You

You
Last Day



“Efira, aku akan langsung berangkat ke New York setelah ini. Nona Bianca sedang dalam masalah disana” Ucap Elena.


Mereka sedang bersantai, para lelaki sibuk bermain game dan juga PS yang disediakan pihak villa, menunggu sore menyapa. Sedangkan para wanita fokus dengan drama Korea yang sedang populer.


Dan di tengah kedamaian menonton itu, Elena segera mengatakan niatnya. Pasalnya ini sudah pukul 10.00, tidak banyak waktu untuknya bersiap nanti.


“Jam berapa kau berangkat?” Tanya Efira.


“Mungkin pukul 12.00 nanti, aku sudah memesan tiket onlinennya” Jawab Elena.


“Frans ikut?” Tanya Aulia menimpali percakapan mereka.


“Tentu saja, dia salah satu rekan terbaikku” Ucap Elena.


“Kenapa Aul? Kau khawatir Frans tidak kembali?” Goda Deva.


Itu terlalu berlebihan tapi, Deva memang suka menggoda Aulia.


“Heh, barangkali kau tidak pernah merasakan sakitnya mencintai beda Tuhan” Ujar Aulia, mengumpati Deva.


“Ugh. Mencintai beda Tuhan” Bella mengulang ucapan temannya.


“Kau tidak boleh menyukai Frans, dia sudah memiliki kekasih yang tidak mungkin bisa kau saingi” Balas Elena, mengingat Frans bukanlah pria normal yang akan luluh dengan seorang gadis.


“Aku hanya memastikan” Sahut Aulia.


“Aku akan bersiap, perjalanan dari sini ke bandara kira-kira memakan waktu berapa lama?” Tanya Elena.


Ingin memperkirakan waktu berangkat dengan jam penerbangannya mungkin?


“Tidak lama, mungkin 30 menit” Balas Bella.


“Jika kau berangkatnya terbang” Sahut Aulia membuat yang lainnya tertawa.


“Aku serius, itu tidak akan lama. Mereka hanya bercanda, jangan tersinggung” Ucap Bella menenangkan Elena agar tidak mengambil hati atas candaan teman-temannya.


“Ya, terimakasih informasinya. Aku akan segera bersiap” Jawab Elena sambil tersenyum, gadis itu mulai beranjak dari duduknya dan memanggil Frans untuk segera bersiap juga.


“Frans, ayo” Ajak Elena.


Frans hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Mereka akan pulang hari ini juga?” Tanya Samuel pada yang lainnya, masih fokus dengan game yang ia mainkan.


“Hm, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan atasannya di New York” Balas Efira.


“Meskipun terlihat biasa saja, ternyata mereka adalah orang-orang hebat” Balas Nando.


“Apa menurutmu semua teman-temanku bukanlah orang hebat?” Tanya Efira.


“Deva, dia tidak hebat menjemput mimpinya” Ucap Gio. Sepertinya lelaki itu memiliki dendam tersendiri untuk mantan kekasihnya yang akan segera melangsungkan pernikahan.


“A-...” Gio sudah membuka mulutnya ingin membalas perkataan Deva tapi, “Ngomong-ngomong, kapan tepatnya pernikahanmu?” Tanya Efira pada Deva, mengalihkan suasana gaduh diantara sepasang mantan kekasih itu.


“Bulan depan. Kalian harus datang tapi, jika Gio tidak ingin datang juga aku tidak ada masalah” Jawab Deva ketus.


“Tentu saja aku akan datang, aku ingin lihat seberapa tampan pria yang mampu merebutmu dariku” Balas Gio sinis.


“Jika masih saling mencintai kenapa harus memilih jalan yang rumit?” Tanya Alex, mulai masuk pada pembicaraan panas itu.


“Aku? Masih mencitainya? Cih, sugar dosenku jauh lebih memikat” Balas Deva.


“Aku bisa mencari yang lebih berisi daripada gadis datar sepertinya” Sahut Gio.


Rasanya saat itu juga Deva ingin melempari Gio dengan sandalnya. Apa-apaan itu tadi? body shaming?


“Aku ingin menendang kalian keluar dari sini jika kalian mau tau” Ucap Aulia, gadis itu sepertinya pusing mendengar kedua temannya terus beradu mulut tanpa henti.


Baiklah tapi, itu sama sekali tidak mempan karena mereka berdua tetap melanjutkan perdebatan yang seharusnya sudah tidak bisa mereka perdebatkan.


Tiba-tiba Elena datang untuk berpamitan, “Guys, aku berangkat”


“Frans sudah?” Tanya Efira.


“Sudah” Sahut Frans yang baru saja keluar dari kamar, menyeret kopernya.


“Bagaimana jika diantar oleh salah satu pelayan disini?” Tanya Efira.


“Tidak usah, aku sudah memesan taxi online” Tolak Elena halus.


“Cancel aja” Sahut Bella.


“Orangnya sudah di depan” Ucap Elena.


“Seperti itu?” Balas Efira. Elena mengangguk sebagai jawaban.


“Kalau begitu, kami pamit ya. Terimakasih liburannya yang menyenangkan, maaf juga tidak bisa ikut kalian ke ibu kota” Ucap Frans pada semuanya.


Yang lain hanya mengangguk sebagai persetujuan. Mana bisa menahan juga?


“Hati-hati kalian” Ucap Aulia.


“Safe Flight guys” Sahut Samuel.


Frans dan Elena melambaikan tangan kepada teman-teman barunya disana. Tidak lupa juga balasan dari yang lain dengan senyum hangat mereka.


“Sepi sekali, kehilangan dua orang diantara kita saja sudah seperti ini rasanya” Sahut Deva lesu.


“Kita juga harus bersiap setelah ini, kita flight pukul dua siang” Balas Efira.


Mereka mengangguk dan segera bersiap-siap untuk kembali ke ibu kota. Liburan akhir pekan akan segera berakhir, mereka pun harus kembali dengan rutinitas sehari-hari yang menyibukkan.