?” Tanya Alex pada kakak iparnya, Devan.


Devan yang saat itu sedang asik melihat ponselnya, lebih tepatnya melihat e-mail yang masuk ke ponselnya langsung terdiam, melirik Mira yang saat itu juga menatapnya sekilas.


“Bagaimana aku bisa memikirkan pernikahan jika adik iparku saja bahkan memberikan pekerjaannya kepadaku” Jawab Devan, sedang menyindir Alex hm?


“Kau sedang membicarakan aku? Apa kau tidak sepenuh hati membantu saudara iparmu?” Tanya Alex, sifatnya yang angkuh begitu memang sudah biasa bagi Devan, apalagi adik iparnya itu sempat menjadi atasannya beberapa waktu lalu.


“Oh tentu keberatan jika itu kau yang meminta tapi, jika ayahku yang memintanya, aku bisa apa?” Begitu jawaban Devan yang terkesan jujur.


Ya, pengganti Alex di Harrison Company memang ditunjuk langsung oleh tuan Javonte atas persetujuan tuan Harrison dan Alex tentunya, tidak mau ada oknum-oknum nakal atau mungkin tidak mau perusahaan berada di tangan orang lain, lelaki paruh baya itu akhirnya memilih Devan selaku kakak Efira untuk menggantikan posisi Alex sementara waktu.


Bukan karena alasan hubungan darah saja tapi, Devan sudah cukup mengerti dengan alur Harrison company mengingat dirinya sudah pernah berkecimpung disana sebelumnya.


“Tenanglah, dude. Aku akan menyediakan vendor-vendor terbaik untukmu nantinya” Ucap Alex, menenangkan kakak iparnya?


“Tenang saja, aku akan menggantungkan persiapan pernikahanku padamu sepenuhnya, itu adalah hal yang harus kau bayar untuk pekerjaan gandaku dua minggu kedepan” Sahut Devan.


Alex meringis mendengar hal itu, kakak iparnya terdengar ingin balas dendam.


...***...


"Woah, siapa yang memiliki kabin pesawat semewah ini selain dirimu ha?"


Efira takjub dengan interior jet pribadi suaminya.


"Bahkan orang tertinggi pun tidak akan menjulurkan lehernya seperti angsa jika berjalan di lorong ini" Gumam Alex, seolah menyombongkan diri dengan tinggi kabin yang mungkin seukuran 6 kaki 7 inci secara vertikal.


"Tentu saja tidak sayang, jika kau bertanya maka aku akan menjawab, sesimpel itu" Jawab Alex, menuntun Efira pada bagian 'lounge' yang terdapat sebuah meja bundar dan sofa banjang melengkung, cocok untuk bersantai bak ruang keluarga di dalam jet pribadi.


Alex menyetel layar di depannya, "Ini menggunakan sistem Honeywell Ovation Select Digital, kau bisa memilih hiburanmu sendiri" Jelasnya pada Efira.


Alex juga menyediakan camilan kesukaan Efira disana, demi kenyamanan, lelaki itu menyiapkan yang terbaik untuk istrinya


Saat sedang fokus dengan layar di depannya, Alex malah rebahan di paha Efira, memang vibe pengantin baru sekali bukan?


"Efira, apa kau sudah selesai?" Tanya Alex, membuka percakapan di antara mereka.


"Maksudmu?"


Efira tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya yang tidak spesifik begitu, masih fokus saja sambil menyemil.


"Maksudku apa tamumu sudah pulang? Jika belum, kita pulangkan saja sekalian"


Ha? Gadis itu mengerutkan keningnya makin tidak mengerti.


"Bicaralah yang jelas Alex, aku tidak mengerti maksudmu" Sahut Efira sedikit kesal.


"Maksudku apa tamu bulanan mu itu sudah selesai? Apa dia sudah pulang? Jika dia belum pulang, kita antar sekalian ke rumahnya di bulan. Aku tidak ingin malam pertamaku di Roma tidak bisa meng-unboxing dirimu lagi"


Deg


Sial*n sekali memang Alex itu.


Plak, bahu Alex lagi-lagi sudah menjadi santapan lezat untuk tangan Efira.


"Pertanyaanmu sangat tidak berbobot, aku masih halangan jadi, jangan macam-macam" Ucap Efira ketus.


"Cih" Alex berdecih pelan, memanyunkan bibirnya tanda dirinya tidak senang.


"Lalu sampai kapan Alexander Junior harus menunggu?" Pertanyaan itu membuat Efira malu tentu saja, dia segera berdiri tanpa berpamitan dengan Alex, tentu saja hal itu langsung membuat Alex yang awalnya meletakkan kepalanya di paha Efira langsung menggelinding jatuh.


"Sayang, kau mau kemana hm?" Ucap Alex melihat istrinya melenggang pergi.


"Memasak, apa kau tidak menyediakan pramugari ha? Aku sudah lapar" Jawab Efira tidak menoleh ke belakang sama sekali.